Ah, ternyata tepat hari ini telah genap sewindu aku keluar dari rumah wasiat kakek. Rumah tapak yang letaknya berada persis di ujung gang kecil yang jalannya akan selalu kebanjiran setiap kali hujan turun. Hal tersebut dikarenakan parit yang berukuran kecil lagipun dangkal. Tidak mesti hujan deras, yang ringan sekalipun akan membuat jalan setapaknya kebanjiran. Rumah itu rumah tua, peninggalan dari kakek-nenekku. Bapakku dilahirkan di rumah itu, begitu juga aku dan kedua saudaraku.
Rumah itu sejatinya diwariskan kepada adik dari bapakku, namun ia menolak. Sesungguhnya bapakku telah mendapatkan bagian ditempat yang lain. Letaknya kurang lebih lima kilometer dari rumah warisan tersebut. Kenapa adik dari bapak menolak? Pertama, karena ia telah memiliki kehidupan yang jauh lebih baik di tanah perantauan. Kedua, rumah itu tidak untuk dijual dan tidak juga untuk disewakan. Rumah itu harus ditempati oleh anggota keluarga inti, begitu amanat kakek sebelum ia meninggal. Alhasil, si penerima warisan menolak, begitu bapak menceritakan.
Sebelum aku lahir, tepatnya sewaktu aku masih didalam kandungan, bapak dan ibuku sempat juga tinggal ditempat dimana ia mendapatkan bagian dari hak warisnya. Namun, oleh karena usaha yang hendak ia rintis, rumah yang menjadi haknya pun ia jual, niatnya untuk nambah modal. Tapi sayang, nasib baik belum berpihak, usaha itu layu sebelum berkembang.
Bapak kena tipu.
Maka mau tidak mau bapak terpaksa ngungsi ke rumah warisan adik dari bapak tersebut, sembari mengurus kakek yang mulai sakit-sakitan.
Seminggu setelah aku dilahirkan kakek pun akhirnya meninggal. Dalam kehidupan ekonomi keluarga yang belum juga membaik. Dan sehari setelah pemakaman, paman, yang adalah adik dari bapak, yang datang untuk turut serta melakukan prosesi upacara pemakaman, menyatakan penolakannya terhadap hak waris tersebut. Dan kemudian memberikan hak waris rumah tersebut kepada bapak,dengan surat pernyataan yang tertulis tentu saja-- selain tidak mau melawan wasiat sejujurnya paman iba melihat kehidupan keluarga kami, begitu pikir ibu padaku dikemudian hari.
Semakin hari aku semakin bertumbuh. Dan aku pun tak lagi sendiri, kami memiliki tambahan dua anggota keluarga lagi, sepasang anak kembar, bernama Dita dan Dito. Pada saat mereka lahir ke muka bumi ini kehidupan ekonomi keluarga kami sudah jauh lebih baik.
Itu karena ibu yang diterima sebagai pegawai negeri. Dengan penerimaan tersebut bapak sangat diuntungkan. Selain menjaminkan surat pengangkatan, oleh ibu, bapak dibantu untuk mendapatkan beberapa proyek. Tak ayal hari berganti hari kehidupan ekonomi keluarga kami terus membaik dan membaik. Hingga tibalah pada satu titik-- seekor keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama.
Kami kembali ke titik nol!
Bapak harus merasakan jeruji penjara. Sementara ibu harus kehilangan statusnya sebagai aparatur negara-- apa ini ada hubungannya dengan wasiat kakek perihal rumah tersebut!? Hanya Tuhan yang tahu...
Akan tetapi semua petaka itu terjadi manakala bapak berniat untuk menjual rumah warisan tersebut, lebih tepatnya sehari setelah bapak menyampaikan niatan tersebut dihadapan kami. Bilangnya, kami sudah tidak pas lagi untuk tinggal di rumah tua tersebut.