Matahari telah menyumputkan wajahnya, lampu-lampu penduduk telah menerangi langkah sepasang kakiku ini. Aku berjalan ditemani rasa kekhawatiran, lalu kupercepat langkahku, semakin cepat dan cepat sehingga tak kuperhatikan jalanku. Tiba-tiba aku tersandung oleh sebuah balok di tengah jalan lalu kulihat benda itu penuh ukiran seperti sebuah kata sandi yang belum terpecahkan oleh pemilik sebelum nya. Terlihat dalam ukiran itu, tercantum alamat dan seperti di dampingi oleh sebuah kata sandi. “Gg. Beringin Raya, nin 6808 pu” ukiran yang tercantum dalam balok itu. Lantas kubiarkan saja balok itu di tengah jalan.
Langkah cepat tak terasa telah membuat dirku berdiri di bibir rumah, dalam kekhawatiran kucoba membuat rancangan alasan untuk ibu.
Kubuka gagang pintu perlahan
“Ihh, kok payah sih?”, kejutku.
“Assalamualaikum…!”. Kuteriakkan salam dan gedoran pintu mewarnainya.
Tak ada yang membuka pintu itu mungkin mereka sudah tidur atau sengaja tak menggubrisku, lalu dengan pasrah kusandarkan badanku yang sangat letih ini di pintu rumah. Sejenak ku pikirkan balok tadi, entah mengapa otakku selalu tercantel ukiran-ukiran itu.
Tidak terasa aku tertidur dalam posisi yang kurang nyaman, semua rasa kesal dan lelah ku hilang di lenyap suara jangrik. Tiba-tiba, BRAK!, tarikan pintu rumah telah membuatku jatuh dari senderanku.
“Cepat sekali? Tidurku kok cepat bener ya?”. Tiba-tiba ibu membetakku dengan keras.
“Andi! Udah jam berapa ini?! Tadi malam main kemana aja kamu! Sudahlah! Bukalah bajumu, sana mandi!”.
“Kok cepat banget tidurku bu, kayaknya cuma 5 menit, gak nyampe malahan!?” renungku.
“Andi-Andi? memang kamu ngitung waktu pas kamu tidur, cepat sana, keburu masuk!”
“iya ya, Bu” jawabku.
Kuguyurkan tubuh mungilku ini, setelah itu ku siapkan segala peralatan sekolah. Di sela-sela itu, terdengar suara sahabat karibku memanggil.
“Ndi! yu berangkat bareng!”
“Udah duluan aja Ndu!” teriak ku.
Ketika sepatu telah lekat di kaki ku, lalu ku melangkah bersama sinar UV yang kaya akan vitamin D. ku telusuri gang-gang sempit menuju sekolah, ketika itu, ketika setengah perjalanan atau lebih, ketika melewati gang Beringin Raya ku dibuat agak ganjil olehnya, ah sudahlah tak peduli! pikirku dalam hati.
Ku tebar senyum untuk teman-temanku yang menyambutku di gerbang sekolah, tepat pada itu lonceng berdengung menarik kami untuk memasuki kelas. Pelajaran hari ini tak ada yang masuk di otakku, tak sama sekali. Ku lewati hari-hari sekolah penuh dengan renungan, renungan akan balok itu. Terasa cepat sekolah hari ini, lonceng berdering membawa para murid mengeluarkan teriakannya masing-masing.
Kulangkahkan kakiku penuh renungan melewati labirin kota. Suara hening tanpa obrolan, kulihat Pandu diam tanpa kata. Tetapi, pemandangan ganjil telah merubah suasana ketika ku telusuri gang yang biasa kulewati, gang Beringin Raya.
“Ndu, Ndu bentar geh!”
“Ada apa Ndi?” tanyanya dengan suara serak.
“Bentar…” Kuperhatikan dengan jeli setiap sudut gang.
“Hhaaa…!” kejutku.
Ku melihat rumitan angka dan huruf pada sebuah rumah anjing peliharaan di salah satu rumah yang ada di gang tersebut. Ku teringat akan balok misterius itu, ku berlari dengan kencangnya menuju ke tempat balok itu sebelumnya berada.
Ketika ku berada di tempat asal balok itu ku temukan balok itu dalam keadaan berbeda, ku raih balok itu lalu mulai berlari kembali menuju ke gang tersebut.
“Hh..Hh..Hh.. ada apa sih Ndi?” tanyanya dengan terengah engah.
“udah, ikut aja…!” jawabku
Mulai ku masuko halaman rumah bisu itu, rumah anjing peliharaan di Sudut halaman rumah itu telah mengundang misteri. Ku perhatikan seksama, terlihat rumitan angka dan huruf di rumah anjing itu tertera bacan nd 8089 uiu.
