Kamu ya selalu aja kayak gini nggak pernah berubah, kenapa sih jadi isrti yang becus banget, udahlah males terus di rumah bikin mood rusak aja," ucap erlangga putra melangkah pergi meninggalkan rumah dengan penuh emosi.
Hhhmmm...makasih Mas, makasih banyak atas luka dan rasa kecewa yang kamu kasih ke aku selama ini, akhirnya aku sadar aku emang terlalu bodoh berharap kamu akan berubah dan bisa ngertiin posisi aku, menghargai status aku, memaklumi kekurangan aku, ternyata setelah kita menikah selama sepuluh tahun dan memiliki anak..kamu masih tetap sama, aku sekarang sadar sudah saatnya aku melepas semua angan ilusi yang selama ini aku paksakan, sekarang aku sudah yakin malah sangat yakin akan keputusan akhir yang akan aku ambil, semoga kamu kali ini sadar dan tak menyalahkan aku seperti biasa, dan maaf aku nggak akan mengalah atau bersikap naif seperti sebelumnya," ucap lirih Seina saat melihat sang suami meninggalkan dirinya yang tengah terluka akibat ucapan tajam sang suami.
FlashBack On.
Mas..bisa minta tolong jagain Aidin sebentar nggak, aku masih banyak kerjaan di dapur, jadi tolong ya Mas," ucap lembut Seina kepada sang Suami.
Eh...yang punya tugas jagain anak itu istri kenapa malah kamu berani nyuruh aku buat jagain anak, lagian jangan nyari alasan kerjaan kamu dirumah itu emang sebanyak apa, aku capek tau nggak baru pulang kerja...bukan kayak kamu dirumah cuma diem ngedem aja dirumah, jangan banyak alasan aku mau istirahat kamu jaga sendiri Aidin," Erlangga menjawab Seina dengan nada ketus penuh emosi.
Seina yang mendengar ucapan sang suami hanya bisa mengelus dada, ia terkadang bingung dengan cara apa lagi tuk menghadapi tingkah laku sang suami, bahkan setelah menikah selama lima tahun dan sekarang mereka punya anak, sikap Erlangga tetap tak berubah, entah apa yang terjadi namun Seina merasa sikap sang suami yang selama ini sungguh di luar nalarnya, awalnya saat menikah sikap sang suami sangat hangat dan penuh perhatian, namun itu semua hanya bertahan selama setahun, setelah memasuki tahun kedua sikap sang suami mulai berubah dan makin memburuk ketika memasuki tahun ketiga Seina dinyatakan hamil dan melahirkan, sikap sang suami berubah menjadi makin ketus, kasar dan anarkis meakipun tidak melukai fisik tapi setiap ucapan yang keluar dari mulut sang suami pasti sukses membuat Seina merasa di lecehkan dan direndahkan. Namun Seina tetap berusaha bertahan dan mencoba mencari cara agar sang suami kembali seperti dulu, apalagi Sekarang mereka telah memiliki anak yang sangat tampan dan menggemaskan, Seina dengan mantap akan berjuang bertahan dan mencoba mengerti akan posisi sang suami, ia sangay yakin Sang suami akan kembali seperti dulu dan mereka akan menjadi keluarga cemara yang penuh cinta kasih.
Ia Mas maaf, ya udah kamu istirahat aja dulu, nanti aku siapin makanan buat kamu, biar Aidin aku yang jaga sendiri," jawab Seina berusaha bersabar.
Nah gitu baru bener jadi istri harus tau posisi, bukan asal main ngasih perintah aja, nggak sopan tau nggak kamu itu, aku ini suami kamu bukan babu kamu, lagian emang tugas jaga anak itu udah kodrat kamu sebagai ibunya,udahlah aku mau tidur jangan ganggu," Erlangga kembali menjawab dengan ketus.
Ia Mas maaf, ya udah aku mau kedapur dulu," ucap Seina berbalik melangkah ke dapur menahan derai air mata yang sudah siap meledak tanpa di minta.
Huh...sebenarnya aku capek dan lelah, apa pilihan aku tuk bertahan adalah sebuah kesalahan, apa emang dari awal harusnya aku menyerah, tapi aku nggak mau bersikap egois ada Aidin yang masih butuh sosok ayah," ucap Seina merenungi semua yang terjadi.
