Dimanapun Kamu berada, Aku berharap Kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja, Ebah... Semoga nanti Tuhan bisa kembali mempertemukan kita.
~ Giandra, 24 tahun ~
"Ndra nyariin siapa sih lo, gue perhatiin lo bolak-balik terus dari tadi?" Salah satu teman kost-an ku, namanya Fita bertanya dari tempat nya duduk.
"Aku nyari Ebah, lo ada liat dia gak? Biasanya jam segini Ebah ada di pos ronda itu kan?!" Kataku tanpa mengharapkan jawaban dari Fita.
"Ngapain sih ndra lo nyari Ebah, Ebah itu kurang waras loh, lo hati-hati deh. lo masih baru disini belum tau Ebah seperti apa kan?" Ujar Fita yang membuat telinga ku panas, hatiku gak terima Ebah dikatakan kurang waras, Fita tak berhak berkata seperti itu, karena Fita tak kenal Ebah, aku yang lebih mengenalnya walaupun baru dalam hitungan hari.
"Oh yaudah kalo lo gak ada liat si Ebah, mungkin Ebah lagi ada dirumahnya."
Aku tak merespon lagi ucapan nyinyir Fita, ku tutup pintu gerbang perlahan lalu bergegas kembali menuju kamar ku yang ada di bagian belakang tak ada niat berbasa-basi lagi dengan Fita.
Paper bag kecil berisi baju tunik yang Aku beli untuk Ebah aku taruh lagi diatas meja.
"Semoga saja besok sebelum aku pulang aku bisa ketemu Ebah, aku mau liat Ebah memakai baju yang aku kasih, Ebah pasti akan terlihat sangat cantik." Aku berbicara sendiri menatap paper bag berwarna hitam yang baru aku taruh diatas meja. pikiranku pun menerawang mengingat kembali awal perkenalan aku dengan perempuan yang bernama Ebah.
🍒🍒🍒
Awal tahun Ini, Aku sudah mulai bekerja di cabang kantor yang baru, kantor meng rolling ku di sebuah cabang yang ada di kota I.
Karena jarak dari kantor baru ke tempat tinggal ku itu lumayan jauh, kurang lebih dua jam kalau ditempuh dengan menggunakan motor, Aku memilih untuk kost.
Kostan yang aku pilih itu adalah kostan yang terbaik dari lima rumah kost yang aku datangi, Kostan ini rekomendasi dari salah satu temanku. memang sih kostan itu harganya tak murah seperti umumnya kostan di daerah itu, tapi aku berpikir tak masalah, lebih baik mahal bukan? yang terpenting kenyamanannya, toh hanya tiga bulan saja aku akan tinggal di kostan itu.
Tidak ada yang menarik dari tempat tinggal aku yang baru itu, hubungan aku dengan penghuni yang lain bisa dikatakan tak terlalu dekat, alasannya karena pertama letak kamar tiap-tiap penghuni yang berjauhan dan kedua kurangnya waktu buat bertemu karena kesibukan masing-masing. Rutinitas ku selalu itu-itu saja hanya antara tempat kerja dan kostan. Dan untuk urusan keperluan makan aku biasa masak sendiri atau beli sebegitu pulang kerja.
Aku belum terlalu mengenal lingkungan tempat tinggal ku yang baru ini, jadi untuk menghindari sesuatu yang tak diinginkan biasanya sepulang kerja aku langsung mengurung diri di kamar.
Sampai Aku melihat seorang perempuan dengan keterbatasannya duduk di pos ronda yang letaknya di sebelah kostan, baru perempuan itu yang bisa menarik perhatian ku selama aku tingal di tempat baru ku ini.
Namanya adalah Saebah, aku tau nama dia bukan dari dia nya sendiri, tapi dari mulut orang-orang, Ebah yaa aku memanggil dia Ebah.
Ebah perempuan muda dengan segala keterbatasannya, Dia seorang tunawicara, tunarungu dan Ebah mengalami kelumpuhan di kakinya, Ebah berjalan bukan dengan kakinya tapi dengan dua bangku dari kayu sebagai pengganti kaki nya.
Setiap pagi dan sore Ebah akan selalu terlihat ada di pos ronda, dia tak melakukan apa-apa, dia hanya duduk dan memperhatikan orang-orang berlalu lalang.
Aku penasaran sama Ebah, aku menebak usia Ebah tak jauh beda denganku, disaat penghuni kost yang lain menghindari Ebah, aku malah mendekatinya, aku ingin berteman dengan nya. Aku tak peduli dengan kekurangan Ebah dan Aku tak percaya kalau Ebah itu perempuan kurang waras. Buat ku Ebah bukan perempuan kurang waras dia hanya kurang beruntung.
Pagi itu pulang dari membeli sarapan aku melihat Ebah seperti biasa duduk di tanah beralaskan bangku kayu kecilnya di pos ronda, Ebah sudah mandi rambutnya yang sebahu diikat dengan karet gelang yang biasa buat bungkus nasi itu. Menurutku Ebah manis walaupun wajahnya pucat dan kurus.
