Aku tahu Dia, tapi aku belum mengenalnya...
kisah ini terjadi di tahun pertama saat aku di SMA.
Dia seorang murid laki-laki-laki yang berbeda kelas denganku, jika aku di kelas A dia berada di kelas B.
Semester pertama berlalu begitu saja, hanya terdengar beberapa gosip tentang percintaan ala anak SMA, ternyata diantara semua gosip, kisah cintanya lumayan sering terdengar di telingaku.
kabarnya dia sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis yang sering di banding-bandingkan denganku, ibarat aku bawang putih gadis itu merupakan bawang merahnya.
aku memang tidak terlalu menghiraukan omongan orang, apa pun itu yang penting aku menjalani hari-hari dengan penuh semangat.
di akhir semester kami mengadakan perjalanan wisata di daerah pantai selama satu hari, aku dan ketiga sahabatku sangat antusias kami tak sabar menikmati pemandangan indah dan bermain bersama-sama di pantai, sekaligus merileks kan pikiran yang penat karena baru selesai melaksanakan ujian semester satu.
suasana saat itu memang benar-benar memanjakan mata, aku dan ketiga sahabatku sangat bersenang-senang bermain air dan saling melempar pasir pantai, kami seperti anak kecil yang bebas dan kekanak-kanakan.
saat aku sedang bersantai dan ketiga temanku masih asyik bermain, tanpa sengaja aku melihat dia sadang berjalan dengan tergesa-gesa dan wajahnya terlihat panik, hal itu mampu membuatku penasaran dan mulai bertanya padanya.
"hei...tunggu! ada apa?"
aku berlari kecil mendekati Pemuda itu.
"aku sedang mencari obat sakit kepala"
"kamu sakit kepala?"
"bukan aku, tapi pacarku"
krikk....krikk...krikk...
ucapannya sempat membuatku terdiam.
"oh..."
tanpa menghiraukan ku dia terus berjalan meninggalkanku.
aku pun kembali ke pondok tempat tadi aku beristirahat.
saat itu aku hanya merasa Dia orang yang bersikap berlebihan dan kesan tentangnya sangat biasa saja.
hari demi hari berlalu, kami kembali ke sekolah.
ada yang berbeda di semester dua ini.
pihak sekolah berencana akan menambah beberapa kelas, agar setiap kelas tidak memenuhi kapasitas.
aku memang masih di kelas A, tapi dua orang temanku di pindahkan di kelas yang berbeda dan ada murid di kelas B yang di pindahkan ke kelas A di antaranya adalah dia.
dia yang bernama Haris.
aku sedikit kecewa karena harus berpisah dengan Wina dan Asti, tapi untungnya masih ada Nana yang masih menjadi teman sekelas ku,
semester ini Haris menjadi ketua kelas yang baru di kelas A, dia terpilih karena memang memiliki sikap yang tegas dan penampilan yang famaus.
semua berjalan seperti biasa, sampai pada suatu hari ada yang mengetuk pintu kelas kami saat jam pelajaran masih berlangsung, ternyata dia adalah gadis dari kelas sebelah yang merupakan pacarnya Haris.
gadis itu menginformasikan kepada guru yang sedang mengajar kami, bahwa dia sedang di tunggu di ruang rapat.
terlihat gadis itu sesekali melirik ke arah Haris, namun tampak Haris tak menghiraukan kehadiran gadis itu, sehingga aku berkesimpulan mungkin mereka sedang bertengkar, meski terdengar suara dari beberapa teman yang seperti bersiul untuk menggoda gadis itu.
Nana menyenggol tanganku seperti memberi isyarat agar aku mendengar ceritanya.
"Unge, katanya dia di putusin sama Haris, Nana menunjuk gadis yang masih berdiri di samping Bu guru"
"sok tau kamu, lagi pula bukan urusan kita, biarkan aja mereka berkembang dengan sendirinya"
"kamu ini, emang kamu pikir mereka anak ayam"
"udah jangan cerita terus, kerjakan aja tugas kamu"
memang sejak Haris pindah ke kelas A, aku tak pernah lagi melihat dia bareng dengan gadis itu, padahal sebelumnya mereka seperti Romeo dan Julietnya sekolah.
setelah Bu guru meninggalkan kelas, keadaan kelas mendadak menjadi ribut, mereka yang tadinya diam kini mulai berekspresi lega, melakukan tindakan sesuka hati mereka, begitu juga dengan aku dan Nana, kami bercerita tentang rencana apa yang akan kami lakukan saat pulang sekolah nanti.
saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Haris duduk di belakang kursi kami, kebetulan kursi itu memang kosong sebab ada pengurangan murid.
aku dan Nana sedikit heran dengan kelakuan Haris, dia tampak sedang menenggelamkan wajahnya di atas meja, aku berpikir mungkin dia sengaja pindah, karena di tempatnya murid-murid lain sangat berisik, mungkin dia memang ingin tidur atau sekedar beristirahat.
hal itu membuat Nana berbisik padaku,
"kenapa dia?"
aku hanya mengangkat bahu pertanda tak tahu.
