"Alita? Eva?" Panggil Lelaki paruh baya. Tatapan nya kini terfokus terhadap dua gadis kecil yang sedang bermain Salju.
"Alita, Eva" Ucap Lelaki Paruh baya itu mendekat ke dua gadis kecil yang masih sibuk bermain.
"Eva Pangerannya!" Ucap Gadis kecil berambut coklat, Alita.
Gadis kecil berambut hitam mengangguk lalu membuat seperti apa yang di katakan oleh Adiknya, Alita.
"Eva Hutan nya! Buatlah sebuah Hutan. Lalu kita akan membuat putri nya hilang. Anggaplah bahwa hutan itu ajaib." Ucap Alita. Eva mengangguk.
"Hei. Kalian berdua ingin mendengar cerita tentang hutan ajaib?" Ucap Lelaki Paruh baya tadi. Eva dan Alita reflek menoleh bersamaan lalu mengangguk antusias.
"Baiklah kalau begitu, Ayo kita masuk dan berbaring." Kedua gadis kecil itu berlari masuk ke dalam rumah di ikuti lelaki paruh baya tadi.
"Jadi, Bagaimana cerita nya ayah?" Ucap Alita dengan sorot mata penasaran.
"Ayah akan bercerita tetapi kalian harus berbaring terlebih dahulu." Keduanya naik ke atas tempat tidur.
"Apa kau serius ingin memberi tahu mereka?" Wanita paruh baya datang menatap serius lelaki paruh baya yang merupakan suaminya.
"Ya! Ini Adalah saatnya untuk mereka mengetahui hal itu." Ucap Lelaki Paruh baya itu.
"Baiklah. Dulu, Ayah dan Ayahnya Ayah, Kakek mu sedang mengunjungi sebuah hutan. Hutan yang di kenal dengan hutan yang ajaib karena di sana Ada 4 roh yang kuat. Kakek mu mengatakan kalau kita di undang untuk acara makan makan sekaligus acara perdamaian, Karna dulu kakek pernah saling bermusuhan. Semuanya Baik baik saja, Kami saling melempar candaan. Pemandangan yang indah, Membuat ayah sadar bahwa ayah telah tersihir. Tatapan ayah terfokus pada sebuah cahaya. Ayah mengikuti arah cahaya itu dan melangkah ke belakang sedikit menjauh dari kakek. Tapi, Cahaya itu menghilang. Ayah merasa ada yang aneh, Saat ayah menoleh ke belakang semua nya sudah saling menyerang satu sama lain. Seseorang menyerang ayah tapi untung kakek datang menyelamatkan ayah. Kakek menyuruh ayah menjauh. Semua masih saling menyerang satu sama lain. Tiba tiba batu batu besar muncul entah dari mana, Di tambah Api, Air juga Es. Ayah semakin mundur untuk menjauh, Sebuah batu besar terlempar hampir mengenai ayah tapi ayah seperti terdorong keluar dari hutan itu. Dari kejauhan ayah bisa melihat kekacauan dari dalam hutan. Ayah mencari sekeliling tapi ayah tak lagi mendapati kakek atau teman teman kakek. Sebuah kabut tebal perlahan lahan menutupi Hutan Ajaib itu. Dan Di situ ayah sadar kalau Roh yang ada di sana marah." Jelas Lelaki Paruh baya itu panjang lebar. Wernan Namanya.
"Kabut Tebal?" Ucap Eva. Wernan mengangguk.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Alita. Wernan menghembuskan nafasnya berat.
"Kakek juga yang lainnya di nyatakan hilang." Ucap Wernan.
"Apa hutan itu masih tertutupi oleh kabut?" Ucap Alita.
"Ya. Hutan itu masih sama." Jawab Wernan.
"Baiklah. Sekarang adalah waktunya tidur. Ayo berbaring kembali." Ucap Wanita paruh baya. Ren Namanya.
"Tapi Aku masih memiliki banyak Pertanyaan." Ucap Alita lagi. Ren tersenyum lalu ikut berbaring di Tengah tengah mereka berdua.
