Dan akhirnya... kamu bersamanya, kamu memilih dia untuk menjadi pasanganmu, untuk menjadi ibu dari anak-anakmu.
Dulu, kamu pernah bilang padaku...
"Aku hanya akan menikahi satu wanita, walau dia tidak bisa punya keturunan, aku tidak akan menceraikannya, aku juga tidak akan mempoligaminya. Karena wanita yang akan kunikahi, adalah wanita yang akan kumuliakan. Aku tidak ingin dia tersakiti. Aku... hanya akan menjalani ibadah suami-istri bersamanya."
Yah, aku tau kamu bukan laki-laki buaya, jadi aku percaya, omonganmu benar, tulus dari hatimu yang paling dalam.
Aku menanggapi perkataanmu dengan senyum tipisku, karena saat itu... kita hanya sebatas teman, walau kini tetap hanya teman.
2 tahun kemudian, kamu benar-benar menemukan seseorang yang akan kamu nikahi, yang tidak akan kamu ceraikan walau apapun yang akan terjadi.
Aku bahagia? Tidak.
Aku kecewa.
Ya, aku kecewa. Kenapa bukan aku orangnya? Kenapa harus wanita itu? Wanita yang baru kamu kenal satu hari yang lalu. Kamu bilang... kamu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.
Terus, bagaimana denganku? Aku tak kalah cantik dengan wanita itu. Atau... selama ini kamu memang tidak pernah menganggapku sebagai wanita?
Yah... setidaknya, kamu masih ingat padaku. Kamu mengundangku untuk hadir ke pernikahanmu, pernikahanmu... yang tepat satu hari setelah hari ulang tahunku.
Hahaha. Lucu bukan?
Waktu adalah penyembuh yang aku percayai, dan aku sabar menunggu. Aku ikhlas berlama-lama asal aku bisa menghapus perasaanku sebagai lawan jenis padamu.
Meski berat, akan kujalani. Daripada aku harus melihat diriku yang bodoh dulu? Yang mencintaimu tanpa mendapat apa-apa.
Kita adalah manusia yang berhak untuk bangkit dari keterpurukan. Kita masih bisa melangkah!
Dunia yang hanya sementara ini, akan terasa panjang untukku bisa jatuh cinta lagi. Tapi tidak masalah, karena jodoh, di tangan Tuhan.
Hai, aku mencintaimu, sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Atau mungkin tanpa aku sadari, sudah dari bangku kanak-kanak? Saat aku masih polos dan senang mengikutimu.
Tapi kini... anggaplah semuanya kebodohanku, sebuah kebodohan yang indah karena bisa mencintaimu, walau kamu tidak tau itu.
Semoga aku bisa menemukan seseorang yang mencintaimu sebesar cintaku padamu, atau mungkin lebih dari itu.