Tak ada perubahan, sikap sang suami tetaplah sama selalu Seina yang mengalah,yang meminta maaf duluan, yang menahan diri, dan bahkan terkadang Seina harus merendahkan diri agar perdebatan antara dirinya dan sang suami tidak melebar, namun nyatanya Seina hanyalah wanita biasa seperti yang lainnya, ada kalahnya ia juga ingin merasa dihargai, di berikan kasih sayang secara nyata, mendapatkan ucapan terima kasih atas kerja kerasnya, merasa dimiliki, merasa dianggap sebagai istri sesungguhnya, bukan malah sebaliknya. Seina terkadang melamun sendirian dalam sepi, berfikir mengapa semua yang ia bayangkan sebelum menikah tak ada yang menjadi nyata, bahkan terkadang Seina tanpa sadar berfikir keras siapa dirinya dimata sang suami, pembantukah, pelayankah, atau hanya sekedar pelengkap hidup untuk memenuhi kebutuhan biologis secara gratis mengatasnamakan kewajiban dan hak.
Tak ada yang berubah kehidupan rumah tangga Seina terlalu monoton, ia sibuk dirumah full 24 jam mulai dari menyapu, mengepel, masak, ngurus anak, nyuci baju, nyuci piring, bahkan untuk sekedar bersantai sejenak tidak ada, bahkan tak khayal Seina berfikir apa ia harus pergi dan bercerai, tapi bagaimana nasib Aiden anaknya, begitu banyak beban pikiran yang ia rasa, tapi lebih dari semua itu ada satu alasan yang membuat Seina sulit memilih. Ia masih sangat mencintai sang suami, ia sudah bertekad dan bersumpah hanya akan menikah satu kali dan berpisah cuma oleh kematian, namun apa dirinya sanggup, karena Seina tau sering kali tanpa sadar ia melampiaskan amarah dan rasa kecewanya kepada sang buah hati mereka, entah intu berteriak, marah atau mengumpat dengan kata kasar, dan setelah melakukan semuanya ia merasa bersalah dan gagal sebagai seorang ibu.
FlashBack Off.
Seminggu kemudian....
Dek.. besok malam kita harus kerumah orang tua aku, mereka ngadain acara syukuran buat anak mbak yossi, kamu dan Aiden harus udah siap, aku jemput jam 6 langsung dari kantor, inget jangan sampe lupa," ucap Erlangga dengan nada datar.
Ia Mas," jawab Seina singkat.
Ya udah sana, mana kopi buat aku, ini lagi kenapa sarapan pagi cuma nasi goreng doang, apa kamu nggak masak yang lain nggak mungkin kan uang yang aku kasih kemaren udah abis aja, kamu jadi istri harus pinter ngelola uang, jangan dibuat beli yang nggak berguna," umpat Erlangga dengan santai.
Maaf Mas aku bangunnya kesiangan, semalam Aiden tiba-tiba bangun dan nggak mau tidur jadi terpaksa aku begadang, makanya aku cuma buat nasi goreng," ucap Seina dengan nada terbata sembari kedua tangannya gemetar hebat.
Alah...alasan, terus kamu mau ngomong kalau aku yang salah karena nggak bantuin kamu jaga Aiden gitu, itukan emang tugas kamu sebagai ibu,lagian aku capek pulang kerja butuh istirahat nggak kayak kamu dirumah bisa santai duduk nonton, makan sepuasnya nggak ada yang gangguin, udahlah jangan nyari alasan, bilang aja kamu itu maleskan, jadi istri nggak guna banget, bersyukur aku masih mau bersabar ngadepin istri modelan kayak kamu, tiap bulan tinggal tadah tangan dapet gaji, masih aja nggak bersyukur, udalah aku jadi nggak berselerah makan, aku berangkat inget jangan lupa besok malam," ucap Erlangga penuh dengan kata kasar dan hinaan.
Seina sudah tau pasti sang suami akan marah, sebab sudah tabiat sang suami yang selalu menuntut Seina menjadi serba bisa, bahkan harus sesuai kalau tidak Erlangga sang suami akan marah dan tak segan mengumpati bahkan mengina dirinya.
