Namaku Jesica. Bertemu dengan hantu bukanlah hal yang asing bagiku, karena aku sudah pernah bertemu dengan mereka hingga beberapa kali.
Langsung saja, malam itu kira-kira jam 21.00, aku teleponan dengan pacarku. Tapi tidak berselang lama, mungkin 15 menit kemudian, aku mendengar suara pagar depan rumahku dibuka.
Aku yang masih berada di ruang tamu kemudian membuka gorden dan menengok ke luar, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Aku pun tidak memperpedulikan hal tersebut, dan lalu menuju dapur untuk mengambil cemilan.
Setelah asyik berbincang-bincang melalui telepon dengan pacarku selama hampir 1 jam lamanya, aku mendengar lagi pagar rumahku seperti ada yang membuka. Karena penasaran, aku mengintipnya lewat gorden jendela depan.
Tapi masih tetap sama, tidak ada seorang pun di luar. Pintu pagar rumah masih pada posisi semula, tertutup rapat. Aku pun duduk kembali di kursi dan melanjutkan ngemilku.
Tak selang beberapa lama, tiba-tiba bel pintu rumahku berbunyi. Sambil sedikit kesal, aku bergegas menuju pintu depan dan membukanya. Namun aneh, tidak ada siapa pun di luar rumah. Bahkan aku sempat mencari-cari ke bagian depan dan samping rumahku, mungkin ada orang iseng yang coba ngerjain dan kemudian bersembunyi. Namun nihil, aku tak menemukan apa-apa. Akhirnya aku masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu depan.
Setengah mengantuk, aku berjalan menuju dapur untuk minum, sekalian membuang sampah bekas cemilanku. Setelah sampai di dapur, kucari-cari tempat sampah, namun tidak ada. Kemudian aku membuka pintu belakang rumahku, karena kadang ibuku menaruh tong sampah di teras belakang rumah. Benar saja tong sampah itu ada di pojok teras belakang.
Aku pun menghampirinya, namun sudut mataku melihat sekelebat bayangan putih dekat kebun pisang di belakang rumahku. Lalu saat kulihat, tampak sesosok wanita memakai baju putih dengan rambutnya yang panjang terurai sedang berdiri menghadap ke arah pohon pisang.
"Maaf mba, sedang apa di sana?", tanyaku heran.
Dia tidak menjawab. Hanya berdiri diam sambil terus membelakangiku. Sepertinya dia tidak mendengar perkataanku.
"Mba, sedang apa di sana malam-malam begini?", tanyaku lagi. Kali ini dengan suara yang agak keras.
Dia masih tidak bergeming. Dengan sedikit kesal, aku mencoba mendekatinya. Namun, ketika jarak kami hanya sekitar lima langkah lagi, dia tiba-tiba berbalik. Dan astaga... Jantungku hampir copot seketika itu. Kini aku dapat melihat dengan jelas wanita itu. Wajah wanita berwarna putih pucat dan dia tidak mempunyai mata. Mulutnya seperti robek dan terlihat sangat lebar, dengan darah segar yang keluar dari sela-sela bibirnya. Dia lalu berjalan semakin mendekat ke arahku.
Sontak sekujur tubuhku merinding. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke rumahku dan mengunci pintunya. Aku lantas berlari menuju kamarku dan membungkus seluruh tubuhku dengan selimut, sambil terus berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan. Dan tanpa disadari, aku pun tertidur lelap. Untunglah, malam itu dia tidak datang menggangguku lagi.
Keesokan harinya kampungku gempar, karena telah ditemukan sosok mayat seorang wanita yang tergeletak di kebun pisang yang ada di belakang rumahku. Menurut polisi yang menyelidiki di tempat kejadian, diduga wanita tersebut adalah korban penganiayaan.
Dia dianiaya dahulu sebelum akhirnya dibunuh, tampak dari kondisinya yang sangat mengenaskan. Mulutnya robek dengan kedua bola matanya yang dicungkil keluar, dan beberapa bagian tubuhnya tampak memar dan membiru, seperti bekas pukulan benda tumpul.
Dan yang membuatku merinding adalah bahwa ciri-ciri wanita itu sama persis dengan makhluk yang kutemui tadi malam. Kondisi mayat wanita itu sudah mulai membusuk, diduga telah meninggal sekitar 3 hari yang lalu.