Pernahkah kalian menyangka, bila sekolah yang terkenal ternyata memiliki misteri yang angker?
Sama, aku pun tak pernah menyangka hal ini.
🌷Happy Reading🌷
Aqila Anastasya Fadilah, seorang siswi kelas tiga SMP memutuskan untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya pada sebuah sekolah ternama di Bali. Sekolah itu bernama SMK xxx (nama samaran), tentu rasa bangga menyelimuti hatinya. Banyak sekali yang ingin sekolah di tempat itu, sayangnya sekolah itu adalah sekolah berbasis asrama.
Aqila bahkan rela melepas segala kekayaan dan status sebagai anak seorang CEO di Kakao Great. Hal itu lantaran asrama tidak menerima siswa-siswi yang berasal dari keluarga kaya. Sebagai tangguhan Aldi ayahnya Aqila tetap membiayai sekolah Aqila di sana.
Hanya saja Aqila harus bisa hidup tanpa kekayaan yang melimpah dan senantiasa memanjakannya. Aqila harus hidup layaknya anak yang ekonominya ke bawah, tapi bagi Aqila hal itu tidak masalah. Aqila sudah sampai di sekolah itu, dan hari demi hari ia jalani.
"Hai, " seorang pemuda yang seumuran dengannya menyapa.
"Hem hai, kamu siswa di sini? " tanya Aqila pada pemuda itu.
"Iya, aku cuma lagi lewat aja sih. Kebetulan lihat kamu. " tawanya menggema.
"Kok, aku merinding sih. " bisik Aqila dalam hati.
Aqila menoleh ke lantai dua kelas, padahal tidak ada angin tapi gorden dalam kelas seperti bergerak. Aqila menoleh, pemuda itu tidak ada di hadapannya. Aqila berpikir positif mungkin pria itu sudah pergi. Aqila masuk ke dalam asrama untuk menaruh barang-barang yang dia bawa.
"Eh adik kelas X ya? " tanya seorang gadis cantik yang berperawakan tinggi.
"Kayaknya dia kakak kelas deh. " pikir Aqila yang masih melamun.
"I iya kak, saya kelas X. " senyum Aqila dengan ramah.
"Oh ya dik, nanti kalo sudah selesai menaruh barang-barang langsung aja datang ke kantin ya! " pinta kakak kelasnya itu.
"Kak, " panggil Aqila.
"Iya, " sahut kakak kelasnya.
"Kenapa ke kantin kak, bukannya. " Aqila jadi lola.
"Pasti kamu bingung ya? kantin di sini buat apel makan atau enggak tempat kita berkumpul kalo ada hal penting yang di sampaikan, baik dari Dewan guru maupun anggota OSIS. Oh ya panggil aja kakak, kak Lina! " Lina menjawab kebingungan Aqila mengenai kantin.
"Wah gitu ternyata, oke la kak. Makasih kak Lina, panggil aja aku Aqila kak! " sejak saat itu Lina dan Aqila menjadi akrab.
Mereka berdua bersama-sama pergi ke kantin untuk makan. Semua siswa dan siswi sangat akrab layaknya saudara kandung, awalnya Aqila merasa canggung dan lama-lama akhirnya Aqila terbiasa dengan keadaan serta budaya yang ada di sekolah itu.
Aqila memilih jurusan TKJ, hatinya sangat senang. Di kelasnya Aqila memiliki banyak teman, pada awalnya semua baik-baik saja. Hingga suatu hari Aqila di minta untuk datang ke ruang lukis oleh Lina. Aqila datang ke lantai dua, yang letaknya berdekatan dengan ruang kelas jurusan lain.
"Kak Lina, " Aqila memanggil Lina.
"Hai, " seseorang menepuk pundak Aqila dari belakang.
"Eh, kamu. " Aqila melihat pemuda itu kembali.
"Aku sudah lama pengen ketemu sama kamu. " pemuda itu tertawa.
