Bandung, 1 Nopember 2015, kala itu aku dan 7 sahabatku mencoba untuk
mewujudkan sebuah impian yang menurut kebanyakan orang impian tersebut mustahil
untuk dicapai. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB seperti biasa aku dan ketujuh
temanku bermain dirumah Rifa, yaps Rifa adalah seorang anak yang cantik, tinggi, dan juga
memiliki kulit yang putih sehingga tidak salah jika banyak laki-laki yang tergila-gila padanya
tapi Rifa ini orangnya sangat pendiam dan terkadang tidak begitu peduli dengan godaan
laki-laki disekitarnya.
Oh iya sampai lupa, perkenalkan namaku Dewi aku anak ke 3 dari 4
bersaudara umurku 20 tahun, ini cerita yang aku alami bersama ke 7 temanku Rifa, Rita,
Risa, Nada, Widia, Samla, dan Amanda.
Kita berteman ketika SMA, awalnya kami hanya bermain-main biasa seperti pulang
sekolah kita nongkrong, main-main ke mal atau hanya jalan-jalan disekiar jalan
cikangkarungan untuk mencari jajanan-jajanan dipinggir jalan, ya memang kami ini
tergolong orang yang males dengan suasana kota yang begitu riuk dengan kebisingan dan
polusi polusi yang ditimbulkan dari kendaraan yang melintas disekitar jalan. Kami
sebenarnya memiliki impian ingin berada di atas awan suatu saat nanti tapi ya mungkin itu
suatu hal yang sulit dicapai secara gitu kita adalah kaum rebahan jangankan untuk berada
diatas awan, acara camping disekolah aja kita malah sewa hotel karena males dengan tenda
yang kotor iuhh.....
Hari demi hari kita lewati bersama, mau berangkat sekolah ataupun pulang sekolah
kita selalu bersama-sama sampai waktu kelulusan diumumkan, disitu kita merasa senang
sekaligus sedih, kenapa? Ya senang karena kami bisa terlepas dari bayang bayang guru BK
yang selalu menghantui kami dan sedihnya kita harus berpisah satu sama lain karena
setelah lulus dari SMA kita tidak akan satu kampus, apalagi Amanda orang yang paling alim
diantara kami, ia berniat melanjutkan kuliah ke Cairo Mesir tepatnya di AL AZHAR, yaa
keseharian dia belajar bahasa arab meskipun kita sekolah di SMA negri yang bukan berbasis
pesantren tapi amanda ini sangat lihai berbahasa arab, terkadang aku bete kalau dia sudah
berbicara bahasa arab karena aku hanya tau Na’am dan La hehe..... terus Rifa dia yang super
duper cantik berniat melanjutkan kuliah ke Jombang dengan mengambil jurusan ternak lele,
memang si sedikit aneh dengan sikap Rifa yang super duper cuek tapi kecintaannya
terhadap lele menghantarkan niatnya untuk menjadi peternak lele di jombang tempat
kelahirannya yang begitu ia cintai. Aku sendiri ingin melanjutkan kuliah ke AMERIKA SERIKAT
karena ingin mengikuti idola RITA,SAMLA,WIDIA,NADA,dan RISA inign melanjutkan kuliah di
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) karena mereka semua bercita-cita menjadi guru.
Setelah kelulusan tersebut aku yang berniat mempelajari bahasa Inggris dengan fasih
mengisi liburanku hanya untuk belajar, belajar, dan belajar. Sampai tidak terasa sudah 3
bulan lamanya aku belajar bahasa Inggris dan hasilnya lumayan lah sedikitnya aku bisa berbicara dengan bule bule hehe... ketika itu aku ingat teman-temanku, apa kabar ya
mereka? Ketika aku sedang menonton TV disana sedang menunjukkan gunung rinjani
selintas otakku mengingat impian aku dan teman-teman untuk berada di atas awan suatu
saat nanti, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat sebelum kita benar-benar berpisah
untuk melanjutkan pendidikan. Seketika aku langsung mengambil Hp ku dan mencoba
mengabari teman-temanku yang sudah lama aku tidak bertemu mereka karena kesibukan
masing-masing.
