Banyak yang berkata bahwa aku ini Lesbian. Ingin tahu kenapa? Baiklah! Hanya karena aku tidak pernah berpacaran atau dekat dengan laki-laki, aku dikatai seperti itu. Tapi percayalah! Aku ini perempuan normal yang masih menyukai laki-laki. Aku tidak pernah berpacaran karena tidak ingin jatuh cinta. Walau sulit aku menolak datangnya cinta, tapi jika itu datang, selalu saja aku berhasil menguburnya. Toh cintaku sudah aku serahkan pada Tuhan dan juga agamaku.
Namaku Pelangi Ahma Cantika. Umurku sudah dikatakan cukup tua. Delapan belas tahun! Meski masih tergolong usia dewasa muda, tapi menurutku 18 adalah umur yang sudah tua. Singkat saja, aku berkuliah di salah satu universitas di Indonesia. Aku mengambil jurusan Bisnis Manajemen. Cita-citaku memang menjadi seorang wanita karir. Untuk itulah aku tidak terlalu memikirkan cinta.
Saat itu aku sedang duduk sendirian di bawah pohon rindang sambil membaca buku tebalku. Hijabku yang berwarna hitam dan dipadukan dengan baju longgar untuk menutupi lekuk tubuhku, berkibar diterpa angin. Tapi aku mengabaikannya. Aku terus saja fokus pada buku yang ada di tanganku. Banyak orang yang berlalu lalang di depanku sembari bercerita atau tertawa ria. Dari semua yang lewat, hampir seluruhnya memakai tas selempangan. Hanya sedikit yang menggunakan tas punggung.
Saat aku sedang serius dengan bacaanku, seseorang berdehem. Awalnya aku abaikan karena aku pikir deheman itu bukanlah ditujukan padaku. Namun setelah aku celingak-celinguk dari kanan ke kiri, barulah aku sadar bahwa pemuda yang berdiri persis di depanku sembari tersenyum itu, sedang menatapku.
“Ya?” kataku singkat. Laki-laki itu tersenyum lalu mengambil tempat di sampingku. Jujur saja, aku kaget melihatnya melakukan itu. "Berani sekali dia berlaku demikian? Bukankah di dalam Islam, seorang wanita dan laki-laki dilarang berdua-duaan jika mereka tidak terikat pernikaham atau hubungan darah? Lalu apa yang dia lakukan?" Gumamku.
“Sejuk ya?” Katanya. Aku masih diam dan sama sekali tak berniat menanggapi. Namun, laki-laki itu tersenyum lagi kepadaku.
“Namaku Elang Leviandra Pranata. Panggil saja Elang.” Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku hanya memandang tangan putihnya yang sedang terulur. Bibirnya yang merah terus mengukirkan senyuman.
Kalau saja aku sejenis perempuan-perempuan yang pecicilan, pastilah aku bahagia diajak berkenalan oleh Elang. Wajahnya tampan dengan mata hitam cemerlang, alis tebal lurus yang membuat tatapannya tajam seperti burung Elang. Hidungnya mancung dan bibirnya merah mempesona. Rambutnya hitam seperti pualam dan halus seperti sutra. Namum aku tidak melihatnya seperti laki-laki pemain perempuan. Justru ia terlihat cerdas.
“Pelangi Ahma Cantika. Panggil saja Pelangi,” kataku pada akhirnya. Namun dengan nada yang sangat dingin. “Maaf aku tidak bisa menerima uluran tanganmu. Kau bukan Mahramku.”
Elang menarik tangannya. Bibirnya masih tetap tersenyum. Ia lalu bergeser agak menjauh dariku dan memberi sedikit ruang diantara kami berdua.
“Aku mengerti,” kata Elang masih tersenyum kepadaku.