Huh...aku beneran capek Mas, apa segitu tak beharganya diri aku sampe kamu nggak pernah sadar kalau sikap, tingkah dan ucapan kamu udah buat aku terpuruk, sakit hati bahkan aku juga sangat tertekan, kadang bayangan aku bunuh diri selalu membayangi, namun aku masih bersyukur karena Ada Aiden yang membuat aku kembali bersemangat, aku harus apa ya Tuhan ! Apa ini jawaban dari setiap doa yang aku panjatkan, kalau memang udah saatnya aku menyerah, udah saat nya aku melangkah," ucap lirih Seina dengan air mata yang terus mengalir.
Skip.
Sayang ayo makan, nanti kita mau pergi kerumah oma opa,Aiden jangan nakal ya pas di sana," ucap Seina lembut kepada Aiden.
Iya...Bun," jawab Aiden dengan wajah polosnya.
Bagus, anak Bunda yang terbaik," balas Seina sembari memeluk Aiden.
Hari tak terasa berganti sore dan Seina masih sibuk berkutat dengan berbagai pekerjaan rumah yang tak ada habisnya.
Aduh udah jam 4, aku harus bersiap-siap, aku nggak mau Mas Erlang marah lagi, eh tapi mana Aiden kok belum bangun, apa masih tidur ya!," ucap Seina pada diri sendiri.
Di saat Seina sibuk mempercepat membereskan semua pekerjaan rumah, ia bergegas mandi dan berganti pakaian, setelah semua siap, ia pun menghampiri Aiden di dalam kamar.
Nak...sayang," ucap Seina memasuki kamar sang anak.
Tanpa disadari ternyata Aiden tengah tertidur namun saat Seina akan membangunkan ia tersadar jika Aiden tengah sakit dan suhu tubuhnya panas.
Ya ampun sayang kamu demam nak, kenapa tiba-tiba, ada yang sakit sayang, bentar ya Bunda ambilin obat dulu," ucap Seina penuh rasa cemas.
Seina yang melihat kondisi lemas sang anak langsung bergegas memberikan obat dan mengompres, ia dengan cekatan dan telaten menjaga Aiden sampe ia lupa jika waktu terus berjalan, sampai suara pamiliar terdengar.
Assalamu'alaikum, dek...kamu dimana udah siap belum, kita harus segera pergi nanti telat, nggak enak masa anggota keluarga malah datang terlambat," ucap Erlangga sedikit berteriak.
Hening....
Seina kemana sih kok nggak jawab, apa dia lupa awas aja, kebiasaan emang nggak pernah berubah bikin kesel aja," umpat Erlangga kesal.
Erlangga dengan wajah kesal mencari keberadaan istri sembari melirik jam beberapa kali, hingga ia menemukan sang istri tengah tertidur santai bersama sang anak di dalam kamar, ia yang sedari tadi emang udah menahan emosi makin gelap auranya.
Tanpa aba-aba...
Bagus woi bangun, kamu ini gimana sih dek aku kan udah bilang kalau kamu itu harus udah siap bukan malah enak-enakan tidur kayak gini," ucap Erlangga menendang tubuh sang istri tampa rasa bersalah.
Seina yang kaget mendapatkan tendangan mendadak dari sang suami seketika terbangun dan berdiri.
Mas...mas maafin Seina, tapi tadi sebenernya aku udah siap sama Aiden tinggal nunggu Mas jempu, cuma tiba-tiba Aiden sakit badannya panas makanya aku sibuk dan nggak sengaja tertidur, maaf Mas," ucap Seina tertunduk takut mencoba tetap berusaha menjelaskan.
Alah alasan bilang aja kamu nggak mau aku maraj jadi kamu jadiin Aiden alasankan, kamu itu kenapa sih jadi istri nggak pernah bener, selali bikin aku emosi dan marah," balas Erlangga menjawab.
Ta...tapi beneran Mas Aiden sakit, dan aku baru aja selesai ngasih obat dan kompres, tadi malah aku mau ngajak Aiden langsunh kerumah sakit tapi aku takut kamu marah dan aku juga nggak ada uang lebih, makanya aku sengaja nungguin kamu Mas," Seina kembali mencoba menjelaskan.
Alah alasan, kalau Aiden sakit beneran juga nggak perlu ke rumah sakit segala, lebay banget kasih obat rumahan juga entar sembuh, sudahlah debat sama kamu nggak akan selesai bisanya ngejawab aja, aku mau pergi, kamu tunggu aja dirumah nanti kalau aku nggak pulang aku kasih tau," ucap Erlangga dengan nada masih kesal pergi meninggalkan Seina dan Aiden dirumah.
