Suatu malam, seorang anak laki-laki sedang menonton televisi sendirian di rumahnya. Tiba-tiba ia mendapat panggilan telepon dari ayahnya. Anak itu menjawab panggilan tersebut.
Anak : Halo?
Ayah : Selamat malam, nak.
Anak : Ada apa ayah?
Ayah : Maaf ayah tidak bisa pulang malam ini. Ayah sedang kerja lembur. Untuk malam ini saja. Ayah janji akan pulang besok. Apa kamu yakin tidak apa-apa sendirian malam ini?
Anak : Ayah, aku sudah berumur 12 tahun. Aku sudah besar. Aku bisa menjaga diriku sendiri.
Ayah : Apa kamu yakin? Apa kamu yakin tidak akan takut saat malam nanti?
Anak : Iya ayah, aku yakin aku tidak akan takut.
Ayah : Baiklah jika kamu yakin tidak akan takut. Sekarang sudah lewat jam 9, waktunya kamu untuk tidur.
Anak : Ah! Besok kan hari minggu. Sekali-kali, aku mau begadang. Aku kan sudah besar. Lagipula aku belum mengantuk.
Ayah : Hmm. Bagaimana jika ayah ceritakan dongeng pengantar tidur agar kamu mengantuk.
Anak : Huft. Apakah ini salah satu cerita horor bodoh yang membosankan itu lagi?
Ayah : Apa? Aku pikir kamu suka cerita horor yang ayah ceritakan.
Anak : Mungkin aku suka, tapi itu dulu saat aku masih kecil. Sekarang cerita horormu sudah tidak membuatku takut sama sekali.
Ayah : Baiklah, aku mengerti. Kamu sudah besar dan tidak ada yang bisa membuatmu takut.
Anak : Cerita horormu membosankan. Jika kamu ingin bercerita, pastikan dulu bahwa cerita itu benar-benar seram.
Ayah : Baiklah aku mengerti. Sebenarnya ayah memiliki satu buah cerita horor yang belum pernah ayah ceritakan kepadamu sebelumnya. Ayah pikir, cerita ini terlalu menakutkan untuk kamu dengar.
Anak : Ayolah, yah! Tidak ada cerita horor yang bisa membuatku takut.
Ayah : Baiklah. Dengarkan cerita ini ya.
Ayah : Suatu ketika, ada seorang anak lelaki bernama Chris. Anak ini banyak menggunakan internet. Dia bergabung dengan banyak forum di situs web. Dia mulai berbicara dengan anak-anak lain di forum online tersebut. Dia berteman dengan seorang anak laki-laki lain bernama BeautyKiller23. Mereka menyukai film dan acara TV yang sama. Mereka bermain game bersama secara online. Mereka mengobrol dan menceritakan cerita lucu satu sama lain.
Ayah : Setelah mereka berteman selama beberapa bulan. BeautyKiller mendengar bahwa ulang tahun Chris akan segera tiba. Karena mereka adalah teman baik, BeautyKiller23 ingin mengirimnya hadiah keren. Dia menanyakan alamat rumahnya kepada Chris. Awalnya Chris ragu-ragu. Dia memikirkannya sebentar. Dia sudah lama mengenal BeautyKiller23. Jadi dia pikir tidak ada salahnya untuk memberikan alamat rumahnya kepadanya, selama dia berjanji tidak akan memberikannya kepada orang lain. BeautyKiller23 bersumpah dia tidak akan melakukannya. Jadi Chris memberinya alamat rumahnya dan BeautyKiller23 berkata bahwa dia akan mengirimkan paket itu segera.
Ayah : Apa kamu pikir bahwa itu adalah ide bagus?
Anak : Uh.. Aku tidak akan memberikan alamat rumahku kepada orang yang tidak ku kenal. Itu adalah ide yang buruk.
Ayah : Aku pikir juga begitu.
Ayah : Akhirnya, Chris berpikir bahwa itu adalah ide yang buruk untuk memberikan alamatnya. Terutama kepada seseorang yang tidak dia kenal. Orang tuanya selalu mengatakan kepadanya untuk tidak melakukan hal itu. Dia merasa gugup dan bersalah tentang hal itu. Ketakutan dan rasa bersalahnya semakin besar.