Nana terus saja bercerita tentang pengalamannya semalam saat bersama Asti, ternyata semalam mereka ketemuan dengan seorang cowok dari sekolah lain.
mungkin saking antusiasnya Nana bercerita, tanpa sadar dia sudah mengganggu Haris yang berada di belakang kursi kami.
"BRISIKKKK....!"
sontak aku dan Nana melihat kebelakang.
entah kenapa mendengar suara yang bernada kasar itu membuatku sedikit naik darah.
"kalau mau tidur di rumah, bukan di sekolah"
Haris menatapku dengan wajah yang kesal, dia kembali ke tempatnya.
aku dan Nana benar-benar kesal padanya yang terkesan sombong.
saat jam istirahat aku dan Nana akan menemui Wina dan Asti, namun saat di perjalanan aku ingat lupa membawa duit untuk jajan di kantin, sehingga aku kembali ke kelas untuk mengambil uang itu, tapi saat akan masuk ternyata Haris juga akan keluar dari kelas sehingga kami saling menghalangi jalan masing-masing, saat aku berjalan ke kiri ternyata Haris melakukan hal yang sama saat aku berjalan ke kanan hal itu juga dia lakukan.
akhirnya dia berinisiatif untuk mempersilahkan aku berjalan lebih dulu, aku masih kesal padanya dan memasang wajah jutek padanya.
seperti biasa aku dan ketiga temanku berkumpul di kantin, menceritakan keseharian kami di kelas masing-masing, ada cerita yang membuatku sedikit penasaran yaitu tentang Desi pacarnya Haris, kebetulan Wina mengenal Desi karena mereka satu kelas, kata Wina Desi sedang patah hati karena di putusin sama Haris, gosipnya Haris suka sama gadis lain tapi Desi belum tau siapa Gadis itu, bahkan jika Desi mengetahui siapa orang yang sudah merusak hubunganya dengan Haris dia berencana akan melabraknya.
"itu sih, memang dasar Haris nya aja yang playboy dasar mata keranjang"
"Iya, kamu benar nge, cowok kalau sok romantis pasti ujung-ujungnya selingkuh"
(Wina menimpali)
"tapi siapa ya gadis yang menjadi incaran Haris?
(Asti penasaran)
"mungkin Unge, soalnya aku pernah dengar kalau Unge sering di banding-bandingkan dengan Desi, bahkan kakak kelas banyak loh yang kirim salam sama Unge, cuma si Unge ini terlalu cupu"
(ucap Nana)
"kok jadi aku, jangan buat gosip kamu Na!"
"eh benar, bisa jadi loh, soalnya Desi pernah tanya-tanya soal kamu sama aku"
(ucap Wina)
"ah...aku nggak mau dengar dan nggak perduli, bagiku yang penting itu persahabatan, masalah cowok itu hanya akan buat masalah aja, jadi nggak usah bahas-bahas tentang cowok lagi"
pembahasan tentang Desi dan Haris berakhir saat jam istirahat selesai, aku dan Nana kembali ke kelas begitu juga dengan Wina dan Asti.
kembali Haris pindah ke kursi belakang kami, hal itu membuat Nana sedikit kesal, sebab dia jadi tak bisa bergosip denganku karena kehadiran Haris.
"eh...Haris ngapain sih pindah ke sini?"
"kenapa, kalian nggak suka?"
"Iya, tolong deh pindah aja ke tempat kamu"
"saya di tugaskan untuk mengawasi orang-orang yang suka gosip, mau kamu saya laporkan ke Guru? "
sontak Nana terdiam mendapat ancaman dari Haris.
"jangan kamu kira aku takut ya, adukan aja kalau berani!"