Hatiku mencelos saat Ebah tersenyum manis menatapku yang mendekatinya, Aku membalas senyum Ebah dengan tersenyum lebar
"Ebah, temenin aku sarapan yuk." Ajak ku sembari memperlihatkan plastik putih berisi sarapan yang baru aku beli.
Ebah menggeleng, menolak ajakanku. tapi aku tak menyerah aku paksa dia buat menerima ajakan sarapan bersama ku. Akhirnya Ebah luluh juga, aku tersenyum lebar saat Ebah mengikutiku masuk ke halaman kostan. Aku abaikan tatapan mata penghuni yang lain, seolah berkata
"Ngapain sih lo?". Aku berjalan pelan disisi Ebah yang sedang memindahkan bangkunya bergantian dari depan dan belakang. Melihat cara berjalan Ebah hatiku merasa tercubit, ingin rasanya aku menggendong Ebah biar lebih cepat sampai kamar ku, aku tak tahan melihat kesulitannya itu. Tidak, tidak aku tak boleh mengasihani Ebah, bukan kasihan tapi aku akan menyanyangi Ebah.
Sejak saat itulah Aku dan Ebah jadi dekat, dibandingkan dekat dengan penghuni kost yang lain Aku malah dekat sama Ebah. Aku tak memerlukan teman yang sempurna secara fisik, karena teman ku sudah banyak yang fisiknya sempurna, tapi yang seperti Ebah aku belum menemukannya, dan sekarang Ebah adalah temanku, teman spesial ku.
Ada kejadian yang bikin aku terharu dan menangis memeluk Ebah, hari itu karena ada lembur aku pulang diatas jam 8 malam. Aku tak paham kalo aku dikuntit pria berandalan, hampir sampai di kostan aku tersenyum melihat Ebah ada di post ronda, tapi... Ebah tak balas senyum ku seperti biasanya, dia tetiba teriak kencang dan tak jelas, aku kaget apalagi melihat Ebah mengangkat bangku kayunya dan melemparkannya kuat, aku merunduk mengira bangku itu Ebah lempar kearah ku.
"Anj*ng wadon edan!!!"
Aku shock menghentikan motorku, melihat kebelakang ternyata Ebah melemparkan bangkunya ke pria berandalan yang aku tak tau ada di belakangku. pria itu berjalan cepat mendekati Ebah dan Ebah ditendangnya. Kurang ajar betul pria itu! Aku mendekati Ebah, menangis memeluknya, Ebah menyelamatkan aku dari orang yang berniat tak baik dengan ku.
Jika ada yang mengatakan Ebah gila, jelaskan gila yang mana?
🍒🍒🍒
"Baru pulang lo ndra? tumben hari sabtu sore banget pulangnya." tanya Jeni, salah satu penghuni kost juga sama seperti Fita. tapi kamar Jeni di depan berdekatan dengan kamar Fita, sebegitu motorku memasuki halaman rumah.
"Iya nih tadi nunggu hujan reda." Aku menjawab pendek.
"Eh ndra!" Panggil Jeni kembali menahan ku.
" Ya kenapa Jen?" tanya ku lagi.
"Tadi pas ujan belum gede Ebah ngangkatin jemuran lo yang di belakang, lo cek deh tadi gue liat kaya ada yang jatuh gitu, ya kali kotor. lagian si Ebah juga buat jalan susah sok sok an ngangkatin jemuran lo."
"Ebah ada di kamar gue kah?"
"Gak, dia udah pulang tadi ada yang panggil dia."
"Oh gitu, yaudah gue ke kamar dulu Jen."
Tak menunggu persetujuan dari Jeni aku kembali melajukan motor ku menuju kamar ku yang ada di belakang.
Pagi tadi, aku memang meninggalkan cucian beberapa setel pakaian kerja di belakang, aku tak menduga kalo siang yang tadinya cerah tetiba hujan, di kantor aku ingat sama cucianku, tapi aku pasrah kalo toh tak ada yang ngangkatin, karena aku tau sendiri penghuni yang lain seperti apa, Aku seperti mendapatkan kejutan saat Jeni memberitahukan kalo Ebah yang ngangkatin jemuran ku.
Begitu sampai di depan kamar aku terharu, jemuran ku sudah kering semua dan sudah terlipat rapih, siapa lagi yang melakukan itu kalo bukan Ebah? aku mengabaikan salah satu baju yang tak terlipat dan sedikit kotor, mungkin itu tadi yang Jeni katakan jatuh. Tak masalah kalo aku harus mencucinya lagi.
Tapi, setelah hari itu aku tak bertemu Ebah lagi. Pekerjaan ku dikantor lagi banyak-banyaknya, aku berangkat pagi-pagi dan pulang hampir mendekati waktu isya.
Hari sabtu sore aku biasanya akan pulang kerumah ku, dan hari minggu siang baru kembali ke kostan. Aku tak melihat Ebah di pos ronda. Karena aku akan pulang aku memberanikan diri mendatangi rumah Ebah.