"Simpanlah pertanyaan mu dulu. Tak usah terlalu di pikirkan." Ucap Ren. Wernan tersenyum.
"Baiklah. Selamat Malam, Ayah keluar." Wernan berlalu keluar menyisakan Ren, Eva dan Alita.
"Ibu? Roh Roh itu, Apa mereka benar benar ada?" Ucap Eva. Ren melirik Eva sejenak lalu memandang lurus ke depan.
"Ya. Mereka bersemayam tepat di keempat pohon yang berada di depan hutan itu." Ucap Ren.
"Baiklah ayo, Tidurlah." Eva dan Alita menutup matanya dan perlahan lahan tertidur.
****
16 Tahun Kemudian ....
Seorang gadis remaja berdiri di depan jendela menatap dunia luar. Mata gadis itu menyipit ketika melihat sesuatu seperti .... Sebuah cahaya? Ia mencoba memperjelas tapi,
"Eva," Ucap Wanita Seumuran Ren, Ibunya.
"Iya, Bi" Sahut Eva menoleh.
"Makan siang sudah selesai." Ucap Wanita tadi. Namanya Elen. Eva mengangguk lalu berjalan masuk tapi ia merasa ada sesuatu yang bersinar tepat di mana Ia berdiri tadi.
Eva menoleh ke belakang berusaha mencari. Tapi tak ada apa apa. Elen menyerngit,
"Ada masalah, Eva?" Tanya Elen. Eva menoleh kembali menatap Elen lalu menggeleng pelan.
"Tak ada." Ucap Eva. Mereka berdua kembali berjalan.
Di ruang makan, Alita telah berada di sana duduk dengan senyum menatap Eva. Eva membalas Senyuman itu.
"Kau darimana tadi?" Tanya Eva setelah duduk.
"Aku tak kemana mana. Aku hanya ke taman tadi." Eva mengangguk.
"Ayo makan."
****
Eva menyerngit dalam tidurnya. Cahaya terang apa ini? Eva membuka Matanya menoleh sekeliling. Apa itu cahaya yang ia lihat tadi?
Eva melihatnya, Cahaya itu menuju luar. Eva memutuskan untuk mengikuti dengan langkah pelan tapi cepat berusaha tidak membangunkan Alita.
Cahaya itu membawa Eva keluar dari pekarangan rumahnya. Eva menyerngit, Ketika cahaya itu menghilang tepat di depan hutan ini.
Eva tak bisa melihat apa apa. Tunggu. Kenapa ia tak dapat melihat apa apa? Eva berusaha memperjelas penglihatannya. Kabut Tebal? Hutan ini tertutupi kabut tebal.
Eva teringat sesuatu. Apa .... Ini adalah Hutan yang di ceritakan oleh ayahnya sewaktu ia kecil? Karena keadaan yang masih gelap, Eva memutuskan untuk pulang saja. Lagipula cahaya itu telah menghilang.
****
Eva termenung. Akhir akhir ini ia selalu saja mendapati cahaya itu. Kenapa Cahaya itu terus mengikuti nya?
Ia bahkan tak bisa tertidur nyenyak. Apa maksud dari Semua ini?
"Eva," Ucap Alita duduk di samping Kakaknya, Eva yang terlihat sedang berpikir keras.
"Ya?" Ucap Eva.
"Ada apa? Kau mempunyai masalah?" Ucap Alita perlahan lahan Eva mulai melihat setitik rasa khawatir di Mata Alita.
"Ya, Aku tak apa. Kau belum tidur?" Ucap Eva. Ia melihat ke arah jam. Ini sudah tengah malam dan Alita belum tertidur.
"Tidak." Ucap Alita.
"Ini sudah tengah malam. Sana, Pergilah tidur." Ucap Eva.
"Aku ingin tidur bersama mu." Ucap Alita. Eva mengangguk lalu mereka berdua berjalan menuju tempat tidur.
Alita telah tertidur. Sementara Eva terus mencoba untuk tidur, Pikirannya masih Mencari tahu tentang cahaya itu. Lama kelamaan Eva mulai tertarik ke dunia mimpi tapi, Lagi lagi cahaya itu membangunkannya.
