Baru saja aku keluar dari bus yang di padati penumpang, capek sekali jika aku harus berjalan sekitar seratus meter lagi. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Seorang nenek yang ku kenal tiba-tiba terjatuh karena tersandung sebuah batu. Dia adalah nek Nun tetanggaku. Seorang pemuda yang tidak begitu jelas kulihat wajahnya, bergegas menolong nek Nun. "Terima kasih Ardi!" Ucap nek Nun. Aku sedikit terkejut. Nama pemuda itu persis namaku.
Karena rasa penasaran, aku mengikuti pemuda itu. Dia memapah nek Nun sampai ke rumahnya. Wah, pemuda sebaik itu jarang-jarang ada, aku berfikir andai saja aku bisa berbuat baik seperti dia. Ah, tidak mungkin! Semua didunia ini realistis, adab-adab itu sekarang hanyalah ajaran kuno, fikirku.
Aku sedikit kesal atas pujian yang didapat pemuda asing itu. Badanku sudah mulai meronta karena cukup lelah maka aku lanjutkan perjalanan menuju rumah. "Kak!" Itu suara Hera adikku, aku meliriknya sebentar dan dia malah berjalan kearah yang berbeda dari tempat ku berdiri.
"Kenapa dia?" Bantinku. Sejenak ku perhatikan, pemuda yang tadi sudah berdiri disisi lain. "Apa dia mengikutiku?"
"Kak, ayo pulang. Ibu sudah masak makanan yang enak!" Hera memeluk pemuda itu. Aku terkejut dan berfikir apa itu pacar monyetnya, ah tidak cinta monyet maksudku.
Pemuda itu malah mengelus-elus kepala adikku. Kalau ada batu di sana akan kulempar dan kuarahkan ke kepalanya, sayang sekali kenapa hari itu para batu pun tidak nampak batang hidungnya, maaf seandainya jika mereka punya hidung maksudku.
Mereka berdua berjalan melewatiku begitu saja, Hera begitukah engkau di depan monyetmu, ah iya, cinta monyetmu! Pemuda itu yang tidak bisa kulihat wajahnya membuatku mengambarkan ekspresi yang dikeluarkan oleh wajah buramnya.
Sudahlah, yang terpenting sekarang pulang dan segera merebahkan tubuh ini di kasur yang empuk. Persetan dengan Hera dan monyetnya itu.
"Ardi.... Ardi!" Suara seorang wanita memanggil dari luar rumah. Aku terbangun, kenapa tidak ada orang yang membukakan pintu, kesalku! Bergegaslah aku menuju pintu utama, namun ternyata ibuku sudah ada didepan pintu dan mengobrol dengan tamu tersebut.
"Saya terima kasih banyak sama Ardi, dia memapah ibu saya sampai ke rumah!" Sayup-sayup terdengar ditelingaku percakapan ibu dan wanita yang kukenal sebagai anaknya nek Nun yang tertua. Dia adalah anak yang menjaga nek Nun dirumah.
"Iya, tidak apa-apa. Kita kan mesti saling tolong menolong!" Sahut ibu sambil tersenyum dengan sekantong rengginang ditangan kanannya. Aku menduga itu adalah pemberian anaknya nek Nun debagai ucapan terima kasih.
"Ardi! Ini tante Popy mau berterima kasih padamu!" Suara ibu agak keras hampir menyamai 'toa' layar tancap di kampung sebelah. Siapa Ardi yang dipanggil ibu. Aku ada di anak tangga atas namun ibu melihat ke arah dapur.
Benar saja pemuda dengan wajah buram itu mendekati ibu dan menyapa tante Popy dengan ramah. "Wah Ardi sudah banyak berubah sekarang ya!" Sebut tante Popy sambil memandang pemuda itu dengan wajah bangga.
"Jadi orang memang harus saling tolong menolong seperti itu Ardi, ibu bangga dengan kamu yang sekarang!" Tambah ibu membanggakannya didepan tante Popy. Ada apa dengan mereka bertiga. Aku tidak mau berfikir yang berat-berat dulu. Sekarang lebih baik aku melanjutkan tidurku saja.
Sudah hampir magrib rupanya, perutku lapar aku lupa makan karena pemuda berwajah buram itu. Sekarang mungkin saja dia sudah pergi dan semua itu hanya khayalanku saja.
Aku turun untuk mencari sesuap nasi di dapur. Hal aneh kulihat lagi, pemuda bermuka buram itu duduk di kursi dengan kesakitan. Tubuhnya berlumuran darah dan kaos putih yang dipakainya sudah berubah menjadi merah.
"Apa lagi itu?" Aku bergegas mendekati mereka. Aku juga penasaran apa yang terjadi. Namun aku masih saja tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, seperti sebuah film yang sengaja disensor.
"Ayo cepat bawa Ardi kerumah sakit pak!" Ibu menangis sejadi-jadinya. Si bapak masih kalang kabut mau mencari bantuan kemana. Posisi pemuda itu adalah tidak sadarkan diri, dia dibawa oleh orang yang menemukannya dijalan.
"Apa dia tawuran?" Batinku. Aku teringat sekali kejadian sebelum aku naik bus. Berpapasan dengan anak sekolah yang sedang berpesta melempar batu dengan emosi setan mereka. Aku juga ada ditengah-tengah tawuran itu. Terjebak dan tidak bisa keluar. Bahkan aku ingat bagaimana aku melindungi kepalaku dengan ransel. Ya, aku ingat kaos itu yang kupakai saat siang tadi.
"Ardi bangun nak!" Ibu menggoyang-goyang tubuh pemuda itu. Masih saja tidak ada respon.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa tiba-tiba berada di sebuah bus yang penuh sesak. Seketika bulu kudukku merinding, bagaimana aku bisa keluar dari kepungan tawuran itu. Siapa yang menolongku dan menarikku masuk kedalam bus.
Tidak, bukankah pemuda itu tidak nyata, atau akulah yang sebenatnya tidak nyata. Memikirkan itu membuat kepalaku mau pecah dan aku lupa dengan rasa laparku.
Orang tuaku membawa pemuda itu ke rumah sakit, aku ikut dengan bapak naik dibelakang mobil bak nya. Sementara ibu tidak mau lepas dari pemuda itu dan terus berada disisinya didalam ambulance.
"Anak anda kehilangan banyak darah dan...!" Dokter seperti berada dalam drama dan akhirnya dia juga memberitahu ibu dan bapak bahwa anak mereka bernama Ardi sudah tiada.
Apa itu? Siapa yang tiada, aku masih berdiri kukuh disamping mereka. Mereka masuk ke ruangan dimana penuda itu dirawat sebelum menunggal. Begitupun juga denganku, wajah pemuda yang buram sebelumnya bisa kulihat dengan jelas. Ya, itu wajahku dan baju itu persis yang kupakai saat terjebak dalam tawuran pelajar. Lalu siapa aku ini jika dia adalah diriku, apa yang sebenarnya terjadi?