Setelah Erlangga pergi meninggalkan rumah, tinggalah Seina yang kini tengah menangis dalam diam. Seina merasa hancur harapannya agar sang suami mengerti dan bersikap peduli akan kondisi anak mereka musnah sudah, ia memang sedari awal bingung saat tau Aiden sakit, ia ingin menghubungi sang suami namun ia teringat jika suaminya paling tidak suka di telpon saat di luar apalagi jika masih dikantor, karena itu Seina memilih mengirim pesan namun tak kunjung mendapatkan balasan, dan saat ia melihat kondisi sang anak yang tak kunjung ada perubahan ia berniat membawah kerumah sakit, namun lagi-lagi harus Seina urungkan sebab ia baru ingat uang yang diberikan oleh samg suami tinggal seratus, suaminya belum memberikan jatah uang lagi untuk bulan ini, sedangkan uang simpanan juga udah kepakek buat diberikan ke ibu mertuanya, karena Erlangga beralasan belum gajian dan harusnya dua hari lagi gajian yaitu hari ini,jadi dua hari sebelumnya dengan terpaksa Seina memberikan uang simpanannya kepada sang suami untuk diberikan kepada sang ibu mertua yang akan mengadakan syukuran untuk cucunya dari mbak Yossi saudara perempuan satu-satunya Erlangga.
Ya ampun nak badan kamu makin panas aja, tapi tadi ayah nggak ngasih uang, aku juga lupa minta gimana ini, apa aku telpon Mas Erlang aja ya, ya udah aku coba aja inikan juga demi Aiden," ucap Seina menyemangati diri.
Tut...tut..tut...
Tiga kali mencoba memanggil tapi tak ada jawaban.
Singkat cerita karena kondisi Aiden makin lemah, Seina sudah tak bisa berfikir saat ini yang jadi priritasnya adalah keselamatan sang anak.
Dengan uang seadanya ia membawa Aiden kerumah sakit terdekat untung uang yang ia pegang cukup untuk membayar ongkos taksi.
Sesampai dirumah sakit, Aiden langsunh di tangani oleh tim Dokter di ruang UGD, kondisi Aiden yang lemah membuat Seina tak bisa mengintrol emosi, ia mondar mandir, seketika rasa takut, marah, kecewa, sedih dan menyesal berkumpul memjadi satu, andai...satu kata yang sekarang berputar dikepala Seina, ia menyesal mengapa harus menunda, mengapa harus menunggu sang Suami, andai Seina bisa lebih tegas, bisa lebih berani, kondisi Aiden tak akan seperti sekarang, terbaring lemah tak berdaya.
Seina tengah menatap kosong, ia takut amat takut melihat kondisi sang buah hati, ia takut hal yang ia takutkan akan terjadi, namun di saat ia dilanda rasa cemas, seseorang mwnghampiri.
Seina..." Ucap sang pria.
Aldo....kenapa kamu bisa ada di sini," jawab Seina dengan raut kaget.
Kebetulam aku kerja di sini sekarang, kamu sendiri...apa ada anggota keluarga yang sakit," jawab Aldo dengan lembut.
Huh...ah aku..maksudnya aku kesini bersama anak aku, sekarang lagi ditangani dokter diruang UGD, sekarang aku lagi berusaha menghubungi suami aku, ta..tapi, Aldo bisa minta tolong! Aku nggak bawah uang sama sekali aku cuma ada uang seratus dan itu udah aku pakek buat bayar ongkos taksi, dan tadi kata dokter anak aku harus segera dirawat tapi aku nggak ada uang sama sekali aku udah terlalu takut," Seina menjawab dengan wajah terlihat jelas penuh rasa takut dan cemas.
Ya Allah...ya sudah kamu tenang aja ya sekarang kamu ikut aku aja ke bagian Admin. Nanti biar aku yang ngomong, soal biaya rawat inap kamu nggak usah kuatir ada aku, sekarang yang penting kamu tenangin diri kamu dulu, kalau kamu ikutam sakit siapa yang akan jagain anak kamu kan," balas Aldo mencoba menenangkan Seina.
