Fiksi.
( PA! MAMA KEJAM! )
_________________
Sore itu, aku baru saja pulang kerja saat mendengar suara tangisan putraku Akmal dari dalam kamar mandi. Aku buru-buru menuju kamar mandi untuk mengecek apa yang terjadi.
Ternyata pintu kamar mandi dikunci dari luar, aku mengkerut, aneh? Siapa yang mengurung anakku di dalam kamar mandi.
Aku membuka pintu itu, dan mendapati Akmal tengah terduduk di lantai keramik di bawah guyuran shower yang menyala. Sekujur tubuhnya basah serta menggigil aku terhenyak dan buru-buru menghampiri Akmal.
"YA ALLAH. Akmal! Ngapain kamu di sini, Nak?" Aku merangkul tubuh Akmal dan menggandengnya keluar dari kamar mandi.
Kubuka pakaiannya, dan kukeringkan tubuh basah itu.
"Kamu itu, ngapain duduk di bawah guyuran shower kayak gitu? Kan, dingin." Aku mengeringkan rambutnya dengan gerakan lembut.
Tubuh Akmal masih menggigil, bibirnya pun ikut bergetar.
"Mama, yang suruh Akmal untuk duduk dibawah shower itu. Ini hukuman karena Akmal malas ngerjain PR sekolah."
Aku mendesah.
"Jadi, Mama gak ngajak kamu ke rumah Nenek, dan malah menghukum kamu di kamar mandi!"
Akmal mengangguk. Aku kembali mendesah, 'kok, tega kamu Rani!' Gerutuku dalam hati. Aku mengira Akmal dibawa ke rumah ibu mertuaku, karena tadi Rani mengirimku pesan kalau dia akan berkunjung ke rumah Ibu dan akan pulang malam.
Rani benar-benar tega, meninggalkan anak sekecil Akmal di rumah sendirian, apalagi sambil dikurung di kamar mandi. Aku geleng-geleng. Dan membantu Akmal memakai bajunya.
___
Rani, istriku itu, memang aneh.
Entah apa yang terjadi, dan entah apa penyebabnya, sampai dia tidak menyukai Akmal anak kandungnya sendiri. Bahkan, Rani terkesan membenci Akmal.
Sebenarnya, aku sendiri selalu menepis pikiran jelek itu, tapi, perlakuan Rani pada Akmal, malah membuatku yakin kalau Rani memang membenci Akmal.
Rani tidak pernah menyayangi Akmal, dia selalu cuek padanya, tidak pernah mengajaknya ngobrol, tidak pernah membantunya mengerjakan PR sekolah, tidak pernah menyuruhnya makan, tidak pernah membantunya mandi. Pokoknya, Rani tidak pernah berperilaku layaknya seorang Ibu pada umumnya.
Yang selalu Rani lakukan pada Akmal, hanyalah menghukumnya bila anak kami itu berbuat nakal, padahal, menurutku kenakalan Akmal masih dalam batas wajar, dan masih bisa ditolerir. Demi Tuhan! Akmal itu hanyalah seorang bocah yang baru berumur enam tahun setengah. Tapi Rani, selalu menghukumnya dengan kasar.
Pernah suatu ketika, aku mendapati Akmal tengah menangis tersedu-sedu di kamarnya. Saat kutanya, Akmal berkata kalau Mamanya memukuli dia dengan gagang sapu sebanyak seratus pukulan, awalnya aku tak percaya, tapi, ketika dia menunjukkan punggungnya yang lebam-lebam, berwarna keunguan tanda bekas cambukkan sang Mama. Membuat hatiku mencelos, kenapa Rani Setega itu pada anak sendiri.
Entah apa yang harus kulakukan, aku sangat mencintai istriku. Aku tidak mungkin berlaku kasar padanya. Pernah aku mencoba bicara baik-baik pada Rani, tapi, dia selalu berkata. "Aku tidak ingin membicarakan masalah ini lagi, Mas." Lalu dia berlalu pergi. Kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mendesah pasrah.
Aku ingin bicara pada seseorang mengenai masalah ini, tapi, pada siapa? Pada psikolog? Tapi kan, istriku tidak gila.
_____
"Ran, sebaiknya kamu jangan terlalu keras sama Akmal," kataku, saat kami akan beranjak tidur.
Rani yang saat ini tengah membaca novel, tercenung untuk beberapa saat, lalu dia menatap ke arahku dengan mata terbelalak.
"Kamu tega banget, sih, mengurung dia di kamar mandi, sampai disuruh duduk di bawah guyuran shower lagi, gimana kalau dia masuk angin," kataku melanjutkan.
