Setiap hari selalu ada kejadian para warga yang menemukan ternak mereka sudah mati dengan kondisi mengenaskan, bagian lehernya bolong seperti ada makhluk yang telah menggigitnya, dari mulai ayam, kambing, hingga sapi yang telah di mangsanya.
Para warga sangat cemas, hingga mereka memutuskan untuk mengadakan Ronda tiap malam.
"Ardi, sebaiknya kamu berjaga di rumah malam ini, biar bapak yang pergi meronda, jaga ibu dan adik mu di rumah bapak takut jika makluk itu bukan hanya memangsa ternak juga bisa melukai manusia, terlebih lagi ibumu baru saja melahirkan," tutur Johan ayahnya Ardi, Johan adalah seorang ketua RT di kampung mereka ini.
"Iya pak, bapak tidak perlu khawatir, Ardi akan menjaga ibu dan adik bayi, tidak akan ada yang bisa melukai mereka pak," jawab Ardi.
"Baiklah bapak pergi dulu."
Johan dan beberapa warga memulai Ronda malam mereka, mereka berkeliling ke setiap penjuru rumah-rumah warga dan kandang hewan ternak mereka, sambil membawa obor, kampung mereka ini termasuk kampung yang cukup terpencil dan agak jauh dari desa-desa tetangga.
Ketika mereka tengah berkeliling tiba-tiba sebuah kepala wanita tanpa tubuh melayang di udara melintas di atas mereka.
"Pak RT, lihat makhluk apa itu?" teriak salah satu warga menunjuk, benda melayang itu.
"Iya pak, sepertinya makhluk itulah yang sudah menghabisi ternak-ternak kita pak," ucap yang satunya lagi.
"Ayo kita kejar makhluk itu!" mereka semua tanpa rasa takut mengejar makhluk itu, namun di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Indah gadis cantik yang menjadi primadona di desa mereka yaitu calon istrinya Ardi gadis itu tergeletak pingsan di depan rumahnya.
"Ya tuhan, Indah kamu kenapa?" Johan memangku Indah, dan warga yang lain mengetuk pintu rumah orangtuanya Indah. Orang tua Indah keluar dan nampak terkejut dengan kondisi Indah, setelah menolong Indah mereka melanjutkan Ronda malam mereka, namun sialnya mereka tidak menemukan jejak makhluk itu.
Siang harinya, maklhuk berkepala wanita yang tak memiliki tubuh itu menjadi topik pembicaraan di antara para warga, mereka mengambil kesimpulan jika makhluk itu adalah setan wanita yang selalu menghisap darah para hewan, makhluk itu bernama Kuyang.
"Pak bagaimana rupa Kuyang itu?" tanya Ardi penasaran.
"Kuyang itu terlihat seperti wanita, rambutnya acak-acakan dengan bagian jantung yang menggantung di bawah lehernya dan usus yang terburai."
"Ih, serem banget sih pak, trus gimana kalau makhluk itu nyerang bapak dan para warga yang lain?" ucap Ibu cemas.
"Ibu gak usah cemas, bapak tidak sendiri banyak warga yang akan ikut dengan bapak."
"Tapi, tetap saja pak, ibu takut terjadi apa-apa pada bapak."
"Bapak, akan berhati-hati bu, lagi pula mana mungkin kita biarkan makhluk seperti tetap ada di desa kita, bisa-bisa ternak kita habis di mangsanya."
"Pak, malam ini Ardi ikut Ronda ya pak, lagi pula kan ada nenek di rumah yang akan menemani ibu."
"Ya sudah boleh, lagi pula bapak sudah pasang perangkap untuk kuyang itu, kita akan menangkap nya malam ini."
***
Malam harinya, rumah para warga sudah terkunci rapat dan ternak-ternak mereka sudah di pindahkan ke tempat yang aman, rencana ini di buat oleh Johan agar Kuyang itu dapat di tangkap dengan cara memasang umpan berupa seekor kambing yang di ikat di sebatang bambu yang berada di halaman rumah salah satu warga.
Semuanya bersembunyi ada yang di balik pohon dan semak ada juga yang bersembunyi di belakang rumah warga yang lain. Kambing yang menjadi umpan mulai berbunyi hewan itu terlihat panik mungkin insting alaminya, merasai ada bahaya yang akan mendekat padanya dan benar saja Kuyang itu datang dan langsung menerkam kambing itu, dengan sigap para warga mengepung Kuyang itu sebelum makhluk itu pergi mereka merungkupnya dengan kain sarung yang di pakai salah satu warga, Kuyang itu meronta dan mendesis di dalam kain sarung, meski mereka ketakutan tapi, mereka harus melakukan semua ini agar Kuyang itu tidak lagi meresahkan para warga.
Ardi menyalakan api yang cukup besar dengan kayu bakar yang cukup banyak, yang telah mereka sediakan sebelumnya. Dan brush... dua orang warga yang bertugas memegangi kain sarung yang berisi Kuyang itu melemparnya ke dalam api yang langsung melalapnya dengan buas, Kuyang itu menjerit kesakitan dan meronta-ronta hendak kabur namun, ganasnya api langsung melahapnya habis hingga menjadi abu.
Seketika warga bersorak senang, akhirnya mereka bisa menghabisi Kuyang itu, namun, suara teriakan dan minta tolong membuyarkan suka cita yang tengah mereka rayakan."Tolong....tolong..!"
Secepat kilat mereka berlari ke asal suara itu, dan ternyata orang yang berteriak itu adalah ibunya Indah.
"Ada apa bu?" tanya Ardi panik.
"Nak Ardi, Indah nak ardi." Ibu tak sanggup bicara dia terus menangis tanpa henti.
"Ada apa dengan Indah bu?" karena tak mendapat jawaban Ardi langsung berlari ke kamar Indah, dan alangkah terkejutnya Ardi dia mendapati Indah sudah tergeletak tak bernyawa di lantai kamarnya dengan bagian kepalanya yang hilang.
"Indah...!" teriak Ardi sambil mendekat, namun, Johan menahannya agar tidak mendekat.
"Jangan Ar."
"Tapi pak, Indah.." Ardi terus menangis tiada henti perasaannya hancur, mimpi menikahi Indah musnah tak tersisa.
"Ardi, Indah bukan manusia tapi, Kuyang yang telah kita habisi tadi," ucap Johan.
Semua orang memekik terkejut bagaimana bisa gadis secantik dan sebaik Indah ternyata adalah Kuyang yang telah menghabisi ternak mereka.
"Saya sudah curiga saat kita menemukan Indah tergeletak pingsan di depan rumahnya, namun, saya tidak punya bukti untuk itu dan sekarang kalian melihatnya sendiri, Ardi kuatkan hatimu nak, mungkin ini adalah yang terbaik untuk mu," ucap Johan.
"Pak, Bu, yang sabar ya, mungkin ini adalah cobaan untuk kalian, agar kalian bisa semakin mendekatkan diri pada sang kuasa, kejadian ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kita, agar jangan sampai kita lalai dalam menjaga anak-anak kita dan memberikan pendidikan agama yang kuat agar mereka terhindar dari hal-hal buruk seperti yang terjadi pada Indah, besok kita akan mengadakan pemakaman yang layak untuk Indah."
Tamat.