Di salah satu perkampungan di kota besar hiduplah 2 orang sahabat yang sedari kecil selalu bersama-sama, mereka tidak pernah berpisah. Mereka sekolah, bermain dan belajar bersama. Rumah mereka pun berdekatan hanya saja mereka dari keluarga yang sangat berbeda, kehidupan mereka dengan keluarga mereka pun sangat berbeda.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketokan pintu dari salah satu rumah warga, padahal matahari masih belum menampakkan senyum indahnya. Kemudian disusul suara seorang wanita, dari belakang dia tampak indah, mengenakan jilbab dengan warna putih. Seolah malaikat telah turun ke bumi.
"Assalamualaikum, Zahra."
Klek! Bunyi pintu yang dibuka oleh pemilik rumah setelah mendengar salam dari wanita itu.
"Waalaikum salam. Loh Azura, ada apa?" Ternyata yang membuka pintu adalah seorang wanita paruh baya.
"Itu tante mana Zahra? Saya mau ajak berangkat sekolah bareng." Ucap wanita itu. Ternyata namanya Azura.
"Oh, Zahra masih ganti baju. Masuk, duduk dulu."
Beberapa menit kemudian Zahra keluar kamar "Maaf karena nunggu lama" ucapnya
"Gak masalah yuk kita berangkat. Takut nanti telah kalau lama-lama."
Lalu Zahra dan Azura berpamitan pada wanita paruh baya itu,
"Bu Zahra berangkat sekolah dulu ya?"
"Iya ndok. Hati-hati, semangat belajarnya biar pinter jadi anak berpretasi, biar bisa pakai kemeja berdasi."
"Iya bu," ucap Zahra " Assalamualaikum" ucap mereka serempak.
"Waalaikum salam."
Sudah bertahun-tahun mereka bersahabat bahkan mereka sudah bersahabat sedari masih dalam kandungan. Mereka tidak pernah bertengkar, bukan tidak pernah tetapi jarang sekali mereka bertengkar.
~~~~~~~~
Plak! Terdengar suara tamparan yang menggema di kantin. Sontak siswa dan siswi yang ada di kantin menoleh ke sumber suara.
"Apaan sih lo?!" (Sambil mendorong orang yang menampar) "Tiba-tiba dateng main tampar-tampar aja" Ucap salah satu teman siswi yang di tampar.
"Zahra kamu gk papa kan?" Tanya teman lainnya pada Zahra yang kena tampar. Sementara yang di tanya hanya diam membisu.
"Mangkannya bilangin ke temen lo. Sadar diri dikit kek." Ucap siswi yang menampar tadi.
"Tau udah miskin, gk punya apa-apa, belagu lagi. Sok banget sih." Tambah teman yang di sampingnya.
"Heh kalian ya..." Saat teman Zahra mau membalas ucapan mereka yang keterlaluan, Zahra langsung mencekal tangannya dan menggelengkan kepalanya mengisyaratkan 'tidak,jangan'.
Lalu Zahra maju satu langkah sambil berkata, "Iya saya memang miskin dan gk mampu tapi seenggaknya saya gk cari muka dan tebar pesona sana sini."
Setelah mengucapkan itu Zahra menarik tangan kedua temannya lalu melangkah pergi dari kantin, membuat semua orang dikantin tertawa. Mereka mengejek kedua orang yang membully Zahra. 2 orang itu pun lari ke luar kantin dengan tergesa-gesa menahan malu yang mereka rasakan. Di samping itu ada seseorang yang tidak puas dan ada pula seseorang yang tersenyum puas melihat adegan itu.
Kejadian seperti itu terjadi menimpa Zahra beberapa kali. Entah terkunci di kamar mandi, terkunci di gudang, ban sepedanya kempes, atau mungkin ada yang menjegalnya di mana pun. Teman-teman Zahra sudah tidak tahan lagi dengan itu, mereka berniat melaporkannya ke guru BK tapi di cegah oleh Zahra.
Hingga suatu hari saat Zahra bersepeda dan akan pulang sekolah dia merasa seperti ada yang mengikutinya. Jadi Zahra mengayuh sepedanya dengan sangat pelan dan kadang dengan cepat untuk mengetes apakah benar dia di ikuti. Tetapi saat sampai di gang depan rumahnya dia tidak di ikuti lagi. Terus seperti itu, dia di ikuti dari sekolah sampai ke gang depan rumahnya saja tapi itu hanya saat pulang sekolah.