"Ok, tunggu sampai Bu guru datang"
"udah Na, nggak usah di dengerin, mending ngerjain tugas yang tadi, belum selesaikan?"
aku dan Nana akhirnya fokus mengerjakan tugas dari Bu guru dan tak menghiraukan Haris yang berada di kursi belakang.
tiba-tiba aku merinding, biasanya tubuhku bergetar saat ada seseorang yang dengan sengaja menyentuh rambutku, meskipun hanya sedikit di ujung rambut yang tersentuh aku pasti langsung merinding.
aku menoleh kebelakang, tempat di mana Haris duduk, ternyata dia sedang memainkan rambutku.
"apaan sih?"
"ups...Sory, tadi rambut kamu mengganggu aku, terbang mengenai wajahku"
memang rambut ku panjang, tapi nggak masuk akal bisa sampai terbang mengenai wajahnya.
aku menggulung rambutku dan mengikatnya dengan penjepit rambut.
"dasar aneh"
"jangan-jangan benar yang di bilang Wina, sepertinya Haris sedang mendekati kamu"
(bisik Nana)
"ih...malas banget di deketin sama cowok playboy kayak dia, dia pikir dia paling ok apa?"
"eh...orangnya di sini, jangan di gosip in terus"
(Haris menimpali)
aku dan Wina menghentikan pembicaraan dan kembali mengerjakan tugas, keberadaan Haris membuat ruang gerak kami sedikit terganggu.
keesokan harinya Haris kembali duduk di kursi belakang kami, beberapa guru juga menegurnya , namun dia beralasan lebih nyaman di tempatnya sekarang sehingga guru membiarkannya saja, beberapa murid lain malah menyindir, mengatakan dia sengaja pindah agar bisa mendekati Bunga dan Nana.
setiap pergantian jam pelajaran saat guru belum masuk ke kelas Haris menyempatkan diri mengganggu ku, sepertinya dia suka sekali memainkan rambutku, hal itu membuat ku risih, setiap aku menegurnya dia selalu beralasan rambutku mengenai wajahnya, dia pikir ini film india, dan berpikir aku bodoh mempercayai ucapannya.
"apa?"
aku membentaknya
"apa?"
eh...dia malah membalasku sambil melotot.
"udah nge, nggak usah di ladeni, dia emang lagi cari perhatian, kasihan ya yang lagi jomblo lagi cari mangsa baru ya?"
"siapa yang jomblo?"
Haris tak terima dengan pernyataan Nana.
Beberapa hari berlalu...
Saat aku baru tiba di sekolah, tiba-tiba Nana mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Nge, Haris suka sama kamu"
pernyataan Nana terdengar sangat lucu, Nana tau aku memang tak pernah menaruh rasa pada siapapun tak terkecuali pada Haris.
"jangan bercanda Na,?"
"ini serius, Haris sendiri yang minta agar aku menjodohkan kamu dan dia"
"aku nggak mau ya, Na. kamu tau aku nggak suka sama dia, lagi pula dia itu cowok nggak benar"
"menurut aku Haris nggak gitu, dia lumayan baik kok"
"aku curiga sama kamu Na, kamu di janjikan apa sama dia"
"nggak ada Nge, sumpah! semalam waktu pulang sekolah dia ngajak aku bicara, dia mengutarakan perasaannya, benaran dia suka sama kamu, aku sempat bilang kalau kamu nggak bakalan mau sama dia, tapi dia minta tolong terus sama aku, aku sampai luluh di buat nya."
"terus....!"
"Dia ngajak aku makan bakso"
"Oh...Pantas aja kamu bilang dia baik, ternyata karena satu mangkok bakso"
"nggak gitu nge, seriusan dia cinta mati sama kamu"
"nggak mau Na, jangan jodoh-jodohin aku sama dia"
"ya udah deh terserah kamu aja, aku janji nggak maksa kamu."
jam istirahat...
seperti biasa kami ngumpul di kantin, saat itu aku mengajak Wina ke toilet dengan niat ingin curhat tentang Nana yang berusaha menjodohkanku dengan Haris, Wina menasehatiku agar mendengarkan kata hatiku sendiri, jangan karena tak enak pada Nana malah mengikuti semua keinginannya.
Wina paling mengerti tentangku, dia selalu tau apa yang ada dalam hatiku, dia selalu menyebutku gadis penurut terkadang sikapku yang seperti itu yang membuat Nana selalu memaksakan kehendaknya padaku.
