Magnolia stellata. Duduk di hamparan teras pasir depan rumah. Kakinya sibuk meyibak-nyibak kerinduan pada musim semi yang membuatnya mekar dulu. Kerinduannya bak duri-duri di ranting yang rapuh. Sekali tersentuh sangat menyakitkan. Sangat hati-hati untuk mengingat, secuil demi secuil. Tak boleh tamak.
Mengingat-ingat. Musim seminya dulu sangat hangat, membuat ranting-rantingnya nyaman untuk tumbuh menjulang. Tunas-tunas mulai muncul karna sinarnya. Senyumnya saat matahari menyapa membuat kelopak Magnolia merekah sumringah. Perasaan gembira untuk terus tumbuh.
Di masa-masanya musim semi selalu menemani Magnolia menghabiskan hari. Dari tertangkup sampai merekah amat setia di sisi. Magnolia tak pernah gusar tak berpikir akan berakhir. Ia selalu bercengkrama dengan musim semi. Terbuai dengan pesonanya. Siapa yang tak tertidur pulas jika kelembutan selalu membelai. Magnolia berharap kehangatan ini abadi.
Hari demi hari Magnolia tak mengenal kata sedih. Tak memikirkan kata sakura yang tiap hari mencolek kenaifannya. Dunia seakan tak dianggap. Hanya ruang kosong terisinya Magnolia dan musim semi. Saling berpegang tak mau dipisahkan. Sampai gugur pun dihiraukan. Di telan semua akal sadarnya.
Sampai pertengahan bulan Mei. Waktu yang hampir habis untuk musim semi di belahan bumi Utara. Magnolia tak menyadari, musim semi yang awal hangat membelai mulai panas hingga melukai daun-daunnya. Daun yang hijau segar mulai menguning dan amat rapuh untuk jatuh.
Magnolia masih kalut dengan asmaranya.
Sakit makin menjadi, hangatnya mulai pudar. Musim seminya tak ramah lagi. Terasa seperti membakar. Memaksa bertahan, memulai adaptasi dengan panasnya. Mencoba bercengkrama ulang tapi panasnya seperti amarah yang tak mau padam. Magnolia tetap setia tak berpaling. Dengan segala kebahagiaan, luka tertutup dengan sempurna.
Hari berjalan.
Di tengah terik yang menyengat, Magnolia mengikat janji, akan bertemu di tengah kepadaman mentari. Hanya waktu itu musim semi tak mengeluarkan amarah. Disana dia menjadi Sepoi angin yang menyejukkan. Magnolia menanti-nanti. Ingin ditunjukkan rekahnya yang sempurna. Yang cantik dengan gaun kelopak merah muda. Mungkin daunnya gugur, tapi Magnolia makin cantik di puncak rindu.
Sudah siap. Hari yang indah, suasana bagai sesi blues. Magnolia mendongak ke langit-langit harapan. Musim semi datang dengan janji sepoinya. Lantunan-lantunan yang sudah disiapkan mengalir dengan tenang dan sempurna. Musim semi menghembuskan nafasnya ke sela-sela ranting Magnolia. Magnolia malu dengan daunnya yang sebagian gugur. Penuh hayat mulai tersibak kelopak merah muda yang merekah. Berdua memadu kasih dan berjanji akan selamanya seperti ini.
Sampai ufuk timur memerah, keduanya berpisah. Dengan pandangan terakhir, Magnolia sudah benar-benar kehabisan daun.
Hari-hari berlalu dengan penuh penantian. Musim semi tak pernah datang lagi. Dia yang berkunjung selalu menyakiti Magnolia, suhunya makin membuat nya merintih sakit. Semakin pucat dan satu persatu gugur. Kelopak yang dijaganya malam itu sudah mulai tak lengkap. Magnolia bingung. Musim semi makin tak mengenali nya. Dia lebih berpihak pada Asters. Bunga yang baru tumbuh.
Magnolia mencoba lagi untuk memeluk panasnya. Tapi ini usaha terakhir, Magnolia gugur dengan luka. Magnolia sudah berakhir. Musim semi telah melupakannya, Magnolia sedih.
Magnolia kembali tidur bersama kenangan terkahir bersama musim semi yang menjelma sepoi angin malam, dengan keirian tertuju pada Asters yang bisa memenangkan musim panas.
Magnolia kembali berproses ditemani kerelaan di sisa kelopak terakhir.
Duduk di teras.
Magnolia tergugah dari lamunannya. Kakinya yang menyibak-nyibak pasir kerinduan berhenti.
Barangkali harus menunggu dan harus mengalami proses menyakitkan itu lagi, dia rela. Meski sakit, tapi dia mencintai musim semi di segala tahapannya. Tahapan yang memang alami dan harus dirasakannya. Membekunya musim dingin, basahnya musim hujan, amarahnya musim panas, sampai dituntunnya untuk bertemu kehangatan musim semi. Dia sangat ikhlas. Karna Magnolia mencintai musim semi dengan wujud nya apapun itu.
Magnolia tetap menunggu.