Hening mengambil alih suasana malam ini. Kami terdiam di pojok ruangan pengap nan sempit. Menyaksikan bagaimana tetesan demi tetesan air hujan jatuh menciptakan sedikit bising, kala beradu dengan baskom yang telah Mamak siapkan untuk menampung air hujan yang turun.
Aku menatap miris pemandangan dalam ruangan bobrok ini. Dinding tripleks yang sudah retak sana sini, belum lagi atap seng tua kemerahan yang sudah bocor di segala sisinya. Juga baskom-baskom yang berjejer menampung air hujan.
Helaan napas berat terdengar dari seorang lelaki tua bertubuh besar yang begitu aku hormati. Ia adalah Bapak. Kepala keluarga, sekaligus orang yang paling dihormati di rumah ini.
"Pak. Kapan kita punya rumah yang bagus? Aku pun ingin tidur nyenyak di atas kasur seperti teman-teman yang lain," adu Ayan─adikku yang baru berusia sepuluh tahun.
Bapak hanya terdiam. Kemiskinan ini tak kunjung enyah meneror keluarga kami.
"Kata orang, roda kehidupan itu berputar. Terus, kenapa kita tidak pernah kaya? Apa rodanya macet, seperti roda becak punya Bapak?" katanya lagi.
Kali ini, karena tak tahan mendengar ocehannya, aku mencubit pipi sedikit berisi itu karena gemas. Tak lupa, kupukul kepalanya pelan. Bermaksud untuk menyadarkannya.
"Kau ini, bicara yang benar. Jangan suka ngelantur ke mana-mana. Makanya, berhenti nonton sinetron tak berguna! Otakmu jadi melankolis, 'kan," kataku seraya terus mencubiti pipinya.
Ayan berontak. Wajahnya berubah masam, dengan tangan yang diletakkan di pipi. "Kapan aku menonton sinetron? Ingat, kita ini miskin dan tak punya harta seberharga televisi," katanya mulai memprotes lagi. Kini, tubuh mungilnya itu sudah berbalik menghadap Mamak. Si menyebalkan ini, sudah memasang wajah setengah memohon.
"Mak, ayo belikan aku televisi. Aku ingin menonton film kartun yang sedang ngetren itu seperti teman-teman yang lain. Semua temanku di sekolah terus saja membicarakannya. Hanya aku yang tidak. Karena aku tidak tahu!" rengeknya dengan nada agak sedikit meninggi.
"Kau pikir televisi seharga es lilin di warung? Nak, harusnya kau bersyukur karena masih diberi umur dan kesehatan. Menunduklah sedikit, lihat orang-orang yang jauh lebih menderita daripada kamu. Jangan suka mendongak ke atas, atau pundakmu akan pegal!" Bapak menjawab dengan tegas. Membuat garis bibir Ayan semakin melengkung ke bawah.
"Kapan kita kaya, Pak?"
Bapak menoleh, sebelum melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Beliau sempat menjawab pertanyaan yang Ayan tanyakan. Sejujurnya, itu pertanyaan yang sama. Pernyataan yang kadang mengusikku tiap waktu.
"Saat kau benar-benar telah jadi dewasa. Saat kau sudah menuai apa yang sudah kau tanam hari ini. Jadi tanamlah banyak kebaikan. Belajar dengan giat, dan jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia yang lain."
Perkataan itu berhasil menamparku. Aku dibuat terdiam, karena lupa untuk bersyukur tentang segala hal yang sudah didapat sampai hari ini.
.
Aku berlarian ke sana kemari seperti orang kesetanan, terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada beberapa orang yang kujumpai.
"Permisi, apa Ibu lihat adik saya, Ayan?"
Ibu penjual jajanan pasar itu menggelengkan kepalanya. Hasil yang sedari tadi terus kudapati, saat kutanya apa mereka melihat Ayan. Si menyebalkan itu pergi dari rumah sejak sepulang sekolah. Katanya hendak mulung bersama Ade dan Adrian. Pada awalnya Mamak tidak mengizinkan. Namun, ia bersikeras ingin memberi es krim di toko besar.
Toko yang orang-orang sebut dengan nama supermarket. Katanya sih, di sana banyak jajanan yang tidak bisa ditemukan di pasar, dan toko itu banyak dikunjungi oleh para orang kaya yang hendak membeli bahan makanan, atau sekadar untuk membeli camilan.
Aku berjalan di bawah teriknya sinar matahari siang ini. Rasanya benda bulat nan panas itu tepat berada di atas kepalaku sekarang. Aku menoleh, memerhatikan pemandangan di sisi kanan dan kiriku. Rumah-rumah besar nan mewah seperti istana dalam dongeng.
