"Kenapa sunyi sekali seperti di kuburan?", tanyaku. "Aku merasa ada yang janggal di pulau ini", ucap Ibra. "Ayo kita berpencar dan mencari seseorang yang mahu menolong kita", lanjutnya. "Ok, kita berpencar dan bertemu lagi di sini sejam lagi", usulku . "Setuju".
Aku memilih jalan sebelah kiri dan Ibra sebelah kanan. Aku terus berjalan dan mengamati rumah-rumah yang pintunya tertutup semua. Sungguh aneh di mataku. Seorang wanita berlari ke arahku dan menabrakku hingga membuatku jatuh terduduk. "Mba, jangan lari-lari dong!. Ingat umur! ", marahku sambil membersihkan debu yang menempel pada bagian belakang celanaku. Wanita itu hanya diam membuatku kesal. Mba!", Aku menengok kepadanya dan???, kakinya melayang di udara!. "Astaga!",batinku. Aku merangkak menjauhinya tapi, kakiku tidak bisa ku gerakkan. "Tolong! Tolong!", Akupun jatuh pingsan sangking takutnya.
"Aku dimana ini?", Aku melihat dari balik pohon besar di tengah lapangan, dua orang gadis dan tiga pemuda dikumpulkan dalam satu titik dan diikat. "Ada apa ini?, kenapa mereka diperlakukan begitu?", batinku. "Wahai leluhur!. Terimalah persembahan kami!", ucap kepala desa mereka. Merekapun dibakar hidup-hidup, sungguh mengerikan. "Aku sepertinya pernah melihat wanita itu?", pandanganku tertuju pada salah satu wanita yang terikat. "Benar!. Dia wanita yang menabrakku tadi".
Seorang pria setengah baya perlahan-lahan ke arahku dan menggali tanah tepat di bawah pohon, tempatku bersembunyi. Pria itu menanam botol berisi selembar surat sambil menetaskan airmata. "Anak-anak kami akan dipersembahkan setiap pekannya. Semoga ada seseorang yang bisa menemukan botol ini dan memberitahukan kepada dunia apa yang dilakukan oleh pemimpin desa kami".
Perlahan-lahan mataku terbuka. Aku masih di tempat Aku jatuh tadi. Aku bergegas bangun dan kembali ke tempat Aku dan Ibra berpisah. "Kenapa lama sekali?!. Kau mahu membuatku mati ketakutan di sini?!", omelnya. "Kamu hampir mati. Aku tadi pingsan karena ditabrak hantu wanita!", Aku balas berteriak juga. Hii...hi...hi..hi..hii...hii... "Bulu kudukku berdiri. Kita sebenarnya ada dimana sih, ini ?. Masih di dunia atau alam lain. Sejak kemarin Aku bertemu hantu terus", Aku ketakutan. "Aku tidak menemukan seorangpun", ucap Ibra. "Kita memang tidak akan bertemu dengan seorangpun. Karena, semua warga di sini telah dijadikan tumbal". "Jangan sembarangan bicara". "Aku tidak sembarangan bicara!. Kalau tidak percaya, ikuti aku".
Aku melangkah menuju lapangan diikuti Ibra berjalan di sampingku. "Di bawah pohon ini seorang pria tua menanam botol berisikan selembar surat", ceritaku. "Kamu tahu darimana?", Ibra masih tidak percaya padaku. "Galilah". Ibra mencari mengambil pacul yang tersandar pada salah satu pohon berukurang kecil dibandingkan dengan pohon yang di depan kami. Ibra mulai menggali dan benar, kami menemukan botol seperti yang ada di dalam mimpiku. Ibra membuka dan membacanya dengan bersuara agar Aku turut mendengarkannya. "Ada dua lembar", ucap Ibra menoleh kepadaku. "Cepat baca", desakku. Aku sudah tidak mahu lagi berlama-lama di sini. "Bawalah dan tunjukkan kepada dunia apa yang kalian temukan ini agar apa yang terjadi kepada kami menjadi pelajaran bagi semua orang. Serta,agar tidak mudah diperdaya oleh bisikan iblis yang mengiming-imingi kejayaan dan keabadian serta kesenangan dunia lainnya. Carilah rumah yang pintunya terbuka, di rumah itu ada mobil, pergilah dengan mengendarai mobil itu. Itu mobil milik saya". "Apa isi surat yang satunya?", tanyaku penasaran. "Isinya asal muasal mengapa mereka melakukan tumbal itu. Aku berniat mengunggahnya di media sosialku biar viral, bagaimana?". "Tindakan yang tepat. Ayo kita cari rumah itu". "Aku melihatnya tadi, ikuti aku".
Aku mengikuti Ibra dan tidak membutuhkan waktu lama kamipun menemukan rumah itu. Daun pintunya tidak dikunci sehingga kami bisa leluasa masuk. Isi rumahnya telah dipenuhi dengan sarang laba-laba dan debu. "Asyim! Asyim!", Aku bersin karena menghirup debu di udara. "Aku menemukannya!", teriak Ibra dari garasi mobil. Aku berlari ke arah dapur dan berbelok masuk ke pintu yang terhubung langsung ke garasi. "Ayo naik, Masin mobilnya masih bagus", ajak Ibra dari dalam mobil. "Kamu tahu menyetir?", tanyaku tidak mempercayainya. "Tahu, cepat. Aku tidak sabar pulang". "Tapi, kita tidak tahu kita berada di daerah mana ini". "Masa bodoh. Yang penting kita keluar dari tempat ini dahulu". "Benar juga omongannya", batinku. Aku ikut masuk ke dalam mobil dan Ibra menyetir dengan kencang. "Selamat tinggal pulau aneh!!!", teriakku dan Ibra bersamaan.