Aku kembali fokus pada bukuku. Aku berusaha mengabaikan Elang yang masih duduk dengan jarak yang cukup jauh. Sesekali aku meliriknya untuk memastikan apakah dia masih ada atau sudah pergi, dan yang kudapati adalah mata tajamnya yang sedang memperhatikanku. "Aku heran, mengapa ia tiba-tiba datang padaku? apa yang menarik dari perempuan berhijab panjang, berbaju besar longgar yang menutupi seluruh tubuhnya seperti aku?", Jawablah! Aku berani bertaruh, jawabannya pasti tidak ada," kataku dalam hati. Karena aku risih, aku menutup bukuku dengan kasar lalu memandangnya. Saat mata kami bertemu, dia tersenyum lagi.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Aku mengeryit. Wajahnya yang tampan itu seperti tidak pernah melakukan dosa apapun saat mengucapkan dua kata tersebut.
“Menurutmu?” kataku ketus.
Elang tetap tersenyum. Bahkan senyumnya semakin parah memesona. Matanya yang indah sampai membentuk sebuah garis setengah bulan karena tersenyum.
“Aku sengaja tidak mengajakmu berbicara saat kau membaca tadi. Mungkin aku akan mengganggumu jika aku lakukan,” katanya.
Apakah dia bisa berpikir saat mengucapkan itu? Bukankah saat dia berdehem, dia sudah menggangguku?
“Maaf?” kataku ketus. Lagi.
Elang beranjak dari tempat dia duduk. Tersenyum ke arahku lalu berkata, “Sampai ketemu besok,” la berdiri lalu beranjak pergi. Sementara aku, masih terpaku dengan dengan kata perpisahannya itu.
Keesokan harinya, aku kembali duduk di bawah pohon itu untuk melanjutkan bacaanku yang kemarin. Tentu saja! Aku ke tempat ini bukan untuk bertemu dengannya. Sudah jelas dia hanyalah laki-laki yang kebetulan mampir untuk merecoki aktivitasku. Saat bacaanku sudah sampai dipertengahan halaman, Elang datang. Tanpa mengucap sepatah katapun, dia langsung mengambil tempat. Sedikit jauh seperti kemarin. Di tangannya juga terbuka sebuah buku yang serius dibacanya. Saat aku perhatikan, barulah aku sadar bahwa itu adalah sebuah Alkitab. Kitab suci dari agama Kristen. Aku sontak terpaku saat mengetahuinya. Belum pernah aku bertemu dengan seorang Nasrani sebelumnya. Apalagi berbicara. Ketidakterbukaanku mungkin menjadi faktor utama sulitnya bersosialisasi dengan orang lain.
“Maaf?” kataku pelan. Elang mengalihkan pandangannya dari Alkitab lalu memandangku. Tentu saja dengan senyumnya yang menawan.
“Ya,” balasnya. “Kenapa?”
“Kau seorang Nasrani?” tidak tahu darimana, tiba-tiba saja mulutku mengeluarkan pertanyaan itu.
“Ya, kenapa?” jawabnya. Senyumnya hilang.
Menyadari perubahan wajahnya, aku buru-buru berkata, “tidak apa-apa. Aku hanya memastikan.”
Senyum di wajah Elang kembali. Entah mengapa, aku merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa. Aku kembali fokus pada bacaanku, begitupula dengannya. Untuk beberapa saat hanya suara dedaunan yang bisa kudengar dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi. Sebelum akhirnya suara berat Elang memecah keheningan.
“Pelangi?” panggilnya.
“Ya?” jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari bacaanku.
“Kamu mau jadi temanku?”
Pandanganku spontan teralih dari buku saat mendengar permintaan Elang. Sungguh jarang, bahkan tidak pernah ada yang meminta padaku untuk menjadi temannya. Ah tidak. Mungkin aku salah dengar.
“Apa?” tanyaku agar Elang bisa mengulangi kalimatnya yang tadi. Dan tentu, untuk memastikan pendengaranku. Wajah berharap Elang berubah menjadi wajah kesabaran yang sungguh luar biasa. Ia lalu berkata lagi, ”Kamu mau jadi temanku?”
