Di kota jakarta, hiduplah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 3 orang anak 2 laki-laki dan 1 perempuan yang bernama alvaro, daffa, dan alena. keluarga mereka bisa dibilang keluarga yang cemara dan cukup kaya tapi... pada suatu saat keluarga mereka mengalami musibah yang cukup berat.
keluarga mereka ditipu hingga membuat rumah, mobil, dan harta lainnya disita seperti nya ayah dan ibu telah terhipnotis
"pahh gimana inii kita udah gapunya apa apa lagi terus kita mau tingal dimana?"
"Duhh mah papah juga lagi pusing ini, eumm aha! papah punya ide gimana kalo kita sementara tinggal di rumah bekas yang ada di ujung itu, nanti papah coba ijin ke pemiliknya yaa tunggu sebentar disini yaa"
"mah, kak, dek dibolehin ternyata"
mereka sekeluarga pun senang dengan semua ini lama kelamaan ekonomi keluarga mereka pun berubah, mereka sudah bisa mengontrak sebuah rumah ditambah lagi, ayah mendapat tawaran pekerjaan yang dimana gajinya cukup tinggi di situlah awal keluarga mereka berubah. ayah ibu membeli rumah baru yang megah sama seperti dulu.
"akhirnya ya pah mah kak keluarga kita bisa kembali seperti dulu lagi"
"iya ya dek, mama papa ga nyangka kita bisa berubah secepat ini"
tapi alena merasa bahwa sifat orang tua dan kakak kakak nya berubah, mama dan papa sering bertengkar, kakak kakak nya sering mabuk hingga pulang larut malam dan menjadi tak peduli lagi dengan alena.
"mah pah alena dapet nilai 100 di ujian matematika lohh"
"apasih ganggu aja, udah sana pergi!"
"hmmm, kenapa sih mamah papah sekarang berubah ga kayak dulu lagi, semenjak perekonomian kita berubah, sifat kakak, mamah papah juga ikut berubah".
hari hari alena lewati dengan rasa sakit ia sudah lelah, orang tuanya setiap hari bertengkar menjadi sangat sensitif kakak kakak nya juga menjadi kasar dengan nya sampai di suatu ketika daffa dan alena sedang berbelanja, di perjalanan mobil yang mereka naiki mengalami kecelakaan hebat.
daffa dan alena terpental hingga mereka harus dibawa kerumah sakit
"duhh daffa alena kok bisa kayak gini sih"
mamanya menangis sesegukan papa sambil menenangkan istri nya hingga dokternya tiba
"pak, bu kepala alena bocor hingga membuat nya harus di operasi, sedangkan daffa... maafkan saya dia sudah tiada bu, pak"
"a-a-APA?, DAFFAAAAA kamu jangan ninggalin mama papa nakk euhhhh"
mereka menangis sesegukan dan langsung menuju ke ruangan betapa hancur hati mereka melihat anaknya yang sudah tiada.
semenjak daffa tiada, mama dan papa menjadi sering melamun dan mereka menyalahkan alena karena kecelakaan daffa tersebut mereka menjadi benci dan tidak suka pada alena. karna mereka merasa bahwa alena yang sudah menewaskan anak mereka.
"ALENAA!, SINI KAMUU!"
"euhmm iya mah, pah kenapa yah?"
"apa, apa KAMU ITU UDAH JADI SEBAB KAKAK KAMU KECELAKAAN TAU GA, INI SEMUA GARA GARA KAMU!"
"tapi pah, mah itu semua bukan karena aku kan aku sama ka daffa kecelakaan nya barengan jadi buka karna aku dong"
"AHHH TETEP AJA KAMU ITU UDAH JADI PARASIT DI KEHIDUPAN KITA!, coba aja waktu itu kamu ga ajakin daffa pasti ini semua ga akan terjadi, POKOKNYA PAPAH DAN MAMAH BENCI KAMU ALENA!, MENDING MATI AJA DEH KAMU, sekarang kamu kelua papah gak mau ngeliat kamu KELUAR ALENA!"
jlebb hancur hati alena ia merasa sakit hati karna ucapan ayahnya tersebut, semenjak kematian kakak nya alena menjadi anak yang murung dan ulang tahunnya sudah tidak pernah dirayakan lagi orang tua dan kakak pertama nya sudah tak peduli lagi dengan nya orang tuanya sudah tak mau lagi membayar biaya sekolah alena, yang membuat nya hatus bekerja banting tulang demi ia bisa sekolah.
sampai alena dititik ia sudah capek dengan semua pukuan dan marahan dari ayah ibunya.
di sekolah alena selalu murung dan menjadi pendiam saat itu pagi hari sekolah alena, seperti biasa alena turun ke lapangan saat di pertengahan upacara, alena pingsan ia langsung dibawa kerumah sakit karena mukanya yang begitu pucat. dirumah sakit dokter bilang ke alena
"alena, kamu ternyata mengidap penyakit kanker paru paru stadium akhir nak..."
