"Percayalah padaku, aku pasti akan bisa lulus tahap ini" tutur Riva menatap punggung Barika yang hendak melangkah kaki menjauh. Tetapi saat kedua kaki itu berhenti Riva tersenyum dan menyelaraskan dirinya dengan dara di sampingnya yang hanya sepundaknya itu.
"Mengapa aku harus mempercayaimu, apakah kelulusanmu akan memberikan keuntungan bagiku?" Balas Barika tanpa ekspresi sambil memegang beberapa tumpukan kertas ditangannya.
"Karna kamu ingin hidup bahagia, kamu hanya ingin orang sukses. Jadi tunggulah aku, aku akan membuktikannya," ujar Riva tanpa berhenti tersenyum.
Sepasang kaki itu berjalan lagi tanpa melihat ke arah Riva yang tetap berdiri ditempat.
6 tahun kemudian.......
"Bro, gua duluan yah.... Lembur lagi kah?" Tanya Alan sambil mengemas tasnya.
"Ha ha iya nihh... Biar bisa liburan akhir pekan," balas Riva yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di komputernya.
"Yaudah gua mau berangkat," tutur Alan.
Dibalas dengan anggukan Riva tanpa menoleh sedikit pun.
Sudah enam tahun berlalu, setelah tamat sekolah menengah atas akhirnya Riva mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan menjadi bagian dari perusahaan yang sangat besar dikotanya, walau masih dua tahun lulus sudah mendapat pekerjaan karena kerja kerasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Riva pun masih memincingkan mata menatap layar didepannya.
"Yass, dan selesai," Riva bertutur sendiri sambil meregangkan tangannya keatas karena sudah kelelahan duduk sepertinya.
"Wah, udah jam sebelas, baliklah"tuturnya lagi sambil mengemas barangnya ke dalam tas.
Sampai diparkir dia langsung masuk mobil dan menyalakan mesin lalu pulang. Sepanjang perjalanan tampak lampu kota menerangi jalan ini sudah larut tapi masih banyak kendaraan yang berlalu lalang mungkin sama sepertinya yang baru selesai kerja.
Tetapi saat Riva ingin memasuki area jembatan, ia melihat sosok yang sangat dirindukan sedang menikmati soda ditangan sambil menatap lautan malam. Alhasil Riva menepi mobilnya tepat dibelakang pemilik yang sedang menikmati soda tersebut. Ketika yang dirindukan menoleh, Riva tak kalah senangnya dan melempar senyum kebahagiaan di hatinya.
"Barika, apa kamu masih mengenalku?" Tanya Riva hati-hati.
Hanya hening yang menyambut tanyanya yang ditanyai hanya melanjutkan meminum sodanya.
"Rik," netra Riva sudah mengembun terlalu berat rindu yang ia tahan dadanya sesak bahkan sepatah kata itu terdengar ditelan angin, ia melangkah mendekatinya semakin dekat tapi kakinya semakin berat tak kuasa bergerak.
"Ya, aku masih mengenalmu dan masih menunggumu." Ucap Barika ketika Riva sudah sampai di depannya sambil meletakkan kemasan soda ditangannya di atas kap mobil.
Riva tersenyum langsung memeluk raga itu ketika netra mereka bertemu. Gadis didepannya ini bagaikan es batu yang tidak pernah bertemu sinar matahari, sifat dinginnya membuat tubuh Riva yang panas karna degup jantungnya yang kuat semakin mendekapnya erat.
Lama riva memeluk raga itu, sampai akhirnya ada dua tangan yang membalas pelukan itu dengan hangat sambil mengelus punggungnya. Riva semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya dileher gadis itu. Gadis itu masih sama pendeknya. Riva bahkan sempat berpikir apa dia tidak tumbuh tinggi lagi.
"Aku sudah bekerja, aku lulus seperti ucapanku padamu kala itu. Aku bisa Rik membuatmu jadi milikku hanya aku yang bisa memilikimu,"ucap Riva tanpa melepaskan kedua tangan yang sedang memeluk itu.
"Va, gua sesak napas...." Ucap Barika sesaat. Reflek Riva langsung melepaskan pelukannya dan melihat wajah Barika dengan rasa bersalah.
"Ma-maaf," ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal itu. "Apa kau tidak merindukanku, aku baru dari tempat kerjaku dan melihatmu di sini, apakah kamu sudah lama tinggal disini tapi kenapa aku tak pernah melihatmu?" Tanya Riva beruntun. Banyak hal yang tidak ia bisa bendung untuk ditanyakan.
Barika hanya tersenyum sambil berkata, "aku tau kamu akan banyak bertanya, apa kamu tau aku mitra yang akan kamu lakukan pertemuan di lusa ini. Sebab itu aku sudah berada disini tiga hari yang lalu karna ingin mengetahui bagaimana kawasan daerahnya." Balas Rika bersandar dimobil.
"Hah...Kamu bosnya?" Tanya Riva menggebu-gebu. Dibalas anggukan Rika saja.
"Ternyata aku masih kalah darimu," ucap Riva lesu.