“halo gais, apa kabar? Aku harap kabar kalian baik-baik saja, aku kangeeeeeeen
banget sama kalian apa kalian kangen juga sama aku? Jahat banget kalo kalian ga kangen.
Oh iya aku ada rencana sebelum kita semua benar benar berpisah pokoknya ini acara tidak
akan pernah kalian lupakan seumur hidup kalian, pokoknya keren banget deh. Pokoknya
semua harus ikut, rencana ini seminggu lagi pokoknya dua minggu kedepan kalian yang
mempunyai acara batalin semuanya okee..... selama seminggu ini kalian semua siapkan fisik
dan mental dan barang-barang yang harus kalian bawa antara lain : Sepatu, jaket, makanan,
obat-obatan pribadi yang mempunyai keluhan pribadi, tas berukuran 80L, senter, headlamp,
sleepingbag, dan masker. Kita bertemu di station batulengit pukul 2 siang, jangan pada
ngaret yaa.... sampai bertemu seminggu lagi. Salam orang yang sangat merindukan kalian”
Seminggu telah berlalu dan waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba saat ini aku
merasa hatiku begitu dag dig dug antara senang bisa bertemu teman-teman lagi dan aku
sedikit merasa ragu dengan perjalanan yang akan aku lalui ini tetapi aku harus yakin dan
tetap tenang, waktu telah menunjukkan pukul 12 siang setelah selesai sholat dzuhur aku
bergegas pergi ke station dan ternyata teman-temanku yang lain sudah menunggu sekitar
satu jam yang lalu dalem hati aku berfikir gilee mereka rajin bener hehe. Ketika mereka
melihat ke arahku aku bergegas berlari menghampiri mereka dan kita semua saling
berpelukan meluapkan semua kerinduan yang kurang lebih tiga bulan lamanya dipendam
tidak terasa kereta tujuan kami sudah siap untuk dinaiki dan kami bergegas untuk naik
karena takut tidak kebagian kursi setelah naik kereta lalu kita naik pesawat dengan tujuan
lombok dan temanku bertanya mau dibawa kemana mereka? Dan aku hanya tersenyum
kearah mereka dan meyakinkan ini akan sangat seru pokoknya dan mereka hanya
mengangguk dengan wajah yang kebingungan.
Keesokan harinya pukul 6 pagi WIT kami telah sampai dilombok dan kami menaiki jip
untuk sampai di basecamp pendakian gunung rinjani setelah sampai di basecamp dan kita
melakukan registrasi baru deh aku ceritakan kepada mereka tujuan kita kesini adalah berada
diatas awan gunung tertinggi ke 3 di Indonesia. Ketika dibasecamp ada aku bertanya
mengenai cuaca saat itu dan menurut orang sana sudah beberapa minggu terakhir hujan
badai dan tidak ada pendaki yang kuat sampai puncak dan bahkan banyak diantara mereka
tumbang karena terkena hipotermia disitu aku sangat terpukul tetapi aku tidak ingin pulang
lagi karena kita sudah tanggung jauh dari rumah tapi aku juga berfikir tidak mau jika terjadi
yang tidak-tidak terhadap kita jika melanjutkan perjalanan, ketika itu aku menunggu sampai jam 10, jika jam 10 tidak terjadi hujan aku dan rombongan berniat untuk melanjutkan
perjalanan dan ia jam 10 hujan ternyata hujan tetap turun meskipun gerimis, dan tak lama
setelah itu ada yang mengabari kami jika di atas sedang badai serta ada satu perempuan
yang terkena hipotermia atau daya tahan tubuhnya menurun drastic sehingga suhu
tubuhnya menurun sampai menggigil awalnya kami sempat ragu untuk melanjutkan
pendakian dan juga banyak warga di sana untuk menyarankan kami untuk pulang lagi, tetapi
karena ambisi dan sebuah keegoisan kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan
menggapai impian sebelum berangkat kita berdo’a terlebih dahulu untuk keselamatan.