Lagi-lagi pemuda itu membuat ruangan lukis menggema. Aqila kembali merinding, tapi Aqila berusaha menepis ketakutan yang dia rasakan. Pemuda itu menatap Aqila, lalu pemuda itu memegang tangan Aqila.
"Kamu sakit? " tanyanya.
"Enggak kok, " Aqila tersenyum.
"Tangan kamu kok dingin? " tanya Aqila balik.
Aqila menatap wajah pemuda itu, barulah Aqila menemukan kejanggalan. Wajah pemuda itu pucat sekali. Aqila menggosok-gosok tangan pemuda itu, Aqila yang polos takut kalau pemuda itu kedinginan. Pemuda itu hanya tersenyum melihat Aqila yang berusaha menghangatkan tangannya.
"Kamu nggak balik? ini udah malam. " Aqila berhenti sejenak.
"Oh iya, udah malam. Ayo kita ke asrama! " Aqila menarik tangan pemuda itu.
"Kamu duluan aja. " pemuda itu melepaskan tangan Aqila.
"Oh ya, nama kamu siapa? " tanya Aqila sebelum pergi.
"Malvin, " ucapnya singkat.
Malvin tersenyum pada Aqila dan Aqila membalasnya. Aqila merasa berat ketika dia melangkah, seperti ada yang memegang kakinya.
"Malvin, " Aqila memanggil Malvin.
"Malvin, tolong! " Aqila berteriak memanggil Malvin.
Aqila menangis, karena Malvin tidak kunjung datang. Aqila berdoa dalam hati dan berharap seseorang menyelamatkan dirinya hari ini, apalagi keadaan cukup sepi. Sudah jam tujuh malam dan Aqila masih di sana tidak bisa menggerakkan kakinya.
"Ah, " seseorang membekap mulut Aqila.
"Tangan ini, " batin Aqila.
Aqila menoleh ke samping, "aaaa." Aqila berteriak kencang.
Malvin yang membekap mulut Aqila, segalanya penuh tanda tanya di benak Aqila. Bukankah tadi Malvin yang memintanya untuk kembali ke asrama?
"Aqila, " panggil kakak kelasnya yang lagi patroli malam.
"Kak tolong, " Aqila baru menyadari kalau Malvin sudah tidak ada.
"Kenapa sendiri di sini? " tanya kak Putra si ketua OSIS.
"Nggak kak, tadi aku di sini sama Malvin. " jelas Aqila.
"Malvin? " tanya kak Putra kebingungan.
"Iya, kak Malvin dia salah satu siswa di sini.
" Nggak Aqila, di sini nggak ada yang namanya Malvin. Kakak hafal semua nama-nama siswa putranya dan nggak ada yang namanya Malvin. " Putra membuat Aqila merasa takut.
"Tapi kak, " Aqila belum sempat bicara.
"Udah Aqila, kita harus cepat pergi dari sini. " Putra menarik tangan Aqila.
"Kak, ada yang kakak sembunyikan ya? " Aqila penasaran karena wajah Putra memucat ketika dia mendengar nama Malvin di sebut tadi oleh Aqila.
"Udah Aqila, besok aku kasih tahu sesuatu. Kamu nggak usah berpikir yang aneh-aneh! " Putra kembali ke asrama putra.
Kata-kata yang di ucapkan oleh Putra meninggalkan tanda tanya besar, pasalnya Aqila mengalami kejadian aneh malam ini. Bahkan tidur Aqila sangat terganggu, Aqila melihat sesuatu merayap menuju tempat tidurnya. Aqila berteriak histeris, tapi tidak ada yang mendengar teriakannya. Aqila merasa sesak, lehernya di cekik oleh makhluk itu. Aqila seperti melihat sesuatu, serpihan ingatan yang entah siapa orang-orang itu.
"Aku hamil! " seorang gadis belia seumuran Aqila menangis.
