“Mencintai Allah adalah setinggi-tingginya cinta. Sempurnakan cintamu pada Allah sebelum kau labuhkan cintamu pada makhluk-Nya.”
Jakarta, 22 Juni 2022
Sudah dua belas tahun lamanya sejak kau tinggalkan aku. Di sini aku sekarang, ruangan yang dipenuhi dengan kerja kerasku, ruangan yang selalu membuatku merasa bangga dengan pencapaianku. Dua belas tahun lalu, kau tinggalkan aku saat kita duduk di bangku kelas 1 SMA, yang saat itu hubungan kita baru berjalan 2 bulan. Tapi, kau katakan sebuah kalimat seolah kau tidak memikirkan perasaanku. Kau tidak memberiku pilihan selain menyetujuinya.
“Aku rasa kita harus berpisah sampai di sini. Aku ingin pindah ke pesantren, aku ingin lebih mendekatkan diriku kepada- Nya. Aku harap kamu bahagia di sini. Maaf jika keputusanku egois, tapi ini memang perlu. Jaga dirimu baik-baik di sini, aku mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Bagaikan petir di siang hari, kau langsung pergi meninggalkanku tanpa memberiku waktu untuk berbicara, kau pergi seolah itu bukanlah sebuah pertanyaan yang memerlukan jawabanku. Aku yang membatu dan menatap punggungmu yang semakin menjauh. Sampai tiba akhirnya aku mendengar kabar bahwa kau keluar dari sekolah ini.
Selama sebulan aku masih dihantui oleh bayang tentangmu, tidak bisa aku lepaskan hatiku darimu. Orang bilang, kau harus menyibukkan dirimu untuk melupakan seseorang. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke pesantren agar pikiranku tidak lagi dipenuhi oleh bayang-bayang dan kenangan tentangmu, dan aku berharap agar aku bisa memperbaiki diriku dan membentengi diriku dengan ilmu Agama. “Ma, Pa, aku ingin pindah sekolah ke pesantren.” Tanpa bertanya alasannya, kedua orang tuaku langsung menyetujuinya karena memang awalnya mereka ingin aku pesantren supaya aku bisa memperdalam ilmu Agamaku. Aku pindah ke pesantren yang jauh dari rumahku agar aku bisa hidup mandiri nantinya. Hari-hariku di pesantren sangat sibuk, sehingga aku tidak memiliki waktu untuk mengingat lagi tentangmu. Perubahanku selama di pesantren semakin terasa, kini hati dan pikiranku disibukkan untuk selalu mengingat-Nya daripada mengingatmu. Setelah 3 tahun di pesantren, aku lulus dari sini dengan perubahan yang sangat besar pada diriku.
Untuk mengejar masa depanku, aku memutuskan untuk berkuliah agar aku dapat meningkatkan kemampuanku untuk bersaing di dunia luar nantinya. Aku berkuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Aku menjalani hari-hariku dengan menikmatinya agar aku tidak merasa terbebani. Tidak lupa juga aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang Muslimah. Aku berkuliah jurusan Bisnis karena aku bercita-cita menjadi pengusaha yang sukses. Aku sudah memulai bisnisku selama aku menjadi mahasiswi agar nantinya ketika aku lulus, aku tidak harus memulainya dari nol. Aku berkuliah selama 4 tahun dan sudah 7 tahun sejak kita berpisah. Setelah kelulusanku, aku menyandang gelar S1.
Setelah lulus, aku melanjutkan pendidikanku hingga S2. Setelah selesai dengan pendidikan, aku mulai memfokuskan diriku untuk terjun di dunia bisnis yang aku kelola sejak aku masih menjadi mahasiswi. Bisnis yang aku kelola semakin hari semakin berkembang. Hingga aku akhirnya bisa membangun sebuah gedung baru untuk perusahaanku. Semakin banyak perusahaan yang ingin berinvestasi dan bekerja sama dengan perusahaanku. Di sini aku sekarang, hidup yang selalu aku idam-idamkan.
“Bu maaf, hari ini jam 1 siang kita ada rapat umum pemegang saham,” “Oh baik, terima kasih.”
