By KimiKazhura512
Sebuah kisah tentang Madura tertelan di Negeri rantau. Bukan berarti mereka tiada ataupun suku mereka mati. Melainkan bahasa mereka yang dipendam ketika berada di Kota lain. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tentu saja banyak yang telah terjadi pada Rakyat madura ketika berada di Kota lain mereka tidak lagi menggunakan bahasa mereka karena jika menggunakan bahasa madura, kemungkinan besar orang lain tidak akan paham apa yang dikatakan olehnya. Maka dari itu pilihan satu-satunya adalah Bahasa Indonesia. Ini diambil dari sebuah kisah perjalanan seorang gadis dari suku Madura, lebih tepatnya begitu meskipun kota yang ia tinggali jauh dari pulau Madura.
Gadis itu berusia 19 tahun, kesehariannya berbahasa madura tapi suatu waktu ia harus pergi keluar kota untuk menyambung pendidikannya.
Setelah ia sampai di tanah Jawa yakni di Tulungagung, kesan pertama kali ia masuk kuliah melihat teman-temannya berinteraksi dengan bahasa Jawa, sedangkan dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ia berusaha tenang dan tidak panik tapi dalam hati dan pikirannya sedang kacau.
“Aku harus ngomong apa ya? Masa ia aku harus tanya artinya apa? Aku harus bicara dari mana? Dari segi apa? Kayaknya kalau ngerti Jawa asik ya ngobrolnya rileks sama teman-teman, aku gak tau harus ngomong dari mana? Harus cerita apa? Kan cerita tiap hari gak ada yang menari juga,” batinnya sambil menghela nafas dan merebahkan kepala di atas meja selagi dosen belum datang.
Tak lama kemudian seseorang menepuk pundaknya. “Hai! Kamu Nadin kan?” tanyanya penuh heboh.
Gadis itu pun tersenyum, “Iya, kamu Byah yang dari NTT?”
“Bener banget Nad, nasib kita tuh sama-sama gak bisa ngomong Jawa kan?”
“Iya, aku juga gak ngerti bahasa Jawa, ya jadinya ngomong indo deh,”
“Yaelah Nad, santai aja kali, kita senasib.”
Keduanya yang asik mengobrol sekitar lima menit, kemudian dosen pun tiba di dalam kelas.
***
Bertahun-tahun tinggal di kota orang membuat ia kewalahan ketika berinteraksi dengan banyaknya orang. Sehingga ia selalu menghindar dari perkumpulan, meskipun temannya berkata, “Kamu itu harus ikut organisasi, banyak-banyak cari relasi, biar kuliah ada gunanya,” ucapan itu terus terngiang di pikirannya. Haruskah ia lakukan? Sedangkan dirinya enggan untuk berinteraksi karena kejadian sebelumnya ketika ia bicara, mereka tidak mendengarkan pendapatnya, ia terus berpikir untuk melakukan apa yang disarankan itu, dan pada akhirnya ia yang lelah sendiri karena terus memaksanya diri sendiri untuk berinteraksi.
Suatu waktu ia bertemu seorang teman dan berkata “Jangan paksakan kamu untuk berinteraksi, kamu loh gak paham Jawa, yang ada pikiranmu jadi capek harus memutar balik otakmu harus berpikir seperti apa, dan harus bicara seperti ini dan itu, aku tidak melarangmu, setidaknya kamu tidak lelah,” ucapnya penuh dengan kelembutan.
Membuat Nadin tersenyum dan menghela nafas, “Kenapa aku baru bertemu denganmu? Kenapa gak dari awal aku disini?” batinnya menahan air mata, karena sekian banyak tekanan yang datang ada satu orang yang peduli padanya.
END