Eva terbangun. Cahaya itu lagi. Eva berlari Pelan keluar kamar tak lupa menutup pintu dengan pelan juga supaya tak membangunkan Alita.
Eva mengejar Cahaya itu dan Lagi lagi cahaya itu menghilang di tempat yang sama, Yaitu Hutan Ajaib itu.
"Kenapa Cahaya ini seolah olah menyuruhku memasuki Hutan ini? Apa ada sesuatu?" Gumam Eva.
"Eva?"
Alita? Eva menoleh dan mendapati keberadaan Alita.
"Kenapa kau bangun?" Tanya Eva mendekat ke Alita. Alita justru menatap Heran Eva.
"Bukankah aku yang harus bertanya seperti itu?" Ucap Alita.
"Sudahlah. Ayo kita pulang, Ini sudah malam." Ucap Eva lalu berjalan diikuti Alita.
Eva menutup pintu kamar kembali. Alita sejak tadi menatapnya Penasaran yang Membuat Eva tak nyaman.
"Ada apa?" Ucap Eva.
"Kenapa kau berdiri di depan Hutan?" Ucap Alita. Eva menunduk.
"Entahlah. Aku juga tak tahu. Tapi, Akhir akhir ini ada sebuah cahaya yang seperti menyuruhku untuk memasuki Hutan itu." Jelas Eva.
"Memangnya ada apa dengan Hutan itu?" Tanya Alita. Eva memandang Alita dalam.
"Hutan itu .... Hutan itulah yang pernah di ceritakan oleh Ayah." Ucap Eva lalu kembali menunduk.
"Benarkah?!" Ucap Alita Kaget. Eva mengangguk.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Alita lagi.
"Tak ada cara Lain. Aku sepertinya memang harus masuk ke dalam Hutan itu." Ucap Eva.
Alita menggeleng keras.
"Tidak Boleh. Kau tahu bukan Hutan itu berbahaya. Aku tidak akan membiarkan mu memasuki Hutan itu." Ucap Alita. Eva mendongak menatap Alita.
"Alita, Kalau aku tak ke sana aku akan terus seperti ini. Aku yakin, Aku pasti bisa melakukannya." Ucap Eva mencoba meyakinkan Alita.
****
Keesokannya, Eva dan Alita telah berdiri tepat di depan Hutan itu. Eva dengan wajah yakinnya sementara Alita masih dengan wajah ragu dan khawatirnya.
Eva menoleh.
"Aku harus masuk." Ucap Eva. Alita menggeleng.
"Kalau kau masuk, Aku harus ikut masuk juga." Ucap Alita. Kini giliran Eva yang menggeleng.
"Tidak. Alita, Kau tahu bukan kalau ini berbahaya? Aku tak ingin ikut menarikmu ke dalam Masalah ini." Ucap Eva.
"Eva, Kita sudah bersama sejak kecil bukan? Kita pasti bisa melalui semua ini bersama sama. Aku yakin jika kita masuk bersama sama, Semua pasti akan lebih mudah." Ucap Alita menggenggam tangan Eva.
Eva menutup mata Sejenak lalu membuka nya. Eva mengangguk mantap.
"Baiklah." Ucap Eva. Alita tak melepas genggaman tangannya dari Eva. Eva menyentuh Kabut itu, dan perlahan lahan kabut itu membelah seperti memberi jalan untuk Eva dan Alita.
Sebelum Masuk, Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Genggaman itu mengerat, Mereka berdua saling menyemangati.
Mereka pasti bisa.
****
Eva dan Alita memandang takjub pemandangan dalam Hutan Berkabut ini. Tetapi mereka tak boleh terlalu terbawa suasana. Mereka harus tetap waspada.
Eva menyusuri Hutan Mencari Cahaya itu. Mereka melangkah hingga di langkah ke sepuluh, Mereka menemukan Empat Pohon yang saling berdampingan dan Juga terpisah dari pohon pohon yang lain.
Eva mendekat ke salah satu pohon. Ia mencoba memegang tapi Hawa panas dari pohon itu membuatnya kembali menjauhkan tangannya.
