Gadis berambut sebahu itu tengah tersenyum sambil mengamati sebuah foto di ponselnya. Sorot matanya begitu menampakkan kebahagiaan yang sedang mengisi hatinya. Ia menggenggam ponselnya dengan erat dan diletakkannya di dada. Beberapa detik kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya.
Setiba di depan pintu sebuah kamar, ia melihat kakaknya tengah sibuk membaca sebuah buku. Ia pun menyapa kakaknya dengan ceria. Dengan cepat, kakaknya langsung menutup buku dan membalas sapaan dari adik yang sangat ia cintai itu.
“Kak, aku bertemu lagi dengan seseorang yang aku sukai,” kata gadis itu dengan antusias.
“Wah … cowok itu lagi? Kamu udah tahu namanya?”
Gadis itu menggeleng dan menjawab, “Aku belum tahu siapa namanya. Aku melihatnya di koridor tadi. Lihat ini, Kak! Aku berhasil memotretnya lagi dari samping.” Gadis itu memerlihatkan sebuah foto di ponselnya.
“Ganteng, ya?”
Gadis itu langsung duduk di atas ranjang dan menceritakan apa yang tengah ia rasa dengan begitu antusias. Kakaknya menanggapi adiknya dengan tak kalah antusias.
“Permisi,” kata seseorang bersuara berat.
“Eh, Dokter Joan.”
“Saya akan memeriksa keadaan Ghina. Ghina … bisa tolong berbaring?”
Gadis yang bernama Ghina langsung menuruti perintah dokter Joan. Dokter pun memeriksa keadaannya. “Sudah,” kata dokter Joan.
“Terima kasih, Dok,” jawab kakak Ghina.
“Dokter … aku boleh minta sesuatu tidak?” tanya Ghina.
“Tentu.”
Ghina mengambil ponselnya dan memerlihatkan foto seorang cowok yang tengah ia sukai. Ia meminta dokter Joan untuk mencari tahu identitas cowok tersebut. Dokter Joan pun mengangguk dan mengiyakan permintaan pasiennya. Setelah mengamati wajah cowok itu, dokter Joan berpamitan untuk mengecek kondisi pasien yang lain.
“Ghina, kakak keluar dulu ya. Kakak mau pergi beli kopi. Kamu mau pesan apa?”
“Aku tidak pesan apa-apa, Kak.”
Setelah Felly—kakak Ghina sudah tak nampak dari pandangan Ghina, ia tak sengaja melihat buku yang telah dibaca oleh kakaknya beberapa menit yang lalu. Ia pun meraih buku itu dan mulai membuka lembar demi lembar.
***
“Ghina, tadi kakak ….” Belum selesai bicara, Ghina langsung menyelanya. Padahal Felly hendak memberi tahu nama cowok yang disukai oleh Ghina. Dokter Joan telah memberi tahunya ketika mereka berpapasan di koridor.
“Kenapa Kakak melakukan itu?” tanya Ghina dengan nada cukup tinggi.
Felly tersenyum kebingungan dan bertanya, “Maksud kamu apa?”
Ghina meraih buku yang telah ia baca. Ia pun memerlihatkannya kepada Felly.
“Kenapa Kakak mau melakukan ini? Kenapa Kakak tidak tanya dulu ke aku? Dan operasi … aku sudah lelah dengan operasi. Kenapa aku harus dioperasi kembali? Aku sudah lelah, Kak!”
Cairan bening menganak sungai di kedua pipi Felly. Sedangkan Ghina masih berhasil membendungnya. “Itu ….” Lagi-lagi perkataan Felly disahut oleh adiknya.
“Batalkan operasi untukku, Kak! Kakak seharusnya mengerti betapa lelahnya aku. Aku mohon, Kakak keluar dari kamar aku!”
“Ghina ….”
“Keluar!”
Felly menuruti perintah adiknya. Ia pun keluar dari kamar tempat Ghina dirawat. Perasaan bingung dan takut tercampur aduk dalam diri Felly. Lantas, ia duduk di sebuah bangku. Kebetulan dokter Joan yang sedang berjalan, melihat Felly sedang menutup wajahnya dengan tangan. Ia pun menghampirinya.
Karena dokter Joan merasa canggung memulai percakapan di saat seperti ini, ia hanya duduk di samping Felly. Tersadar bahwa ada orang yang duduk di sampingnya, Felly langsung mengelap sisa air matanya. Ia menoleh sebentar dan melihat dokter Joan sedang menatap lurus ke depan.