Saat Zahra berjalan pulang bersama teman-temannya, mereka nerasa seperti di ikuti.
"Zah, kenapa aku merasa seperti di ikuti ya?" Ucap salah satu temannya.
"Hanya perasaanmu kali. Masa kita di ikuti sih, serem tau" Ucap satunya lagi sambil takut-takut.
Saat sampai di rumah Zahra tiba-tiba turun hujan lebat jadi mereka meneduh dahulu.
"Zah, cius deh tadi aku merasa di ikutin tau"
"Enggak kok perasaanmu aja kali, Jihan." Kata Zahra menyangkalnya.
"Kalo gitu mulai sekarang kita jalan pulang bareng aja. Aku takut nanti kamu kenapa-napa lagi."
Sejak hari itu mereka bertiga selalu pulang dan berangkat bersama. Sampai suatu hari mereka tidak bisa pulang bersama, jadi Zahra pulang sendirian dan saat itulah terjadi hal yang tidak di inginkan oleh teman-temannya. Zahra di culik! Tidak ada yang tau siapa yang menculiknya dan tidak ada telepon tentang uang tebusan. Seluruh keluarga panik, teman-teman Zahra juga, semua orang panik. Saat ayah Zahra akan melaporkan hal ini ke polisi tiba-tiba saja Zahra pulang dalam keadaan basah kuyup padahal tidak ada hujan dan cuaca pun cerah dari pagi.
Saat Zahra di tanya apa yang terjadi kepadanya dia tidak menjawab dan hanya diam saja, dia melangkah pergi ke kamarnya mengunci pintu kamar dan tidak keluar kamarnya selama berhari-hari. Dia juga tidak ke sekolah dan tidak mau makan. Saat ibunya membujuknya untuk setidaknya makan sesuap saja, Zahra tidak menjawabnya dan hanya diam saja. Ibunya khawatir dan menyuruh ayahnya untuk mendobrak kamar Zahra.
Saat pintu kamar telah terbuka tapi Zahra tidak ada di kasurnya, mereka pun mencarinya di kamar mandi. Saat mereka membuka pintu kamar mandi betapa terkejutnya mereka saat melihat Zahra yang terbaring di bak mandi dengan tangan tersayat dan hampir tenggelam. Ibunya yang panik segera menelpon ambulans sementara ayahnya segera membopong Zahra ke kamarnya serta dengan telaten memberikan pertolongan pertama. Saat ambulans datang mereka segera membawa Zahra ke rumah sakit.
Setelah Zahra selesai di periksa oleh dokter, di dalam ruangan dokter ayah dan ibunya memeriksa hasil diagnosis dari dokter.
"Seperti yang bisa bapak dan ibu lihat itu adalah hasil rontgen dari putri ibu, ada beberapa tulang yang patah khususnya kaki, itu cukup parah dqn kalau di biarkan begitu saja maka kaki putri bapak ibu harus di amputasi." Kata dokter itu. Perkataan dokter itu bagaikan disambar petir di siang bolong.
"Lalu diketahui ada beberapa luka memar di tubuhnya. Sebaiknya bapak/ibu membawa putrinya ke psikolog dan setelah itu bisa konsultasi lagi kemari secara rutin." Lanjut dokter itu.
"Ke-ke psikolog dok?" Ucap kaget ibu Zahra
"Kenapa putri kami harus ke psikolog dok?" Timpal ayah Zahra
"Karena dicurigai memar dan patah tulang pada putri ibu bisa saja terjadi karena penganiayaan dan itu bisa menimbulkan trauma yang mendalam. Jadi kami sarankan untuk konsultasi juga pada psikolog."
Mendengar perkataan dokter tersebut bagaikan tersambar petir dasyat di siang bolong, hal itu sangat menyayat hati orang tua Zahra. Mereka bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan putrinya, Zahra tidak membuka mulutnya sedikit pun soal kejadian hari itu. Karena memar dan patah tulangnya Zahra harus di rawat di rumah sakit selama 2 minggu, setelah itu baru mereka akan membawa Zahra ke psikolog.