"Eva, Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Alita.
"Kita harus mencari Cahaya itu terlebih dahulu. Karna menurutku, Cahaya itu lah yang akan menuntun kita." Jelas Eva. Matanya kembali menelusuri Hutan.
Alita ikut melakukan seperti apa yang di lakukan Eva. Alita menyipit ketika mendapati sesuatu yang bersinar.
"Eva! Cahayanya!" Ucap Alita. Eva menoleh cepat mengikuti arah pandangan Alita. Eva spontan menarik tangan Alita untuk dia genggam kembali, Lalu mengajaknya berlari mengejar Cahaya itu.
Mereka terus berlari.
"Eva stop!" Teriak Alita. Mereka terhenti.
Di depan Mereka ada Laut dengan Ombak yang cukup besar.
"Eva, Bagaimana kita melewatinya" Ucap Alita. Eva berusaha berpikir.
"Kau tak bisa berenang?" Tanya Eva.
"Aku bisa." Ucap Alita. Eva mengangguk lalu menatap Laut di depannya.
"Kalau begitu, Kita harus berenang." Ucap Eva. Alita membulatkan Matanya.
"Apa kau serius? Laut ini sangat dalam." Ucap Alita takut. Eva kembali menatap Alita.
"Kalau begitu, Kau tunggu aku di sini." Ucap Eva.
"Tidak! Aku ikut."
"Alita, Kalau kau memang takut lebih baik kau di sini saja. Aku tak ingin membawa mu lebih jauh." Ucap Eva.
"Tidak. Kita memulainya bersama sama dan Menyelesaikan nya juga harus bersama." Ucap Alita.
"Kau yakin?" Tanya Eva. Alita mengangguk tersenyum.
"Ya."
"Baiklah, Ayo" Ucap Eva. Mereka berenang dengan Tangan yang saling menggenggam.
Alita menepuk punggung Eva. Eva menoleh, Alita menunjuk ke arah atas.
"Hahh .... Hahh .... Eva, Seperti nya Aku melihat sesuatu yang Aneh." Ucap Alita. Eva menyerngit.
"Sesuatu yang aneh?"
"Ya aku tadi melihat ...." Ucapan Alita terpotong ketika sebuah hewan berbentuk seperti kuda yang terbuat dari .... Air?! Bagaimana Bisa?!
Keduanya memandang kaget kuda air yang muncul itu.
"Eva, Bagaimana ini?" Ucap Alita panik dan Takut. Eva pun sama, Tapi ia meneliti baik baik kuda air itu yang masih diam di depan mereka.
Sepertinya kuda ini ....
"EVA!!" Teriak Alita ketika ombak besar menerjang mereka. Mereka terpisah. Alita berusaha menahan Napasnya dan memandang sekeliling mencari keberadaan Eva.
Ia melihatnya. Alita berenang menuju Eva berada lalu menggenggam tangannya kembali, Agar mereka tak terpisah lagi.
Kuda itu mendekat ke arah mereka, Tapi Eva dapat melihat kalau Kuda ini tak berniat melukai mereka. Malah Eva merasa kuda itu ingin membantu.
Eva menarik Tangan Alita mendekat ke kuda itu. Eva memberi kode ke Alita untuk Naik ke punggung kuda itu.
Alita menggeleng takut. Eva memegang pundak Alita untuk meyakinkannya. Alita naik dengan ragu ragu diikuti Eva.
Mereka berpegangan. Kuda itu berlari di atas Air melintasi Ombak besar. Mereka sampai di Permukaan dengan selamat.
Eva tersenyum kepada kuda itu. Kuda Air itu menunduk lalu masuk kembali ke Laut. Eva menatap Alita.
"Kau baik baik saja?" Tanya Eva. Alita mengangguk.
"Maafkan Aku. Seharusnya hanya aku yang masuk ke dalam Hutan ini." Ucap Eva menunduk. Alita menggeleng.
"Kau tidak boleh berjuang sendiri." Ucap Alita.
Eva mengangguk dan tersenyum.
"Ayo kita harus cepat." Ucap Eva. Alita memegang kembali tangan Eva. Mereka berlari kembali mengejar Cahaya itu.
