Enjoy Reading!
"Waktu bersama kita hanya tersisa lima hari lagi." Ujar Yangyang
Aku mengambil setelan kemeja dan juga jas untuk Yangyang alias suami kontrakku.
"Kau menghitungnya? Kukira tidak." Balasku datar
Yangyang merasa tak tega mendengar ucapan istrinya yang terdengar sedih itu. Yangyang berinisiatif memeluk istrinya itu dari belakang.
"Kamu tahu? Walaupun kita menikah kontrak, tapi cinta kita tidak akan pernah berpisah." ucapnya terkesan tulus
"Aku tidak ingin berpisah denganmu. Persetan dengan takdir!"
"Bagaimana kalau kita kabur? Kabur dan melawan takdir?" Tanyaku memelas
Yangyang menangkup kedua pipi ku dan kedua bola mata kita saling bertemu satu sama lain.
"Itu tidak akan terjadi dan tidak akan mungkin untuk melawan," Ucap Yangyang
"Mungkin! Kita bisa melawan takdir dengan cara kita!" Ucapku kekeuh
"(Y/n), aku gak mau diantara kita ada yang meninggal terlebih dahulu karena melawan takdir!Aku tidak mau hal itu terjadi (Y/n), tolong mengerti!"
Air mataku perlahan menetes.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan pernikahan kita? Apa kamu memang ingin sekali takdir ini terjadi kepada kita?" Tanyaku kecewa
"(Y/n) berhenti berbicara seperti itu!" Bentak Yangyang dihadapan ku
"Dengarkan aku sekali lagi dan aku gak akan pernah mengulangi ucapanku ini,"
"Aku tidak pernah mencintai orang lain kecuali kamu, ingat kata-kataku ini (Y/n)!"
Aku kembali menangis dihadapan Yangyang. Yangyang mengambil setelan jas kerjanya dan mengecup kening ku sekilas.
"Hari ini aku akan pulang cepat. Tunggu aku ya."
Yangyang pergi meninggalkanku sendirian di kamar.
"Kamu jahat!"
*****
4 Days Left
Waktu bersama kita tersisa 4 hari lagi, karena aku terlalu banyak pikiran, aku jatuh sakit. Tetapi aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan Yangyang. Aku memutuskan untuk membuatkan sarapan. Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku. Aku bisa merasakan nafas Yangyang yang beraturan.
"Masak apa nih? Wangi banget."
"Aku masak makanan kesukaan kamu."
Yangyang mencium leherku dan mengelus-elus area perutku.
"Kalau perutmu kuisikan dengan anakku bagaimana?"
"Itu tidak akan mungkin, waktu bersama kita hanya 4 hari lagi dan setelah itu kau akan menceraikanku," Ucapku
"Kalaupun di perutku ada janin, aku pasti akan merawat dan menghidupi janin ini sendirian."
"Jangan berbicara seperti itu (Y/n)!" Bentaknya
"Kenapa? Bukankah itu benar? Kau akan menceraikanku dan meninggalkanku sendirian."
"Aku tidak akan meninggalkanmu, walaupun kita akan bercerai." ucapnya
"Kamu egois ya." Ucapku tak percaya
Aku memutuskan untuk meninggalkan Yangyang sendirian di dapur.
*****
Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar. Dan besok Yangyang akan menceraikanku. Setelah itu aku akan bergelar seorang janda yang menyedihkan.
Tok tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku tidak ingin membuka pintu tersebut karena aku tahu, pasti Yangyang pelakunya.
"(Y/n) boleh aku masuk?" Tanya Yangyang diluar sana
Entah kenapa, air mataku tiba-tiba turun saat mendengar suaranya. Tubuhku serasa dikendalikan, otakku rasanya kosong dan dengan tindakan konyol aku terjun dari balkon lantai dua.
Yangyang mendengar suara jatuh dan akhirnya Yangyang memutuskan untuk mengecek keadaan di sekitar halaman rumahnya. Yangyang terdiam setelah apa yang ia lihat sekarang.
Yangyang terdiam melihat diriku yang terbaring dipenuhi oleh darah dan kondisiku yang tak bernyawa lagi. Tanpa rasa takut dan jijik, Yangyang mendekatiku dan memelukku erat. Tangisnya pecah dan air matanya berjatuhan membasahi wajahku yang dipenuhi darah.
Kepala belakangku bocor dan seluruh darahku mengotori hoodie yang Yangyang kenakan.
"Jangan tinggalkan aku...(Y/n)..."
"Aku menyesal..hiks.."
One month later..
Seorang pria duduk di pojok kamar sembari memeluk lututnya dan tak berhenti bergumam menyebut nama '(Y/n)'. Dia adalah Yangyang, suamiku yang sekarang memilih tinggal di rumah sakit jiwa karena kejadian aku tewas dengan mengenaskan.
End
******
Maaf gak nyambung
Hehe gabut buat cerpen