Rani mendesah.
"Sudahlah, Mas. Aku tidak mau membahas masalah ini, aku mau tidur." Rani membaringkan tubuhnya, serta menarik selimut sampai menutupi kepala.
Huh. Selalu saja seperti ini, Rani selalu menghindar bila aku berbicara mengenai Akmal. Dia tidak pernah mau memperpanjang masalah ini, dia juga tidak mengajak berdebat, atau membela diri semisal berkata padaku, kalau dia menghukum Akmal itu untuk kebaikannya sendiri, agar dia menjadi anak yang disiplin.
Kalau sudah begini aku hanya bisa pasrah.
_______
Walaupun masih kecil, Akmal termasuk anak yang mandiri, dia selalu melakukan semuanya sendiri, seperti mandi, dan memakai pakaian seragamnya sendiri. Mungkin keadaan yang membuatnya seperti itu, ya, seperti yang kukatakan tadi, Mamanya tidak pernah mau membantu Akmal. Sedangkan aku. Aku juga sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor.
Setiap hari, aku yang mengantar Akmal, sedangkan untuk pulang sekolah, Akmal naik ojeg langganannya. Tentu saja aku khawatir kalau Akmal harus pulang sendiri, tapi, mau bagaimana lagi, aku, kan kerja, jadi tidak bisa menjemput anakku itu saat pulang, pikiranku selalu melayang ke mana-mana, takut Akmal kecelakaan di jalan, takut dia diculik, dan lain sebagainya. Namun, aku selalu menenangkan diri, dan menepis pikiran-pikiran jelek itu. Aku selalu berdoa untuk keselamatan anakku.
Dan, sejauh ini dia selalu baik-baik saja, dan pulang dalam keadaan selamat. Aku bersyukur untuk itu.
"Ran, sekali-kali kamu antar jemput Akmal dong ke sekolahnya," kataku, di suatu pagi. Yah, coba-coba, membujuk istriku.
Tapi, tanggapan Rani malah aneh, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, serta ekspresi wajah yang nampak terkejut. Istriku itu tak berkata apa-apa, dia malah berlalu menuju kamar, meninggalkanku yang keheranan. Dan karena hal itu, aku tak pernah lagi membujuk Rani.
_____
Seperti biasa, setiap pulang kerja, hal yang pertama kulakukan adalah mencari keberadaan Akmal. Aku menemukannya tengah meringkuk di kasur, di kamarnya. Dia meringis kesakitan, juga sambil terisak menangis. Aku menghampirinya, dan betapa terkejutnya diriku saat melihat dahinya berdarah.
"Astagfirullah ... kamu kenapa, Nak?" Kusentuh dahi yang berdarah itu.
Akmal tak menjawab, mungkin karena kepalanya terasa sakit. Aku buru-buru mencari kotak p3k di lantai bawah. Setelah ketemu, aku dengan cepat kembali ke kamar Akmal, lalu mengobati dahi Akmal yang berdarah, kuberi alkohol untuk membasuh luka di dahinya, kemudian kuberi anteseptik setelah nya kuperban luka itu.
Akmal anak yang kuat, walau meringis kesakitan saat kuobati, dia hanya diam saja tidak merengek-rengek padaku.
"Kamu kenapa, Nak? Kok, bisa sampai terluka begini?" tanyaku, setelah selesai membereskan kotak p3k. Kutatap mata bulatnya lekat-lekat.
Akmal nampak gelisah, dia menghindari tatapanku. Ku sentuh puncuk kepalanya.
"Akmal?" panggilku, mencoba menarik perhatiannya.
Dia memandang ke arahku, namun untuk sesaat. Akmal menundukkan kepalanya.
"A__Akmal jatuh saat bermain."
Suara Akmal terdengar lirih, dan kecil.
"Kamu beneran jatuh?"
Aku menunduk, untuk melihat jelas wajah anakku.
Akmal mendongkak menatap wajahku. Matanya berkaca-kaca.
"Sebenarnya ... Akmal gak jatuh, Akmal terluka karena Mama."
Aku terkajut mendengar penuturannya.
"Apa maksud kamu, Nak.?"
Mata Akmal mulai berair. Dan terdengar isakan dari bibirnya.
"Mama ... hiks ... marah sama Akmal, karena, Akmal main tanah, terus Mama melemparkan vas bunga ke wajah Akmal, dan mengenai dahi Akmal."
Akmal masih terisak-isak.
