Aku Tara seorang siswi SMA yang selalu berada di bawah radar. Dengan kacamata tebal dan buku di tanganku, aku menjalani hari-hariku tanpa harapan apapun di sekolah. Namun, takdir memiliki rencana lain untukku.
"Hey, Tara! Kacamata itu sebesar jendela, ya?" teriak Rendra, ketua kelas yang terkenal karena keisengannya. Dia dan teman-temannya tertawa, menikmati lelucon yang sudah basi.
Aku hanya menghela nafas dan melanjutkan langkah. Tapi, dalam hati, aku bertanya-tanya, mengapa Rendra selalu mengolok-olok aku? Apakah aku benar-benar begitu mencolok?
Hari-hari berlalu, dan 'serangan' Rendra semakin tajam. Dari komentar tentang cara berjalanku yang kaku hingga ejekan tentang cara bicaraku yang pelan. Aku mulai merasa sakit hati.
Suatu hari, ketika aku sedang menyendiri di perpustakaan, Rendra datang dengan buku di tangan. "Tara, aku... uh, aku butuh bantuanmu," katanya, terdengar tidak seperti biasanya.
Aku menatapnya dengan curiga. "Bantuan apa?"
"Dengan PR Matematika," jawabnya, menghindari kontak mata. "Aku... aku tidak mengerti tentang persamaan ini."
Aku mengernyitkan dahi, tapi akhirnya setuju untuk membantunya. Kami duduk bersama, dan aku mulai menjelaskan tentang persamaan dari:
x^2 - 7x + 10 = 0
sambil sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang serius.
"Jadi, kalau kita faktorkan, kita dapatkan (x-5)(x-2) = 0, yang berarti x bisa 5 atau 2," jelas ku.
Rendra mengangguk, tampaknya mulai mengerti. "Kamu pintar, Tara. Aku... aku suka itu."
Aku terkejut. Apakah ini pujian dari Rendra, sang pembuli?
Dari situ, kami mulai menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Rendra tidak lagi mengejekku, malah dia menjadi pelindungku. Aku mulai melihat sisi lain darinya, sisi yang lembut dan penuh perhatian.
Pada suatu sore yang hangat, Rendra mengajakku berjalan di taman sekolah. "Tara, aku harus mengaku sesuatu," katanya, sambil menatap langit yang mulai memerah.
"Apa itu?" tanyaku, hati berdebar.
"Aku... aku suka padamu, Tara. Aku selalu suka," ungkapnya, wajahnya memerah.
Aku terdiam, tidak percaya. Pembuli yang selama ini membuatku frustasi, ternyata memiliki perasaan padaku?
"Kenapa kamu selalu mengejekku?" tanyaku, masih tidak mengerti.
Rendra tersenyum malu. "Itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan perhatianmu. Aku tidak tahu bagaimana cara lain."
Dan begitulah, di antara persamaan matematika dan senja yang memudar, aku menemukan cinta yang paling tidak terduga. Kami berdua, si culun dan si pembuli, kini menjadi pasangan yang saling melengkapi.