Aini dan Bara bertetangga dari kecil. Tetapi mereka tidak pernah bertegursapa kecuali hal" penting. Sekarang usia mereka menginjak 12 tahun, ya kelas 6 sd akhir sekolah dasar. Mereka selalu 1 kelas dari awal sampai saat ini. Di sekolah aini termasuk siswa dengan nilai bisa di bilang 5 terbawah dan Bara adalah siswa berprestasi. Aini selalu di hukum oleh guru saat mendapat nilai jelek. Memang dalam aini tidak pandai dalam akademik tetapi diam-diam dia sangat berbakat dalam bidang seni dan musik, hanya saja dia tidak pernah menunjukannya kepada orang lain. Toh untuk apa diperlihatkan pasti teman-teman kelasnya hanya menganggap dia pamer.
Setelah menyelsaikan hukuman aini dipanggil ke ruang bk untuk mendapat bimbingan. "Aini, apa kamu mengalami kesulitan belajar nak? Atau kamu punya masalah? Kamu bisa cerita dengan ibu mungkin itu bisa mengurangi beban pikiran mu? Ucap Bu Citra dengan lembut dan hati-hati sambil memegang tangan aini.
Aini mulai memikirkan perkataan Bu Citra. Dengan berbagai pertimbangan aini mulai menceritakan masalahnya bahwa dia sulit memahami pelajaran sebab masalah orang tuanya yang selalu bertengkar di rumah dan sering membahas tentang perpisahan mereka. Bu Citra mulai paham sekarang yang dialami oleh Aini. "Mmm.. Bu Citra tolong jangan beritahu siapapun tentang ini ya termasuk orng tua saya. Saya tidak mau ini menjadi masalah baru lagi untuk mereka." Ucap aini sambil menangis.
"Tapi aini ini bukan masalah yang sepele, orang tuamu harus tau"
"Tidak Bu saya mohon saya bisa menyelsaikan ini sendiri, saya masih ingin mereka bersama. Tolong percaya dengan saya ya bu saya bisa memperbaiki nilai saya"
Bu Citra hanya bisa diam bagaimana anak kecil ini bisa menyelsaikan masalah seperti ini dengan perasaan yang berantakan. Bu Citra menghela nafas panjang. "Ok aini saya percaya kamu bisa menyelsaikan ini sendiri. Saran ibu kamu tenangkan pikiran dan jangan berfikir masalah orang tuamu." Terang bu Citra
"Baik Bu. Tapi janji ya jangan beritahu yang lain tentang masalah saya"
"Iyaa kamu yang kuat, terkadang orang tua punya masalah sendiri. Kita sebagai anak belum Tentu mengerti. Ya sudah nanti biar ibu konsultasikan dengan wali kelasmu"
Aini mengangguk dan Pamit dari ruang bk.
Setelah kepergian aini bu Citra langsung menghubungi wali kelas aini Pak Yana. Bu Citra hanya menyampaikan bahwa aini sulit memahami pelajaran saja tanpa menambahkan yang lain. Sebagai wali kelas pak Yana sudah paham. "Jadi seperti itu pak kira-kira bapak bisa memberikan metode belajar yang bagaimana?" Tanya bu Citra.
"Mungkin saya akan memberikan intruksi untuk anak-anak yang ringking 5 teratas untuk mengajari teman-temannya yang punya ringking terendah" jawab pak Yana.
"Mmm.. bisa di coba pak, siapa tahu dengan belajar bersama teman lebih membuat anak-anak lebih mengerti dengan materi belajar."
Ding... dong... ding.. dong...
Murid-murid sudah selesai istirahat. Yana masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran berikutnya. " anak-anak sya akan melakukan sedikit perubahan tempat duduk ya"
Mereka sedikit bingung kenapa harus pindah tiba-tiba. Tapi mereka tetap menurutnya saja " ya pak" jawab mereka kompak.
" Mulai dari lia dengan fian, lalu Diana dengan cahya, lalu Nita dengan joni, lalu April dengan putra, dan yang terakhir Aini dengan Bara. Yang lain tetap seperti itu." Terang pak Yana.
Aini langsung membulatkan mata mendengar ucapan wali kelasnya itu. Bagaimana bisa dia duduk dengan Bara. Tapi dia tetap melakukan apa yang sudah di perintahkan pak Yana.
"Pak, bapak mau jadi pakcomblang ya?" Tanya iwan dibarengai dengan gelap tawa teman-temannya yang lain.
"Hus.. apa kamu itu, saya melakukan ini untuk kalian supaya bisa belajar dengan mudah. Coba lihat yang saya pindah itu anak-anak yg nilainya terbaik agar bisa mengajari temannya yg nilainya rendah." Sanggah pak Yana. Ada beberapa yang mengerti ada juga yang sebel kenapa teman sebangku mereka diambil.
Aini masih merasa tidak percaya bahwa dirinya sekarang duduk bersama pujaan hatinya. Merasa melu dan gugup aini hanya diam saja. Bingung mau bicara pun mulutnya kaku. Padahal saat duduk bersama Ayu teman sebangkunya dulu. Dia tidak pernah kehabisan topic pembicaraan. Kenapa sekarang otaknya kosong? " Apa yang harus aku tanyakan. Huh dasar aini bodoh, mikir... ayo mikir" batin aini.
Tiba-tiba Bara mengatakan sesuatu kepadanya "kalau kamu merasa ada yang tidak mengerti tanyakan saja" dengan datarnya. Seketika aini menjawab "Ok".