"Ya ampun! Tega banget, sih, Mama kamu." Amarah dan kecewa bercampur aduk menjadi satu, dalam diriku.
Aku mencari keberadaan Rani, dan ternyata dia berada di halaman belakang rumah, tengah menyiram tanaman.
Kutarik lengannya.
"Kamu itu ibu macam apa? Sama anak sendiri tega! sampai dia terluka seperti itu!" Aku benar- benar sudah marah padanya.
Rani menatapku dengan ekspresi kebingungan.
"Kamu itu kenapa, Mas? Baru datang, kok, marah-marah."
"Kamu yang kenapa! Segitu bencikah kamu sama Akmal, sampai membuat dia terluka!"
"Akmal! Akmal! Kenapa Mas terus saja membicarakannya!" Rani berteriak. Dia melempar selang yang digunakannya untuk menyiram tanaman, "aku gak pernah punya anak yang bernama Akmal!" Setelah itu, Rani pergi dari hadapanku. Berlari masuk ke dalam rumah.
Astagfirullah. Rani benar-benar sangat membenci Akmal. Sampai-sampai dia tidak mengakui keberadaannya.
Aku menyusul Rani, aku ingin membicarakan masalah ini sampai tuntas, sudah cukup selama ini dia menghindar terus. Aku sangat ingin mengetahui kenapa Rani begitu membenci Akmal, anak kandungnya sendiri.
Aku akan masuk ke kamar, ketika mendengar suara isakan Rani, dan sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Bu ... aku gak tahu harus berbuat apa ... hiks ... hiks."
Samar-samar aku dapat mendengar suara Rani, dari balik pintu. Rupanya dia sedang curhat sama Ibunya. Baguslah kalau begitu, semoga saja ibu mertuaku itu bisa menasehati Rani, dan memberitahunya, kalau selama ini sikapnya pada Akmal itu sudah keterlaluan. Karena setahuku ibu mertuaku itu, seorang ibu yang penuh kasih sayang.
Aku mengurungkan niatku untuk masuk kamar, lebih baik aku melihat kembali keadaan Akmal. Rupanya dia sudah tertidur, ku dekati Akmal yang tengah terbaring di ranjang. Kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kasihan kamu, Nak. Mama kandung sendiri gak menyayangimu, tapi, tenanglah ada papa yang akan selalu menyayangi dan menjagamu.
Aku selalu mencoba memahami keadaan Rani, aku selalu berkesimpulan sendiri, mungkin Rani membenci Akmal karena akibat trauma saat melahirkan Akmal, Rani menganggap rasa sakit saat melahirkan, diakibatkan oleh Akmal.
Bisa juga karena ketidak siapan Rani untuk menjadi seorang ibu membuat dia tidak bisa menyayangi Akmal. Ah, tapi, semua itu hanyalah hasil pemikiranku saja, untuk lebih pastinya aku harus konsultasi dengan seorang psikolog terpercaya.
_________
Hari ini aku tidak mengijinkan Akmal untuk berangkat sekolah, aku ingin dia istirahat dulu untuk sehari, takut kalau luka di dahinya membuat dia pusing. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan Akmal hanya dengan Rani, tapi, mau bagaimana lagi aku harus bekerja, apalagi sekarang ini kantor lagi sibuk-sibuknya.
Hari ini aku pulang malam karena harus lembur, saat pulang Rani menyambutku, rupanya dia belum tidur.
"Mas, sebaiknya mandi dulu, aku akan menghangatkan makanan untuk kamu makan."
Aku menurutinya, dan akan pergi untuk membersihkan diri, tapi sebelum itu, aku ingin melihat dulu ke adaan Akmal, akupun menuju kamarnya.
Pemandangan pertama yang kulihat saat membuka pintu kamar Akmal adalah ... darah ... darah yang berceceran di lantai, banyak sekali.
Dan di sana ... tubuh mungil Akmal tergeletak di lantai, tak berdaya.
Tubuhnya pun penuh dengan darah. Bukan hanya terkejut. Aku hanya bisa melotot melihat tubuh yang penuh dengan darah itu, sekujur tubuhku bergetar. Dengan langkah gontay aku mendekati sosok mungil yang tergeletak itu, setelah beberapa langkah, kakiku tak bisa menopang tubuh ini, karenanya, aku merangkak mendekati tubuh putraku yang diam tak bergerak.
Aku mendekap tubuh putraku yang sudah kaku, betapa dinginnya tubuh ini, tak ada tanda kehidupan samasekali, setelah kuteliti terdapat luka sayatan menganga di leher Akmal, begitu pula di bagian perutnya. Bau anyir darah menyengat hidung. Sepasang mata bulat itu terbuka, namun, tatapannya kosong dan redup.
