By Kimikazhura512
Semua jejak langkahnya telah ia ukir bersama waktu yang terus berputar tanpa henti. Tidak ada yang tahu apa yang dia inginkan, bahkan sampai saat ini ia terus menunggu kedatangannya.
Setiap hari ia terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, meskipun ia cantik terlihat seperti boneka yang terpajang di dalam rumah.
Tidak ada senyuman yang terukir dari bibirnya, hanya saja mata yang bengkak dan tatapan sendu.
Ia terus melihat ke luar jendela sampai tidak menyadari ada seseorang yang datang menghampirinya.
“Nak, sampai kapan kamu berdiri di situ?” tanya seorang wanita paruh baya menepuk pundaknya.
“Bi, apakah mereka akan kembali?” gadis itu tidak menjawab pertanyaannya, melainkan bertanya.
Wanita yang dipanggil Bibi itu hanya bisa menghela nafas. Dia adalah Bi Ani yang menjadi asisten rumah tangganya.
“Nak, mereka akan kembali secepatnya, tapi kamu harus makan dulu ya?” pinta Bi Ani padanya.
“Tapi Bi, Papa sama Mama belum pulang, ini sudah lebih dari sebulan,” tuturnya lirih.
“Iya, Bibi tahu, tapi Auraf harus makan,” bujuknya sekali lagi.
“Bi, salah Auraf apa? Kenapa mereka selalu menyibukkan diri sendiri dan memilih pekerjaannya daripada mengurus Auraf?” lagi-lagi Auraf melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak tahu harus bagaimana Bi Ani menjawab pertanyaannya.
Bi Ani yang sudah bekerja di rumah itu sejak 6 tahun yang lalu, ia mengetahui bahwa Auraf kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Karena sejak Auraf duduk di bangku SMP, kedua orang tuanya tidak lagi memerhatikannya. Meskipun Auraf pernah menunjukkan prestasinya dan mendapatkan rangking satu di kelas, tapi mereka selalu mengabaikan tentang itu.
Bi Ani hanya bisa terdiam.
“Bi Ani jawab Auraf! Jawab Bi!” ucapnya sambil terisak. “Bi, Auraf capek dengan semua ini, mereka janji untuk pulang di saat Auraf wisuda, tapi kenapa mereka berbohong? Kenapa Bi?” seru Auraf lirih, dan kini air matanya mengalir membasahi pipi.
Yah, Auraf baru kemarin menyelesaikan wisudanya dengan gelar S.H yang ia dapatkan. Namun, semua itu seakan-akan tidak lagi berarti dalam hidupnya.
“Nak Auraf, mereka bekerja untuk menafkahimu, jadi tolong jangan benci ataupun marah pada mereka,” ucap Bi Ani berusaha menenangkan putri majikannya.
“Bi, Auraf tidak marah pada mereka, bahkan saat aku lulus SMA dulu, aku mengira aku belum bisa dibanggakan untuk mereka, tapi saat ini ternyata sama saja, lalu semuanya terasa sia-sia,” ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Bibi mengerti, tapi Nak Auraf bukan lagi anak kecil yang belum mengerti apa-apa, karena saat ini kamu harus menjadi wanita dewasa, bukan wanita yang lemah, mengerti?” ucap Bi Ani lembut menasehatinya.
“Andaikan saja orang tuaku itu adalah Bibi, pasti aku sangat bahagia,” tutur Auraf berusaha berhenti menangis dan memaksakan diri untuk tersenyum.
“Huust, tidak boleh seperti itu, sekarang makan dan tidak boleh menangis lagi, hemm.”
Auraf pun mengangguk mengerti.
***
Setengah tahun kemudian.
Sejak saat itu, Auraf tidak lagi mengeluh tentang kehidupannya, kini ia berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum meskipun tidak dengan hatinya yang semakin terasa sakit dan perih. Namun, ia lebih suka menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai detektif.
Meskipun awalnya ia kesusahan menyesuaikan diri dengan bidang itu, tapi secara perlahan ia mulai terbiasa. Setiap hari ia terlihat sangat kelelahan dan kurang tidur. Akan tetapi, ia terus memaksakan diri untuk terus bekerja sampai ia lupa makan. Sehingga saat ini merasa bahwa dirinya tidak lagi berdaya.
Auraf yang terbaring lemah di atas brankar, wajah pucat pasi dan beberapa selang melekat pada tubuhnya. Matanya terus terpejam seakan-akan enggan untuk terbangun.