"euhmmm jangan kasih tau orang tua saya yaa dok , saya mohonn banget".
karena dokter merasa kasihan pada alena, akhirnya dokter menuruti permintaan alena
"tapi alena kamu harus tau jika kamu tidak mendapatkan donor paru paru, maka waktu mu hanya 2 minggu, kamu harus segera mendapatkan donor paru paru. sebelumnya apakah kamu ingin dirawat inap?"
"baik dok saya akan berusaha mendapat pendonor paru paru, eumm seperti nya saya tidak perlu dirawat inap dok"
"baiklah kalau seperti itu, ini kamu minum obatnya yah diminum sehari sekali"
"baik dok terimakasih dok saya pulang dulu".
sesampainya dirumah alena bertemu dengan papah nya, papah nya terlihat sangat marah.
"dari mana aja kamu alena?"
"aku abis dari rumah sakit mah, pah tadi dianterin sama temen, aku kecapean aja"
"KAMU ITU YA! BISANYA NGEREPOTIN ORANGG AJA!, kalo kecapean itu istirahat bukan kerjaan nya nyusahin orang doang"
"iyaa mah, pah aku masuk kamar dulu yaa"
alena merasa sedih karena ia tidak di pedulikan oleh orang tua nya mengingat ia terkena kanker paru paru stadium akhir.
alena pun mulai mencari pendonor untuk nya, tapi ia sudah mencari kesana kemari tapi tetap tidak ada bahkan ia sudah ke puluhan rumah sakit tetap saja, tidak ada hasil stok paru paru di rumah sakit sudah habis semua.
tak menyerah, ia meminta bantuan kakak nya untuk di bantu mencarikan pendonor tapi kakak nyaa tak mau malah ia marah dan membentak alena sampai ia memohon untuk dicari kan tapi kakaknya tetap saja ia tak mau.
alena sudah lelah sepertinya ia akan pasrah
"heuhh aku udah capek mau cari kemana lagi?, kayaknya emang udah takdir deh toh aku mati pun kayak nya gaakan ada yang peduli sama aku deh, apa aku mati aja ya? lagian aku udah capek sama semua ini capek sama pukulan orang tua, diomelin tiap hari, dan juga gaada sayang sama aku".
akhirnya alena mencari tempat untuk bunuh diri, cuaca sudah mendung dan hujan pun tiba. alena melihat ada jembatan tak pakai pikir panjang alena memutuskan untuk lompat, saat alena hendak melompat ke sungai tapi tiba tiba....
"ALENA! STOP!, ayok sini turun"
"de-de-devan?, lo ngapain disini dev lo GAGALIN RENCANA GUE TAU GAK!"
"lo ngapain sih al, jangan nyakitin diri lo sendiri lo kalo ada masalah, cerita sama gue"
"gue udah gatahan lagi dev!, gue-gue-gue udah capek sama semua ini! nyokap bokap gue ga peduli sama gue, GAAKAN ADA YANG PEDULI DAN SAYANG SAMA GUE DEVV!".
"gue, gue, GUE SAYANG DAN PEDULI SAMA LO ALL GUE SELALU ADA BUAT LO. lo gausah khwatir al ada gue disini udahh sekarang lo masuk ke mobil gue, yukk".
saat di mobil, alena menceritakan semua kejadian, musibah yang dia alami termasuk tentang penyakit nya itu.