"Nge ingat, kata-kata ku, kalau kamu nggak suka jangan di terima, aku yakin Nana pasti akan terus meyakinkan kamu, seperti waktu itu dan akhirnya kita jadi bertengkar"
"Iya, Win"
ternyata ucapan Wina benar, Nana belum menyerah, saat pulang sekolah Nana beralasan mengajakku membeli buku, ternyata di sana sudah ada Haris dan Joko.
Nana mengambil kesempatan minta di belikan buku-buku ke sukaan nya pada Haris, dan Haris tanpa bertanya menyetujui semua yang di inginkan Nana.
setelah selesai Nana malah minta di antar pulang sama Joko, sepertinya Nana sengaja membiarkan aku berdua saja dengan Haris, jujur aku kesal padanya Nana.
aku benar-benar bingung harus seperti apa saat berdua dengan Haris, tanpa teman-temanku aku seperti anak ayam kehilangan induk.
saat di perjalanan tiba-tiba Haris menghentikan langkahku, dia menahanku dengan menarik pergelangan tanganku.
aku menepis pegangan nya.
"apa sih?"
"aku mau bicara sesuatu?"
situasi itu bisa membuatku sedikit cemas, sepertinya aku tau apa yang akan di ucapkan Haris, aku benar-benar tak siap mendengarkannya.
"Aku menyukai kamu"
deg...
meski aku belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi mendengar pernyataan cinta ternyata membuatku berdebar juga.
"aku nggak!"
"kenapa?"
"nggak suka sama cowok hidung belang dan suka mempermainkan cewek"
"itu kan cuma gosip, aslinya aku setia kok"
"sejak kapan maling ngaku maling, pasti ngakunya sebagai pahlawan, padahal penipu"
"kalau nggak percaya, belah aja dadaku"
krikk....krikk...krikk...
"aku tau pasti ada panu nya kan?"
eh.. Haris malah tertawa...
"Unge...Unge...bisa melucu juga kamu, kirain orangnya serius, jadi gimana?"
"apanya?"
"di terima nggak?"
"di bilang nggak, kok maksa!"
"maksudnya nggak nolak kan?"
kok kesal ya, sama ni cowok?
"Ok gini aja, kalau nanti saat pulang kerumah, sekali aja kamu teringat sama aku berarti kita udah jadian, gimana setuju nggak?"
"aneh banget sih jadi orang, suka banget menyimpulkan sendiri"
"kalau nggak di terima aku tungguin di sini sampai pagi, biar aja di tanyain sama tetangga, yang malu kan kamu"
"ngapain sih, nggak usah aneh-aneh, pulang aja deh kamu, nanti aku di tanya-tanya sama orang tuaku"
"atau aku minta izin nya sama Mama mertua, biar langung ijab qobul"
"jangan gila kamu, yang ada aku di bunuh sama orang tuaku"
"ya udah terima aja, kan selesai"
karena takut ketahuan Mama akhirnya aku mengatakan
"terserah kamu aja deh"
itu semua aku lakukan agar dia cepat pergi dari depan rumahku.
kenapa dia harus mengikutiku sampai di depan rumah?
setelah memastikan Haris sudah pergi, aku baru berani masuk ke dalam rumah, untung saja Mama tak sempat melihat Haris.
ternyata benar ucapan Haris, tiba-tiba aku memikirkannya.
benar-benar tidak masuk di akal, aku juga sempat membayangkan wajahnya, sangat memalukan, dia sudah mempengaruhi alam pikiranku, apa ini caranya saat mendekati Desi?
"apa benar aku sudah jadian dengan Haris?"
***
setelah Haris menyatakan cinta padaku, sikapnya berubah 180 derajat, dia memang baik dan juga perhatian.
setiap pulang sekolah aku Haris Nana dan Joko selalu bersama, hari demi hari kami semakin akrab.
seperti hari ini hujan turun sangat deras, kami berempat pulang bersama sambil bermain hujan, kami basah kuyup dan kedinginan, saat itu Haris menawarkan agar singgah di kosan tempat tinggalnya, Nana dan Joko setuju, aku tak punya pilihan lain dan kami pun mengunjungi kosan Haris.
tempat itu sepi, penghuni lain sepertinya belum pulang.
Haris meminjamkan handuk dan kaos ganti untukku, sedangkan Nana dan Joko memilih membiarkan baju mereka kering di badan.
rasanya aneh memakai baju Haris, apa lagi Nana dan Joko tampak tersenyum seperti sedang mengejek ku.