“Seharusnya aku mengatakannya terlebih dulu. Namun, aku perlu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Akhirnya, dia yang mengetahuinya sendiri tanpa harus aku katakan,” kata Felly tiba-tiba.
“Maksud kamu apa?”
“Ghina mengetahui jika aku yang akan menjadi pendonor usus halus untuknya. Dia marah sama aku dan tidak mau menjalani operasi kembali.”
Felly menangis kembali. “Aku ingin Ghina mau melakukan operasi itu.” Kemudian, Felly menceritakan betapa ia mencintai adiknya.
Dokter Joan menepuk pundak Felly dengan lembut. Tanpa berkata apa-apa, ia pergi meninggalkan Felly sendiri. Dokter Joan melangkahkan kakinya menuju kamar inap Ghina. Setelah sampai di sana, dokter Joan melihat Ghina yang tengah berbaring sambil menangis lirih.
“Saya tidak mengerti kenapa kamu seperti itu kepada kakakmu,” katanya tiba-tiba.
Ghina masih mengunci mulutnya dan tidak menatap dokter Joan.
“Baiklah kalau kamu masih belum mau bercerita. Tapi ijinkan saya untuk mengatakan ini kepadamu … Felly sangat mencintaimu dan dia tidak ingin kehilanganmu untuk saat ini.”
“Dia tidak ingin kehilanganku dengan cara menyiksa dirinya sendiri? Yang benar saja.”
“Bukan, dia bukannya menyiksa diri sendiri. Tapi dia ingin membuatmu sembuh dari penyakitmu sekarang. Oleh karena itu, dia ingin menjadi pendonor usus halus untukmu.”
“Aku tidak mau melakukan operasi lagi! Apalagi kakakku yang menjadi pendonornya … aku tidak mau! Dokter tahu berapa jumlah operasi yang sudah pernah aku lakukan? Lima! Aku sudah melakukan lima kali operasi! Begitu seringnya perutku dibelah dan dimasuki benda asing serta apapun itu. Aku lelah, Dok!”
Ghina kembali berbicara. Kali ini ia mengubah posisinya menjadi duduk. “Aku sudah terlalu sering merepotkan kakakku, Dok. Sejak kedua orang tua kami meninggal, kakak berjuang untuk merawatku yang sering sakit ini. Ia pun merelakan studinya demi mencari uang untuk biaya perawatanku. Kenapa tubuhku harus selemah ini?”
Dokter Joan menghela napasnya. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh Ghina. Apalagi pascaoperasi membuatnya sulit berjalan dan tak bebas mengonsumsi berbagai makanan. Namun, jika operasi kali ini tidak dilakukan, kemungkinan besar Ghina akan dijemput oleh malaikat maut. Memang, operasi tidak selamanya berjalan mulus. Namun, jika hal itu bisa dilakukan untuk memperpanjang umur pasien, kenapa tidak dilakukan?
“Ghina … kakakmu melakukan itu karena dia sayang sama kamu. Itulah arti dari pengorbanan cintanya untukmu ….” Tiba-tiba ponsel dokter Joan berdering. Ia pun mengangkatnya. “Ghina, orang yang kamu sukai akan menjalankan operasi darurat kali ini!”
Ghina membulatkan matanya.
“Rony terjatuh dari kursi rodanya. Organ dalamnya yang cidera, kini tambah cidera. Lalu, ditemukan juga nekrosis di ususnya. Doakan saja semoga operasinya berhasil.” Setelah mengatakan itu, dokter Joan melempar senyum kepada Ghina dan pergi dengan setengah berlari.
“Tuhan … ijinkan aku agar bisa kenal lebih dekat dengan Rony. Ijinkanlah operasi dia berhasil,” kata Ghina.
***
Sudah dua hari lamanya Ghina masih malas berbicara kepada kakaknya. Meskipun Felly berbicara dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Ghina masih bersikap dingin kepadanya. Ghina masih ingin jika operasinya dibatalkan.
“Kakak mau pergi beli buah ya? Kamu baik-baik saja ya di sini.”
Ghina tak menjawab dan justru menyibukkan dirinya dengan memainkan ponsel.
Setelah sepuluh menit Felly pergi meninggalkan Ghina, dokter Joan mendatangi Ghina. Ia menyuruh Ghina untuk mengikutinya. Dengan malas, ia pun mengikuti dokter Joan.
