Ini sudah hampir satu minggu aku dan suami ku berpisah. Jadi aku mau cerita tentang kisah hidupku bersama suami yang tidak berguna bagi ku.
Ngomong-ngomong namaku Sinta. Aku adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak.
Rumah tangga ku retak saat ekonomi keluarga ku mulai menurun. Suami ku bekerja sebagai pedagang toko sembako. Tapi karena harga bahan sembako tahun ini melonjak tinggi dan tidak ada modal untuk membeli bahan-bahanya, serta orang-orang yang berhemat untuk membeli sembako dikarenakan harga yang melonjak tinggi itu.
Jadi dikeluarga ini hanya aku yang mencari nafkah untuk menafkahi suami dan anak-anak ku. Ya mau gimana lagi, kita sebagai orang biasa gak bisa ngatur rezeki yang sudah Tuhan kehendaki. Kita hanya bisa memohon yang terbaik buat kita.
Aku bekerja sebagai karyawan di perusahaan kecil. Gajinya sedikit tak cukup untuk menafkahi keluarga ku. Apalagi suamiku yang setiap hari meminta uang untuk membeli rokok dan apabila tak dikasih dia akan menceraikan ku. Sungguh cobaan berat bagiku.
***
"aku pulang " Aku yang pulang sehabis kerja langsung menuju ke kamar karena kecapean. Tapi saat aku ke kamar aku melihat dua orang anaku yang sedang tertidur, tapi dimana suamiku?
Aku mencarinya di sekeliling rumah lalu menelponnya, tapi tak ada. Hp nya ia tinggal dirumah.
Aku menunggu nya sampai ia pulang. Ini sudah lebih dari jam duabelas malam. Aku khawatir bila terjadi apa-apa terhadap suamiku.
Tapi tak lama kemudian aku melihat ada orang yang membuka pintu rumahku, ya itu suamiku.
Sepertinya dia mabuk.
Di saat-saat seperti ini, aku tak mengajaknya bicara, melainkan hanya berpura-pura sudah tertidur. Bau bir nya sangat menyengat dan menusuk hidungku. Ahh---aku tak suka bau ini.
Kejadian itu sudah terjadi beberapa kali dan lebih dari lima kali. Kalau setiap aku tanya ke dia tentang masalah apa yang membuat dia mengkonsumsi minuman keras itu,dia selalu mengalihkan pembicaraan.
Sampai suatu hari, aku diberi jatah oleh atasan ku untuk pulang lebih awal hari ini. Sesampainya di rumah aku melihat suami ku pergi naik montor. Aku mengikutinya dari belakang tanpa ketahuan. Aku penasaran dimana ia membeli dan mengkonsumsi minuman berbahaya itu.
Aku kaget. Dia berhenti di tempat kost yang brada tidak jauh dari jarak rumahku. Dia masuk ke dalam kost itu.
Tapi yang membuatku kaget dan terkejud bukan itu, tapi saat aku melihat ada seorang wanita yang membukakan pintu untuk ia masuk.
Wanita itu terlihat seperti masih muda, mungkin lima tahun di bawah ku.
Aku curiga bahwa itu selingkuhan nya.
Hari demi hari aku lalui dengan rasa kecurigaan terhadap suamiku. Rasa curiga semakin mendalam saat aku mencuci baju suamiku itu. Terlihat ada lipstik dan sebuah nota pembelian baju, tapi baju nya bukan sembarangan baju. Melainkan baju yang menurutku sangat mahal dan aku pun tak mampu membelinnya.
Amarahku sepertinya sudah yak tertolong lagi. Aku menghampiri suamiku dan langsung meminta penjelasan tentang wanita kost, nota dan lipstik yang ada di bajunya.
Nada suaraku meninggi, begitu juga suami ku yang bilang bahwa dia sudah muak dengan rumah tangga ini.
Dia bilang bahwa aku seperti merendahkan dia karena ia tak bekerja. Mungkin aku menyuruhnya untuk menjaga rumah dan anak-anak tapi aku tak merasa aku sedang merendahkan suami ku, karna memang yang namanya ruamh tangga harus berbagi tugas. Tapi kenapa dia merasa di rendahkan.
Aku meminta penjelasan tentang nota nya juga. Aku tanya darimana dia dapet yang sebanyak itu, ternyata itu adalah hasil dari dia main judi dan juga uang yang aku kasih buat dia.
Dan dia mengakui kalau dia selingkuh dengannya wanita kost itu.
Ternyata selama ini aku mencoba buat bertahan untuk bisa menafkahi keluarga ku ini yang seharusnya di nafkahin oleh suamiku malah perjuanganku ini tak dianggap dan malah disia-siakan.
Aku tak tahan dengan air mata yang sudah berada di bagian paling bawah pada mata, dan karna sangking sakitnya hati ini telah dikhianati lalu air mata itu jatuh dengan sendirinya dan jalan melalui pipi dan menghilang.
Aku kecewa sekali, sangat kecewa. Aku tak tahan dengan penghianatan ini dan aku meminta sekarang juga untuk dia melepaskanku dan menceraikan ku.
"Bagaimana dengan anak kita kalau kita putus? Aku berjanji gak akan gini lagi kalau kamu maafin aku dan kita gak putus" Dia memohon ke padaku yang sama-sama mengeluarkan air mata.
"Kenapa kamu ngehawatirin anak kita, sedangkan kanu aja gak nafkahin mereka. Malah nafkahin cewek lain. Mau kamu apa mas? " Jawabku dengan amarah yang selama ini ku pendam.
Suami ku ini memohon agar dia diberi satu kesempatan lagi. Tapi prinsipku beda. Prinsipku bila ada seseorang yang menyakitiku, bahkan bila aku mencintai dia, walaupun dengan berat hati akan kelepaskan dan akan ku lupakan dirinya dan aku akan mencari pengantinnya yang lebih baik dari dirinya.
-end-