Cahaya itu membawa mereka menuju sebuah lubang dimana mereka harus Ke bawah untuk bisa mengejar Cahaya itu.
"Alita. Kau sebaiknya tunggu aku di sini." Ucap Eva.
"Kenapa?"
"Aku akan ke bawah. Kalau kita ke bawah berdua, siapa yang akan menolong kita? Kau lebih baik di sini saja. Aku akan memberi tahu mu nanti ketika aku telah mengetahui semuanya." Ucap Eva.
Alita sebenarnya tak ingin meninggalkan Eva sendiri. Tapi tak ada cara Lain. Ia mengangguk. Eva memeluk Alita sebentar, Alita membalas Pelukan itu.
"Kau, Jaga diri baik baik." Ucap Eva. Alita mengangguk. Eva melompat ke dalam Lubang meninggalkan Alita yang masih khawatir.
Alita duduk agak jauh dari samping Lubang itu. Tiba tiba tanah bergetar, Apa akan terjadi gempa?
"Ada Apa ini?" Ucap Alita. Matanya membulat ketika mendapati Makhluk besar yang terbuat dari batu tepat berada tak jauh dari hadapannya.
Alita menoleh sekeliling mencari tempat persembunyian agar ia tak terlihat dari Makhluk itu. Alita bersembunyi di sebuah batu besar dengan tangan yang membekap mulutnya erat erat berusaha tak menimbulkan suara yang dapat memicu makhluk itu kemari.
Huhh .... Untung saja ia tak ketahuan. Alita memutuskan tetap berada di tempatnya menunggu kabar dari Eva.
****
"Tempat apa ini?" Ucap Eva. Cahaya itu! Eva berlari mengejar Cahaya itu. Tempat ini sangat gelap, Bahkan Eva nyaris tak dapat melihat apa apa. Tapi dengan begitu, Ia dapat lebih mudah mengikuti Cahaya itu.
Eva mengikuti Cahaya itu tak lupa juga ia waspada terhadap sekitar nya. Eva berhenti.
Eva menoleh sekeliling nya. Cahaya itu menghilang ....
"Eva." Sebuah suara terdengar begitu menggema di tempat sunyi dan gelap ini. Eva menyerngit ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Siapa?" Ucap Eva waspada.
"Kemarilah." Ucap Suara itu.
Tunggu .... Suara itu? Bukankah Suara itu adalah Suara Ibunya?
"Ibu?" Ucap Eva.
"Ya. Kemarilah, Eva" Ucap Suara itu. Eva melangkah ke depan dengan ragu.
Di depannya Kini ada 4 Permata yang berbeda warna. Kening Eva berkerut. Apa maksud semua ini?
"Eva, Maafkan Ibu karena harus melibatkan kalian berdua. Ibu tidak tahu harus percaya terhadap siapa lagi kalau bukan kalian berdua." Ucap Suara itu.
"Maksud ibu?" Ucap Eva.
"Cerita yang di Ceritakan oleh Ayahmu, Tak sepenuhnya benar. Mereka memang di undang pada Acara itu dengan tujuan perdamaian. Tapi, Kakek mu egois dan Tak mau menerima perdamaian itu. Roh Roh Hutan Ini Marah dan Membuat Semua nya menghilang entah kemana dan Membuat Hutan ini di tutupi kabut tebal, Agar tak ada orang lagi yang dapat memasuki Hutan ini." Jelas Suara itu.
Eva di beri gambaran. Ia bisa melihat semuanya di mana Saat itu Kakek, Ayah dan juga yang lain tertawa hingga hutan itu tertutup kabut.
"Ibu .... Ibu adalah orang yang menyelematkan Ayah disaat semua nya saling menyerang satu sama lain. Pada saat itu, Kebaikan ibu membuat Ibu di Abadikan oleh keempat Roh di sini."
"Apa .... Cahaya itu, Adalah ibu?" Ucap Eva ragu.
"Ya. Cahaya itu adalah ibu. Ibu Yang mengajak kalian berdua."