Setelah hujan reda, kami pamit pulang, tapi Haris memaksa mengantarkanku pulang.
suasana saat itu sangat canggung, untuk pertama kalinya aku merasa malu.
"kenapa kamu lihatin aku terus?"
"aku lagi senang"
"senang kenapa?"
"kamu pakai baju aku, rasanya seperti di peluk sama aku kan?"
"dasar mesum, besok aku kembalikan"
"buat kamu aja, biar jadi kenang-kenangan, kalau kamu rindu aku tinggal peluk aja"
"apaan sih, norak banget!"
"tapi kamu suka kan?"
"terserah kamu aja deh!"
anehnya saat aku sudah berada di rumah, aku malah melakukan hal bodoh, ucapan Haris memang benar, tiba-tiba aku merindukannya, aku terus menatap ke arah baju yang tergantung di jendela kamarku, tanpa sadar aku meraihnya dan memeluknya, aku merasakan aroma Harum Haris yang masih menempel di baju itu.
sebenarnya apa yang terjadi padaku?
keesokan harinya....
saat pulang sekolah Wina mengajak kami main kerumah teman sekelas nya yang bernama Sarah, banyak teman-teman yang ikut, bahkan ada Desi juga.
di rumah Sarah kami ngobrol-ngobrol, yang lain sibuk pacaran dengan pasangannya masing-masing, bahkan Tuan rumah menghilang entah kemana, saat itu rumah Sarah memang sepi, Wina bilang Mama dan Papanya sedang pergi, itulah mengapa Sarah berani mengundang kami kerumahnya.
saat itu Haris sengaja duduk di sampingku, hal itu membuatku sedikit canggung, sebab sedari tadi Desi menatap ke arah kami, Haris juga seperti sengaja menggenggam tanganku.
dari wajahnya Desi terlihat sangat kesal, namun Haris sepertinya memang ingin membuat Desi cemburu, kini Haris membelai rambutku dan berbisik padaku.
"kita ke atas yuk!"
"ngapain?"
"ada yang mau aku bicarakan, penting!"
"bicara di sini aja"
"udah ikut aja, cuma sebentar kok, di sini banyak orang"
Haris menarikku, kami menuju lantai atas rumah Sarah yang merupakan balkon, tempat menjemur pakaian.
"ada apa?"
"nggak ada, cuma mau berduaan aja sama kamu, di dalam terlalu berisik"
sore itu, aku dan Haris melihat pemandangan di balkon rumah Sarah, suasananya cukup menyenangkan, banyak angin dan burung-burung yang terbang di langit.
tiba-tiba Haris memelukku dari belakang, tubuhnya yang tinggi dapat menenggelamkan tubuhku dalam dekapannya, yang ku rasakan saat itu adalah kehangatan dan gemetar.
tiba-tiba Dia berbisik di telinga ku.
"aku sangat sayang sama kamu, jangan pernah tinggalin aku"
aku hanya diam saja, tak bertanya ataupun menjawab.
"kenapa aku merasa kamu nggak menyukai ku?"
seperti biasa aku memang selalu gugup saat bersamanya, dalam berkomunikasi aku memang kurang terbuka pada Haris, berbeda saat aku bersama sahabatku, mungkin Haris ingin aku juga menganggapnya seperti seorang teman.
Haris membalikkan tubuhku, saat itu kami saling menatap, aku tak berani menatap matanya, hal itu membuat tubuhku bergetar.
beberapa kali dia membelai ujung rambutku, aku merasa seperti patung batu yang sulit bergerak bahkan berbicara.
kemudian tiba-tiba dia menyentuh dagu ku, mengangkatnya, aku tak berani berbuat apa-apa, hanya mengikuti permainannya.
untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh dari dalam diri ku, saat bibirnya menyentuh bibirku, itu terasa dingin awalnya, namun beberapa detik kemudian rasa hangat menjulur ke seluruh tubuhku.
aku dapat merasakan saat dia menarik pinggang ku, sehingga tak ada jarak di antara kami, dalam keadaan bibir masih saling beradu, tangan satunya membelai rambutku yang panjang, saat itu dunia terasa aneh, hatiku juga aneh.
di satu sisi ada rasa bersalah dalam diriku, di sisi lain ada rasa penasaran dalam diriku.
apa aku sudah terjebak dengan perasaan cinta?
atau semua ini hanya permainan?
***
Ternyata cinta itu aneh!
ada perasaan yang berbeda saat aku merasakannya, kini aku selalu gelisah dan merindukannya,