"Aku ga mau, ini bukan zaman nya jodoh-jodohan" teriak ku dengan muka merah menahan amarah.
"Dia yang terbaik untukmu, ta. Dia lebih baik daripada pacarmu itu" seru seorang wanita dengan nada merayu.
"papa dan mama sudah putuskan hal ini, dan mau tidak mau kamu harus menyetujui perjodohan ini." suara laki laki terdengar sangat tegas.
"Aku kecewa sama mama papa" seru ku dengan nada suara pasrah.
Aku berlari ke kamar dengan air mata mengalir di pipiku. Aku tasya, seorang perempuan dewasa. Yang dengan bodohnya akan di jodohkan dengan seseorang yang bahkan aku tidak kenal siapa. Padahal aku sudah punya rendi pacarku selama 2 tahun ini.
Ku temui rendi ke esokan harinya
“Aku ga mau dijodohin ren, aku mau sama kamu” aku berbicara dengan tangisan yang tidak kunjung berhenti.
“maaf ta, karena aku anak yatim piatu dan tidak kaya, mama dan papamu tidak merestui kita” terdengar suara rendi yang lirih
“Kamu tenang saja, aku akan bekerja keras, sampai keluarga mu mengakui ku” lanjutnya dengan senyum tipis yang di paksakan.
2 hari kemudian tasya dan rendi bertemu kembali. Tasya menunjukan poto cowo yang di jodohkan nya itu. Alangkah terkejutnya rendi, dia mengenal cowo itu, dia azka teman SMA nya dulu. Rendi mengerti kenapa keluarga tasya ingin menjodohkannya. Azka berasal dari keluarga kaya, dan rendi tau sekarang azka menjabat sebagai direktur sedangkan dirinya hanya orang biasa.
Sebulan kemudian tasya mendapat telpon bahwa rendi mngelami kecelakaan saat bekerja.Tasya segera ke rumah sakit dan memeluk rendi
“kau tidak apa apa kan“ tangisan tasya pecah saat di lihatnya rendi hanya terdiam.
“Rendi hilang ingatan” seru wanita di sebelah rendi, tasya melihat perempuan itu, tasya tau dia ana mantan pacarnya rendi.
“dia hanya ingat aku” lanjut ana
“tidak, ren aku tasya, kamu harus ingat aku” nada suara tasya sedikit berteriak
“ana” seru rendi dengan nada lirih
Tasya terkejut. Kenapa harus ana yang di ingatnya. Tasya melihat rendi, rendi haya terdiam matanya melihat ke depan dengn tatapan kosong. Tasya dengan reflek berlari keluar.
“ kau boleh menangis sekarang” ucap ana
Rendi terdiam dengan berurai air mata. Hilang ingatan hanya lah kebohongan untuk menipu tasya. Rendi sadar bahwa dia tidak pantas untuk tasya. Dalam hati rendi berkata “ mungkin azka yang terbaik untuk mu, aku yang buta ini tak pantas untuk berdampingan denganmu”