"I hate you for not Letting me love you, Affra!!!!" teriak Ardhana kepada seorang wanita cantik yang sedang berdiri di hadapannya. Di sudut ini, salah satu sudut paling misterius di candi Borobudur. Berdirilah 2 (dua) anak manusia saling berhadapan, seperti sedang membicarakan sesuatu. Dengan latar belakang relief-relief yang indah sekaligus misterius, menjadi saksi bisu pembicaraan mereka yang cukup serius.
"Maafkan aku Ardhana, aku tak bisa membalas perasaanmu"kata Affra.
"Tapi apa alasannya?" tanya Ardhana
"Karna di hatiku sudah ada nama orang lain, Ardhan. Aku hanya bisa menjadi sahabatmu tapi tak bisa memberikan lebih" jawab Affra.
"Siapa?, Arion?, apa kamu yakin dia memiliki perasaan yang sama terhadapmu?, apa dia tahu tentang perasaan mu?" cercaan pertanyaan Ardhan kepada Affra.
"Cukup Ardhan!!..kamu tak berhak tahu apapun tentang aku dan Arion!!" bentak Affra.
"Jika Arion pun belum tahu perasaanmu, aku masih berkesempatan mendapatkan mu!!" jawab Ardhana kepada Affra.
Wanita cantik ini tak menjawab kata-kata Ardhana, dia hanya segera berlalu meninggalkan Ardhana sendirian di sudut itu dengan perasaan yang hancur, seorang mikrobiologi yg tegar, kuat seakan runtuh hatinya hanya oleh seorang wanita, bahkan serumit-rumitnya makhluk mikroorganisme, baginya perasaan wanita masih lbih rumit. Affra segera menyusul Arion yang sedang berada di lorong pertama tingkat tiga bagian barat candi, tepatnya di lorong lalitawistara.
Tampak seorang lelaki sedang mengamati beberapa relief di lorong itu, sambil sesekali dia mencatat sesuatu setelah melihat beberapa gambar di panelnya.
"Arion" suara Affra memanggil. Lelaki tersebut segera menoleh ke arah sumber suara.
"Ya....Affra...kenapa kamu menyusulku kesini, bukannya tadi kamu bilang mau lihat sudut kaki candi" jawabnya sambil tersenyum.
"Arion...aku menyukaimu" kata Affra secara tiba-tiba.
Arion hanya terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Affra, perasaannya begitu berkecamuk, di satu sisi ada perasaan bangga karna seorang wanita secantik Affra mengagumi bahkan menyatakan perasaan kepadanya, tapi di satu sisi dia juga masih mengejar impiannya menjadi seorang bioarkeologi.
"Arion...apapun yang terjadi aku ingin selalu bersamamu, apapun yang terjadi, aku sudah menunggumu sekian lama, 4 tahun aku kehilangan kesempatan menyatakan perasaan ku, aku gak mau lagi mensia-siakannya" kata Affra sambil memegamg tangan Arion.
Empat tahun yang lalu, adalah dimana mereka masih sama-sama kuliah di universitas yang sama, hanya saja Arion yang mengambil jurusan Seni Budaya sedangkan Affra di Biologi. Bayangan Arion tiba-tiba menerawang seakan dia mengingat kembali ketika dia terpesona dengan senyum seorang wanita cantik hanya saja dia tak punya keberanian mendekati wanita itu. Kini wanita itu berdiri di hadapannya, memegang tangannya dan menyatakan perasaan cinta secara langsung. Seolah tersihir dengan suasana, Arion segera menepis jauh-jauh pikirannya tentang impian besarnya, dia tak mau mensia-siakan kesempatan ini.
2 hari kemudian,
Di sudut sebuah ruangan, nampak seorang lelaki sedang berkutat dengan tabung kimia dan sebuah mikroskop. Dia nampak begitu serius, dengan wajah yang begitu serius serta nampak seolah-olah dia bergumam kecil.
"Apa yang sedang bapak lakukan?" tanya seorang wanita muda yang sepertinya asisten lelaki tersebut.
"Apa kamu tidak melihat apa yang aku lakukan!" jawabnya dengan agak sedikit ketus.
"Saya tahu bapak sedang mengerjakan sesuatu, tetapi mengapa bapak meminta sampel virus purba itu, dan mengutiknya dengan menambah protein ke dalamnya, pak ini sungguh berbahaya, apa anda mau menghancurkan umat manusia"kata wanita itu.
"Aku marah, dendam ke mereka berdua, kenapa kesempatan itu tidak ada padaku"kata Ardhan kepada Pramidita. Yaaa lelaki itu adalah Ardhana, seorang ahli mikrobiologi, sedangkan wanita itu adalah Pramidita asisten lab nya.
"Bapak pernah dengar cerita tentang Rahwana?" tanya Pramidita.
"Yaaa harusnya aku menculik Affra dari Arion seperti yang dilakukan Rahwana kepada Sinta" jawab Ardhan.
"Bapak salah kalo berpikir seperti itu, rahwana betul menculik dewi Sinta..tetapi Rahwana tak pernah menyentuh, menyakiti, bahkan memaksa nya...Rahwana menunggu begitu lama agar dewi Sinta menerimanya secara tulus...Rahwana raja Alengka sang raksasa buruk rupa, tpi begitu lembut memperlakukan seorang wanita...itulah cinta pak" jawab Pramidita kembali.
"Ardhana sempat tertegun mendengar cerita Pramidita, segera dia menghentikan kegiatannya, nampak dia tertarik mendengar cerita pewayangan tersebut.