Makasih...makasih Al... Untung ada kamu aku beneran nggak tau sekarang otak aku kosong, aku nggak tau senadainya nggak ketemu kamu, aku nggak tau nasib anak aku makasih banyak Al," ucap Seina dengan tulus sembari mengelap air mata yang terus mengalir.
Ada banyak pertanyaan, ada banyak rasa penasaran di otak Aldo saat ini, namun ia tau kondisi Seina saat ini tidaklah tepat untuk bertanya, ia berfikir saat ini yang dibutuhkan oleh Seina ada seseorang buat memberinya kekuatan dan sandaran, ia jadi penasaran apa alasan suami Seina tak ada dan sulit dihubungi, apa yang sebenarnya terjadi, apalgi melihat kondisi Aiden yang sangat lemah bahkan temannya Aldo yang tadi memeriksa kondisi Aiden mengatakan jika telat sedikit saja maka nyawa anak tersebut akan dalam bahaya bahkan bisa meninggal.
Sekarang kondisi Aiden sudah stabil meski masih lemah, dan Seina sangat bersyukur untung ia bertemu Aldo di saat yang tepat jika tidak Seina tak tau apa yang akan terjadi, dan ketika kembali mengingat apa yang dijelaskan oleh dokter semalam, Seina sungguh merasa gagal menjadi seorang ibu, rasa marah dan kecewa kini menyelimuti hatinya, kini Seina menjadi semakin yakin akan keputusan yang akan ia ambil selama ini adalaj pilihan terbaik, Seina sudah bersumpah sejak tadi malam, ia tak akan bermain dengan nyawa anaknya, lebih baik ia hidup berdua dengan anaknya namun bebas dan bahagia, dari pada hidup dalam keluarga utuh namun penuh kepalsuan.
Hay...udah bangun, kita ketemu lagi, aku mau cek kondisi Aiden dulu ya, nanti kalau kamu mau pulang ganti baju dan ambil baju ganti Aiden bilang aja sama aku, biar aku yang jagain Aiden di sini," ucap Aldo dengan ramah.
Huh...ia aku udah bangun dari tadi, terus gimana kondisi Aiden Al..anak aku udah stabilkan," jawab Seina sembari memperhatikan Aldo sedang memeriksa kondisi Aiden dengan teliti.
Kondisi Aiden udah jauh lebih stabil, dan udah lewat masa kritis, jadi kamu bisa tenang sekarang, jadi kamu bisa pulang sebentar buat ganti baju aku tau kamu pasti juga belum makankan, inget Seina kamu harus jaga diri, kalau kamu ikutan sakit yang jaga Aiden siapa," jawab Aldo mencoba memberikan pengertian.
Akhirnya setelah beberapa kali di bujuk oleh Aldo, Seina kini pulang kerumaj untuk mengambil beberapa barang dan baju ganti, namun sesampai dirumah bukan ketenangan yang ia dapatkan namun ceraan dan makian dari sang suamilah yang ia dengar.
Bagus...dari mana kamu jam segini baru pulang huh, di telponin malah nggak aktif, kalau mau pergi itu harusnya kamu izin dulu sama saya bukan asal nyelonong, kamu itu diajarin apa nggak sih gimana jadi istri yang baik dan bener, terus mana Aiden kemana kamu pulang sendirian," ucap Erlangga dengan sangat kasar.
Hhhmmm...makasih Mas, makasih banyak atas luka dan rasa kecewa yang kamu kasih ke aku selama ini, akhirnya aku sadar aku emang terlalu bodoh berharap kamu akan berubah dan bisa ngertiin posisi aku, menghargai status aku, memaklumi kekurangan aku, ternyata setelah kita menikah selama lima tahun dan memiliki anak..kamu masih tetap sama, aku sekarang sadar sudah saatnya aku melepas semua angan ilusi yang selama ini aku paksakan, sekarang aku sudah yakin malah sangat yakin akan keputusan akhir yang akan aku ambil, semoga kamu kali ini sadar dan tak menyalahkan aku seperti biasa, dan maaf aku nggak akan mengalah atau bersikap naif seperti sebelumnya," ucap lirih Seina di dalam hati.
Kenapa diem aja kalau suami tanya itu di jawab, Kamu ya selalu aja kayak gini nggak pernah berubah, kenapa sih jadi isrti yang becus banget, udahlah males di rumah bikin mood rusak aja," ucap erlangga putra melangkah pergi meninggalkan rumah dengan penuh emosi.