Ebah lagi sakit, wajahnya pucat sekali, Aku sedih, aku tak tau kalo teman terbaikku ini lagi sakit. Aku pegang erat tangannya, aku katakan aku mau pulang. dan nanti setelah aku kembali aku berjanji akan bertemu dia lagi.
Karena keterbatasannya itu Ebah hanya mengangguk mengusap tangan ku, dia tak bisa mendengar, dia juga tak bisa bicara aku dan dia hanya komunikasi lewat mata dan isyarat tapi kami saling memaahami.
Aku duduk memijat kaki Ebah yang kecil, mengusap telapak kaki nya biar tak ada tanah yang menempel, aku memperhatikan kuku kaki Ebah yang panjang dan kotor, aku ambil gunting kuku yang ada di dompet kecil yang selalu aku bawa, ku potong kuku kakinya satu persatu sambil ngobrol. tidak, bukan ngobrol lebih tepatnya aku yang berbicara sendiri meluapkan semua isi hatiku, menceritakan semua yang aku alami, selama aku berbicara Ebah terus menatap ke arah bibir. terkadang dia mengangguk terkadang dia tertawa kalo yang aku ceritakan lucu, dan wajahnya akan sedih kalo aku sudah menceritakan ibuku, yaa aku dan Ebah sama sudah tak mempunyai orang tua lagi.
Aku meninggalkan Ebah yang tertidur pulas setelah aku memijat kakinya dan berbicara panjang lebar. Aku tersenyum melihat Ebah tertidur, wajah pucat itu terlihat damai sekali.
🍒🍒🍒
Hari senin aku sudah kembali ke kostan, aku kembali ke rutinitas seperti biasanya dengan kesibukan ku. Setelah pulang itu aku belum bertemu Ebah lagi.
Beberapa hari ini Ebah tak pernah terlihat lagi di pos ronda, setiap sore pulang kerja aku berharap Ebah akan ada di kamar menunggu aku pulang, tapi ternyata tak ada.
Sudah beberapa kali aku bolak balik nengok ke pos ronda berharap Ebah ada disana, aku pengen kasih Ebah hadiah setelah aku pulang kemarin tapi aku tak menemukan Ebah, nanya ke penghuni kost yang lain juga jawabannya sama tak ada yang tau dimana Ebah.
Karena penasaran dan feeling ku tak enak pagi nya sebelum berangkat kerja aku berniat kerumah Ebah, sambil membawa paper bag berisi hadiah buat Ebah.
Aku parkir kan motor ku di pinggir jalan, aku sangat bersemangat pengen ketemu Ebah, aku merindukan teman spesial ku itu.
Tapi... rumah Ebah sepi pintunya tertutup dan terkunci gembok.
"Ebah...!" Panggil ku sambil mengetuk pintu rumah dengan cat yang sudah pudar dan kayunya terkelupas itu.
"Ebaaaah...!" Aku kembali memanggil Ebah lebih keras, menduga-duga kemana Ebah.
"Nyari siapa mbak?" Tiba-tiba tanya sebuah suara dibelakang ku.
Aku menoleh, seorang perempuan paruh baya menatap ku bertanya.
"Ebah bu, dia ada didalam gak ya bu, aku panggil gak ada sahutan, rumahnya sepi."
"Oh Saebah yaa?" Aku mengangguk
"Saebah dua hari yang lalu dibawa sama om nya pergi mbak."
"Pergi? Pergi kemana, Bu?" Tanya ku lirih, ada perasaan sesak di hatiku kalo Ebah dibawa pergi.
"Ke Kalimantan katanya, biar Saebah ada yang ngurusin disana, Mbak."
"Rumahnya juga kan ini mau dijual, tuh tulisannya." Tunjuk si ibu. Aku menoleh kearah yang ibu tunjukkan, benar dikaca atas ada kertas putih yang ditempelkan dengan tulisan RUMAH INI DIJUAL. Aku tak memperhatikan tulisan itu karena saking bersemangatnya pengen ketemu Ebah.
Setelah mengucapkan terimakasih ke si ibu dan permisi, aku meninggalkan rumah Ebah. Dalam perjalanan ke kantor aku menangis tak bersuara, air mataku terus meleleh, Aku kehilangan Ebah. Ebah pergi dan entah apakah akan bisa bertemu lagi???
Di pinggir jalan yang sepi aku menghentikan notor ku, aku turun dan berjongkok menumpahkan tangisku. Paper bag yang rencananya aku kasih buat Ebah tapi tak sampai aku peluk erat-erat. Aku membayangkan wajah pucat Ebah dari awal ketemu sampai terakhir ketemu.
"Ebah, kamu tega pergi gak ada pamit sama aku, kenapa sekarang kamu pergi, kenapa gak nanti kamu pergi, aku sendirian ntarnya Ebah, sepi, aku tak ada kawan bercerita lagi, walaupun kamu terbatas tapi buat aku kamu itu terbaik."
"Sayonara Saebah, sodara tak sedarah ku, baik-baik kamu di Kalimantan yaa, semoga Tuhan selalu menjaga kamu."
Cirebon, Januari 2024
Teruntuk Saebah (Ebah)
Giandra