Post satu kami lewati dengan aman dan ada yang unik dari perjalanan menuju pos
satu kita berangkat tidak jalan kaki tetapi menaiki motor dan motor itu kami namakan
motor setan karena kia dibuat jantungan dengan kecepatan tinggi dan jalanan yang curam,
jikalau kita terjatuh saat itu kemungkinan untuk hidup kecil hehe, tapi Alhamdulillah kita
sampai dengan selamat , dan ketika menuju post 2 hujan mulai turun dan kami tetap
melanjutkan pendakian ke post 3 dan ketika perjalanan menuju post 4 hujan semakin deras
serta tidak ada tempat berteduh kita sedang berada di tanjakan engkol-engkolan suatu
tanjakan yang sangat curam dan paling dibenci pendaki dimana kerelativannnya bias
mencapai 60 derajat serta tanah merah yang basah karena air hujan semakin mempersulit
langkah kita untuk melanjukan perjalanan tetapi tidak ada pilihan lain karena saat itu tidak
ada tempat berteduh sama sekali kurang lebih 2 jam kita terjebak dan selama 2 jam
tersebut kita hanya mampu naik beberapa meter saja dikarenakan jalan licin dan beban
berat sangat mempersulit langkah, ingin rasanya aku membuang tas ini dan bodohnya aku
karena ya memang awam tentang pendakian aku salah packing tas dan akhirnya semua baju
dan logistik basah semua setelah kami hamper putus asa Rifa melihat ternyata tempat
perkemahan sudah dekat dan ketika telah sampai hujan pun tidak reda malahan semakin
deras dan mau ga mau kita harus membuat tenda ditengah guyuran hujan yang begitu deras
dan teman-temanku tidak ada yang bisa mendirikan tenda, setelah tenda berdiri seadaanya
kita bergegas masuk tanda membereskan didalam tenda dan seketika didalam tenda
suasana begitu tegang Nada dan Rifa tidak henti hentinya menangis yang membuat suasana
menjadi begitu tegang, disitu aku merasa bahwa jadi satu-satunya orang yang pantas
disalahkan atas kejadian ini dan yang tadinya aku berfikir akan menjadi moment seru
berubah seketika menjadi moment yang sangat menegangkan, aku ingin sekali menangis
tetapi aku tidak boleh memperlihatkan kesedihanku yang bisa membuat teman-temanku
menjadi panik akhirnya aku berpura-pura tenang. Tak lama kemudian Samla terkena
hipotermia suasana didalam tenda semakin menegangkan mereka semakin nangis menjadijadi dan suasana hatikupun sudah tidak bisa dikontrol lagi dan tak terasa air mata ini turun
begitu derasnya tak bisa tertahan lagi tetapi aku tetap haruss bisa membantu Samla yang
terkena hipotermia dan setelah beberapa lama akhirnya Samla sedikit membaik dan suhu
tubuhnya sedikit demi sedikit menjadi hangat, dan suasana tenda sedikit menjadi tenang
dan kita memutuskan untuk tidur ditengah guyuran hujan dan badai. Ketika pagi hari aku mencoba untuk keluar tenda dan begitu menakjubkan
masyaaAllah pemandangan disekitar begitu indah dengan awan berada dibawah kita
meskipun kita masih jauh menuju puncak, dan aku bergegas untuk membangunkan temanteman yang lain ketika itu jam menunjukkan pukul 2 pagi dan sudah ada beberapa
rombongan pendaki yang melakukan summit attack dan aku mencoba mengajak mereka
untuk bergegas, semua siap kecuali samla yang masih terlihat begitu lemas dan akhirnya
Samla dan Nada tidak ikut summit attack dan kami langsung bergegas pergi kurang lebih 3
jam kami sudah sampai puncak tertinggi gunung rinjani perasaanku campur aduk saat itu
aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang bisa menjawab semuanya dan tak lama
dari itu kami bergegas turun kembali karena ingat Samla dan Nada ketika sampai di tenda
akhirnya kami lega karena mereka dalam keadaan baik-baik saja, tetapi aku melihat cuaca
mulai mendung dan aku mencoba memberi saran untuk menunda untuk turun dari gunung
karena aku tidak mau terkena badai untuk kedua kalinya di perjalanan tetapi Rifa tetap ingin
pulang saat itu juga dan aku sedikit kesal dengan dia tapi ya bagaimana lagi akhirnya aku
dan yang lainnya memutuskan untuk membereskan tenda dan bergegas turun dan baru
sampai post 2 dan yang ditakutkan terjadi badai kembali turun dan kami terjebak ditengahtengah dan yang paling menyebalkan perutku terasa sakit karena lapar dan logistik kami
habis karena kemarin terkena air hujan tetapi Alhamdulillah atas pertolongan dan kuasa
Allah SWT ada salah satu rombongan dari wonogiri memberikan semua logistiknya kepada
kami dan kami saat itu segera makan ternyata tak terasa waktu semakin larut dan tidak ada
rombongan pendaki selain kita ditambah kondisi badan yang tidak sehat serta badai yang
tidak kunjung usai memutuskan kami untuk membuat tenda di selther.