"alena lo kenapa ga cerita ke gue tentang musibah dan penyakit yang lo alami, kan gue bisa bantu kalo gue bisa mah"
"euhmmm udahlah dev waktu gue gabanyak, waktu gue tinggal 1 minggu lagi dann lagi pun kalo gue mati gaakan ada yang peduli jugak"
"lo gaboleh bilang gituu yukk gue bantu cariin pendonor, pokoknya lo pasti bisa sembuh"
"percuma dev gue udah cari ke satu kota, dm sana sini tetep nihil gaada hasilnya"
"yaa cobaaa kita cari lagii apa mau satu Indonesia kita kelilingin? kalo perlu 1 dunia"
"udahlah dev lo ikhlasin aja ya, eummm lo mau ga selalu ada di samping gue selama 1 minggu terakhir ini? plissss mau ya?
"heuhh mana bisa gue nolak permintaan lo"
"yeyyy, sama 1 lagi jangan kasih tau ortu gue yaa tentang penyakit gue ini"
"loh kenapa? mereka harus tau dong"
"eumm jangan dulu yaa devv"
"huhh yaudahh oke oke, btw lo mau jalan jalan ga samaa ke pasar malem udah ga ujan tuh"
"mau mauu yuk gas ngeng, asekk hehe"
"lucu banget sih lo gemess hehe".
devan dan alena pun jalan jalan dan bersenang senang sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, alena meminta devan untuk mengatar dia untuk segera pulang kerumah karena kalau tidak, alena bisa di pukul oleh ayahnya. sudah mau dekat kerumah alena dan ia melihat ayahnya sudah menunggu diteras rumah
"okeh udah sampe, sampai jumpa lain kali dev gue masuk dulu bayy devann"
"iyaa cantikk babayy alenaa".
"ALENA! KAMU DARI MANA AJA SIH! JAM SEGINI BARU PULANG!"
"Pahh aku abis jalan sama temen"
"HALAHH BOHONG KAMU, KAMU PASTI HABIS MINUM MINUM KAN? heuhh JAWAB!"
"yaa emang aku ga minum minum pahh terserah lah kalo papah gapercaya, alena mau masuk dulu capek"
"HEH orang tua lagi ngomong main pergi aja kamu, bisa gasih kamu kayak anak anak lain yang menghargai orang tuanya".
"bisa ga papah kayak orang tua lain juga, mikirin perasaan anak nya sendiri"
"OOHH UDAH BERANI NGEBANTAH KAMU YAA BERANI KAMU SAM ORANG TUA HAH!"
"au au auuu sakit pahh, pahh sakitt"
"SAKIT SAKIT HAH? SAKIT, ini akibatnya kalo kamu ngejawab omongan orang tua ALENA".
"STOPPP! udah pahh"
"ini lagi satu kamu ngapain sih belain alena, uda tau dia itu salahh"
"lepasin alena pahh"
"kamu berani sama papah? kamu mau kayak dia, HAH?"
kakak alena langsung menipis tangan papah nya dan langsung membawa alena ke kamar. "dek kamu kenapa? kamu gapapa? coba cerita sama kakak"
alena pun menceritakan semua kejadian yang dia alami tetapi alena tidak bilang ke kakak nya kalau ia punya penyakit kanker paru paru, karna ia tak mau kakak nya khawatir.
"makasih ya kak udah mau ngertiin aku, tapii kok kakak jadi baik sama aku?"
"hmmm len, kakak jadi tau mana yang bener mana yang salah dan kakak tau kalau kamu gasalah, papah mamah harusnya nggak nyalahin kamu tentang kematian abang awalnya sih kakak percaya sama mamay papah tapi semakin kesini kakak jadi yakin, kalau kamu tuh sebenernya gasalah"
alena terharu dengan perkataan kakak nya ternyata masih ada orang yang percaya dan peduli dengannya.
hari demi hari pun berlalu 1 minggu pun hampir berlalu alena semakin takut dengan apa yang terjadi dengan nya karena alena takut kehilangan devan, kakaknya, dan satu hal yang paling berharga dalam hidup nya yaitu orang tuanya. disekolah alena menjadi anak pendiam dan suka menyendiri karna ia tidak punya teman selain devan.
"hei len, kok sendirian aja sih gue temenin mau gak hehey"
"idihh dasar modus"
"hahahahahaha lenaa lena, loh kok murung sih kenapa lenn ayok cerita sama gue"
"hmmm waktu gue udah gak lama lagi dev 2 hari lagi gue bakal mati"
"lo udah nemuin pendonornya?"