Ya, inilah hidupku, mengelola sebuah perusahaan besar yang pasti tidak mudah, ada kalanya aku gagal sebelum aku menjadi seperti sekarang ini. Kesibukan yang selalu aku harapkan sejak aku duduk di bangku SMA. Oh ya, membicarakan SMA aku jadi ingat seseorang. Seseorang yang membuatku berpikir untuk berubah. Apa kabarnya ya sekarang? Apa ia sudah menjadi seorang yang sukses? Apakah dia hidup dengan baik sekarang? Ah sudahlah dia hanya masa laluku, aku tidak perlu lagi memikirkannya karena itu hanya akan mengurangi cintaku kepada-Nya. Seperti itulah keseharianku, setiap kali aku mengingat tentangnya hatiku selalu berusaha untuk tidak memikirkannya. Mari kita nikmati hari ini agar kita tidak terbebani.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 yang artinya aku harus bersiap untuk rapat hari ini. Setelah jam menunjukkan pukul 13.00 aku masuk ke ruangan rapatku bersama para pemegang saham. Saat rapat dibuka ada dua orang yang mengetuk pintu ruangan. Aku sungguh tidak suka dengan kata terlambat, namun bagaimanapun juga yang di depan pintu adalah salah satu investor di perusahaanku. Setelah pintu ruangan terbuka betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang terlambat hari itu. Ya, dia adalah seseorang yang membuatku berpikir untuk berubah, dia adalah orang yang meninggalkanku ketika kami duduk di bangku kelas 1 SMA, dia adalah orang yang selalu berlarian di pikiranku. Tanpa bicara dia masuk ke ruangan dengan sopan. Aku meliriknya sedikit, luka dihatiku masih terasa, bagaimana saat dia meninggalkanku tanpa memberiku sebuah persiapan dan tanpa penjelasan sehingga aku hidup dalam sebuah tanda tanya. Namun, sebagai seorang profesional aku harus menjaga rasa terkejut, marah, dan sedihku. Kami melanjutkan rapat hingga rapat berakhir.
Setelah rapat berakhir para investor meninggalkan ruangan hanya ada “dia” yang masih di sana. Setelah berpamitan aku kembali ke ruanganku. Perasaanku campur aduk, marah, kesal, sedih dan terkejut. Benteng yang selama ini aku bangun dan pertahankan hancur seketika. Aku disadarkan oleh ketukan pintu oleh sekretarisku.
“Bu, maaf ada investor yang ingin bertemu dengan ibu.”
“Biarkan masuk.”
“Baik Bu.”
Setelah dipersilahkan masuk, investor tersebut masuk. Aku kembali dibuat terkejut setelah mengetahui investor yang ingin bertemu denganku adalah “dia”. Aku berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan yang sedari tadi campur aduk.
“Ada apa?” tanyaku sopan
“Sudah lama ya sejak hari itu.” Katanya
“Maaf, jika kamu tidak bermaksud membicarakan tentang pekerjaan, kamu bisa keluar. Pekerjaanku banyak hari ini.” Ucapku sambil menunjuk ke arah pintu.
“Oh maaf jika aku mengganggu, tapi apakah boleh aku membuat janji temu denganmu besok, besok adalah weekend tidak mungkin seorang bos besar sepertimu masih harus bekerja di hari weekend.”
Aku terdiam sebentar, terkejut dengan perkataannya.
“Apa yang ingin kau katakan, aku tidak akan pergi jika tidak ada tujuan yang jelas.”
“Aku akan memperjelas alasan dua belas tahun yang lalu.” Jawabnya tegas
Aku terdiam, sedang mencerna maksudnya. Dua belas tahun lalu? Apakah itu adalah hari di mana kita berpisah?
“Jika kau tetap diam, maka aku akan menganggap bahwa kau menyetujui pertemuan besok.”
“Baiklah, kau tetap diam. Yang berarti kau setuju untuk pertemuan besok. Besok di kafe dekat sekolah SMA kita, pukul 1 siang” Dia pergi meninggalkan ruanganku. Meninggalkanku yang membatu.