Entah apa yang harus kulakukan, aku ingin menjerit, tapi, tak ada suara yang keluar, aku ingin menangis, tapi, tak ada isakan yang lolos dari bibirku. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku hanya bisa mendekap tubuh mungil ini begitu erat, tak mempedulikan darah yang mengotori bajuku.
Lalu aku menyadari, di sisi lain tubuh putraku, ada sebuah tulisan di lantai, tulisan yang di ukir dengan darah, 'Pa mamajahat'.
Aku terhenyak membaca tulisan darah itu, aku tahu dan mengerti, maksud dari tulisan itu.
"RANIII!" Kini, aku baru bisa berteriak.
Saat kutemukan, Rani tengah berada di dapur, sedang menelepon seseorang, tanpa basa -basi, aku langsung menarik tubuh Rani, dan menekannya ke meja makan. Lalu kucekik lehernya.
Amarahku sudah tak terbendung lagi, aku sudah tak memandang wanita di depanku ini adalah istriku, atau ibu dari anakku. Wanita di hadapanku ini, adalah wanita iblis, ya. Dia ini adalah iblis! Karena telah tega membunuh anakku. Membunuh darah dagingnya sendiri.
Rani, mengap-mengap karena tak bisa bernapas, aku semakin memperkuat tekananku pada lehernya, dia pantas mendapatkannya, dia pantas mati!
'BUGH'!
Aku meringis. Karena Rani secara tiba-tiba memukul kepalaku dengan botol selai kacang. Otomatis cengkramanku pada lehernya terlepas, karena spontan aku memegangi kepalaku yang terasa sakit.
Karena kelengahanku Rani dengan leluasa dapat mendorong tubuhku, membuatku ambruk ke lantai. Dia menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Namun, aku dengan gesit menarik kakinya, sehingga diapun terjerembab ke lantai. Aku bangkit, dan menarik kaki wanita kejam ini.
"Mas, kamu kenapa? Lepaskan!"
Rani meronta, dan aku tak mempedulikannya.
Aku menindih perutnya. Dia masih meronta.
"Dasar pembunuh! Kamu tega membunuh anakmu sendiri!" teriakku. Menumpahkan seluruh amarahku, namun, amarahku takkan mereda, sebelum melihat wanita ini mati.
Mataku bergerliya ke arah meja makan yang ada di dekatku, dan saat melihat pisau dapur yang ada di sana, aku langsung mengambilnya, dan dengan cepat, aku menghujamkan nya pada dada wanita iblis ini. Satu kali, amarahku belum mereda, dua kali, amarahku semakin memuncak. Tiga kali, empat kali, lima kali. Lagi, dan lagi. Aku terus menghujam tubuh istriku yang berhati iblis ini.
Darah di mana-mana, begitu banyak darah berceceran. Tubuhku pun penuh darah.
Entah sudah berapa lama aku termenung di depan tubuh istriku yang sudah kaku. Tau,tau ibu, dan ayah mertuaku sudah datang bersama beberapa orang polisi.
"RANIII! Astagfirullah!" Ibu mertuaku menjerit histeris. Dan tubuhnya lunglai ambruk ke lantai.
Ayah mertuaku mendekap tubuh istrinya. Ekspresi mereka nampak terkejut sekaligus tak percaya. Ya, wajar saja ekspresi mereka begitu.
Para Polisi mulai mengerumuniku dan akan memborgol tanganku.
"Apa salah putriku? Sehingga kamu dengan kejam membunuhnya?" Ayah mertuaku bertanya dengan suara bergetar. Sedangkan ibu, beliau hanya bisa menangis terisak- Isak.
"Dia begitu mencintaimu, sangat mencintaimu. Sehingga dia rela dan ikhlas menerima keadaanmu.
"Tapi, inikah balasan atas cintanya padamu?"
Salah seorang dari polisi itu mulai memborgol tanganku.
Aku memandang Ayah mertuaku dengan tatapan lelah.
"Rani sangat mencintaiku, tapi kenapa dia tidak bisa mencintai Akmal, anak kandungnya sendiri, bahkan dia tega membunuhnya," ucapku lirih.
Ayah, dan juga Ibu mertuaku menatapku heran.
"Akmal? Anak? Sadar Kemal, sadar!" Nada suara Ayah mertuaku meninggi. "Delapan tahun kamu dan Rani menikah, kalian sama sekali tidak memiliki seorang anak satupun!"
