"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan tuan"
"Tolong katakan padanya untuk menunggu sebentar"
"Baik, tuan."
Di sisi lain, di ruang tunggu, seorang gadis tengah duduk manis. Menyeruput sesekali, hidangan teh yang telah di siapkan sejak kehadiran nya, beberapa waktu yang lalu.
Senyumnya cerah, tidak pernah luntur barang sedetik pun. Parasanya menawan, indah berseri, menyejukkan mata. Sorot matanya tajam, ambisi adalah kilatan yang terurai.
~a.b.c~
"Maafkan aku. Sudah lama menunggu?"
"Lumayan, tapi tidak apa. Lagi pula secangkir teh telah menemani ku sedari tadi."
Laki-laki itu, dengan pandangan teduh nya menatap lurus ke arah wanita yang tidak jauh dari posisinya. Parasnya tampan, memiliki ketenangan di dalamnya. Rahangnya tegas, menandakan seberapa berwibawa dirinya.
Mengambil langkah kemudian mendudukkan diri berlawan arah dengan si perempuan. Di balik ekspresi datar nya, ia tahu betul, apa maksud dari kedatangan wanita di sebrang nya ini.
"Jawabanku tetap sama, ini salah. Kita tidak bisa melakukan nya" ucapnya, memecah keheningan sesaat yang entah sejak kapan menguasai ruangan itu.
"Apa masih dengan alasan yang memuakkan itu, Tuan Moon?"
"Anamitra dengar, bulan dan matahari tidak di izinkan bersama. Meski berada di langit yang sama. Memaksakan diri adalah sebuah bencana. Menjadi egois bukanlah pilihan yang bijak. Akan ada banyak hal yang di korbankan, bukan hanya kau dan aku. Tapi semua."
"Aku tak ingin dengar tuan, tidakkah kau tahu? Aku bahkan sudah mengorbankan separuh jiwaku. Tidak bisakah kau menghargai nya sedikit saja?"
"Tapi aku tak pernah meminta pengorbanan darimu."
"Bajingan."
Anamitra, wanita itu mulai emosi. Sorot matanya menajam, jauh lebih pekat. Wajahnya memerah, nafasnya memburu tak beraturan. Ia geram, keras kepala sekali laki-laki di hadapannya ini. Ia bahkan sudah melakukan pengorbanan yang serius.
"Anamitra dengarkan aku, sung-"
"Diam! Aku tak ingin mendengarkan mu lebih jauh." Anamitra, wanita itu memotong apa yang ingin dikatakan oleh Moon.
"Seharusnya kau biarkan aku tenggalam hari itu. Mengapa kau menyelamatkan ku. Tuan Moon!?" Lanjutnya
"Itu hanya karena rasa kemanusiaan, tidak ada maksud lain"
"Ck, omong kosong! Lalu, apa maksud mu cinta ku bukanlah bagian dari rasa kemanusiaan? "
"Anamitra, itu berbeda."
"Cukup! Tuan. Aku ikuti mau mu, tapi yang perlu kau ketahui. Matahari telah redup sejak ia mengorbankan separuh jiwa nya. Dan esok, kau tidak akan pernah merasakan hangatnya barang sedetik pun."
"Anamitra, apa maksud mu?"
Wanita itu berangkat dari tempat duduknya, meninggalkan Tuan Moon dengan segudang tanya. Apa maksud dari ucapan nya barusan.
🌙🌙🌙
Hujan masih terus mengguyur kota ini. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberhentiannya. Semenjak kepergian Anamitra dari kediaman nya. Tuan Moon, laki-laki itu agaknya mulai mengerti maksud dari apa yang di ucapkan Anamitra hari itu.
Semenjak kepergiannya, tidak ada yang tahu di mana keberadaan wanita itu, sedangkan hujan terus terun dengan derasnya.
Semesta seakan ikut menyuarakan jika mentari benar-benar meredup seutuhnya.
Satu hal yang tidak pernah di ketahui oleh meentari hari itu, bahwa bulan sebenarnya memiliki hal yang sama, namun seperti apa yang ia katakan kepada mentari nya hari itu. Menjadi egois, bukan pilihan tepat.
Tapi satu hal yang tidak disadari oleh rembulan hari itu, yang tidak ia sadari adalah, bahwa ia juga tidak boleh egois terhadap diri sendiri.
-Moon dan Anamitra-
13.6 D.y
"Menjadi egois terhadap orang lain tentu bukanlah pilihan bijak, tapi aku lupa bahwa menjadi egois untuk diri sendiri pun bukan pilihan tepat."
-Moon-
"Aku mengorbankan separuh jiwaku menjadi egois atas diriku sendiri, tapi ternyata meredup seutuhnya adalah takdirku."
-Anamitra-