"Kau tidak kalah dariku, kamu sudah bekerja keras untuk dirimu sendiri, kamu mampu membuktikan ucapanmu." Balas Rika tersenyum melihat lawan bicara didepannya menatap netranya tanpa berkedip.
"Apa sudah ada yang mengisi kekosongan hatimu, Rik?" Tanya Riva dengan perasaan yang sudah naik turun, ini lebih melelahkan daripada kerjaanya tadi.
Hening....
Tidak ada yang bersuara diantara mereka, hanya tatapan mata yang semakin dalam yang terlihat dan jalannya yang semakin sepi tanpa kendaraan. Riva sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak goyah didepannya karna inilah alasan satu-satunya kenapa dia berusaha keras hanya karna satu insan yang berdiri dihadapannya ini, yang tidak pernah mempercayai dirinya dan ternyata pada akhirnya dia masih wanita yang memang hanya untuk dikaguminya.
"Apa yang kau sukai dariku, hingga kamu benar-benar seperti ini?" Tanya Rika memecahkan suasana.
Riva mematung terjebak, dia tidak tahu mengapa ia juga seperti ini memperjuangkan seseorang dihadapannya. Apa karna sudah terlalu cinta? Sehingga ia lupa.
"Aku tidak tau, tapi aku hanya ingin memilikimu aku hanya ingin membahagiakanmu, aku ingin kamu yang menjadi tempat berpulangku," balas Riva.
'Kenapa masih sedingin ini Rik, aku sangat mencintaimu' Riva bertutur dalam hati.
"Aku mencintaimu," kata Riva sudah lelah untuk orang dihadapannya.
Tapi barika hanya tersenyum.....
Tak disangka-sangka, barika berjalan menarik kerah baju lawannya dan berbisik
"Yes, me too."
Barika melepaskan genggamannya dan ingin masuk kedalam mobil tapi tertahan karna Riva menariknya hingga menabrak dada bidang lelaki dihadapannya.
"Sorry to say," ucap Riva seraya melingkari lengannya di pinggang rampingnya dan menunduk untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat. Netra mereka bertemu, Riva salah tingkah menghentikan aktivitasnya. Ia menarik dirinya namun Barika menahan wajahnya dengan kedua tangan.
"Kamu harus bertanggungjawab, you're the first dear," kekeh Barika
"Why not, apa harus ke KUA sekarang?" Jawab Riva sambil melingkari tangannya kembali.
"I love you," ucap Riva, "biarlah malam ini semakin panjang dengan kamu di sampingku," lanjutnya lagi.
"Woi.... Aku udah punya pacar," teriak Riva di udara. "Aku yang memiliki hatinya," lanjutnya lagi. Rika hanya tersenyum dan pipi yang merah padam.
"Aku sudah layak kah Rik?" Tanya Riva tersengal-sengal. Dibalas anggukan Rika
"Yes, ha-ha-ha," tawanya.
"Bolehkah sekali lagi?" Riva menggulum senyumnya.
Tanpa menunggu persetujuan sang empunya, Riva kembali memadukan daging kenyal itu sambil memegang tengkuk lawannya agar semakin dalam. Daging itu terus dia kulum bahkan nafas mereka beradu, dia merasakan bau wangi soda dari mulut sang lawan dan membuatnya candu. Tak disangka lawan yang pasif pun membalas sesekali namun tak bisa mengimbanginya, membuat dia semakin memperdalam ciumannya. Merasa lawan kehabisan napas, perlahan ia melepas tautan itu dan memadu kening mereka.
"Ayo pulang," ajak Riva sambil tersenyum. "Nanti dibegal lagi, heheh," sambungnya.
Tiba-tiba Riva mendengar suara berisik dan penglihatannya semakin kabur, netra yang melihat dambaan hatinya kini sudah tidak melihat lagi, suara itu semakin brisik disertai suara pukulan yang keras semakin lama semakin jelas...
Tak...tak... Tak....tak...
"Riva bangun, kamu mau kesiangan ha?" Mama udah capek yah bangunin kamu. Pintu terbuka menampilkan wajah sang ibunda yang sudah merah padam.
"Ini yang nanti mau memenangkan hati Rika hah... Yang mau jadi mantu mama?" Sambung sang ibu. Riva terkejut ternyata cuma mimpi tapi mengapa begitu nyata.
"Mah, ini hari apa?" Tanya Riva
"Ini hari kamu ujian,kamu mau gak lulus dan rika gak jadi mantu mama hah..." Sambung mama sambil berkacak pinggang, "kalo kamu kek gini juga mama gak mau rika sama kamu," mama berjalan kearah bednya Riva dan Riva menjauh melompat dari bed dan langsung berlari ke kamar mandi.
Di kamar mandi...
"Apa ini bagian dari masa depan? Akh... Klo gitu harus lulus nih tapi klo boleh harus sepantaran dengannya," monolog Riva sambil menyabuni tubuh.
"Kamu pasti akan menjadi milikku, only you." Tuturnya lagi sambil menyirami tubuhnya dengan air.