"Hah.. okk.. cuma okk.. ngomong apa kek. Aini ayolah..." Batin aini
Selama ia mengenal Bara inilah pertama kalinya dia berinteraksi se dekat ini. Biasanya pun jarang sekali mengucapkan lebih dari 5 kata.
Hari-hari berlalu begitu cepat ujian semester akhir di depan mata. Aini menjadi sedikit lebih memikirkan belajar dari pada pertengkaran orang tuanya. " aku harus berusaha lagi, malu dong masak nilai ku jelek padahal Bara sudah ngajarin aku. Jangan bikin dia kecewa." Monolog aini.
Hatinya lebih berbunga-bunga dari sebelumnya. Hubunganya dengan Bara sedikit lebih dekat, walaupun hanya untuk belajar tapi itu sudah sangat baik. Mulai dari berdiskusi tentang rumus aljabar hingga masalah film Naruto. Pdahal Aini tidak mengerti Sama sekali tentang film cartoon yang di gandrung para anak laki-laki. Tapi dia mencoba menontonnya demi bisa mengobrol dengan Bara. Cinta memang butuh perjuangan.
Ujian telah tiba murid-murid harus menyelsaikan ujian selama seminggu. Pak Yana sudah mewanti-wanti Aini agar belajar lebih rajin dan mendapatkan nilai memuaskan. Aini berangakat lebih pagi dari biasanya. Selain untuk menghindari perdebatan pagi orang tuanya, dia ingin menghafal rumus dulu. Diperjalanan dia melihat Bara juga berjalan berangkat sekolah. Betapa beruntungnya Aini hari ini bisa berangkat bersama, walaupun cuma mengekori dari jauh tapi tetap dihitung berangkat bersama.
Sesampainya di sekolah dia bertemu sahabatnya ayu sebelum mulai belajar. "Hey.. lo ngapain cengar-cengir sendiri. Masih pagi kesurupan ya!" Ungkap ayu pada sahabatnya itu. "Aiishh.. lo gak tau aja kejadian pagi ini. Aaa. Gue seneng banget tadi gue bareng sama Bara." Ujar aini
"Alah paling cuma kyk biasanya lo ngekor di belakanya."
"Kog lo tau"
"Sering nya jg gitukan!"
"Tapi ini lebih deket 1 meter dari biasanya tau"
"Hmmm..."
"Ayu mah gitu, temen seneng harusnya lo jga ikut seneng"
"Selamat yaa.. gue ikut bahagia." Ucap ayu dengan wajah datar
"Sama" my beloved friend, ayo belajar bentar. Biar aku lulus. Nanti Bara biar kagum sama aku" ucap aini dengan percaya diri.
Akhirnya ujian berlangsung selama 5 hari. "Aargg.. kenapa tadi susah banget." Monolog aini. Ternyata Bara mendengar keluhan aini yang ada di depannya. "Nanti sore kerumah gue" ucap Bara dengan nada yang datar.
Aini kaget mendengar suara yang familiar di telinganya itu, dia lalu menengok kebelakang. Ternyata Bara ada di belakangnya. "NG..ng.. ngapain?" Pikiranya sudah kesana kemari "jangan-jangan Bara udah suka sama aku" batin aini.
Bara mendekatinya lalu menyentil jidatnya "jangan gr dulu gue mau jelasin soal yang lo bilang susah tadi" ungkap bara. Aini merasa malu sendiri pipinya merah sampai telinga. "Ow gitu okeh deh nanti gua ke rumah lo" jawab aini langsung lari meninggalkan Bara sendiri.
Di jalan aini marah dengan dirinya sendiri. "Ihhh bego bgt si. Masak mikirin aneh-aneh di depan Bara kan jd malu sendiri" dengan menghentikan kakinya.
Sore hari telah tiba aini selsai mandi kramas dan tidak lupa pakai Parfum. Dengan membawa buku-bukunya ia berjalan menuju rumah Bara. Dengan jantung berdebar dia mengetuk pintu rumah Bara. Ternyata yang membukakan adalah santi mamanya Bara. " sore tante Baranya ada?" Sapa aini
"Ada tapi baru mandi kamu tunggu di sini dlu ya mau belajar di mana?" Tanya santi
"Terserah Bara deh tante, aku ikut aja.
Tak lama Bara keluar dungan keadaan yang segar. Dengan kaos oblong dan celana pendek dan handuk di leher, sambil mengelap rambut yang setengah basah dengan badan bau sabun lemon. Di mata aini kegantengan Bara jd 1000%. "Aaaa... mimpi apa gue dapet moment langka begini, bener kata ayu cowok habis mandi vibesnya egak maen-maen" batin aini dengan pipi merah. "Lo knpa?"tanya Bara membuyarkan lamunan aini.
"Gpp cuma agak panas aj"jawab aini dengan pura-pura mengibaskan buku.
Akhirnya mereka belajar hingga malam.
14 February hari penuh cinta menjadi hari yang tak terlupakan untuk aini. Niat hati ingin menyatakan perasaannya kepada Bara dengan memberi coklat bertema Romeo dan juliet, Bara malah menolak terang-terangan di depan teman-temannya. Rasa malu dan tak nyaman di hati aini membuat aini menjauh dari Bara lagi. Seperti tak ingin mengenalnya lagi. Setelahh ujian nasional Bara dan keluarganya pindah rumah keluar kota. Aini merasa sedikit sedih tapi juga lega "Mungkin ini memang jalannya aku egak berjodoh dengan kamu Bara. Semoga setelah ini aku bisa melupakanmu dan kita tidak bertemu lagi."