Gadis itu memegang testpack di tangannya, lalu gadis itu menangis sekeras-kerasnya. Kemudian Aqila juga melihat gadis itu pergi ke sekolah tempat Aqila kini tinggal. Gadis itu datang ke ruang lukis, tepatnya di tempat Aqila berada sebelumnya. Aqila melihat gadis itu menemui seorang pemuda yang sangat Aqila kenal, Malvin.
"Aku hamil, " itulah pengakuan gadis itu pada Malvin.
"Nggak itu nggak mungkin, " Malvin frustasi.
"Kamu mau kan tanggung jawab! " gadis itu menangis.
"Aku masih sekolah, " gadis itu tak terima dengan alasan Malvin.
"Aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus tanggung jawab! " gadis itu emosi dengan Malvin.
Terjadi percekcokan di antara mereka berdua, sampai akhirnya tanpa di duga gadis itu melompat dari lantai dua. Malvin berteriak, "Salma."
Semua siswa dan seluruh guru datang ke tempat itu, mereka melihat gadis itu. "Malvin ngapain kamu di situ? " tanya salah satu guru.
"Saya nggak bersalah pak. " Malvin masuk ke ruang lukis dan mengunci pintu dari dalam.
"Aku nggak bersalah, Salma! " Malvin frustasi seketika.
Aqila yang belum sadar masih melihat kejadian di masa silam, hingga tubuh melayang di udara. Sontak Seluruh siswi perempuan berteriak histeris melihat kejadian itu.
"Aqila, " ibu asrama panik melihat seperti orang ke setanan.
"Tolong panggil pak Yusuf! " kata ibu Tuti yang bertanggung jawab menjadi kepala asrama putri.
Saat itu sudah jam empat pagi, tapi keadaan begitu mencekam di tambah lagi angin tiba-tiba kencang. Tiba-tiba lampu juga mati, kret-kret. Asrama putri yang hanya ada anggota lima belas orang, semuanya ketakutan. "tenang, nak! " ibu Tuti berusaha menenangkan mereka.
Pintu kamar itu tertutup dengan kencang, mereka saling memeluk ketakutan. Doa demi doa mereka panjatkan. Tapi Aqila masih di atas, mereka tidak bisa menurunkan Aqila. Kaca jendela seperti di gedor dari luar, mereka semua menangis. Kaca jendela di penuhi dengan darah, suara tangisan memenuhi tempat itu dan lama-lama mereka semua ke surupan. Mereka menangis meraung-raung, "tolong." mereka berteriak dan tertawa.
Hanya Lina yang tidak terpengaruh Karena Lina saat itu mencari pak Yusuf dan anak-anak laki-laki juga ikut datang ke asrama putri. "Pak kamarnya terkunci, kesurupan. Mereka kesurupan semua pak, Aqila. " Gibran ketakutan melihat mereka yang di dalam.
"Tolong, " mereka terdengar menangis.
"Awal bran, bapak akan dobrak pintunya. Anak-anak bantu bapak! " jelas pak Yusuf.
Mereka mendobrak pintu dengan sekuat tenaga, beberapa kali mendobrak akhirnya berhasil. Mereka mengambil satu demi satu dan mengamankan mereka yang masih kesurupan di bawa keluar dari ruangan itu. Semua sudah di bawa keluar, termasuk ibu Tuti tapi pak Yusuf merasa ada yang kurang. "Satu, dua, tiga, empat . " kok rasanya ada hilang ya.
"Pak, itu. " tunjuk Gibran siswa kelas X.
"Aqila, " pak Yusuf melihat Aqila di atas, sebenarnya Aqila tidak tidur tapi dia tidak bisa bangun dan menyadari keadaannya saat ini.
"Saya, nggak bersalah pak. " Aqila berdiri dan melayang.
"Aqila sadar! " pinta pak Yusuf.
"Saya nggak salah pak, Salam bunuh diri. Bukan saya pembunuhnya! " Aqila yang awalnya menangis tiba-tiba berteriak marah.