Lagi-lagi dia meninggalkanku tanpa menunggu persetujuanku. Aku berpikir keras apakah aku harus datang besok? Tapi jika aku tidak datang maka itu bukanlah sikap yang profesional. Tapi aku bahkan tidak berkata bahwa aku menyetujui ajakannya. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus datang dan memperjelas perpisahan kami? Aku memang penasaran dengan hidupnya sekarang, bagaimana bisa dia ikut rapat pemegang saham jika dia bukan salah satu investor di perusahaan kami. Tapi selama tiga tahun aku mengadakan rapat, ini pertama kalinya aku melihatnya di rapat ini. Tapi jika aku datang, di mana harga diriku? Dia akan berpikir bahwa selama ini aku masih mengharapkan kehadirannya kembali. Sudahlah lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku. Sesampainya di rumah, aku kembali memikirkan apakah aku harus datang besok atau tidak.
Akhirnya keesokan harinya aku tetap datang ke tempat yang dia tentukan. Jam menunjukkan pukul 13.00 tapi aku masih belum melihatnya sejak aku datang ke kafe ini 5 menit yang lalu. Jika sampai pukul 13.10 belum datang maka aku akan pulang.
Arloji di tanganku menunjukkan pukul 13.10 dan akhirnya aku berniat untuk pergi meninggalkan kafe tersebut. Ah sia-sia saja aku datang kesini, malah aku yang terlihat penasaran dengan apa yang akan dia bicarakan. Ketika di pintu kafe ada seseorang yang menghentikan langkahku. Setelahku lihat ternyata dia.
“Apakah kau sudah akan pulang? Aku bahkan belum mengatakan apa-apa padamu.”
“Kau terlambat, aku tidak suka orang yang tidak menepati janji.” Ucapku sambil melanjutkan langkahku.
Lagi-lagi dia menghentikan langkahku.
“Tunggu, aku tadi terjebak macet saat perjalanan kesini.”
“Jika seperti itu, kenapa kau tidak berangkat lebih awal. Aku tidak suka orang yang terlambat dan lelet.” Ucapku sambil memalingkan wajahku
“Maaf untuk itu, tapi aku mohon beri aku kesempatan aku akan langsung menjelaskannya kepadamu.”
Hatiku luluh karena permohonannya. Aku memasuki kafe mendahuluinya yang artinya aku memberinya kesempatan.
Aku duduk di sebuah meja dan dia mengikutiku dan duduk di depanku.
“Terima kasih, aku tahu kau adalah orang yang baik.”
“Cepat kau jelaskan atau aku akan pulang.” Tegasku
“Ah baiklah. Tentang itu kau sudah tahu jelas alasanku meninggalkanmu. Aku ingin mendekatkan diriku pada-Nya, dan aku ingin memantaskan diriku untukmu hingga waktu yang tepat untukku kembali memilikimu dengan cara yang halal. Dan untuk itu, maaf jika hari itu aku pergi meninggalkanmu tanpa membiarkanmu berbicara atau bertanya lebih jelas kepadaku. Aku hanya tidak ingin kau mengingat perpisahan kita, dan agar kau lebih mudah melupakanku jika kau dalam keadaan marah kepadaku, aku juga tidak ingin melihat kau bersedih karena itu hanya akan melukai hatiku.” Jelasnya
Aku terdiam dan mencari kebohongan dimatanya, namun aku tidak menemukan jika dia sedang berbohong.
Melihatku terdiam dan menatapnya dia berkata “Jika ada yang ingin kau tanyakan, katakanlah aku akan menjawabnya dengan jujur.” Dia sedang meyakinkan bahwa dia sedang jujur kepadaku.
“Bagaimana dengan hidupmu selama ini?” entah mengapa pertanyaan itu yang terlontar dari mulutku
Dia tersenyum, “Ternyata selama ini kau tidak mempertanyakan kepergianku, kau hanya mengkhawatirkanku.”
“Cukup jawab atau aku akan pergi.” Aku malu dengan perkataannya, itu tebakan yang tepat. Apakah terlalu terlihat jika aku mengkhawatirkannya?
“Baiklah, aku hidup dengan baik selama aku di pesantren. Oh ya, aku pesantren di salah satu pesantren di Bandung. Aku juga berkuliah di salah satu universitas di Bandung. Bagaimana denganmu? Apakah kamu hidup dengan baik di sekolah selama aku tidak ada?” tanyanya
“Aku keluar dari sekolah itu.” Tatapanku beralih ke sekolah yang ada di seberang jalan.