"Tapi .... Kenapa ibu hanya mengikuti ku, Kenapa Alita tidak?"
"Karena ibu tau. Alita tak akan membiarkan mu sendiri sekalipun hanya kau yang Ibu ajak kemari."
"Tapi Kenapa?" Ucap Eva.
"Kalian berdua harus menyelesaikan sesuatu."
"Sesuatu?"
"Sejak Perkelahian itu, Keempat Roh terpisah. Hal itulah yang membuat Hutan ini tertutupi Oleh kabut."
"Bukankah Hutan ini tertutup kabut karena kemarahan Roh Roh itu?" Ucap Eva.
"Ya. Tetapi karena Roh Roh itu terpisah adalah penyebab utama."
"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Ucap Eva.
"Menyatukan kembali keempat Roh tersebut."
"Bagaimana Caranya?" Ucap Eva bingung.
"Menghilangkan semua Rasa ragu juga takut dalam dirimu. Maka kau akan bisa menyatukan Roh Roh itu."
Eva terdiam. Ia harus yakin. Ia pasti bisa. Ia tak boleh ragu. Ia tak perlu takut. Alita menunggunya. Ia Pasti Bisa!
Di depannya 4 Permata mengambang di udara. Eva mendekat.
"Eva, Berhati hatilah. Karena, Jika setitik rasa ragu atau takut berada dalam dirimu Permata itu akan melukai mu ketika kau menyentuhnya."
Eva menarik napas lalu membuangnya. Begitu seterusnya hingga ia merasa tenang.
Eva menyodorkan tangannya menyentuh Permata pertama yang berwarna Merah terang, Sepertinya ini adalah Roh Api.
Eva meletakkan Permata itu pada Sebuah lingkaran transparan yang terbagi menjadi Empat sesuai warna.
Permata pertama berhasil. Eva menyentuh Permata kedua yang berwarna bening, Sepertinya ini adalah Roh air. Lalu meletakkan di tempat yang sama.
Lalu yang ketiga adalah Permata berwarna putih susu, Ini adalah Roh Es. Keempat berwarna Coklat, Ini adalah Roh tanah.
Ketika Eva meletakkan Permata terakhir, Tiba Tiba lingkaran itu berputar dan menghasilkan Cahaya yang sangat terang membuat Eva menutup kedua matanya.
"Eva, Roh Roh kembali bersatu. Kau berhasil! Sekarang Adalah tugas Alita."
"Alita? Kenapa tak aku saja yang melakukan semuanya?"
"Eva, Kau sudah melakukan tugas mu. Selanjutnya Adalah Alita, Dan tugasnya cukup mudah."
"Apa?"
****
Alita menyipit ketika sebuah cahaya yang sama yang ia lihat tadi kini berada di depan nya.
Cahaya itu berubah menjadi sebuah tulisan.
Hah?!
Air untuk menghilangkan Semuanya? Apa maksud nya? Alita mencerna maksud dari tulisan tadi yang kini telah menghilang.
Air untuk menghilangkan Semuanya. Air untuk menghilangkan Semuanya. Air untuk menghilangkan Semuanya.
Kata kata itu terus berputar dalam pikiran Alita. Apa ini pesan dari Eva? Apa Ia sudah selesai didalam sana?
Alita mencerna kembali kata kata itu. Air untuk menghilangkan Semuanya. Apa .... Apa itu berarti ia harus menghilangkan sesuatu? Tapi Apa?
Hutan Ini adalah Hutan Ajaib yang Di mana Empat Roh kuat bersemayam. Tapi .... Karena perkelahian membuat Roh Roh marah, Dan membuat Hutan ini menjadi tertutup Oleh kabut tebal.
Air untuk menghilangkan Semuanya. Apa itu berarti ia Harus menghilangkan kabut tebal ini? Ya!! Ia Paham sekarang.
Alita berlari ke arah Laut. Kuda itu. Kuda itu pasti bisa membantunya. Alita berdiri di Dekat laut. Kuda itu muncul.
Alita menaiki kuda itu dengan pikiran tertuju pada Ucapan Ibunya saat itu ....
