Rasa Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Hari ini merupakan hari yang paling ditunggu oleh Natasha. Ia akan bertunangan dengan Kevin. Setelah berpacaran begitu lama. Akhirnya mereka akan memulai lembaran baru menuju sebuah ikatan suci itu.
"Akhirnya kami akan menempuh satu jalan menuju ikatan suci. Kevin... aku sangat berharap kau menjadi imam dalam hidupku. Walau sikapmu terhadapku terkadang membuatku enggan untuk bersamamu". (Natasyaberbicara sendiri. Ia teringat perlakuan kasar Kevin terhadapnya. Ketika melakukan kesalahan. Tak segan Kevin akan langsung memukulnya. Bahkan Ia pernah mendapat kekerasan yang parah. Natasyapernah dicekik ketika Ia membohongi Kevin kala itu. Akan tetapi yang membuat Natasyabertahan. Ketika melakukan kesalahan Kevin tak lupa meminta maaf. Menurutnya, perlakukan Kevin adalah suatu kekhilafan. Ia selalu memafkan kesalahan kekasihnya itu. Walau terkadang perlakuan kasarnya membuatnya sesak dan trauma untuk bersamanya. Akan tetapi rasa cintanya mengalahkan segalanya)
Dipesta pertunangan Natasha. Kevin sengaja datang terlambat. Ia menemukan kejanggalan bahwa ternyata Natasyadekat dengan Dosennya. Karena amarahnya Ia berusaha untuk melampiaskan amarahnya. Kevin menahan amarahnya demi mendapatkan Natasha. Walau Ia sengaja datang terlambat. Kevin tetap memenuhi janjinya.
"Kemana Kevin, Natasha?". (Tanya Sarwida, Ibu Natasha)
"Kamu hubungi dia ini sudah 1 jam berlalu. Kasihan para undangan yang menunggu". (Tegas Adriyan, Ayah Natasha)
"Baik Ibu.... Ayah... aku akan segera menghubungi Kevin".
Sedangkan diseberang sana. Kevin sedang mengacak-acak kamarnya. Ia frustasi mengetahui kekasihnya berfoto dengan Dosennya. Foto mereka begitu dekat. Ia mengetahui dari postingan Instagram Dosen tersebut.
Refano, Dosen muda dan tampan. Dengan perawakan tinggi, hidung mancung dan kulit putih menambah ketampanan Dosen muda ini. Ia begitu dingin, akan tetapi begitu hangat pada satu orang. Ya, Ia begitu hangat ketika menyikapi Mahasiswanya itu. Natasha, entah mengapa sejak awal pertemuan mereka sewaktu mengajar Mahasiswa baru kala itu. Mata Refano tertuju pada satu mawar yang merekah. Natasha, perempuan yang sangat ramah. Dia begitu cantik, kulit putih mulus dengan rambut yang terurai panjang. Mata indah serta hidung mancung juga menambah kecantikan wanita ini. Apalagi terdapat lesung pipit dipipinya menambah kecantikan pada dirinya.
Tidak ada hubungan yang spesial antara Natasya dengan Refano. Mereka hanya sebatas Dosen dan Mahasiswa. Akan tetapi memang Refano menyimpan rasa untuk Natasha. Akan tatapi Ia tak berani untuk mengungkapkannya.
Setelah mengetahui potingan tersebut. Kevin sangat marah. Emosinya membuncah. Ia menghancurkan semua barang didalam kamarnya itu. Emosinya tak mereda. Apalagi terdapat kalimat di dalam postingan itu yang menarik kebencian lelaki itu. "Natasha, Mahasiswa terbaik dalam sejarah mengajarku". Ia sangat ingin membunuh Dosen itu. Walau tak ada maksud lain saat mempostingnya. Akan tetapi gara-gara postingan Refano tersebut membuat renggang hubungan Kevin dan Natasha.
"Aku akan menghancurkanmu Dosen sialan...ARGGGG kok bisa kau memposting hal itu. Apakah kau tidak tahu Natasyakekasihku". (Prang.... Dukk....duk. Kevin menghancurkan barang-barang dikamarnya)
Panggilan masuk di Handphone Kevin Ia abaikan. Natasyaberkali-kali menghubungi Kevin. Namun Ia abaikan. Emosinya masih membuncah. Ia tak dapat memafkan Natasha. Ia menyalahkannya karena berani berfoto dengan Dosennya itu.