Otakku dengan jahil menarik diri untuk berimajinasi. Membayangkan jika keluargaku adalah salah satu penghuni rumah besar di sini. Rasanya mungkin sekarang aku sudah bersantai di bawah dinginnya ruangan ber-AC, sembari menikmati segelas minuman dingin yang baru saja keluar dari kulkas, kemudian menonton acara apa saja yang ditayangkan di televisi, seperti yang ada di rumah Dina.
Saking asiknya berkhayal, aku sampai tidak sadar jika langkah kaki nyaris menapaki lantai emperan supermarket. Aku terbelalak takjub. Bahkan ukuran toko ini tiga kali lebih besar dari rumah sempitku yang sesak dengan penuh rongsokan di mana-mana.
Tersadar akan niat awal aku ke sini, buru-buru kuedarkan pandangan. Mencari keberadaan seorang anak laki-laki bertubuh pendek, dengan rambut acak-acakan, memakai kaos hitam dan celana pendek selutut yang terkesan dekil. Jangan lupakan sandal jepit kebesaran yang ia pakai. Sandal yang Bapak temukan di jalan, saat beliau pulang menarik becak minggu lalu.
Rupa-rupanya, anak laki-laki itu tengah asik duduk lesehan bersama teman-temannya di trotoar jalan. Dengan perasaan kesal sekaligus lega, aku berjalan menghampiri mereka.
"Enak sekali ya jadi kamu. Duduk sambil tertawa lepas di sini. Lupa kalau punya rumah? Ya sudah, tidak usah pulang saja sekalian!"
Ketiganya kompak menoleh ke arahku, lantas berdiri. Kuperhatikan tangan-tangan kecil itu, kompak memegang beberapa makanan ringan.
Aku mengernyit dan tersadar kalau makanan itu adalah makanan basi yang sengaja dibuang oleh toko besar itu.
"Kenapa kalian makan makanan ini?"
Kutepis kasar makanan itu dari tangan mereka. Buru-buru kumasukkan kembali makanan itu ke dalam kantong kresek besar berwarna putih yang tergeletak di bawah.
"Kenapa dibuang, Kak? Itu makanan mahal tahu!" kata Ayan menyela.
Kutatap anak itu agak tajam. "Makanan itu sudah basi, Ayan! Mau sakit perut kau?" balasku kesal.
"Masa sih, Kak? Padahal, tadi pegawai dari toko besar itu sendiri yang ngasih kita makanan ini," tukas Ade diiringi anggukan kepala dari Ayan dan Adrian.
Entah kenapa, hatiku rasanya sakit mendengar penuturan Ade. Ada perasaan sedih dan marah yang hinggap dalam dada sekarang. Apa karena anak-anak ini miskin, jadi mereka bebas diperlakukan seperti hewan?
"Kalian memang miskin. Tapi jangan pernah bertindak bodoh, atau mau dibodohi orang-orang seperti mereka!" kataku yang tanpa sadar berkata dengan nada agak meninggi.
Ketiganya terkesiap. Mungkin agak kaget karena aku setengah berteriak tadi. Kali ini, dengan suara yang melembut, aku mencoba untuk mengajak ketiganya pulang.
"Ayo pulang. Mamak sudah menunggu di rumah," kataku pada Ayan. Kemudian kutatap dua orang yang berdiri mengapit anak itu.
"Kalian juga pulanglah. Hari sudah mau gelap. Mamak-mamak kalian juga pasti sudah menunggu di rumah."
Kedua anak itu terlihat mengangguk, kemudian kami berpisah di persimpangan jalan. Aku mendongak, menatap langit yang perlahan menguarkan semburat jingga.
"Teh."
Aku menoleh tanpa menjawab ucapan anak itu. Terlihat ia menunduk dengan tangan yang bertengger di perut kempesnya.
"Aku lapar," katanya lantas beralih menatap ke arahku. "Apa Mamak masak hari ini, Teh?"
Aku terdiam tak menjawab. Seingatku, saat Mamak menyuruh untuk mencari Ayan yang tak kunjung kembali tadi, Mamak sedang tak berada di dapur. Aku pun tak berniat bertanya, karena jujur saja aku sudah tahu jawabannya.
"Nanti biar kubuatkan kamu singkong rebus," balasku kemudian.