“Mau kemana sih, Dok?”
“Nanti kamu juga tahu.”
Berbagai tanda tanya muncul dalam benak Ghina. Setelah beberapa menit berjalan, dokter Joan berhenti di depan jendela kaca besar. Ghina pun ikut berhenti dan melihat sosok cowok di luar dengan kursi rodanya sedang memantulkan bola basket ke dinding.
“Karena kecintaannya dengan basket, ia tak menyerah untuk terus bermain basket.” Dokter Joan mengawali percakapan. “Meskipun dia tahu mulai sekarang kakinya telah lumpuh, dia masih tetap bermain basket. Rony benar-benar cowok hebat, bukan?”
Ghina tersenyum tipis dan terharu akan tindakan Rony. Biasanya orang yang baru mengalami pascaoperasi akan terus-terusan berbaring di ranjang. Ghina salut akan tindakan Rony yang masih terus berusaha meski kakinya telah lumpuh.
“Itulah arti dari cinta. Orang yang mencintai sesuatu akan terus berusaha mempertahankan sesuatu itu agar tidak hilang darinya. Seperti tindakan kakakmu untukmu.”
“Aku masih tidak rela jika kakakku yang menjadi pendonor untukku. Aku tidak ingin kakakku merasakan sakitnya pascaoperasi, Dok. Aku tidak ingin kakakku punya bekas jahitan di perutnya,” kata Ghina dengan nada berat, “aku selalu merepotkannya.” Kini, air mata yang telah ia bendung lolos begitu saja membanjiri pipinya.
“Saya mengerti, tapi kalau ditunda terus kakakmu akan lebih sedih. Kamu ingin lekas sehat, ‘kan? Kamu ingin kakakmu tidak bolak-balik menjagamu di rumah sakit, ‘kan?”
Ghina mengangguk.
Di lain sisi, Felly yang sudah kembali mendengar percakapan antara dokter Joan dan adiknya. Ia pun memberanikan diri untuk menampakkan dirinya. Felly pun memeluk tubuh mungil adiknya dari belakang. Setelah beberapa detik, ia melepasnya; membuat Ghina membalikkan tubuhnya.
“Kakak?”
“Ghina … kamu tak merepotkan kakak kok. Justru kakak bahagia karena bisa bersama kamu. Kamu jangan berpikiran negatif dong!” katanya dengan tersenyum.
“Tapi Kak ….”
“Kakak sedih kamu bersikap seperti itu kepada kakak. Kakak jadi merasa kalau kakak belum bisa jadi kakak yang berguna untukmu. Jadi, ijinkan kakak untuk menjadi pendonor untukmu. Kakak ingin cinta kakak ini bisa hidup sehat bareng kakak.”
Tangisan Ghina masih menjadi. Felly pun memeluk adiknya dengan hangat.
“Maafin Ghina, Kak,” kata Ghina lirih.
“Jadi … kamu mau ‘kan jika kakak menjadi pendonor untukmu?”
“Karena aku masih ingin hidup bersama cintaku, aku mau,” jawabnya.
Lantas, mereka saling melepas pelukannya. Ghina pun mengatakan kepada dokter Joan untuk menjadwalkan operasinya. Dokter Joan tersenyum bahagia melihatnya kembali ceria.
Ghina kembali menatap ke luar jendela. Melihat Rony sedang kesusahan mengambil bola di bawah bangku taman, Ghina pun meminta ijin kepada kakaknya untuk pergi ke luar.
Ghina mengambilkan bola basket untuk Rony. Jantungnya berdegup lebih kencang, namun ia selalu berusaha mentralisir perasaannya. Ia memberikan bola basket kepada Romy dengan menampakkan senyum manisnya.
“Makasih.”
“Aku Ghina,” kata Ghina sambil mengulurkan tangannya.
“Rony.” Rony pun menerima uluran tangan dari Ghina.
Musim semi yang penuh warna hadir dalam kehidupan Ghina di rumah sakit semakin ia rasakan. Ghina menemukan cowok pertama yang mampu memikat hatinya, semakin mengetahui begitu tulus cinta Felly untuknya, dokter dan para staf rumah sakit yang begitu perhatian padanya. Musim semi di rumah sakit telah menjadi momentum untuk kehidupan yang lebih baik untuknya di masa mendatang.