Saat mendengar kalimat itu untuk kedua kalinya, aku tidak tahu sedang merasakan apa. Aku sama sekali tidak tahu rasa dari sebuah pertemanan. Lalu? Apa yang harus aku lakukan? Menjawabnya? Menjawab apa?
“Pelangi?” suara Elang yang menyebut namaku mengeluarkanku dari lamunan.
“Maksudmu menjadi teman?”
“Ya menjadi teman. Kau dan aku menjadi teman,” tegasnya.
Aku ragu. Apakah lebih baik aku menerima tawaran pertemanannya? Toh tidak ada salahnya kan?
“Baiklah. Kita berteman,” aku tersenyum sesudah mengatakan itu.
Hari berikutnya, kami bertemu di bawah pohon itu lagi. Kali ini, kami tidak lagi terfokus pada bahan bacaan yang kami bawa. Melainkan ke berbagai topik. Semakin hari, kami semakin dekat. Ada saja hal yang kami bahas saat kami bertemu. Ternyata, Elang adalah orang yang sangat baik. Tidak pernah memandang wanita berhijab dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan pakaian longgar, dengan tatapan rendah. Justru ia selalu berkata bahwa ia kagum. Katanya, wanita seperti itu sungguh hebat karena bisa bertahan menggunakan pakaian seperti itu ditengah cuaca Indonesia yang panas.
“Mesjid sudah berbunyi. Tidakkah kau pergi dan menunaikan kewajibanmu?” katanya disuatu Ashar. Aku memandangnya kaget. Tidakkah aku salah dengar? Seorang Nasrani memperingatkanku atas kewajiban yang harus aku jalani. Bukannya mengapa, aku kagum mendengar kata-kata itu. Temanku, yang aku tahu tidak ada, tidak akan memperingatkanku seperti itu. Tapi Elang? Manusia jenis apa dia?
“Baiklah. Aku akan ke Mesjid sekarang juga,” kataku sembari tersenyum. “Lalu, kau akan kemana? Ke kelasmu?”
“Mengantarmu,” satu kata itu membuat sesuatu dalam perutku beterbangan seperti kupu-kupu. Jangan berpikir aku adalah orang lebay atau kepo, tapi percayalahlllaku merasakan sesuatu meggelitik perutku.
“Kau yakin?” tanyaku. Aku hanya berusaha memastikan.
“Tentu,” katanya mantap. Ia lalu beranjak dan menatapku yang masih duduk di tanah berumput jepang yang tumbuh seperti karpet berwarna hijau.
“Pelangi?” ucapnya pelan. Sebelah alisnya naik saat menyebut namaku, juga ada nada heran dalam suaranya.
“Oh maaf,” awalnya aku tidak mengerti, tapi saat melihat alisnya yang terangkat, barulah aku sadar bahwa aku masih tetap dengan posisiku yang semula. Aku kemudian berdiri dan dia berjalan terlebih dahulu. Aku di belakangnya mengekor menuju masjid. Mungkinkah dia tahu aturan seorang lelaki lebih baik berjalan di depan wanita yang bukan mahramnya. Tidak lama kemudian, aku dan Elang tiba di Mesjid terdekat. Aku melepas alas kakiku dan langsung menuju tempat wudhu. Sementara aku pergi berwudhu, aku melihat sekilas ke arah Elang yang duduk di parkiran di atas sebuah motor metik. Sesekali ada orang yang menatapnya heran. Mungkin orang-orang itu berpikir, mengapa ada Muslim yang hanya duduk-duduk di atas motor padahal sudah masuk waktu Salat? Andai saja orang-orang itu tahu bahwa Elang adalah Nasrani yang sangat bertoleransi. Tapi sudahlah. Biar Allah dan aku saja yang tahu tentangnya saat ini.