Ayan tersenyum. Namun raut wajahnya nampak sedih. "Kau tahu, Teh. Kadang aku iri sama orang-orang yang di rumahnya selalu tercium wangi makanan. Sedangkan di rumah kita, yang Mamak lakukan hanya memasak batu. Kapan batu itu bisa berubah jadi makanan, Teh? Aku rela menunggu batu itu matang, asal memang benar-benar bisa dimakan," katanya dengan nada sarat akan kesedihan.
Aku menepuk pundaknya pelan. "Doakan saja, semoga hari ini Bapak dapat uang. Jadi Mamak bisa masak, dan kita bisa makan hari ini."
Ayan tampak mengangguk tanpa banyak berbicara. Raut wajahnya masih terlihat agak sendu. Kami pun melanjutkan perjalanan tanpa banyak berbicara, sampai aku tidak sadar jika kami hampir sampai di rumah.
Ada helaan napas berat yang aku keluarkan, sembari menatap malas pada gang kumuh yang penuh dengan rongsokan di sisi kiri dan kanan jalannya. Berbeda sekali dengan jalanan depan yang dipenuhi deretan rumah-rumah mewah milik orang kaya.
Saat hendak melangkah menuju rumah, suara teriakan Egi--anak dari tetangga di samping rumahku, lebih dulu menahan pergerakanku dan Ayan. Kami sontak menoleh. Kudapati wajahnya terlihat cemas dan panik.
"Teh! Kapal yang A Romi tumpangi untuk bekerja, karam kemarin! Bapak sedang berada di rumah Pak RT untuk mencari tahu apakah A Romi selamat atau ...."
Aku menggeleng, lantas berlari menuju rumah Pak RT. A Romi adalah kakak sulungku. Ia bekerja sebagai nelayan, yang mencari ikan sampai ke kota orang. Bisa dibilang ia merantau sejak satu bulan yang lalu.
Saat sampai di sana, aku melihat Mamak sudah menangis dan ditenangkan oleh Bapak. Aku mendekat, disusul Ayan dan Egi di belakangku. Sebenarnya, ada perasaan was-was yang menggelayuti hati kecilku sekarang. Ada banyak pemikiran negatif yang coba aku tepis sedari tadi.
"Pak," panggilku lirih. Bapak menoleh dan terdiam cukup lama. Membuat air mataku luruh begitu saja.
"Tidak apa-apa. Kakakmu selamat, dan sedang dalam perjalanan pulang. Doakan ia semoga sampai ke rumah dengan selamat," kata Bapak sembari tersenyum tulus ke arahku.
Aku lantas memeluk tubuh Ayan. Ucapan Bapak berhasil membuat hatiku tenang. Sungguh, aku lega sekali saat mengetahui ternyata A Romi baik-baik saja.
.
Hari ini tidak akan pernah aku lupakan sampai kapan pun. Kenapa? Karena kini sepotong ayam goreng yang sudah aku impi-impikan sejak lama, bertengger manis sebagai teman makan malam kami kali ini. Tadi sore, A Romi pulang dengan membawa sebungkus ayam goreng. Rupanya ia sudah pulang sehari sebelum kapal itu karam, jadilah ia di sini bersama kami sekarang.
Aku tersenyum senang ke arah Ayan. Memerhatikan betapa lahapnya dia menyantap makanan kali ini.
"Sering-seringlah kita makan ayam seperti ini!" katanya yang mengundang tawa kami sekeluarga.
"Kalau aku, tak perlu merasakan ini setiap hari. Kalaupun ayam goreng ini harus jadi yang pertama dan terakhir, aku ikhlas. Asal kita semua bisa terus berkumpul seperti ini setiap hari."
Mamak yang sedari tadi hanya terdiam, akhirnya membuka suara sembari menatap lekat ke arah Ayan.
"Kau dari mana saja seharian ini? Sudah Mamak bilang untuk pulang sebelum Asar. Mamak pun tahu, kalau hari ini kau tidak berangkat ke sekolah."
Ayan yang semula sibuk mengunyah, mendadak berhenti setelah menelan makanan di mulutnya. Anak itu kemudian berbalik menghadap seutuhnya pada Mamak yang duduk di sampingnya. Jujur, aku kaget saat Mamak mengatakan Ayan tidak berangkat ke sekolah.
"Bukannya kamu tadi pergi dari rumah pakai baju seragam, Ayan?" Bapak membuka suara. Membuat suasana di dalam rumah tiba-tiba berubah tegang.
Ayan terlihat menunduk. Dengan suara agak bergetar karena menahan tangis, ia akhirnya menjelaskan.