Setelah sembuh orang tuannya mengajak Zahra ke psikolog. Hari pertama Zahra tidak mau cerita apapun, hari kedua Zahra tetap kukuh tidak mau cerita, hari ketiga meskipun sudah di bujuk Zahra tetap tidak mau cerita dan sudah seminggu lamanya Zahra ke psikolog tapi tidak ada hasil apapun. Kalau sampai minggu ini pun tidak ada hasilnya orang tua Zahra akan menyerah membawanya ke psikolog.
Hari ini adalah hari terakhir di minggu ini, sesuai kesepakatan kalau hari ini tidak ada hasil apapun Zahra tidak akan kembali lagi ke sini. Bahkan psikolog pun menyerah tentang masalah Zahra ini jarena dia tidak mau cerita.
Klek! Suara pintu di buka dari luar, masuklah seorang wanita ke dalam ruangan yang bernuansa putih.
"Halo Zahra. Ayo sini duduk santai aja dulu, nanti setelah 1 jam kamu moleh keluar kok." Kata sang psikolog. Zahra yang mendengar ucapan dari psikolog itu hanya diam mematung di depan pintu, dia tidak mengerti biasanya dia akan di tanya ini itu atau di bujuk agar menceritakan kejadian hari itu. Tapi sekarang dia hanya di suruh untuk duduk diam lalu pulang setelah 1 jam.
Sudah 30 menit Zahra di ruangan itu karena bosan dan tidak melakukan apa pun Zahra memilih untuk tidur di sofa, sementara psikolog itu sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Saat sedang asik dengan pekerjaannya tiba tiba saja psikolog itu mendengar suara rintihan dari Zahra. Dia mendekat hendak membangunkan Zahra, tiba-tiba Zahra bangun sendiri wajahnya pucat dan seperti sangat ketakutan. Dia menoleh kanan dan kiri saat melihat dokter itu dia langsung berlari dan memeluknya sambil manangis histeris.
Akhirnya setelah lama menangis dan sudah tenang, Zahra mau untuk menceritakan soal kejadian saat hari hujan itu. Entah kenapa saat sudah cerita ada perasaan lega di suduh hati terdalamnya, setelah itu Zahra pulang bersama orang tuanya dan besok orang tua Zahra harus kembali ke klinik untuk mengetahui hasil hari ini.
"Permisi dok"
"Oh iya. Silakah duduk bapak/ibunya Zahra"
"Baik. Jadi begini dok, bagaimana hasil konsultasi kemarin?"
"Jadi begini, Zahra sudah mau cerita pada saya tentang kejadian saat dia di culik. Katanya saat jalan pulang tiba-tiba dia di sekap dari belakang dan di hirupkan obat bius, jadi dia tidak tau dia di bawa kemana. Saat dia membuka mata hari sudah mulai gelap dan dia disekap di sebuah ruangan kosong sepertinya itu gudang terlantar."
"Jadi apakah Zahra putri kami bilang dia di culik sama siapa?"
"Soal itu dia tidak bilang apa-apa hanya saja dia bilang yang menculiknya itu seorang teman yang sangat di percayainya karena sebuah kesalapahaman kecil yang dibesar-besarkan. Dia juga bilang yang menyelamatkannya itu seorang yang menjadi objek dari kesalapahaman itu."
"Jadi kami harus apa dokter?"
"Lebih baik itu anda berdua tanyakan saja pada Zahra. Sepertinya dia ingin pindah rumah."
Setelah itu orang tua Zahra pulang dan menanyakan perihal hal itu pada Zahra. Ternyata benar Zahra ingin pindah yang jauh sekali dari perkampungan itu. Saat Zahra sedang mengemasi barangnya untuk diangkut ke truk ada seseorang yang melihat hal itu dari balik jendela rumahnya denga tatapan sedih dan ada juga seseorang yang melihat Zahra dari jauh dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan. Teman-teman Zahra pun mengantarnya untuk pindah, mereka sempat berpelukan dan berjanji akan ketemu lagi suatu hari nanti. Zahra dan keluarganya akhirnya pindah dari perkampungan itu ke kota besar dan menetap di sana, dia juga melanjutkan sekolahnya di sana dan tidak pernah kembali lagi ke perkampungan itu.