“Mengapa? Itu adalah sekolah yang kau inginkan sejak SMP.” Ya, kami kenal sejak di bangku SMP.
“Apa artinya aku bertahan di sekolah itu jika kau tidak ada di sana? Aku terbiasa di sekolah bersamamu sejak SMP. Sekolah itu dipenuhi oleh bayang-bayang dan kenangan tentangmu. Aku tidak tahan.” Jelasku.
“Ah maaf jika aku membuatmu merasa terbebani dengan itu. Lalu jika kau tidak di sana ke mana kamu pindah?” tanyanya.
“Sebulan setelah hari itu, aku memutuskan untuk pesantren. Karena aku pikir dengan aku di sana aku dapat melupakanmu. Tapi nyatanya aku memang melupakanmu tapi untuk sesaat, setelah aku kembali kesini aku kembali mengingat segala tentangmu. Kemudian aku melanjutkan pendidikanku, hingga akhirnya berfokus pada bisnis yang aku jalani.”
“Ah aku ikut senang karena keputusanmu dan pencapaianmu hingga kamu menjadi seperti sekarang. Sejujurnya, sama sepertimu aku pikir dengan aku pergi meninggalkan kota ini aku akan melupakanmu, tapi nyatanya aku tidak bisa kau terus menghantui pikiranku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali kesini dan berharap dapat bertemu denganmu kembali.” Jelasnya
“Lalu mengapa kamu tiba-tiba hadir di rapat investor kemarin.” Pertanyaan yang sangat aku pertanyakan sejak kemarin.
“Tentang itu aku minta maaf aku mungkin membuatmu terkejut dengan kehadiranku. Aku di sini memang baru seminggu lalu setelah aku tahu jika akan ada rapat pemegang saham di perusahaanmu. Sebelumnya aku memang di Bandung, aku memiliki sebuah perusahaan di sini dan aku memang sengaja menjadi investor di perusahaanmu. Perusahaanku di sini dikelola oleh salah satu temanku yang juga adalah asistenku, biasanya memang dia yang hadir di rapat itu, tapi kemarin aku memutuskan untuk hadir karena aku dengar jika kamu akan selalu memimpin rapat itu. Dan aku berpikir ini adalah kesempatan yang baik untuk aku bertemu denganmu.” Jelasnya
“Bagaimana kau tahu jika itu adalah perusahaanku padahal aku tidak pernah menghubungimu.”
“Aku tahu dari asistenku saat dia datang ke perusahaanmu untuk bertemu kliennya, yang juga salah satu direktur di perusahaanmu. Dia melihatmu saat kau keluar dari ruang rapat.”
“Pantas saja aku sedikit heran dengan perusahaan itu, padahal itu adalah perusahaan besar tapi mengapa mereka mau menanamkan modalnya di perusahaanku yang notabenenya berada di bawahnya. Ternyata memang kamu yang mengelola. Aku sedikit kecewa saat tahu kebenarannya aku pikir itu karena dulu perusahaanku mampu bersaing dengan perusahaan besar.” aku meminum kopiku.
“Tapi sungguh, perusahaanmu memang dari dulu sebanding dengan mereka maka dari itu aku menanamkan modalku di perusahaanmu. Dan satu lagi, aku akan selalu mendukungmu meskipun itu hanya membantumu dengan materi.”
“Terima kasih untuk itu, perusahaanmu memang banyak membantuku. Hingga aku bisa menjadi seperti sekarang.”
“Sungguh tidak sampai seperti itu, pencapaianmu sekarang adalah karena usahamu dan pegawai- pegawaimu. Aku tidak membantu sebesar itu di dalam kebijakan perusahaanmu. Itu adalah karena dirimu sendiri.”
“Terima kasih pengakuannya.”
“Oh iya, ngomong-ngomong apakah sekarang kau sudah memiliki pendamping?” tanyanya
“Belum, aku tidak sempat untuk menjalin hubungan sekarang, dan juga aku hanya ingin pasangan yang langsung membawa keluarganya kepada keluargaku.”