"Kemarin Bang Anan ngajakin aku, Ade, sama Adrian ke pasar, Mak, Pak. Katanya sekalian mau ngajak kami jalan-jalan lihat Monas. Memang kami berhasil lihat Monas, tapi setelah sampai di pasar, dia nyuruh kami buat turunin barang-barang yang ada di bak belakang mobilnya. Habis itu, kami disuruh bawain barang-barang itu sampai ke tokonya Mak Ina yang ada di pojok. Kami di sana disuruh-suruh. Setelah itu, Bang Anan ngajak kami pulang. Tapi kami harus temuin dia lagi selepas Zuhur. Katanya dia mau ngasih kami upah karena sudah bantu bawain barang. Makanya aku beralasan dan minta izin mau mulung sama Mamak. Aku takut Mamak bakal marah kalau aku bilang mau ketemu sama Bang Anan."
"Lalu kau dikasih berapa sama si Anan?" tanya A Romi yang kelihatan mulai penasaran dengan kelanjutan cerita adik bungsunya itu.
Ayan kemudian merogoh kantong celana dekilnya itu, lantas mengeluarkan selembar uang pecahan sepuluh ribu yang ia sodorkan pada Mamak.
"Tadinya, uang ini mau aku berikan pada Mamak untuk membeli beras. Jadi Mamak gak perlu masak batu lagi. Eh, ternyata A Romi pulang dan bawa ayam goreng."
Wajahnya terlihat berbinar saat mengatakan kalimat terakhirnya. Namun sedetik kemudian, wajah polosnya itu kembali menunduk. "Maaf sudah bohong sama Mamak dan Bapak. Maaf juga karena aku bolos dan buat Mamak khawatir. Maaf karena sudah bikin Teteh nyari aku sampai petang. Aku janji gak akan mengulangi kesalahan itu lagi," katanya dengan suara yang terdengar sangat tulus.
Bapak terlihat menunduk lantas berucap, "Maaf karena Bapak tidak pernah membahagiakan kalian. Bapak tidak pernah memberikan kalian makanan yang enak. Bapak hanya memberikan kalian kemiskinan dan kesengsaraan. Maafkan Bapak."
Sosok itu menangis. Baru kali ini aku melihat sosok tegas sepertinya terlihat begitu rapuh. Mamak mendekat, lantas memeluk Bapak. Begitupun aku, Ayan, dan A Romi. Kami berkumpul lantas memeluk Bapak.
"Bapak, Nia, Ayan, juga Romi, adalah harta berharga keluarga ini. Harta yang tidak akan bisa ditukar dengan uang," kata Mamak penuh cinta.
A Romi terkekeh kecil. "Begitupun Mamak, bidadari pertama di keluarga ini. Kalau si Nia sih, jadikan saja dia pembantu. Biar Mamak yang akan selalu jadi ratu, dan Bapak rajanya."
Semuanya tertawa karena ucapan A Romi. Sedangkan aku pura-pura merenggut kesal dan merajuk. "Oke, tak apa. Tapi A Romi jadi gembelnya, ya!"
Ayan sudah melompat kegirangan. Tangannya terangkat, dengan raut wajah terlihat senang. "Kalau aku pengin jadi jenderalnya!"
Kami semua tertawa karena tingkah absurd bocah kelas 5 SD itu. Memang benar kata pepatah. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Rumah ternyaman untuk kita jadikan tempat berpulang.
Dulu sekali, aku selalu berangan-angan ingin cepat-cepat jadi orang dewasa. Supaya aku bisa bekerja, atau paling tidak aku bisa membantu Bapak dan Mamak. Namun, saat usiaku merangkak memasuki usia remaja, di situlah aku merasa selama ini aku keliru.
Aku mengartikan jika menjadi dewasa, itu artinya aku bisa jadi apa saja yang aku mau. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan, imajiku kala itu. Namun, realitanya tak satupun angan yang selama ini aku lambungkan tinggi sekali, berhasil terwujud meski harapan itu hanya sebatas bisa makan lahap dengan lauk yang enak.
Untuk semua peristiwa yang telah terjadi hari ini, aku akan belajar dari semua itu. Aku ingat betul bagaimana cemasnya kala kudapati Ayan tidak kunjung pulang, kemudian menemukan anak itu tengah asik memakan makanan basi dari toko besar, lalu disuguhkan lagi dengan berita tentang karamnya kapal yang ditumpangi A Romi. Ah, jangan lupakan bagaimana tadi di jalan kami sempat berdoa agar Bapak mendapat uang dan Mamak tidak perlu memasak batu. Di situlah aku sadar, tidak ada yang lebih berharga dari ayam goreng yang selalu aku impikan, selain Bapak, Mamak, Ayan, dan A Romi.