Cinta Hinata Haruka itulah mungkin gambaran kisahku berharap romantis itu ada dalam hidupku dan berminggu-minggu aku sudah mengagumi Naruto hanya dalam diam saja. Kadang aku berharap bisa bersama dengannya sebagai kekasih tapi dia masih terjebak cinta segitiga antara Sasuke dan Sakura, aku hanya melihatnya saja.
"Kau melamun lagi, Hinata!"
"Ten ten, tidak aku sedang pusing melukis apa semuanya terasa buyar begitu saja aku pikirkan."
"Pasti karna Naruto lagi. Aku benar,Hinata." Tebak Ten ten
"Ada,yang rindu Naruto."
"Tidak tidak aku yakin itu prasangka aneh saja.aku hanya fokus dengan tugas saja."
"Hinata kamu disini, ayo! Ikut!" Ajak Ino.
"Tidak disini saja"
"Ayo!"
***
Kami bertiga pun menonton pertandingan basket antara tim Naruto dan tim Sasuke, jelas aku yakin dia pasti menang. Aku liat Sakura semangatin Sasuke.
"Sasuke ayo Sasuke!"
"Ino kau tumben mengalah itu Sakura nampaknya terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Sasuke."
"Ten ten, dengarkan aku baik-baik sekarang aku fokus pada Sai saja. Dia jauh lebih keren, kenapa tidak satu tim dengan Sasuke. Sai ayo!"
Aku berusaha untuk tidak tertawa tapi wajah Naruto sepintas sedang menyeka keringatnya dan sedang menyemangati timnya.
Naruto entah memandang siapa aku hanya tersenyum simpul dan dia membalas senyumaku.. Tunggu benarkah itu.
"Ayo lempar pada Chikamaru! Naruto lempar!"
"Chikamaru tangkap!"
Dan yes! Poin mereka imbang.
***
Aku ingin memberikan minuman ini padanya.
"Naruto kau haus,mau minum. Aku belikan ini."
Tapi itu hanya khayalan saja.
Waktu seolah mendukungku tau-tau Naruto berdiri dibelakangku.
"Boleh aku haus, ini gratis atau kubayar gantinya."
"Aaku gratis aaku kasih gratis,tak perlu dibayar ganti."
"Kau jangan gugup didepanku jadi tak nyaman saja."
"Aku hanya kedinginan saja."
"Ini musim gugur bukan musim dingin Hinata.kau itu selain aneh ternyata pintar melucu juga, haha.. Baiklah jangan lupa dukung timku sampai menang, aku akan bayar dengan kencan buta setuju."
Dia berjabat tangan dengan tanganku. Dia juga mengusap kepalaku.
"Dukung ya!"
Dia pergi begitu saja dan melambaikan tangan dari arah belakang.
***
Satu jam berlalu..
Tim Sasuke menang tipis dan Naruto menerima dengan santai. Aku bingung harus bicara apa dengannya.
"Ini Naruto handuk untuk menyeka keringatmu.Semangat ya!"
"Iya! Terima kasih lagi."
"Aku rasa, lain waktu kau akan menang Naruto."
"Tidak juga Hinata, aku kalah dua kali. Pertama Kalah dapat hati Sakura dan dua kalah tanding basket walau poin kami tipis."
"Maksudnya?"
"Sakura menolakku dan Sasuke juga menolak Sakura, karna dia belum siap untuk masalah hati. Aku ajak dia taruhan main basket jika menang dia pacaran dengan Sakura. Dan aku sengaja kalah agar Sakura tak perlu patah hati."
Mungkin itu alasan aku menyukai Naruto, dia pria yang tulus dan rela berkorban dan setia kawan juga. Aku beranikan diriku sendiri untuk mengatakan perasaanku.
"Naruto maaf soal kencan buta itu jadi tidak, jika tidak pun tak apa. Aku mau minta tolong saja."
"Tolong Apa?"
"Jemput aku dirumah, mau tidak jika tidak sibuk."
"Kau ingin meminta apa dariku,katakan saja."
"Itu tadi sudah kok. Ya sudah aku pulang dulu ya."
***
Kupikir itu hal bodoh yang kulakukan. Dewi Fortune datang padaku, Naruto datang ke rumah ku.
Aku bergegas bersiap-siap saat dia kirim pesan chat padaku. Ayah minta aku pulang sebelum lewat pukul 12.00 malam.