" .... Di dalam sana terdapat laut dan juga bendungan yang tinggi. Hanya bendungan itulah yang tak tertutupi oleh Kabut Tebal, Karena sangat tinggi." Ucap Ren, Ibunya waktu menceritakan tentang hutan ini.
Alita sekarang harus mencari bendungan itu. Alita sampai di Permukaan laut. Ia menunduk berterima kasih pada kuda air itu. Kuda itu ikut menunduk lalu kembali memasuki air.
Alita berlari mengelilingi Hutan. Ia memutuskan untuk naik ke salah satu pohon untuk melihat setidaknya bagian bawah bendungan itu.
Dapat! Alita turun dan berlari ke arah bendungan itu berada. Tapi sebelum itu, Ia bertemu dengan. Astaga! Makhluk batu itu.
Alita tak boleh panik. Ia harus tetap tenang. Bukankah bagus kalau ia bertemu dengan Makhluk ini. Ya!! Makhluk ini bisa membantunya untuk menghancurkan bendungan itu.
"Hey!! Aku di sini, Ayo kejar aku kalau bisa!!" Teriak Alita memancing makhluk itu. Makhluk itu menggeram lalu mengejar Alita. Alita tersenyum senang.
"Ya! Ayo Ikuti aku." pancing Alita lalu berlari secepat mungkin ke arah bendungan itu. Makhluk itu melempar batu batu ke arah Alita.
"Wow wow. Sebenarnya ini cukup membahayakan ya? Ayo cepat kejar aku kalau bisa!!" Teriak Alita.
Bendungan itu semakin dekat. Alita mempercepat larinya. Ia memanjat bendungan itu lalu berdiri tepat di atasnya.
"Oh ayolah kenapa ini sangat menyeramkan?" gumam Alita. Oke oke ia harus Fokus, Makhluk itu berada cukup jauh.
"Hey!! Aku di sini!! Ayo kemari tangkap aku!!" Teriak Alita. Alita melotot ketika sebuah batu yang sangat besar terlempar ke arahnya.
Matilah dia.
Tapi, Tidak. Kuda itu datang, Alita langsung dengan Naik ke punggung kuda itu. Kuda itu berlari mengikuti aliran bendungan ini yang menuju laut.
Alita menoleh ke belakang ketika melihat bendungan itu hancur akibat lemparan makhluk itu yang tepat sasaran.
Air Bendungan tepat mengenai semua kabut dalam Hutan ini. Alita tersenyum, Ia berhasil.
Akan terjadi banjir? Tidak. Air dari bendungan itu akan menuju Laut.
Kabut menghilang saat Alita telah sampai di tepi Laut. Kuda itu kembali ke Laut lagi.
Alita bisa melihat langit biru lagi. Tapi .... Eva? Alita menoleh dan mendapati Eva di belakang nya tersenyum ke arahnya.
"Eva?!" Ucap Alita Kaget. Eva mendekat lalu memeluk Alita erat.
"Kau berhasil menghilangkan Kabut itu, Alita!! Terima Kasih." Ucap Eva. Alita membalas Pelukan itu.
"Kau baik baik saja? Apa kau terluka?" Ucap Alita khawatir. Eva menggeleng.
"Tidak, Aku baik baik saja." Ucap Eva.
Tanah kembali bergetar. Makhluk yang Alita lihat datang. Eva melotot kaget ketika makhluk yang terbuat dari batu itu membungkuk hormat ke arahnya dan juga Alita.
Tapi Eva kembali tersenyum ketika mengerti apa yang di maksud Oleh makhluk ini.
Eva dan Alita berbalik dan melangkah keluar hutan. di depan Hutan tempat yang sama dimana mereka berdiri pertama kali.
Eva dan Alita sama sama melempar senyum satu sama lain.
"KITA BERHASIL!" Ucap Mereka berdua bersamaan.
*****
T.A.M.A.T
Cerpen > Magic Forest : Hutan Ajaib
Selesai > 26 November 2020
*****
Terima Kasih telah Membaca Cerita Saya. Semoga Terhibur:)
Jangan Lupa Mampir Ke Novel Saya:)