"Dasar j*lang... siapa yang akan mengangkat panggilanmu... rasakan aku akan datang terlambat. Biar kau merasakan sesak seperti yang kurasa".
Dua jam telah berlalu. Natasyamenangis hatinya terasa begitu sakit. Ia telah menunggu dengan cemas. Ia ketakutan. Perasaannya campur aduk. Ia menganggap Kevin tak akan datang. Bagaimana Ia nenghadapi keluarganya itu. Sedangkan pesta pertunangan dibuat semeriah mungkin.
"Bagaimana aku menghadapi situasi ini. Kenapa kamu begitu tega Kevin. Apa salahku (menitihkan air mata) seolah-olah aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Kau enggan untuk datang Kevin". (Natasyamenangisi keadaan)
Dalam keheningan itu. Refano memperhatikan segalanya. Dosen itu bersimpati kepada Natasha. Hatinya terasa sakit melihatnya menangis. Ia berupaya menghiburnya dengan mendekati Natasha.
"Natasha". (Sapa Refano)
"Iya ... eh Bapak, Bapak datang ternyata". (Ujar Natasha)
" bukankah kau mengundangku, mengapa aku tak datang?. Tenang aku tak menagih tugas resume penelitian lapangmu". (Goda Refano)
"Ih... Bapak ternyata masih ingat tentang resuman itu (Natasyaterkekeh) saya juga masih ingat bahwa saya ditolak melakukan penelitian Bapak....hehe... kok bisa ya. Padahal saya sudah menerapkan. Bahwa penerapan Bahasa Indonesia yang baik, sesuai dengan kondisi sosial masyarakat. Akan tetapi saya masih tetap ditolak warga sekitar. Dengan alasan pakaian yang saya gunakan terlalu minim. Ditakutkan dapat menggoda Bapak-bapak muda disana.... hehe...hehe". (Natasyakembali tertawa, Refano berhasil mengembalikan senyuman indah itu. Lesung pipitnya mulai menampakkan keindahannya lagi)
"Nah, gitu kan enak dipandang". (Refano memuji kecantikan Natasha)
"Apa Pak?". (Natasyapura-pura tak mendengar)
"Tidak... tak apa". (Jawab Refano malu-malu)
Setelah lama menanti akhirnya lelaki calon tunangan Natasha, Kevin. Ia datang dengan diiringi anggotanya. Mata elang itu langsung tertuju pada Natasyayang sedang berbincang dengan Dosennya itu. Ia langsung membawa calon tunangannya menjauh dari Refano.
“ayo (menarik Natasya pergi ke taman belakang rumah) kenapa kamu dekat dengan Dosen gila mu itu?”. (suara menggelegar itu membuat ruangan yang khidmat menjadi sunyi seketika. Meskipun berada di taman belakang suara Kevin sangat keras hingga terdengar di Ruang Utama)
“apa-apaan sih, aku lagi ngobrol aja… Vin”. (Jelas Natasya)
“loh… kamu pikir aku buta.. kamu tahu postingannya tentangmu?. Kamu pura-pura bego ya?”. (pertanyaan Kevin membuat Natasya terdiam seketika)
“status apa yang dia buat?. Sebentar jangan-jangan foto bersama tempo itu”. (Gumam Natasya)
“kenapa diam ha (menarik rambutku) ayo jelaskan”. (Kevin menamparku, Ya dia lagi-lagi menamparku)
“Kalau kamu gak njelasin aku akan membunuhmu disini”.