“Apakah itu sebuah kode?” tanyanya menggodaku
“Terserah kau menganggapnya apa, aku akan pergi sekarang.” Aku bersiap meninggalkan meja
“Baiklah, hati-hati di jalan aku tidak akan mengantarmu agar tidak timbul fitnah. Tapi tentang yang tadi, aku akan mewujudkannya untukmu.”
“Terserah.” Aku pergi meninggalkannya.
“Ah karena dia weekend ku berkurang satu hari. Aku harus memikirkan apa yang akan aku lakukan besok. Apakah itu bersantai atau berlibur.”
Aku pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan aku masih tidak bisa melupakan kata-katanya. Dia masih pintar merangkai kata seperti dulu. Ah sial apakah pertahananku akan hancur begitu saja hari ini? Sesampainya di rumah aku bersiap membersihkan diri dan bersiap Shalat Ashar.
Pada malam harinya, ketika aku mengecek handphone ku ada sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk. Ah ternyata itu dia, Daffa.
+62 838 xxxx xxxx
(Daffa)Ulfa, apakah kau besok ada waktu?
Maaf dengan siapa?
(Daffa) Ah maaf, aku lupa memperkenalkan diri, aku adalah pasangan masa depanmu. Apakah cukup?
(Ulfa) Maaf, aku tidak mengenalmu. Selamat tinggal.
(Daffa) Tunggu, ternyata kamu tidak mengerti. Aku Daffa. Apakah besok kau ada waktu?
(Ulfa) Besok adalah weekend ku, tidak ada.
(Daffa) Baiklah aku akan mengatakannya langsung. Persiapkan diri
dan keluargamu, besok aku akan membawa keluargaku ke rumahmu. Aku tidak akan mengganggu weekend mu hari ini lagi. Selamat tinggal
Singkat dan padat namun membuatku tercengang. Apakah dia serius mengatakan itu? Itu terlalu mendadak. Haruskah aku percaya? Namun akhirnya aku tetap memberitahukan kepada keluargaku jika besok Daffa dan keluarganya akan datang ke rumah agar keluargaku dapat bersiap besok. Selamat malam, untuk besok hari yang mungkin akan menjadi terwujudnya keinginanku yang lainnya.
Keesokan harinya Daffa benar-benar datang ke rumahku dengan keluarganya. Setelah selesai acara lamaran Daffa menghampiriku.
“Mengapa dadakan?” tanyaku
“Aku sudah bilang kemarin bahwa aku akan mewujudkannya untukmu.” Jawabnya enteng
“Aku pikir kau bercanda untuk itu.”
“Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kataku. Bagaimana? Apakah impianmu sudah terwujud?” tanyanya
“Ada lagi yang belum terwujud.”
“Aku tahu itu, aku akan mewujudkannya untukmu satu-persatu.” Jawabnya
Setelah pertemuan keluarga hari itu, hari-hari berikutnya kami sibuk mempersiapkan persiapan pernikahan kami. Aku sungguh merasa bahagia setiap harinya. Hari-hari yang aku jalani terasa ringan walaupun aku harus tetap bekerja mengelola perusahaanku. Hingga tiba hari dimana kami mengucap janji suci.
Daffa mengucap janji suci itu dan hari ini aku dan Daffa resmi menjadi sepasang suami istri. Hari ini adalah hari di mana aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Pria yang selama 12 tahun menghantui pikiranku dan membuat perubahan besar dalam hidupku, kini menjadi pasanganku. Terkadang untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang besar, memerlukan pengorbanan yang besar juga. Semua butuh proses untuk mendapatkan apa yang kita impikan, yang terpenting adalah jangan pernah berputus asa sebelum kau mencapainya.
"Jodoh itu bukan seberapa lama kamu dengannya, tapi seberapa yakin kamu dengan-Nya.”
"Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain.”
"Terkadang hanya membutuhkan satu pertemuan untuk menyadari bahwa rasa itu masih ada.”
"Perpisahan sejatinya tidak hanya memisahkan. Ia hanya memberi jarak untuk pertemuan-pertemuan berikutnya."
"Kamu tidak akan pernah menemukan cinta sejati, sampai kamu belajar untuk mencintai Allah."
“Sejauh apapun kami berpisah jika dia memang ditakdirkan untukku, maka Allah akan menghilangkan jarak diantara kami.”
~~~END~~~