Bulan terus berganti, tanggal 01 juli aku baru masuk ke masa SMA. Hari itu aku baru resmi menjadi murid kelas 10 SMA. Aku dan kakak sepupu ku sekolah di SMA yang sama. Saat aku kelas 10 SMA, kakak ku naik ke kelas 12 SMA. Masa SMA tidak terlalu menarik bagiku, mungkin karena aku adalah orang yang tidak mudah terbuka. Setelah kepergian noni Belanda beberapa bulan yang lalu, aku dan kakak sepupu ku mulai menjalani kehidupan biasa saja. Tidak ada suasana horornya. Suatu hari di hari sabtu pagi, aku di ajak oleh kakak sepupu ku bermain ke sawah. Kami harus menyeberangi sungai yang tak terlalu deras air nya. Sore menjelang, sesungguhnya aku cukup takut karena jalan untuk menuju ke sawah kakak sepupu ku melewati TPU desa.
“Kak Tia, cepetan dikit ngapa? udah jam 5 sore nih.” keluu ku.
“Ya elah, sabar aja kali. Kamau gak lihat jalan nya nanjak gini. Kalau buru-buru ngos-ngosan banget.” ujar kakak sepupu ku santai.
“Ish kakak mah!!” ujar ku sebal.
Karena kakak sepupu ku terlalu lambat, aku berjalan duluan walaupun sedikit ngeri melihat banyaknya kuburan apalagi hari semakin mendekat magrib. Aku melewati pohon tua yang sudah tak ada daun, hanya pohon tua kering. Aku kembali menoleh ke belakang untuk menatap kakak sepupu ku. Hati ku merasakan perasaan aneh, kakak ku berjalan masih dengan kecepatan sama. Namun matanya sedikit melihat ke arah atas batang pohon yang sudah kering itu. Namun, karena aku selalu berpikir positif. Aku mengabaikan nya.
“Kak! Ayo cepat!! Keburu magrib!”ujar ku.
“Iya, bilang aja kamu takut kan?” ledek kakak sepupu ku.
“Ck, iya!” jawab ku merasa sebal.
Setelah kami berdua sudah melewati jalan menanjak dan sudah melewati pohon mati itu. Kakak sepupu ku tiba-tiba buka suara saat kami telah berada di pinggir jalanan raya untuk menuju ke rumah kakak sepupu ku yang kebetulan sampingan dengan TPU.
“Hem dek, kamu tahu gak?” tanya kakak sepupu ku.
“Apa? tahu apa?” jawab ku merasa bingung.
Kakak sepupu ku tampak ragu-ragu untuk memberitahu, sedang kan aku sudah merasa penasaran sekali.
“Ish apa! Cepat bilang!” ujar ku dengan tegas.
“Sebenarnya, tadi pas kita lewat pohon tuan di jalan menanjak tadi. Aku melihat kun kun lagi ketawa jail sambil natap kita.” jelasnya dengan santai.
“Apa!? yang benar kak? seriusan?” tanya ku yang merasa penasaran.
Kakak sepupu ku mengangguk yakin, setelah mengetahui kemampuan kakak sepupu ku dan sedikit berpengalaman dengan noni Belanda itu. Aku sedikit demi sedikit mulai ingin membiaskan diri.
“Bagaimana rupanya?” tanya ku merasa penasaran.
Kakak sepupu ku sedikit ragu untuk menjelaskan, kami masih berjalan untuk menuju ke rumah kakak sepupu ku. Aku semakin penasaran karena kakak sepupu ku itu sulit kali membuka suara.
“Ish, ayo cepat kasih tahu.” keluh ku.
“Huf, iya-iya, penampilannya cukup menyeramkan. Rambutnya sangat panjang dan kusut, wajah kanannya di tutup dengan poni rambutnya yang panjang. Dia tahu kalau aku bisa melihat nya, dan sebenarnya tadi dia sedang duduk di dahan pohon mati itu. Dan, kakinya tadi hampir menyentuh kepala mu, karena kamu berjalan tepat di bawah pohon itu tadi.” jelas kakak sepupu ku dengan santai.