Selther adalah tempat istirahat para pendaki dan tidak boleh untuk setiap pendaki
untuk membuat tenda disana, tetapi karena badai yang begitu deras yang tidak mungkin
kami membuat tenda selain di selther mau ga mau demi keselamatan kami akhirnya
membuat tenda didalam selther meskipun konsekuensinya jika ada pendaki lain kita akan
kena marah dan benar saja ketika kita sedang memasak makanan ada rombongan pendaki
dari purwokerto menegur kami tetapi tekad kami sudah bulat lebih baik melanggar daripada
harus merenggut nyawa, tetapi saat itu aku gak bias tidur badanku terasa sakit dan kepala
pusing ingin aku teriak sekeras kerasnya tetapi aku takut membangunkan teman-temanku
yang sedang tertidur pulas, waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan perutku terasa sakit, aku
ingin buang air besar tetapi aku takut karena suasana diluar angina sangat kencang
meskipun hujan sudah mulai reda, Samla dan Rifa terbangun, dan aku menceritakan bahwa
perut ku sakit aku ingin buang air besar awalnya mereka bingung dan melarangku untuk
keluar dari tenda tetapi perutku sudah tak tahan, dan aku memutuskan untuk keluar tanpa
memikirkan apapun ketika aku keluar, dan benar saja angin begitu kencang sampai aku
melihat pohon banyak yang tumbang tetapi bagaimana lagi aku sudah tidak tahan akhirnya
aku bergegas mencari tempat dan aku mencoba untuk turun ke jurang karena aku takut ada
pendaki lain melewat meskipun ya logikanya jam segitu mana ada pendaki lewat apalagi
sedang angina kencang. Setelah selesai aku segera bergegas kembali ke tenda karena takut terjadi apa-apa dan ketika aku sampai di tenda Samla dan Rifa menunggu ku dengan penuh
kecemasan dan mereka terlihat tenang ketika aku sampai di tenda, dan setelah itu kami
memutuskan untuk melanjutkan tidur kembali.
Keesokan harinya badai mulai reda dan kami siap-siap packing untuk segera pulang
karena takut terjebak badai lagi, ini serasa mimpi buruk bagiku setelah selesai packing kami
semua berdo’a dan segera melanjutkan perjalanan untuk pulang dan aku bersyukur selama
perjalanan menuju basecamp tidak ada badai untuk kesekian kalinya setelah kami sampai di
basecamp kami memutuskan untuk segera menuju bandara dan ketika dibandara kami
membersihkan badan dengan mandi dll, setelah selesai sembari menunggu penerbangan,
kita berbincang-bincang tentang pengalaman selama digunung dan ternyata banyak dari
teman-temanku yang mengalami hal-hal mistis seperti suara gamelan ketika di post 2, atau
bayangan menyerupai pocong di tanjakan menuju post 3 serta ada beberapa jalan yang
awalnya tidak ada menjadi ada tetapi karena semuanya telah berlalu kami berbincang
dengan santai dan tertawa dan akhirnya jadwal penerbanganpun tiba kami segera bergegas
pulang. Dan menurutku itu adalah suatu pengalaman yang sangat berarti dalam hidupku
bagaimana arti perjuangan dan persahabatan semuanya diuji dalam waktu yang bersamaan.
“JANGAN MENINGGALKAN SESUATU KECUALI JEJAK, JANGAN MEMBUNUH SESUATU
KECUALI WAKTU, DAN JANGAN MEMBAWA SESUATU KECUALI KENANGAN. DAN SETIAP
JALAN YANG KAU AMBIL AKAN SELALU MEMBAWA KAU PULANG”