"lanjutkan!" katanya
"Dari cerita Rahwana & dewi Sinta kita bisa menarik kesimpulan pak, bahwa cinta jika tak ditakdirkan tak akan bisa kita dapatkan, tpi setidaknya kita masih bisa melakukan yang terbaik bagi orang yang kita cintai"kata Pramidita.
"kring...kring....kring...kring" terdengar dering ponsel Ardhana. Terlihat di layarnya atas nama Affra. Tanpa pikir panjang dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallooo...Ardhan, tolong Arion"suara Affra di seberang sana.
seakan ingin marah mendengar kata-kata Affra yang menyebut nama Arion.
"Ardhana Arion sedang dirawat di rumah sakit, keadaannya kritis, dia ingin bertemu denganmu" kata Affra sambil menangis sesenggukan.
mendengar kata-kata tersebut hatinya begitu perih, teringat kebersamaannya dengan Arion bertahun-tahun yang lalu dan sekarang sahabatnya sedang tak berdaya dengan keadaan kritis.
"Di rumah sakit mana?" tanyanya segera. Setelah Affra memberikan alamat rumah sakitnya, tanpa sepatah kata pun Ardhana segera menuju ke alamat yang dimaksud.
Dibalik pintu kaca Ardhana sedang mengamati Arion yang terpasang berbagai macam alat medis, alat pernapasan, alat pacu jantung dan monitor yang mengamati garis gerak denyut jantungnya, tampak juga kepalanya terbalut perban putih.
"Apa yang terjadi dengannya?, kenapa bisa terluka parah seperti ini?" tanya Ardhan kepada Affra.
Sambil menangis sesenggukan Affra begitu berat menjawab pertanyaan Ardhan.
"Ini semua salahku, Ardhan...ini semua salahku" kata Affra
"Apa maksudmu?, jangan bertele-tele cepat katakan!" bentak Ardhan.
"Waktu itu....masih di borobudur, Arion mencarimu, dia berniat membagi kebahagiaannya bersamamu, aku menceritkan semuanya, kejadian yang sesungguhnya di sudut karmawhibangga, dan dia marah besar kepadaku. Dia bilang kepadaku, bahwa kamu adalah salah satu yang terpenting dalam perjalanan hidupnya lalu dia berlari menuruni anak tangga berusaha mengejar kepergianmu tpi naas dia terpeleset jatuh dan berguling beberapa kali serta dokter memvonisnya dia memiliki kelainan pada jantungnya"jawab Affra dengan menangis.
Ardhana membayangkan beberapa tahun yang lalu ketika mereka berdua masih remaja, seorang Ardhana yang telah kehilangan ayahnya dalam kecelakaan, serta dia yang membutuhkan donor darah untuk bertahan hidup, datanglah Arion yang segera menyodorkan dirinya untuk jadi pendonor Ardhana ketika dalam keadaan kritis. Setelah Ardhana tersadar dari koma nya Arion segera memperkenalkan dirinya untuk menjadi teman. Pada waktu itu Arion adalah anak dari salah satu perawat senior di rumah sakit dimana Ardhana dan almarhum ayahnya dirawat.
Lamunan Ardhana tersadar ketika Affra tiba-tiba memegang tangannya. Ardhana begitu iba kepada wanita yang dicintainya ini, serta merasa sangat bersalah kepada sahabatnya, hampir saja karna keegoisannya dia akan menghancurkan segalanya.
"Dia sudah pernah menyelamatkanku, mungkin sudah saatnya dia yang mendapatkan kehidupan kedua nya"kata-kata Ardhana yang segera membuat Affra terkaget.
"Katakan kepadanya....suatu saat nanti ketika dia membuka matanya, katakan aku akan selalu bersama nya, seperti dulu yang dia lakukan kepadaku"Ardhana mengatakannya sambil matanya berkaca-kaca dan berlari meninggalkan Affra.
1 bulan kemudian,
Setelah melalui proses yang panjang, kini Arion membuka mata nya kembali, dalam masa pemulihannya setelah melakukan transplantasi jantung tiba-tiba dia menanyakan sosok sahabatnya. Seolah marah mengapa sahabatnya tak pernah menjenguknya. Affra pun terdiam karna diapun tidak tahu keberadaan Ardhana.
"Selamat siang....saya pramidita, asisten lab pak Ardhana...beliau menitipkan surat ini untuk pak Arion Sanjaya" kata Pramidita sembari menyodorkan surat kepada Arion.
"Kemana Ardhana....kenapa dia hanya menitipkan surat?" tanya Arion
"Anda baca sendiri suratnya....saya mohon pamit...permisi"kata Pramidita sembari meninggalkan mereka berdua yang penuh tanda tanya, tak terasa air matanya menetes, bahkan dia pun tak sanggup mendengarkan Arion membaca surat Ardhana.
"teruntuk sahabatku....maafkan aku tak pernah bisa menemanimu menjalani semua kesulitanmu selama ini....aku tak sanggup melihatmu menderita, aku tak pernah pergi darimu, karna aku akan selalu ada ketika detak jantungmu terus berdetak dan akan selalu menjadi bagian dari dirimu selamanya, seperti kamu yang juga menjadi bagian dari diriku karna darah mu mengalir di dalam tubuhku..Jagalah 2 jantungku"
Arion tak kuasa menahan tangisnya..air matanya mengalir karna harus kehilangan sahabatnya.
"TAMAT"