"belomm, susah banget tau sampe capek gue, hmmm btw selama 2 hari ini lo mau ngabisin waktu bareng gue gak? plisss itu salah satu keinginan gue sebelum mati"
"iya iyaaa, ternyata lo masih sam kayak dulu yaa manjaa"
"iihhh apaan sihh".
di sisa waktu 2 hari itu alena dan devan menghabiskan waktu bersama jalan jalan, makan, shopping dan kegiatan kegiatan menyenangkan lainnya sampai akhirnya tiba dimana itu malam terakhir sebelum alena pervi dari dunia untuk selamanya.
"makasih ya dev lo udah mau nemenin gue terus selama 2 hari ini, euhmmm yahh besok gue udah harus ninggalin dunia, dan orang orang yang gue sayang"
"gue yakin pasti ada keajaiban sih len gue tau, lo tuh orangnya kuatt banget, teruss keluarga lo gimana? bukannya udah saat nya buat lo kasih tau mereka?"
"gue belum ngasih tau mereka, pokoknya gue mau mereka menyesali perbuatan yang sudah mereka lakuin ke gue"
devan tak kuasa menahan tangis sampai mengeluarkan air matanya
"dev?, lo kenapa nangis? gausah nangis deh udahh ini tuh emang udah jadi takdir
gue"
"gue gabisa len, gue gabisa kehilangan sahabat gue dari kecil, gue gamau kehilangan lo untuk selamanya len"
"huhh lo harus bisa ikhlasin gue ya dev, udahh dari pada nangis nangis disini mending kita ke taman sama ke pasar malam yukk ayokk".
setelah mereka jalan jalan sudah saatnya alena pulang dan mereka akan berpisah dan deva segera mengantar alena pulang sesampainya dirumah alena, ayah alena terlihat sangat tidak peduli dengan alena.
keesokan harinya alena bangun dari tidur nya ia pikir bahwa ia sudah meninggal dunia dia langsung menelfon dokternya dan dokter mengatakan kalau alena akan mati pada 2 hati kemudian, mendengar hal tersebut alena merasa lega, ia masih punya waktu untuk bertemu dengan orang orang yang ia sayang.
Alena pun menelpon devan untuk memberitahu hal bahagia tersebut
"halo? devv DEVANN"
"halo?, i-i-ini ELO LEN?, lo masih hidup len?"
"IYAAA ini gue dev gue masih hidup, kata dokter gue masih punya waktu 2 hari lagii"
"yesss ketemuan yukk kita mainn"
"ayuk bentar yaa gue siap siap dulu"
"okeee entar gue jemput di rumah"
devan dan alena pergi ke mall hanya sekedar jalan jalan dan makan saja tiba tiba di pertengahan mereka sedang bermain, alena merasa pusing dan langsung pingsan
"LENN LO KENAPA LEN?
devan langsung membawa alena ke rumah sakit langganan alena ia menangis sesegukan. dirumah sakit devan tak berhenti menangis ia berharap alena baik baik saja
dokter pun keluar, dan ia bilang bahwa alena sudah tidak ada di dunia ini selamanya.
"LENN ALENAA! LO GABOLEH NINGGALIN GUE LENN PLISS LEN BANGUN ALENAA LO BILANG WAKTU LO MASIH ADA 2 HARI LAGI TAPI APA? LO NINGGALIN GUE, ALENAA"
"maaf yaa nak devan sebenarnya waktu aena itu sampai jam 12 siang kenapa alena berbohong, karena katanya ia tak mau melihat orang yang ia cintai sedih, sekarang nak devan telfon keluarga alena lalu kamu beritahu tentang kondisi alena sekarang"
"baik dok saya akan telfon pake hp alena".
devan langsung menelpon keluarga alena dan memberitahu hal tersebut, keluarga alena kaget sekaligus sedih mendengar kabar bahwa alena sudah memeninggal, dengan perasaan cemas dan sedih mereka pun langsung menuju ke rumah sakit.
"suster suster ada anak yang bernama alena disini dok?"
"oohh alena ya bu, tadi anak yang bernama alena sudah dibawa keruangan
mayat bu"
"HAH? INI GAMUNGKIN, ohh ita ya makasih yaa suster saya duluan, ayo pah, kak"
sesampainya nya mereka diruangan mayat, mereka sama sekali tak percaya bahwa alena sudah meninggal dan masih belum bisa menerima kematian alena.