Aku sangat senang, Naruto bilang kami akan pergi ke sebuah kedai Ramen Favoritnya karna dia selalu dapat kupon ramen gratis jika makan disana.
***
Ada Sakura dan Sasuke yang tiba lebih dulu sebelum kami. Mereka menyapa kami dan otomatis makan malam berempat dengan mereka.
Kami ngobrol sepanjang makan malam. Naruto kegirangan dapat kupon dan dia bergegas menukar kupon kadaluarsa dengan kupon baru yang dia dapat.
"Hinata, kau dan Naruto jadian ya.Syukurlah Sasuke! Kita punya teman pasangan baru." Kata Sakura sembari tertawa kecil.
"Yakin Naruto sudah bilang padamu, soal taruhan basket tadi siang."
"Iya, sudah belum. Jawabanmu Apa,Hinata?"
Aku rasa ada tak aku ketahui, Naruto mau mengatakan apa padaku? Taruhan?
"Naruto bilang taruhannya Sasuke harus jadian dengan Sakura jika dia,kalah bertanding basket denganmu."
"Wah! Bagus sekali namun sayangnya, Aku dan Sasuke sudah jadian seminggu yang lalu."
"Ya, paksaan saja."
"Sasuke, aku ikhlas tau tanpa paksa."
"Kalo begitu kita lihat Naruto akan mengatakannya atau tidak."
"Benar Sasuke, dia rasa belum siap move on soal kita. Hinata jangan anggap dirimu pelampiasan ya. Sungguh tidak kok."
"Kalian bicara apa tentang aku dihadapan Hinata?" Tanyanya setelah selesai menukar kuponnya tadi.
"Kami hanya berbincang biasa saja. Iyaaa Hinata!"
"Hinata hanya tanya kau kapan mau jadian dengannya?"
"Sasuke, Sakura! Jangan menggoda Hinata terus.aku perhatikan dari kejauhan saat mengantri mengganti kupon gratisku. Kalian pasti ingin provokasi perasaannya padaku, kan?"
"Ya jika aku dan Sakura melakukan itu pada Hinata. Jadi kau mau apa?"
"Betul kata Sasuke, mau apa?"
"Aku akan antar dia pulang itu mauku,kalian puas!"
***
Setelah berpamitan pulang dengan Sakura dan Sasuke.kini berdua saja dengannya aku harap dia tak marah.
"Naruto aku rasa mereka tak serius."
"Memang begitu mereka pasangan payah."
"Aku rasa terima kasih sudah mengantar ku pulang."
"Ini belum sampaikan, kita punya waktu tiga menit, ayo!"
Dia menggenggam tanganku.
Waktu tiga menit terasa Satu jam bersama-sama dengan dia.
Kemudian kami melihat mesin boneka capit dan Naruto hanya dapat satu dan boneka beruang merah muda jadi milikku,kami makan es krim di samping mesin boneka capit yang baru saja kami mainkan.
Ada bangku taman disana, dan tersisa satu menit lagi.
"Kencan buta ya sukses tidak. Aku minta maaf ya, kencan buta kita harusnya berakhir di kedai ramen berdua saja. Malah pengganggu seperti mereka."
"Benar ini kencan buta kita.ku pikir kau lupa. Aku tak enak mengingatkan hal itu padamu. Dan.. "
"Dan aku menepati ucapanku bukan. Aku ingin bertanya.jangan tersinggung ya."
"Tidak"
Naruto menatap serius, dan jantungku berdebar kencang dan rasanya sulit bernafas.
"Apa kau takkan menyesali perasaanmu padaku?"
Dia bertanya seperti itu lalu, harus jawab yang sejujurnya yakin aku tidak ditolak.
"Hinata jujur awalnya, aku ragu jika kau menyukaiku mengingat yang kudengar dari orang-orang di sekitar kita. Tak langsung darimu."
"Naruto jika itu kejujuran apa kau juga akan menerimanya atau sebaliknya.. "
"Hinata aku tidak pernah menolakmu, justru aku bisa move on dari Sakura karna senyum simpul itu, cukup menghiburku."
"Jadi, kau mau tidak terima aku aku.. "
Naruto mencium pipiku yang merah merona.
"Sudah selesai makan es krimnya. Ayo kita pulang. Aku bisa dihukum ayahmu."
"Dihukum ayahku, dihukum apa?"
"Dihukum menikahimu haha.. "
Aku rasa ini jawabannya, iya penantian yang kudapatkan sesuai harapan ku.
***
Tamat