"Apa yang kamu katakan Aqila, sadar! " pak Yusuf tidak mengerti apa yang di katakan oleh Aqila.
"Malvin, " Putra datang ke tempat itu, begitu juga dengan anak-anak kelas XII lainnya.
"Putra, " Aqila menangis.
"Vin, lo harus keluar dari tubuh Aqila! gadis itu nggak tahu apa-apa Vin, dia cuma murid baru. " Putra memohon pada arwah Malvin.
"Putra apa yang kamu katakan? " tanya pak Yusuf.
"Pak, sebelum bapak pindah ke sini sebenarnya tiga tahun yang lalu saat kami kelas sepuluh. Teman kami Malvin bunuh diri, kami tidak tahu apa sebabnya yang jelas Malvin bunuh diri setelah seorang gadis meloncat dari ruang lukis lantai dua. Dan Aqila bisa melihat Malvin. " Putra menjelaskan semuanya pada pak Yusuf.
"Ya, bapak mengerti sekarang. Malvin, tolong jika kamu nggak bersalah tolong lepaskan Aqila! " pak Yusuf menenangkan arwah Malvin yang ada di tubuh Aqila.
Setelah pak Yusuf mengatakan itu, Aqila jatuh ke tempat tidur. Aqila membuka matanya, lalu dia melihat Malvin di sampingnya. Aqila tidak bisa bicara dia ketakutan, dahinya sampai berkeringat. Pak Yusuf mendekati Aqila, pak Yusuf dapat merasakan ketakutan Aqila saat ini.
"Aqila apa Malvin pernah mengatakan sesuatu? " tanya pak Yusuf pelan-pelan.
"E nggak pak, " Aqila menangis.
"Lalu bagaimana kamu bisa mengenal Malvin. " tanya pak Yusuf lagi.
"Saya ketemu Malvin di depan gerbang, Malvin bunuh diri karena Salma hamil. " jelas Aqila pada semuanya.
"Jadi gadis itu? " Putra ingat gadis yang bunuh diri itu.
"Iya, dia namanya Salma. Malvin cuma pengen kalau kita ngasih tahu sama ibunya Salma kalau Salma bunuh diri, jadi bukan Malvin yang membunuhnya. Agar arwah Malvin bisa tenang di sana bersama Salma. " Aqila sudah menyampaikan segala pesan Malvin padanya.
Setelah itu pak Yusuf meminta kehadiran orang tua Salma ke sekolah dan menyampaikan apa yang terjadi. Kedua orang tua Salam menangis mendengar kenyataan itu. Mereka kemudian meminta maaf pada orang tua putra dan membebaskan mereka dari penjara. Kejadian itu membuat sekolah semakin tegas pada aturan sekolah. Siswa dan siswi di larang untuk pacaran, hal itu di lakukan agar tidak terjadi hal-hal yang di inginkan.
Sejak saat itu kehidupan asrama berjalan dengan normal, hari kelulusan anak kelas XII sekaligus menjadi hari kenaikan kelas bagi Aqila dan di momen itu juga Aqila pindah saat dia menginjak kelas XI SMK.
"Halo semuanya, di sini dengan berat hati Aqila jujur pada kalian semua. Sebenarnya Aqila berasal dari keluarga berada, yang menyumbangkan dana terbesar sekaligus CEO di Cacao Great adalah ayahku. Aku ingin minta maaf pada kalian semua, jujur aku senang bisa mengenal kalian, aku juga senang bisa mengenal kak Malvin. " Aqila menangis yang membuat haru mereka semua.
"Tapi pertemuan kita cuma sampai di sini, Aqila harus pindah ke Jerman ikut papa dan mama. Aqila janji setelah Aqila balik ke sini lagi, Aqila bakal berkunjung ke sini. Akhir kata Aqila mengucapkan terimakasih. " Aqila mohon pamit setelah itu.
🌷🌷🌷🌷TAMAT🌷🌷🌷🌷
Halo berikan dukungan ya, like dan komentar 😘🤗