“APA!? yang benar? ihh, seram banget.” ujar ku merasa merinding.
Membayangkan kalau kaki dari kun-kuj itu hampir menyentuh kepala ku, tentu saja aku merasa takut dan merinding. Apalagi saat nanti aku pulang kerumah, aku pasti akan kepikiran di malam harinya.
“Penampilan nya cukup menyeramkan, sepertinya dia sosok yang jail. Saat dia melihat ku, dia tersenyum menyeringai seram. Mungkin kalau kamu melihat nya, pasti kamu takut.” ucap kakak sepupu ku dengan santai.
Entah kemana letak ketakutan pada kakak sepupu ku itu, kenapa dia bercerita dengan tenang dan biasa. Sementara aku yang tak bisa melihat saja merasa merinding saat membayangkan betapa seram wajah sosok kun-kun itu. Seminggu berlalu, saat itu aku sedang rebahan sambil main Hp di dalam kamar. Karena saat itu merupakan hari minggu. Di tengah kesantaian ku, aku melihat ada sebuah notifikasi pesan yang masuk ke ponsel.
“Kak Tia? tumben ngechat.” gumam ku merasa heran.
Aku membuka pesan itu, kakak sepupu ku itu mengirim kan poto dirinya. Aku terkejut ketika melihat dahi, sikut dan lutut kakak sepupu ku itu lecet dan memar. Aku pun mulai mengetik pesan, karena merasa khawatir dan penasaran apa penyebab kakak sepupu ku itu terluka.
*Kenapa kak Tia bisa terluka? jadi Valentino Rossi lagi ha?* ketik ku.
*Valentino Rossi apaan woy! ini aku jatuh dari tangga semen belakang rumah!*balasnya.
*Kenapa? kok bisa?* ketik ku.
*Gara-gara kun-kun yang aku ceritakan waktu itu. Dia jail sekali!* balas kakak sepupu ku.
Aku langsung melotot horor, ternyata sosok kun itu berani memasuki rumah kakak sepupu ku. Bahkan membuat kakak sepupu ku celaka. Tubuh ku sontak merinding, berharap kun-kun itu tidak tahu rumah ku.
“Huhu, ngeri banget sih. Semoga kun itu gak tahu tempat ku!” gumam ku merasa takut.
Di hari minggu selanjutnya, kakak sepupu ku mengajak bermain di rumahnya. Tentu aku setuju, karena di rumah ku tidak ada siapa-siapa. Aku selalu sendirian di rumah, orang tua sibuk bekerja di sawah. Jadi aku merasa senang untuk bermain ke rumah kakak sepupu ku.
“Gimana? udah sembuh lukanya waktu itu?” tanya ku.
“Udah nih, tinggal bekasnya doang. Nih lihat sampai biru.” balasnya dengan santai.
Aku mengangguk-angguk, aku merasa penasaran bagaimana bisa sosok itu bisa membuat kakak sepupu ku itu celaka.
“Kok bisa sih kak? apa dia benar-benar menampakkan diri?” tanya ku.
“Iya beneran, jadi waktu itu aku sedang sibuk menjemur pakaian di belakang sambil menyenandungkan lagu bahasa sunda yang dia ada di film horor. Saat aku sedang ingin mengambil hanger yang tergantung diatas, aku terkejut tiba-tiba sosok itu menampakkan diri di sebelah ku.” jelas kakak sepupu ku.
“Lalu apa yang terjadi?” tanya ku.
“Ya aku jatuh lah, soalnya aku terkejut. Muka nya dekat banget, kan jadi kaget. Emang sialan tuh kun-kun!” geram kakak ku.
Kakak sepupu ku terus bercerita sambil terus menggeram kesal karena kun-kun itu yang telah membuat nya terkejut sampai jatuh. Dan yang menyebalkan kun-kun itu malah tertawa saat melihat tubuh ku terlentang di tanah sambil menahan sakit.
“Hihihi … , hihi … , dia ketawa kek gitu!” jelas kakak sepupu ku.
Bulu kuduk terasa merinding, apalagi seperti yang aku ketahui kalau rumah kakak ku sampingan dengan TPU, walupun hanya satu rumah sebagai pembatas antara rumah kakak sepupu ku dan TPU itu. Aku takut kun-kun itu malah mendengarkan kami yang mengumpat dirinya.