"ALENA ALENA BANGUN NAKK BANGUNN MAMAH SAMA PAPAH NYESEL SUDAH BERBUAT KEJAM SAMA KAMU NAKK PLISS ALENA BANGUNN"
"ALENA MAAFIN MAMAH SAMA PAPAH NAK, kami ga becus jadi orang tua kami BENEE BENER NYESELL BANGET sudah memperlakukan kamu semena mena selama ini, MAAFIN KITA NAKK, ALENA! BANGUN!".
"alena kenapa kamu gabilang sama kakak tentang penyakit yang kamu alami selama ini? kenapa kamu memedamnya alena?"
"HAH? jadi alena punya penyakit kak? kenapa kamu gak kasih tau mamah papah nak"
"om, tante sebenarnya tadi saya sudah kasih tau dia, tapi saya yang minta kalau jangan di beritahu dulu, euhmm om, tante alena selama ini cerita sama saya tentang apa yang dia alami di rumah dan kuga dia memberitahu saya tentang penyakit yang ia alami, penyakit nya yaitu kanker paru paru stasium akhir om, tante, saya merahasiakan hal ini karena alena yang minta om tante ia tak ingin kalau tante sama om itu cemas".
"yaa tuhann kenapa tidak dicarikan pendonor? agar alena bisa sembuh?"
"tidak ada sama sekali pendonor tan karena stok di beberapa rumah sakit sudah habis"
"mah, pah sebenarnya waktu itu alena minta aku buat nyariin pendonor tapi aku gamau dan aku gatau pendonor itu buat
apa, maaf mah pah aku yang salah"
"OOHH JADI KAMU PENYEBAB ALENA MENINGGAL, HAH? SINI KAMU!"
"om, semua ini bukan salah kak daffa om, alena bilang ke saya kalau dia otu sayang banget sama om, tante, dan juga kak daffa dia bilang, ia sudah ikhlas dengan takdir nya, jadi om dan tante harus ikhlasin kepergian alena yah, sekarang tugas kita adalah mendoakan alena"
sebenarnya yang membawa alena kerumah sakit adalah kakak nya saat itu alena izin untuk keluar, tapi kakak nya merasa curiga dengan nya akhir akhir ini ia jadi sering pulang malam akhirnya kakaknya mengikuti alena ketika sedang membututi kak daffa melihat alena ngomong sendiri seakan akan ia sedang pergi berdua, tapi nyatanya ia hanya pergi seorang diri. ternyata selama ini alena berhalusinasi, ia stress karena sahabat masa kecil nya pergi meninggalkan ia selamanya.
"iyaa nak kita akan berusaha untuk mengikhlaskan alena"
"oh iyaa, kamu nak devan ya? tapi sebentar HAH devan? bukan nya kamu sudah meninggal sejak 6 tahun yang lalu ya?
"HAH jadi yang keluar sama alena selama ini..., itu hantu?"
keluarga alena langsung kaget sekaligus takut dan lansung menjauhi devan, karna devan sudah meninggal 6 tahun yang lalu karena kecelakaan mobil yag dialami.
"iya om, tante sebenarnya ini arwah devan, devan melihat dari atas sana alena sedang mengalami masalah yang cukup berat, makannya devan turun ke bumi untuk menjadi pendengar alena om, tante"
"yaampun nak devann tante sampe kaget, makasih ya devan sudah menjadi pendengar yang baik untuk alena selama ini"
"iya sama-sama om, tante sekarang tugas devan sudah selesai devan pamit pergi dulu ya om, tante, kak"
"iyaaa devan yang tenang disana ya nak".
ternyata devan sudah meninggal 6 tahun yang lalu, semenjak kepergian alena, alena menjadi anak yang pendiam dan murung alena juga menghadapi masalah yang berat devan melihat hal tersebut dan ia merasa sedih melihat sahabat masa kecilnya sudah tak seceria dulu lagi maka dari itu devan kembali ke bumi untuk membuat alena menjadi ceria seperti dulu mereka bersahabat dengan bahagia.
keesokan harinya jasad alena pun dimakamkan di sebelah makam devan keluarga alena sudah ikhlas dengan kepergian alena begitu pun dengan devan meskipun ia sudah tiada, mereka berharap alena bisa memaafkan perbuatan yang sudah mereka lakukan kepada alena, kini mereka sudah menyesali perbuatannya.
-TAMAT-