Udah selesai atau masih ada lagi yang belum kamu ucapin Mas, kalau udah aku mau masuk, aku capek mau mandi, mau ganti baju, soal Aiden tenang aja ada yang jagain kok, jadi kamu nggak perlu takut jadi udah lah," jawab Seina dengan malas.
Erlangga yang mendengar ucapan sang istri semakin terpancing emosi, ia kesal melihat sikap istrinya yang tidak berlaku sopan terhadap dirinya, ia merasa tak dihargai dan di anggap sebagai suami.
Kamu udah berani ya, bukannya ngejawab dengan bener kamu malah mancing emosi aku, kamu pikir aku nggak berani main kasar sama kamu, emang kayaknya selama ini aku terlalu lembut, jadi kamu lupa sama posisi kamu dirumah ini," ucap Erlangga sembari mencekal kuat tangan Seina.
Bukan takut Seina malah terlihat berani dan menatap wajah sang suami dengan ekspresi marah dan benci, Erlangga yang melihat raut wajah sang istri seketika kaget, ini kali pertama sang istri berani menatap wajahnya.
Ia kamu bener Mas, aku kayaknya lupa aku.... bukan lupa tapi aku baru sadar dimana posisi aku sebenernya dirumah ini, jadi aku udah putuskan buat ambil jalan aku sendiri, Mas...mari kita BERPISAH, aku akan mengajukan perceraian dan tenang aja aku nggak akan bawah atau minta apapun dari kamu, cukup kamu penuhi permintaan terakhir dari aku untuk setuju kita bercerai," Seina dengan tegas bersuara.
Erlangga kembali dibuat kaget dan tak percaya, ia yang seharusnya marah kini malah terdiam seribu bahasa, ia tak tau apa yang terjadi sehingga sang istri dengan berani mengucapkan satu kata sakral yang amat ditakuti oleh setiap pasangan.
Di saat Erlangga masih mencerna situasi yang kini ia hadapi, Seina sudah selesai mengemas semua barang miliknya dan Aiden ia yang awalnya hanya ingin pulang dan berganti pakaian kini berubah pikiran, ia membawah semua barang pribadi miliknya dan sang anak.
Tak..tak..tak..suara roda koper berbunyi membuyarkan keheningan.
Dek...kamu," ucap Erlangga tak percaya.
Aku pergi Mas dan aku harap kamu mau permudah urusan perceraian kita, dan soal anak aku harap kamu nggak mempersulit biarkan Aiden ikut aku dan aku nggak akan memisahkan kamu dengannya, karena bagaimanapun kamu tetap ayahnya, tapi kalau kamu nekat maka aku akan sangat siap untuk melawan," jawab Seina dengan nada berani.
Tiga hari sudah berlalu kedua keluarga sudah tau tentang konflik yang terjadi antara Seina dan Erlangga, kondisi Aiden juga jauh lebih baik dan mulai kembali ceria. Pro kontra dari kedua belah pihak tak terelakkan, namun Seina tetap pada keputusan akhirnya. Setelah melewati beberapa kali pertemuan akhirnya Seina dan Erlangga resmi bercerai, dan selama proses mediasi dan pertemuan sidang Erlangga dibuat terdiam seribua bahasa, ia baru menyadari seberapa buruk dirinya selama ini kepada sang istrinya Seina.
Akhirnya cerita rumah tangga Seina dan Erlangga kini yang tertinggal sebuah hanyalah penyesalan dan rasa bersalah, Erlangga tak bisa menyalahkan sang istri jika nyatanya semua berawal dari dirinya sendiri, ia yang selama ini merasa paling banyak mengalah, paling banyak berkorban,melakukan yang terbaik untuk anak dan istrinya, mencoba menjadi pemimpin dan sosok yang panuti, nyatanya semua hanya omong kosong belaka, ia gagal menjadi seorang suami, seorang ayah dan pengayom dalam keluarga kecilnya, sekarang sekalipun ia menyesal dan ingin mengulang waktu semua hanya sebuah harapan karena Erlangga yakin sekalipun ia bersujud dan meminta maaf rasa kecewa dan sakit hati yang ia berikan tak mungkin dengan mudah bisa dilupakan oleh sang mantan istri, bisa saja Seina mengucapkan jika ia memaafkan namun bukan berarti melupakan.
Tamat.