“Ish, semoga gak deh.” monolog ku dalam hati, sambil menahan rasa merinding.
Hari-hari berjalan seperti biasa di hidup ku, kehidupan sekolah ku terasa biasa, tak ada teman yang akrab di kelas, dan aku hanya sendirian duduk di dekat tiang. Pergi jajan saja aku selalu sendirian. Namun, aku tetap menyambut para teman kelas yang ingin berbicara kepada ku.
“Elara, ayo ke kantin.” ujar Nia.
“Baik, ayo ….” jawab ku sambil tersenyum tipis.
Aku berjalan di belakang Nia,dan teman nya yang bernama Delfa. Aku merasa iri karena mereka terlihat akrab, namun aku sedikit menarik diri untuk tidak terlalu terlibat dalam hubungan pertemanan mereka. Karena aku takut menjadi perusak hubungan persahabatan mereka. Aku berjalan di belakang mereka sambil mengabaikan orang-orang di sekitar ku. Aku hanya fokus pada diriku, karena aku tak mau ambil pusing dengan sikap orang lain.
“WOY Lara!! sini buruan!!” teriak kakak sepupu ku.
“Kamu kenal kakak kelas itu Elara?” tanya Nia.
“Hah? hehe iya aku kenal, aku ke sana dulu ya. Kalian duluan saja ke kantin nya “ ujar ku sambil tersenyum canggung.
Kakak sepupu ku Tia, menunggu ku untuk berjalan mendekati dirinya di depan kelasnya.
“Apa? kenapa teriak-teriak panggil aku?” ujar ku.
“Minggu main ke rumah ku ya, kita pedikur menikur gitu.” jawab kakak sepupu ku.
“Aish, aku kira ada yang penting sampai teriak-teriak gitu.” ucap ku.
“Ya itu penting lah, pokoknya harus datang ya. HARUS!” tegas kakak sepupu ku.
Aku hanya bisa menghela nafas, kakak sepupu ku yang merupakan anak pertama itu. Tentu saja punya sifat memaksa, aku hanya bisa pasrah, lagipula dia bukan orang yang jahat.
“Iya-iya, minggu aku ke rumah.” balas ku.
Hari minggu telah tiba, aku berjalan dengan santai untuk menuju kerumah kakak sepupu aku yang tak terlalu jauh. Masih berada dalam satu lingkup lingkungan rumah aku.
“Assalamualaikum, kak Tia.” ujar ku.
“Wa ala'ikummussalam, eh Lara. Yok masuk, kita main di kamar aja.” sambut kakak sepupu ku.
Kami berdua bermain di dalam kamar kak Tia. Dia mengajak aku untuk membersihkan komedo, kami menggunakan metode dengan mengoleskan putih telur ke hidung lalu menempelkan tisu yang sudah di potong tipis-tipis. Aku merasa geli saat kuas yang di oleskan dengan telur menyentuh hidung ku.
“Ish, beneran bisa ini kak? baru tahu aku “ ucap ku.
“Percaya deh sama kakak, tenang saja.” balasnya.
Kakak ku tiba-tiba mengarah kuas itu ke arah lubang hidung, entah dia sengaja atau tidak aku tak tahu. Sementara aku hanya memejamkan mata membiarkan kakak ku menjadi seorang make over.
“Eh kak hati-hati dong, masuk lobang hidung nih!” keluh ku.
“Iya-iya maaf.” balasnya.
Aku menikmati pedikur menikur dari kakak ku itu, tapi kakak sepupu ku kembali mengarahkan kuas itu ke lobang hidung ku.
“Eh jangan ganggu! lihat aja!” ujar kakak ku tiba-tiba.
Aku membuka mata, “ Lah? kan aku diem aja kak.” jawab ku.
“Hah? bukan kok, udah tutup mata lagi.” ucapnya.
Aku berusaha menepis perasaan aneh dan curiga dalam batin ku. Namun, kakak sepupu ku kembali melakukan hal yang sama. Sungguh itu menyebalkan.