Ayah : Menjelang tidur di malam berikutnya, ia memutuskan untuk memberi tahu orangtuanya apa yang telah ia lakukan. Mereka mungkin akan marah. Mereka bahkan mungkin akan menghukumnya. Tetapi itu semua akan ia lakukan untuk menenangkan pikirannya. Dia berbaring di tempat tidur sambil menunggu orang tuanya naik ke lantai atas untuk mengantarnya tidur.
Ayah : Chris berbaring di sana dalam kegelapan dan mendengarkan sekelilingnya. Dia mendengarkan semua suara di seluruh rumah. Dengung kulkas di dapur. Suara TV di ruang tamu. Tangisan adik bayinya di kamar sebelah. Derai lembut hujan di luar. Gesekan dahan di jendela kamarnya.
Ayah : Tetapi ada beberapa suara lain yang tidak bisa dia pahami. Akhirnya, dia mendengar langkah ayahnya menaiki tangga.
"Hai ayah?" Chris memanggilnya dengan gugup.
"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?"
Dalam kegelapan, dia melihat pintu kamar perlahan berderit terbuka. Ayahnya menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
"Ya, Nak," kata ayahnya dengan suara yang serak.
"Apakah kamu baik-baik saja, Ayah?" bocah itu bertanya.
"Ya, Nak," jawab ayahnya.
"Ummm ... Apakah Ibu ada di situ?"
"Aku disini!" kata ibunya dengan nada tinggi. Sang ibu menjulurkan kepalanya ke pintu kamarnya juga.
"Apa yang ingin kamu beri tahu kepada kami?" ibunya bertanya.
"Um ... kurasa aku membuat kesalahan besar," kata Chris.
"Aku tidak sengaja memberikan alamat rumah kita kepada seseorang di internet".
"Oh, kamu seharusnya tidak melakukan itu!" kata ibunya.
"Kami bilang jangan pernah melakukan itu!" kata ayahnya.
"Kepada siapa kamu memberikannya?" tanya ayahnya.
"Um ... anak ini bernama BeautyKiller23," kata Chris.
"Oh, tapi dia bukan anak kecil!" kata ibunya.
"Dia hanya berpura-pura menjadi anak kecil untuk membodohimu."
"Dan apakah kamu tahu apa yang dia lakukan?"
"Dia masuk ke dalam rumah dan membunuh kami berdua!"
"Hanya supaya dia bisa menghabiskan waktu bersamamu!"
Ayah : Tiba-tiba, pintu terbuka lebar. Seorang lelaki gemuk dalam jas hujan kuning berdiri di sana di ambang pintu. Dia memegang sesuatu di tangannya. Kepala ibu dan ayah Chris yang terputus. Chris tersentak dan menjerit ketakutan. Pria itu menjatuhkan kepala mereka di lantai dan mengeluarkan pisaunya.
Ayah : Setelah beberapa jam, Chris disiksa oleh lelaki itu hingga mati. Jeritan ketakutan Chris berubah menjadi tangisan menyedihkan. Kemudian si pembunuh memperhatikan sesuatu. Dia mendengar tangisan seorang bayi di ruangan kamar lain. Dia membungkuk dan mengeluarkan pisau yang menancap dari perut Chris.
Ayah : Kemudian dia berbalik dan mengikuti suara tangisan bayi itu. Ketika dia sampai di kamar bayi itu, dia berjalan ke tempat tidur. Dia mengambil bayi itu dan menggendongnya. Bayi itu berhenti menangis.
Ayah : Bayi itu menatapnya dan tersenyum. Pria itu belum pernah menggendong seorang bayi sebelumnya. Dia mengelus pipi bayi itu. Dia berjalan keluar dari kamar bayi dan membawa bayi itu bersamanya. Dia membawa bayi itu pulang dan membesarkannya sebagai putranya sendiri. Dia menamainya "William".
Anak : Tunggu dulu, ayah!
Ayah : Ada apa, nak?
Anak : Tapi ayah... namaku adalah William
Ayah : Aku tahu itu, anakku.
Tiba-tiba panggilan terputus.
*Tut.. Tut.. Tut*
Ayah : Halo? Anakku? Mengapa kau menutup teleponnya? Apakah cerita ini terlalu seram untukmu?
Ayah : Apapun yang terjadi, aku akan tetap menyayangimu anakku. Selamat malam. Mimpi yang indah.