Aku sungguh terjkejut mendengar ucapan Ayah mertuaku itu. Apa maksudnya? Apakah Ayah sudah gila!
"Ayah ini bicara apa, hah! Sudah jelas aku memiliki seorang anak! Akmal. Dia anakku! Anak yang sangat kusayangi. Tapi, Rani telah membunuhnya dengan kejam!"
"Kamu, memang sudah gila Kemal!" hardik Ayah mertuaku. "Kamu sama sekali tidak memiki anak! Kalau memang kamu memiliki anak, katakan kapan dan di mana dia lahir?"
Aku akan berteriak untuk menjawab pertanyaan Ayah mertuaku. Tapi, suaraku tercekat di tenggorokan. Karena aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kenapa? Kenapa aku tak bisa mengingat saat-saat anakku lahir, kenapa? Ada apa ini? Kenapa kenangan saat Akmal bayi tak dapat kuingat. KENAPA? AAA!
Kepalaku, kepalaku rasanya sakit. Toloong ... Kepalaku rasanya mau pecah ....
TAMAT.
Epilog.
__
"Tuan Kemal Pratama, di nyatakan mengalami gangguan mental, yang di sebut Skizoprenia.
"Dimana gangguan mental ini, membuat penderitanya mengalami sebuah delusi.
"Dan si penderita menganggap delusi ini adalah sebuah kenyataan, karena orang dengan gangguan Skizoprenia tidak dapat membedakan mana yang nyata, dan mana yang khayalan.
Dan orang dengan gangguan ini, selalu mengalami kegelisahan.
"Adapun, penyebab dari gangguan mental ini, adalah trauma masa kecil, bisa juga akibat faktor genetik. Di mana, Tuan Kemal semasa kecilnya mengalami kekerasan fisik dari Ibunya yang mengalami depresi karena ditinggal suami."
Juanda mendesah, setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Dr. Maria. Seorang Dokter psikolog.
"Lalu, kenapa menantu saya bisa berdelusi tentang seorang anak yang bernama Akmal. Dan dikiranya anak kandungnya?"
Sebelum menjelaskan lagi tentang pasiennya, Maria terlebih dulu menghela napas panjang.
"Saya sudah membaca dokumen yang berisi catatan kisah Tuan Kemal dari masa kecilnya.
"Dulu dia mempunyai seorang adik laki-laki, dan adiknya itu meninggal dibunuh oleh ibunya sendiri. Setelah itu, si Ibu bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri. Tuan Kemal kecil, melihat semua kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Hal inilah, yang memicu trauma dalam diri Tuan Kemal. Sehingga dia harus di rawat selama lima tahun di Rumah sakit jiwa.
"Tuan Kemal, sempat menjalani kehidupan sebagaimana orang normal setelah keluar dari Rumah sakit, bersama keluarga angkatnya, namun, rasa trauma itu masih ada, dan jauh dilubuk hatinya, dia marah serta menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa adiknya.
"Dia tidak bisa melindungi adik satu-satunya, dan dia tidak bisa membalaskan dendam atas kematian adiknya. Karena Ibunya keburu tewas bunuh diri.
"Selama ini, Tuan Kemal selalu mengalami perang batin, dan selalu merasa gelisah. Dalam kegelisahan itulah, sosok Akmal muncul dalam delusinya. Manifestasi dari sosok sang adik di masa lalu."
Lagi-lagi Juanda mendesah. Kehidupan menantunya memang tragis dari sejak dia kecil. Dia berdiri dari duduknya, ingin meluruskan pinggangnya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk.
Juanda menatap Dokter di hadapannya dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih Dokter, anda sudah bersedia menjelaskan keadaan menantu saya."
Maria pun ikut berdiri, dan menyambut uluran tangan itu.
"Sama-sama, Pak. Dan saya turut prihatin atas apa yang menimpa putri anda," ucap Maria, tulus.
Juanda mengangguk dan kembali berucap, "terimakasih Dokter."
Dan setelahnya dia melangkah ke arah pintu ruang rawat, melalui kaca pintu itu, dia melihat menantunya, yang tengah berdiam diri dengan tatapan kosong ke arah depan. Tubuhnya di ringkus, untuk berjaga-jaga agar dia tidak melukai dirinya sendiri.
Juanda kembali mendesah. Entah untuk keberapa kalinya di hari ini.
Rani putrinya, sangat mencintai orang ini, rasa cinta yang harus di bayar dengan nyawanya.
SELESAI.