Lima belas menit kemudian, Salatpun selesai. Aku bergegas menghampiri Elang yang masih di tempatnya seperti tadi. Saat aku tiba di dekatnya, dia tersenyum kepadaku. Sekali lagi, senyumnya itu memberikan efek kupu-kupu terbang didalam perutku. Begitu menggelitik.
“Maaf lama,”
Elang tersenyum lalu berkata, “Sampai malam pun aku tidak apa. Itu adalah kewajibanmu pada Tuhanmu, dan aku sudah menawarkan diri untuk menemanimu. Tidaklah kau bersalah karena aku menunggumu terlalu lama.”
Aku terpesona dengan perkataannya itu. Elang benar-benar lelaki yang berbeda dari lelaki lain. Jenisnya begitu langka untuk didapatkan.
Astagfirullah… Batinku. Mengapa aku bisa berpikir begitu? Ingat, Elang keyakinannya berbeda dengan keyakinanku. Lagipula kami hanya berteman.
Saat di rumah. Aku berpikir keras. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa selalu ada efek kupu-kupu beterbangan didalam perutku saat melihat senyum Elang? Mengapa aku selalu merasakan itu saat berada di dekat Elang? Jantungku juga berdegup kencang saat tatapan mata kami bertemu. Aku bingung. Aku ini sebenarnya kenapa? Sangat lama aku memikirkannya hingga hampir jam dua belas malam. Aku tahu malam sudah selarut itu saat mataku tidak sengaja melirik ke arah jam dinding berwarna putih yang ditengahnya terdapat Kaligrafi berlafadz Allah. Ah sungguh bodoh aku. Mungkin lebih baik aku menunaikan solat malam.
Aku keluar kamarku dan menuju tempat wudhu yang ayahku sengaja buat untuk kami. Bisa dikatakan, rumahku mempunyai tempat wudhu sendiri karena keluargaku taat pada agama. Kami tidak pernah lupa akan kewajiban kami kepada sang pencipta. Sebesar apapun nikmat yang diberikan dan sebesar apapun musibah yang kami dapat. Sujud kami akan selalu tercurah kepada-Nya.
“Yaa Allah… Aku sebenarnya kenapa? Apa yang aku rasakan pada pemuda Nasrani itu? Mengapa jantungku ini bekerja dua kali lipat saat berada di dekatnya? Mengapa aku selalu merasakan sensasi menggelitik didalam perutku saat pemuda itu melemparkan senyumnya kepadaku? Beritahu aku Ya Allah, apa yang sedang aku rasakan ini? Ya Allah, aku khawatir, yang aku rasakan adalah sebuah perasaan yang terlarang. Aku khawatir yang aku rasakan adalah rasa perempuan pada laki-laki. Ya Allah, jika demikian, hapuskanlah rasaku itu. Keyakinannya berbeda denganku dan tentu, itu tidaklah dibenarkan.,” doaku seusai salat malam.
Besok paginya, aku kembali ke bawah pohon tempat kami sering menghabiskan waktu beberapa minggu ini. Aku membuka buku kultum yang baru saja aku beli. Lama aku membacanya, Elang tidak terlihat. Batang hidungnya sama sekali tidak tampak. Aku mulai gelisah. Entah mengapa, tetapi ada rasa kekecewaan saat tidak bertemu Elang pada hari ini. Mendadak saja aku merasakan kesedihan. Aku beranjak dan pergi dari sana.
Keesokan harinya, aku kembali ke tempat itu, dan tetap saja, batang hidung Elang tetap tidak terlihat. "Apa yang membuatnya tidak bisa ke tempat ini? Hal penting apa yang ia kerjakan hingga tidak sempat ke sini? Adakah sesuatu yang lain yang menghalanginya menemuiku. Entahlah, semuanya hanya prasangka. Tidak ada satupun alasan yang bisa menjelaskan."