“Kakak! ih kakak nih!” kesal ku.
“Maaf-maaf, sebenarnya si kun nih yang nyenggol-nyenggol jail.” ujar kakak sepupu ku.
“Hah!? Kun? sejak kapan dia berada dalam kamar mu?” tanya ku merasa terkejut.
Sungguh aku merasa merinding, kak Tia bilang sosok kun itu sudah ada sejak dari tadi di sebelah diriku. Dia selalu tertawa ketika berhasil menjaili aku. Ternyata bukan kakak ku yang sengaja, tapi memang sosok kun itu yang sedang jail saja.
“Mmm … , jadi sekarang dia ada disini?” tanya ku.
“Iya, dia ada disini, kenapa? apa kamu mau berbicara dengan nya?” tanya kak Tia.
“Apa boleh? memang nya dia mau?” tanya ku penasaran.
“Mau kok, dia malahan dari beberapa hari yang lalau terus merengek ingin juga mencoba masuk ke tubuh ku untuk bisa bicara dengan mu.” jelas kakak ku.
Aku terkejut, ternyata sosok itu ingin sekali berbicara dengan ku. Aku yang penasaran mengangguk setuju, lalu kakak ku memulai menutup mata seperti saat sosok noni Belanda itu ingin masuk ke tubuhnya. Aku menunggu dengan cemas, lalu saat kakak ku membuka mata. Aku merasa bulu kuduk ku merinding saat melihat perubahan pada kakak ku. Kakak sepupu ku itu bersikap seperti wanita centil, kepalanya selalu saja miring ke kanan dan tangan nya terus saja mengelus-elus rambut kanannya seolah-olah rambut itu sangat panjang.
“Ehem, apakah kamu kun?” tanya ku.
“Hihi … , iya, hihi … , kamu adik wanita ini ya?” tanyanya sambil terkikik.
Sungguh suasana terasa seram, bulu kuduk ku benar-benar mirinding. Aura yang bisa ku rasakan sangat menyeramkan.
“Kalau boleh tahu, kenapa kamu menjaili kakak ku waktu itu?” tanya ku berusaha memberanikan diri.
“Hem … , sebenarnya aku tidak berniat ingin mencelakai nya. Aku hanya ingin jail, dan mengajaknya bermain. Eh, dia malah jatuh. Hihi ….” ujarnya sambil
terus mengelus rambut kakak sepupu ku itu.
“Kenapa kamu jail? itu tidak baik.”tutur ku.
“Karena aku suka, Haha ….” jawabnya.
Ya ampun, rasanya aku ingin lari saja. Sosok ini sangat menyeramkan. Walaupun aku tak bisa lihat sosok itu. Tapi aku bisa merasakan auranya.
“Seharusnya kamu tidak boleh begitu, tidak baik melakukan hal seperti itu.” nasihat ku.
Sosok yang berada dalam tubuh kakak ku yang sedari tadi tak mau bertatap mata dengan ku, langsung menatap tak suka dengan raut wajah yang terlihat marah.
“KENAPA!? Aku aku hanya ingin bermain! kenapa kamu tidak suka ha!?” ujarnya yang mulai meninggikan suara.
Glek!
Aku menelan ludah, aku harus bagaimana? sepertinya dia marah. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk.
“Jangan begitu! kau membuat adik ku takut!” ujar kakak ku.
“Hu! iya-iya, aku tidak akan begitu lagi!” jawab sosok itu.
Aku terperangah melihat kakak ku yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Sosok yang masih di tubuh kakak sepupu ku kembali melihat ke arah ku, dia tersenyum. Senyuman nya itu sangat menyeramkan.
“Kamu sangat cantik, dan hati mu juga baik. Ingin aku memberikan kecantikan ku kepada mu.” ucap sosok itu.
“Apa!? haha … ,tidak perlu kok.” jawab ku sambil tertawa canggung.
“Kenapa? apa kamu tak percaya aku Cantik? “ tanyanya.
“Hah? B-bukan begitu, aku, aku hanya ….”