“jika, balok ini… dibalik hurufnya?… sama!” kejutku.
“huh… uhh… hekk… ahh… yap!”
“eh, eh, mangga orang jangan di ambil!”
Pandu tidak menghiraukannya, ia raih mangga itu lewat lompatannya yang cekatan.
Tiba-tiba rumah anjing peliharaan itu bergerak setelah Pandu meraih mangga itu dan menampakkan sebuah lorong rahasia.
“Pandu? Lihat itu”
“Waahh…lorong, Ndi”
“Ayo coba kita lihat isinya Ndu” ajakku.
Ku telusuri anak tangga lorong itu, kulangkahkan kaki dengan perlahan. Terlihat 3 pintu terbuka di depan, lalu kumasuki jalan yang paling kiri, ketika ku mulai memasuki nya cahaya putih telah menyilaukan mataku. Kulihat anak kecil yang banyak tingkah berkeliaran teratur kesana kemari dan di kawal dua insan yang bersatu. wajah anak itu sudah tak asing bagiku lagi, wajah itu persis sekali dengan wajah yang ada di foto kamar ibu, yap benar! anak itu tak salah lagi adalah aku.
Keluarlah diriku dalam ruangan yang penuh haru itu, entah Pandu pergi kemana, mungkin hilang di telan cahaya tadi, entahlah, yang harus kulakukan saat ini adalah memasuki ruang yang ke-dua, tepat nya di tengah. Ketika ku memasuki ruangan itu tak terlihat apapun semua warna hanya putih silau, tapi tak sunyi. Ku dengar suara kasar pada ruangan itu, suara kasar dari pita suara yang belum terlalu besar dan terdengar suara lirih dari suara perempuan tua yang sudah tak lancar dalam berbicara. Tapi aku hafal suara itu, suara itu tak beda jauh dari suaraku, sudahlah tak tega, ku mendengar suara perempuan tua itu.
Lalu keluar ku dari ruangan itu. Langsung saja ku tuju ke ruang terakhir dengan harapan, bahwa lorong itu menggembirakan. Ketika ku masuki lorong itu harapan ku nyata, ketika ku masuki ruangan itu, terlihat air terjun yang indah, karena keindahan tersebut, ku tertarik untuk sekedar meraupkan wajah dan meminum secukupnya untuk melepaskan segala haru dan takut, lalu kuraupkan wajahku dan meminumnya seteguk. Ketika ku meminum nya, air itu seperti mengandung NaCl, sangat tak enak rasanya. Karena penasaran, ku ingin ke atas untuk melihat sumber air terjun itu.
Ketika tubuhku tegak berdiri di tebing dekat air terjun, ku dibuat terkejut oleh nya. Ku lihat puluhan orang menangis membentuk gerombolan yang mungkin ada sesuatu di tengah nya, mereka lah yang membuat air terjun NaCl. Dengan cepat ku masuki gerombolan itu, ku menuju ke inti yang mereka geromboli, dan pada saat ku melihat apa yang mereka geromboli, ku melihat seseorang terkapar kaku di balik jarik kematian, saat ku buka jarik itu, wajah itu sangatlah persis dengan wajah ibuku, kulihat ia sudah tak berdaya.
Tak tega ku melihatnya, ku ingin keluar dari ruangan buruk itu, ku keluarkan seribu langkah dengan cepatnya. Tetapi itu tak berbuah hasil, karena sebuah gerbang lengkap dengan rantai bergembok telah menghentikan semua langkahku, ku terkurung dalam ruangan itu. Dalam keadaan pasrah tiba-tiba ku terbayang akan wajah ibu, aku ingin keluar dari lorong itu. Tiba-tiba sebuah balok besar menghujam bagian belakang tubuhku. BRAAAK! Balok itu telah membuatku terkapar, tak kusangaka, lantai tempatku terkapar terasa dingin.
“kok aku gak mati ya?” ku bertanya-tanya sendiri.
“jelas gak mati! Orang tidur di depan rumah kok mati! Kalo kamu dimakan binatang buas, Baru… mati, dari mana aja kamu semalem!”
“Alhamdulillah Cuma mimpi, ibu! Aku sayang kamu!” teriak ku sambil memeluknya dan mengeluarkan air mata
“@#W%$TR@%?/+_? Ada apa sih kamu? Aneh? Udah mandi sana!”
Ku masih lemah layaknya seorang banci berkelamin ganda, mengeluarkan air mata tiada hentinya. Tetapi aku sangat bersyukur tadi hanyalah mimpi, mimpi itu telah membuatku jera, tetapi balok itu? Ahh, whatever. karena yang terpenting, bahwa saat ini aku masih memiliki bidadari yang tak memiliki sifat gaib, ia adalah IBU…
- Selesai -