Mendadak, ada sesuatu yang aneh mengganjal pikiranku. Tapi aku sendiri bingung hal apa yang membuatku kali ini benar-benar galau. Apakah gerangan denganku hari ini? Apa yang kumiliki ada yang hilang? Setahuku, tak ada satupun benda kepunyaanku yang hilang. Aku baru sadar, itu…, itu adalah sebuah perasaan. Perasaan yang seharusnya bisa aku kubur. Cinta, aku merasakannya lagi dan ya, ini terlarang. Tidak mungkin Hijabku bergandengan dengan Salib Elang. Tidak mungkin. Tapi aku tidak bisa. Tidak bisa menguburnya. Karena aku mencintainya.
Saat itu juga aku bertekad untuk menyampaikan perasaanku pada Elang saat kami bertemu nanti. Sungguh bodoh aku tidak menanyakan nomor telepon ataupun alamat rumahnya. Bahkan, fakultasnya pun aku tidak tahu. Sungguh banyak ketidaktahuanku tentangnya. Tapi kenapa aku bisa mencintainya?
Detik demi detik berlalu. Elang sama sekali tidak muncul. Ia bagaikan hilang ditelan bumi. Sudah sering aku mencarinya, bahkan aku setia menunggunya di bawah pohon tempat kami pertama bertemu dulu. Berharap, dia akan datang dan berdehem saat aku sibuk membaca bukuku. Kemudian ia akan duduk dengan jarak yang cukup jauh denganku. Tak lupa dengan senyum menawan yang terukir di wajah tampannya. Sayangnya, itu hanyalah imajinasiku semata. Entah kapan dia akan datang lagi menemuiku. Menemui Vera, perempuan berhijab dan berbaju longgar yang pada hari itu Elang recoki.
Rasa cintaku sama sekali tidak hilang. Aku terus datang di bawa pohon itu untuk menunggu Elang. Tidak ada rasa bosan yang dirasakannya untuk menunggu lelaki Nasrani yang yang telah mengambil separuh hatiku dan membawanya menghilang.
“Elang…,” lirihku. Buku yang aku baca hanya menjadi pajangan di pangkuanku. Mataku tertuju pada tulisan yang ada dibuku, tapi pikiranku mengelana mencari Elang. “Dimana kau? Tahukah kau? Aku menrindukanmu.”
*****
3 Tahun Kemudian…
Sudah tiga tahun aku menunggu Elang di bawah pohon bersejarah ini. Tahun ini adalah tahun terakhirku berkuliah. Dua bulan lagi aku akan diwisuda. Aku akan meninggalkan kampus, tempat terdapat kenangan bersama Elang.
Aku masih menunggu Elang. Laptop terbuka di depanku, berusaha berpikir keras untuk menyelesaikan skripsiku. Tapi sesekali pikiranku teralih dari skripsi ke Elang. Apa kabar dia? Masihkah dia mengingatku? Perempuan berhijab yang dulu dia recoki? Perempuan yang pernah dia antar ke Mesjid untuk menunaikan kewajibannya? Entahlah, mungkin saja dia sudah lupa.
Waktu salat Ashar sudah masuk. Aku membereskan barang-barangku dan bergegas menuju mesjid. Lima belas menit kemudian aku sudah menunaikan salat dan kembali ke pohon itu. Saat sudah semakin dekat dengan pohon itu, mataku menangkap sesosok lelaki sedang duduk di tempatku tadi. Pandangannya tertuju ke depan. Mataku membulat saat mengenali sosok itu. Langkahku ku percepat agar bisa cepat sampai. Air mataku mulai tergenang di pelupuk mata karena bahagia. Lelaki itu tidak menyadari kehadiranku.
“E-Elang?” Dengan suara bergetar.
Ia berpaling dan memandangku. Senyumnya terukir seperti dulu. Terukir di wajah tampannya yang sulit aku lupakan beberapa tahun ini. Elang berdiri dari duduknya, dengan suara yang tidak berubah sama sekali, “Hai Pelangi. Apa kabar?”