“Dulu aku cantik, sangat cantik. Akua adalah kembang desa. Tapi, gara-gara pria brengsek itu!! muka ku jad hancur sebelah begini!!” ujarnya yang tiba-tiba menunjukkan raut wajah penuh dendam dan amarah.
Aku merasakan aura yang begitu kuat, rasa penuh dendam dan kemarahan sangat terlihat dari kedua bola mata kakak sepupu ku yang sedang di rasuki oleh sosok kun itu. Aku merasa bingung bagi cara menenangkan nya, tapi aku berusaha melakukan nya.
“Kenapa kamu dendam? itu sudah berlalu, karena kamu yang menyimpan dendam itu.
Maka kamu jadi tertahan di dunia ini.
Harusnya kamu berusaha ikhlas dan lepaskan semua dendam dalam hatimu.” tutur ku.
“TIDAK! aku tidak akan melepaskan pria itu! dia harus mati!! dia harus merasakan sakit yang aku rasakan!!” bentaknya dengan marah.
Jantung ku rasanya ingin copot, aku takut suara keras yang keluar dari mulut kakak ku terdengar oleh paman dan bibi.
“Hei, jangan teriak begitu. Kasihan orang yang punya tubuh ini.” ucap ku.
Perlahan dia mulai tenang, raut wajahnya kembali ke raut semula.
“Huf, sebenarnya percuma kamu menaruh dendam. Apa kamu tahu dimana dia sekarang? Bagaimana cara kamu membunuh nya? aku rasa dia juga sudah tiada, karena itu sudah lama berlalu.” ucap ku.
Sosok kun itu terlihat memikirkan sesuatu, raut wajahnya menampakkan kebingungan.
“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?” tanya ku.
“Iya, aku mau pergi dulu ya, wanita itu cerewet sekali! dia terus saja menyuruh ku untuk segera keluar!” gerutu nya.
“Hah? mmm …, baiklah.” jawab ku.
Kakak Tia kembali menutup mata, ketika dia membuka mata. Dia terlihat ngos-ngosan karena lelah.
“Kakak tidak apa-apa?” tanya ku.
“Hosh … hosh, gila tuh kun-kun!
energinya pas marah besar banget. Terkuras energi untuk tetap menegang kendali.” ujar kakak sepupu ku.
“Sungguh? ternyata menjadi wadah tidak semudah itu. Banyak menguras energi, kakak jangan terlalu sering begitu.” ucap ku merasa khawatir.
Malamnya aku sungguh merasa lelah, aku ingin cepat-cepat tidur. Biasanya aku selalu tidur sendiri dalam kamar ku. Tapi, tiba-tiba ibu ku bilang ingin tidur bersama.
“Tumben ibu mau tidur di kamar Lara.” ujarku.
“Mau aja, kasur kamu kan empuk, pas aja buat pinggang ibu.” balas ibuku.
Aku tak banyak berdebat, kami berdua langsung tidur bersama. Malam semakin larut, aku yang tadi tertidur pulas. Mulai merasa gelisah, aku merasakan kaki ku seperti di tarik-tarik dan goyangkan. Aku yang terlalu lelah dan mengantuk, menyipit sedikit mata. Aku melihat samar-samar sosok putih yang berdiri di dekat ujung kaki ku. Karena aku terlalu mengantuk, aku tak bisa merasa takut. Hanya tidur yang aku inginkan.
“Pergilah! aku ingin tidur!” bicara ku dalam batin.
“Ayo bangun! ayo kita main lagi!” ujar sosok itu.
“Tidak mau! Sana pergi!” tegas ku yang berbicara lewat batin.
Aku yang setengah tidur itu, sungguh mendengar dengan jelas suara sosok yang menganggu tidur ku. Pagi menayapa, aku terbangun dengan ibuku yang sudah tak terbaring di sebelah ku. Karena ibu langsung membereskan rumah saat subuh. Aku yang bangun subuh, duduk merenung di atas kasur.
“Apa semalam aku mimpi ya? Tapi kenapa terasa nyata?” gumam ku merasa bingung.