“bunuh…bunuh saja aku (memberikan space untuk Kevin) kenapa diam?. Ayo lakukan saja”. (Natasya terkejut ternyata Kevin benar-benar ingin membunuhnya)
“oke jangan menyesal (mengeluarkan pisau di dalam sakunya, entah kapan Ia menyiapkan semua ini) Natasya kalau aku tak dapat memilikimu begitupun dia!”. (Kevin mengarahkan pisau kepadaku)
“kevin… ARGGGG ARGGGG tolong!!!!”. (Aku menghindari pisau itu…sret… Untungnya ada Refano yang menangkap pisau tersebut)
“Psikopat, kau piker akan mudah membunuhnya?. Kalau kau tak mau hidup dengannya. Biar aku saja. Cintamu memang besar untukmu akan tetapi cintamu mematikan, beda dengan aku. Lepaskan Natasya”. (mengambil pisau dari tangan Kevin)
“Sialan”. (Kevin menumpat)
“Ternyata lelaki ini pilihanmu Natasya, kami tidak setuju dengan pertunangan ini dibatalkan”. (Ujar Adriyan)
“Natasya, maafkan aku aku sayang kamu mari kita lanjutkan”. (Kevin memohon kepada Natasya)
“Kevin… rasaku kepadamu bukan hanya rasa cinta biasa. Aku sudah berkorban segalanya. Maafkan aku sepertinya logikaku kembali sehat sekarang. Aku tak mau lagi membuat sakit mentalku. Pergilah, sepertinya kita memang tak ditakdirkan bersama. Jangan membelengguku. Aku tak mau lagi bersamamu”. (Ujar Natasya)
“tidak..,.Arggg…. Natasya, sejatinya Dosen gila mu itu yang membelenggumu dengan doktrin aksara dalam penjelasan kuliahnya. Bukan aku, jangan terpengaruh olehnya. Cinta yang tulus hanya dariku bukan dia”. (tiba-tiba orang tua Kevin datang dan membawa Kevin pulang)
“Maafkan kesalahan Kami Pad Adriyan sekeluarga, kami akan membawa anak kami. Kami terima pembatalan pertuanangan ini. Selamat siang”. (Rakandra, Ayah dari Kevin membawa Ia pergi dari keramaian)
“Lepaskan… aaa… tidak, aku mau tunangan dengan Natasya”.
Pada akhirnya pertunangan Kevin dengan Natasya dibatalkan. Tak ada peneyesalan di dalam hati Natasya Ia semakin yakin dengan pilihannya. Bahwa cinta itu saling menjaga. Bukan melukai berlandaskan cinta. Natasya mulai menyehatkan mentalnya Ia kembali masuk kuliah lagi. Walau Ia tak jadi bertunangan akan tetapi itu pilihan tepat untuknya.
Pagi yang cerah secerah harapan Natasya Ia akan move on dari masa lalunya. Pada hari ini terdapat perkuliahan Refano, ia menghadirinya. Akan tetapi ada yang berbeda kini. Lewat penjelasan Refano, Natasya mulai bertanya-tanya mengapa mengarah pada perasaannya kepadanya.
“Pada hari dimana aku menemukannya. Matanya begitu indah. Dia begitu cantik, ditambah dengan lesung pipit itu. Ya, aku mulai mencintainya wlau perbedaan usia kita jauh. Aku sangat bahagia. Dunia berpihak kepadaku disaat aku tahu Ia tak jadi menjadi milik orang lain”. (Refano menjelaskan contoh Majas Hiperbola)
“mengapa aku merasa Ia mencontohkanku, ah tidak bahasanya begitu mudah ku pahami. Akan tetapi apakah aku benar?”. (Gumam Natasya)
“Itu adalah contoh majas hiperbola. Walaupun kita bukan dari jurusan sastra. Belajar bahasa juga penting. Oh iya… adik-adik mahasiswaku, saya ingin melamar seseorang yang sudah saya kenal walau hanya bebrapa kali bertemu. Saya ingin melamarnya didepan banyak orang. Boleh kah?”. (Mahasiswa bersorak histeris menantikan siapa wanita yang special untuk Refano itu, sedangkan Natasya Ia hanya terdiam dalam pikirannya. Tak terduga perempuan yang dimaksud benar-benar Natasya)
“(berlutur depan meja Natasya) Maukah kau menjadi pendamping hidupku?”. (Mahasiswa bersorak gembira, ada juga yang patah hati berjamaah)
“apa? Aku? Tak salah kah Pak Refano?”. (Natasya terkejut akan tetapi perasaannya sennag. Bercampu aduk dengan rasa ketidakpercayaannya)
“apakah kau bersedia, Natasya?. Aku sangat mencintaimu. Mungkin kau masih ingat aku menjelaskannya didepan calon tunanganmu yang tak jadi itu”.
“tapi pak apakah saya pantas?”.
“ya, kamu satu-satunya yang saya mau”.
“benarkah?” (Natasya sangat bergembira, hatinya melambung jauh keawan)
“Benar… maukah kau menjadi pendamping hidupku?”.
“iya, aku mau”. (Tepuk tangan yang meriah terdengar jelas diruangan itu. Refano langsung memeluk Mahasiswanya itu)
Bahasa tak hanya menyatukan bangsa. Akan tetapi menyatukan dua insan dalam gelora asmara. Begitulah cinta, mereka tak memandang usia ataupun yang lainnya. Ia hadir tanpa syarat apapun. Menyatukan dua insan yang berbeda menjadi satu dalam sebuah ikatan, cinta.