Beberapa orang memasuki ruangan itu memandangi sosok gadis yang tidak lagi berdaya.
“Dok, bagaimana keadaannya putri saya?” tanya seorang pria paruh baya dengan suara beratnya.
“Untuk saat ini putri anda mengalami koma,” tutur Dokter Qinzy.
“Koma?!” seru seorang wanita paruh baya.
“Benar Nyonya, kemungkinan besar putri anda selama ini tidak teratur makan, dan sehari ia tidak makan sesuap nasi sama sekali, sehingga menimbulkan dampak negatif pada lambungnya,” jelas Dokter Qinzy.
“Dokter jangan asal bicara?!” ucap pria paruh baya itu tidak percaya.
“Tapi ini adalah kenyataan Pak, dan putri kalian baru kemarin menyelesaikan operasinya. Kalian tidak perlu khawatir, karena putri anda masih memasuki stadium dua,” jelasnya sekali lagi.
Mereka berdua pun terdiam.
”Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi," Dokter Qinzy pun keluar.
Tinggallah mereka berdua dan saling berpelukan, “Pah, putri kita tidak apa-apa kan?” tanya wanita itu tidak tega melihat putrinya yang menahan rasa sakit.
Mereka pun berjalan mendekati brankar dan duduk di kursi.
“Sayang, maafin kita ya, tidak bisa menjagamu dengan baik,” ucap Pak Darna mengecup kening Auraf.
“Nak, cepat bangun, maafin Mama ya, Mama janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi,” ucapnya sambil mencium kedua pipi Auraf, meskipun ia tahu bahwa putrinya tidak bisa merasakan kelembutannya itu.
“Permisi, Nyonya dan Tuan,” ucap seorang dan tidak lain adalah Bi Ani.
“Iya Bi, makanannya letakkan saja di atas meja,” ujar wanita itu tanpa menoleh.
“Baik Nyonya, permisi Nyonya ini surat yang sebelumnya Non Auraf tulis untuk kalian di hari ulang tahunnya. Tapi, Non Auraf tidak berani memberikan pada kalian, katanya takut mengganggu kalian bekerja,” jelas Bi Ani sambil tersenyum.
“Baik Bi, terima kasih, kau boleh pergi.”
“Sama-sama Tuan, Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu,” ujar Bu Ani lalu pergi.
***
Dear Diary
Ma,Pa, hari ini Auraf sudah menginjak usia 23 tahun, tidak apa-apa meskipun kalian tidak ingat ulang tahunku, tidak merayakan seperti waktu aku kecil dulu. Ma, Pa, aku memang bodoh tidak bisa menjadi anak yang pintar dan berprestasi. Tapi tolong jangan abaikan aku begitu saja, ku mohon! Hatiku sakit dan sesak, sampai aku bertanya pada diriku sendiri, Apakah aku benar-benar anak kalian? Itu terlintas dipikiranku.
Tapi hari ini ada yang bilang, aku sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang butuh kasih sayang tiap hari. Namun, aku ingin mendapatkan kasih sayang itu, tapi kenapa begitu sulit? Kenapa?.
Sekarang, aku ingin merangkai bait-bait puisi yang sangat indah, belajar dari setiap pengalaman jejak langkahku yang pernah aku lewati. Bahkan, tidak ada kenangan yang tak terukir di setiap waktu yang ku lewati, karena semua itu adalah kebohongan. Sebab, pada kenyataannya aku selalu mengingat apapun yang pernah aku lakukan di setiap waktuku.
Apakah ini adalah kehidupan yang semua orang bilang? Kalau kita tidak akan menemukan kehidupan yang indah tanpa harus melewati kepedihan.
Tuhan, pada hari ini, detik ini juga harapan ku adalah ingin merangkai bait-bait puisi yang sempat hilang dalam kehidupanku, menjadi sebuah puisi yang indah hingga berujung menjadi kenangan yang tak terlupakan dalam kehidupan ini.
Ma, Pa, Auraf janji tidak akan menjadi wanita lemah. Dulu waktu kecil Auraf bermimpi menjadi seorang Jaksa, tapi sekarang Auraf merasa beruntung menjadi seorang detektif yang bisa menyelesaikan banyak masalah, meskipun tidak dengan diri sendiri. Mama sama Papa tenang saja, aku adalah wanita yang tangguh dan tegar.
Thanks Ma, Pa.
END