Beberapa hari kemudian kak Tia mengatakan pada ku melalui pesan singkat di ponsel. Kalau sosok kun itu ingin kembali berbicara dengan ku, dia merasa apa yang aku katakan itu ada benarnya. Aku mengutuk nasib ku, kenapa seperti nya kun itu sangat senang berbicara pada ku.
“Huf …, apa benar kun ingin berbicara pada ku?” tanya ku sambil menghela nafas.
“Iya, kamu mau kan? Dia benar-benar ingin berbicara dengan mu, aku sangat capek mendengar celotehan nya!” geram kakak ku.
“Baiklah, ayo lakukan.” jawab ku.
Seperti biasa kakak ku memulai membuka komunikasi, kun mulai masuk. Ada rasa berbeda saat melihat nya, aura kun terlihat sedikit berbeda. Tidak seseram saat pertama aku berbicara dengan nya.
“Yang kamu katakan memang benar, percuma aku dendam. Lagipula selama ini aku tak tahu di mana keberadaan laki-laki itu sekarang. Aku ingin melepaskan semua nya, aku tak ingat nama mu. Tapi, boleh kah aku bercerita tentang kisah ku ke kamu?” tanya nya.
Aku mengganguk, “iya, lakukan lah. Aku akan mendengarkan nya.” jawab ku.
Saat itu masa-masa dimana para penduduk masih menggunakan pakaian kebaya dan juga kain. Sosok kun yang masih menjadi manusia saat itu merupakan kembang desa yang cantik. Semua pria berlomba-lomba untuk mendapatkan dirinya. Namun, dibalik kecantikan nya itu. Sosok kun yang dulu merupakan manusia adalah sosok wanita jual mahal dan sedikit angkuh. Suatu hari ada seorang pria yang hendak menjadikan dirinya kekasih.
“Apa kamu mau menjadi kekasih ku?”tanya pria itu.
“Apa? menjadi kekasih mu? aku tak sudih, aku adalah wanita cantik di desa ini. Aku tak mau dengan pria jelek seperti mu.” jawabnya.
Pria itu menggeram kesal, dia sangat marah dengan wanita cantik namun terkenal jual mahal dan jujur itu. Dia pergi meninggalkan sosok kun yang dulu manusia dengan membawa perasaan marah.
“Awas saja kau! Akan ku buat dirimu menyesal!” gumam nya sambil terus berjalan pergi.
Di suatu malam, sosok ku yang dulu seorang manusia sedang berjalan sendirian untuk pulang ke rumah. Dia terpaksa melewati jalanan sepi yang tentu saja pada zaman dulu masih banyak hutan-hutan. Awalnya dia berjalan dengan santai, namun perasaannya menjadi tak enak. Perasaan cemas dan takut menyeruak dalam hatinya.
“Aku harus buru-buru!” gumamnya.
Dia mempercepat langkah nya yang kecil, tiba-tiba suara langkah terdengar jelas mengikuti dirinya dari belakang. Dia yang tadi berjalan cepat, kini memilih berlari.
“Hosh .. hosh, tolong!! Tolong aku!!” teriaknya dengan perasaan takut.
Orang itu semakin mengejar dirinya, malang bagi sosok manusia kun dulu. Tangan nya berhasil diraih oleh orang jahat itu.
“Lepaskan aku!!!” teriaknya dengan suara bergetar.
“HAHA! TERIAK LAH! tidak akan ada yang membantu mu! Makanya jadi wanita jangan sombong!!” bentak pria itu sambilan menyeringai kejam.
“Hiks … , lepaskan aku! Kenapa kau melakukan ini ha?” tanyanya sambil menangis.
“Karena kau tak menerima cinta ku!!” tegasnya.
Pria itu menyeret wanita malang itu semakin memasuki hutan gelap. Wanita itu berusaha memberontak. Namun kekuatan nya tak cukup besar untuk melawan. Setelah dirasa sudah benar-benar berada di tengah hutan. Pria itu melempar tubuh si wanita dengan kasar.
“Hiks …, apa yang kau ingin lakukan kepada ku ha!?” teriaknya sambil terisak.