Aku tidak menjawab, aku langsung memeluknya. Aku sama sekali tidak bisa menahan rasa rinduku padanya, lelaki Nasrani yang kian lama menghilang itu. Bahkan untuk sejenak, aku lupa larangan menyentuh lelaki yang bukan mahramku.
“Kau dari mana?” kataku sembari melepaskan pelukanku. “Maaf.”
Air mata jatuh dikedua pipiku. Sungguh aku merasa bahagia bisa melihat lelaki yang aku cintai sedang berdiri di hadapanku, tanpa ada yang berubah sedikitpun darinya.
“Pela-” Aku menyelah. “Seharusnya aku mengatakan ini dari dulu. Mengatakan sesuatu yang seharusnya terucap sebelum kau pergi,” air mataku kembali membanjir.
“Pelangi, ak-” namun aku memotong ucapannya lagi. “Aku, aku mencintaimu Elang. Aku mencintaimu,” kataku dengan emosional.
Banyak orang yang memandang kami berdua. Dua orang yang berhadap-hadapan dan salah satunya menangis, bukankah itu sesuatu yang sangat aneh? Elang terdiam. Ia mungkin memberikanku waktu untuk mengatakan semua perasaanku. Dan kemudian, dia akan memelukku dan mengatakan sesuatu yang sangat aku harapkan.
“Bodoh jika aku tidak menyukai orang sepertimu Elang. Kau adalah orang pertama yang membuatku merasakan cinta yang begitu dalam. Kau orang pertama!”
Elang hanya diam. Senyum tidak lagi terukir di wajah tampannya.
“Pelangi,” Elang akhirnya berbicara. “Aku mengerti Pelangi.”
Aku menatapnya lekat. “Tapi kita berbeda keyakinan. Aku seorang Kristen dan kau adalah Muslimah yang taat.”
Aku tahu itu. Sungguh sangat tahu. Apa maksudnya ia mengatakan itu?
“Aku berani bertaruh dengan nyawaku, kau tidak akan menukar agamamu dengan lelaki sepertiku. Kau terlalu sempurna untuk orang sepertiku. Lagipula aku juga sama sepertimu, tidak akan pernah melepaskan keyakinanku “
Deg… Apa maksudnya itu? Apa? Apakah dia menolakku?
“Tapi, dua keyakina-,”
“Tidak Pelangi!” katanya dengan nada tegas. “Tidak mungkin ada dua bendera dalam sebuah negara. Begitupula dalam ikatan cinta yang dibangun. Tidak mungkin terdapat dua keyakinan yang berbeda. Akan sangat sulit untuk membangunnya.”
“Tapi aku mencintaimu. Kau adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai.”
“Aku mengerti. Aku juga mencintaimu. Tapi kita tidak bisa bersatu. Saat ini aku sudah bersama dengan orang lain. Aku yakin, kau juga akan bertemu dengan lelaki yang lebih baik dariku.”
Aku terhuyung kebelakang. Sungguh sakit hati ini mendengar kebenaran itu. Sungguh tersayat hatiku mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku benar-benar bodoh.
“Ini,” kata Elang sembari mengulurkan tangannya yang memegang kertas.
“In.., ini apa?” kataku bergetar. Air mataku masih mengucur deras.
“Undangan,” katanya singkat.
“Undangan apa?” tanyaku. Namun Elang hanya diam. Wajahnya tak berekspresi.
Aku membalik undangan itu dan menemukan nama yang tertera, “Undangan Pernikahan Elang Leviandra Pranata dan Athala Soesanto.” Aku menggelengkan kepala tidak percaya saat membaca nama mempelai pria. Dia betul-betul akan menikah.
“Maafkan aku. Kuharap kau hadir.” katanya lalu berbalik pergi meninggalkanku tanpa sebuah kata perpisahan. Aku jatuh berlutut memandangi kepergiannya. Air mataku jatuh dengan derasnya seperti hujan. Aku tidak akan bisa bersama Elang. Tidak akan pernah. Ternyata, dia berubah.
TAMAT