Pria itu mengeluarkan sebila pisau kecil, dia menyeringai kejam sambil terus mendekatkan pisau kecil itu ke arah wajah kanan wanita malang itu. Dia menyayat wajah wanita itu, tak ada yang bisa wanita itu lakukan. Dia hanya bisa merasakan perih di wajah kanan nya yang di sayat-sayat.
“HAHA!! sekarang kau tidak cantik lagi!! wajah mu telah hancur!!” bentak pria itu.
“Hiks … hiks, sakit sekali …. “ ucapnya dengan lirih.
Setelah puas menyayat hancur wajah wanita itu, pria itu kembali menyeret wanita itu. Pria itu menggali sebuah lubang besar di tengah hutan, lalu di lemparkan nya tubuh lemah tak berdaya wanita itu ke dalam lubang. Lalu dia perlahan-lahan menutupi lubang itu, wanita itu menatap wajah pria yang telah mengubur nya hidup-hidup dengan penuh kebencian dan dendam.
“Aku akan membalaskan dendam ku.” monolog nya dalam hati.
Hati terenyuh mendengar kisah sosok kun yang awalnya aku anggap sebagai sosok yang seram. Mata ku terasa perih karena ingin menangis. Namun, aku tak mau menangis di depan kakak sepupu ku, nanti aku akan di ejek habis-habisan. Itu adalah hari terakhir aku berkomunikasi dengan kun, karena setelah nya aku sibuk belajar untuk menghadapi UTS. Suatu hari, aku mendapatkan sebuah mimpi yang sangat aneh.
“Dimana aku? kenapa aku berada di ruang hampa?”gumam ku.
Dalam mimpi itu, yang aku ingat hanya ruang hampa berwana putih. Setelah aku amati dengan seksama ruang hampa itu, dari kejauhan aku melihat sebuah batu cukup besar dan di atas batu itu duduk seorang wanita berambut panjang dengan pakaian putih yabg yang menutupi kakinya. Aku yang penasaran langsung berjalan perlahan mendekat.
“Siapa kamu?” tanya ku yang penasaran.
Wanita itu menoleh, rambut panjang yang rapi. Panjang nya sebatas punggung, wajah nya cantik dan senyumannya manis.
“Kamu sudah datang, aku menunggu mu.” ujarnya.
“Menunggu ku? kenapa? Memang nya kmau siapa?” tanya ku.
“Aku adalah kun, aku ingin memberitahu kalau aku akan pergi ke tempat seharusnya aku berada. Terimakasih telah mendengarkan cerita ku, dan terimakasih telah menyadarkan diriku. Sekarang hatiku merasa tenang berkat mu.” tutur nya sambil tersenyum manis.
Entah mengapa hati ku terasa sedih, air mata mulai menetes di kedua pelupuk mataku. Aku menangis tersedu-sedu di dalam mimpi, dan sosok kun yang sudah tak menyeramkan pun ikut menangis. Sesaat sebelum kepergiannya, dia memberikan sebuah batu kecil berwarna hitam pekat. Di letakannya batu itu di tangan ku, aku mengepal batu itu di genggaman tanganku. Setelah mimpi itu, aku buru-buru pergi ke rumah kakak sepupu ku di hari minggu. Aku bercerita kalau aku melihat sosok kun yang mengucapkan perpisahan. Kakak ku mengiyakan, ku lihat matanya sembab. Aku rasa dia pasti merasa sedih, walaupun kun itu sosok yang jail. Tapi, dia cukup baik, di saat ada orang yang ingin mengganggu ku dan kakak ku, dia yang membalas orang itu. Padahal tidak ada yang menyuruh nya, walupun pada akhirnya dia tetap di marahi oleh kakak ku. Aku masih merasa bingung sampai sekarang, kenapa di dalam mimpi kun memberikan batu sangat kecil berwarna hitam pekat kepada ku. Batu itu terlihat seperti batu bara yang di hancurkan menjadi kepingan kecil-kecil. Namun, aku sedikit menyadari bahwa terkadang kita tidak boleh terlalu jujur hingga menyakiti hati orang lain, dan aku juga menyadari bahwa kita tidak boleh memaksa kan kehendak kepada yang tak bisa kita dapatkan. Karena itu semua akan menyakiti diri kita sendiri pada akhirnya.