Moksha, aku adalah seorang pria ceria yang tidak mengenal cinta dan pacaran sebelumnya berubah menjadi dingin setelah hubungan cinta dengan pacar pertamanya berakhir.
Pintu yang selama ini sudah terkunci dan tertutup rapat bertahun - tahun tak pernah terbesit sedikitpun akan terbuka. Beberapa kali seseorang mencoba membukanya namun tidak dapat berhasil juga. Lalu tiba-tiba seseorang datang dengan senyum ceria, dengan pembawaan yang positif dan tanpa sadar berhasil sedikit mengintip apa yang tersembunyi di balik pintu yang terlalu lama terkunci itu, gelap dan menyedihkan.
Dia yang datang dengan tulus dan ikhlas memperlakukan ku selayaknya orang yang pantas dicintai hingga aku tak melarangnya untuk masuk ke dalam ruang hampa melalui pintu tersebut, untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu itu. Pada waktu itu aku masih belum menyadari apa yang sedang aku alami. Masih mencoba mengabaikan keadaan ini.
Waktu berlalu hingga ada rasa aneh yang bangkit dari jiwa. Apakah ini sudah saatnya? akan di mulai kembali rasa cinta seseorang yang sebenarnya setelah menjadi manusia dingin mengabaikan apa yang terjadi di sekitarnya dan tidak memperdulikan seberapa banyak orang yang ingin masuk ke kehidupannya.
Perasaan khawatir, perasaan cemburu, perasaan ingin selalu di dekatnya, perasaan ingin melindunginya, entahlah rasanya perasaan-perasaan yang sudah mati seperti menyapa dan hidup kembali. Ada perasaan takut untuk memulai kembali.
Aku masih membentengi diri agar perasaan ini tidak terlalu jauh menyelam. Aku merasa tidak pantas untuk dia miliki. Aku sudah banyak berubah sejak hubungan berakhir dengan pacar pertama. Aku semakain menjadi pendosa yang tidak layak untuk siapapun.
Entah mengapa jika aku sedang berada di dekatnya, hati ku merasakan kenyamanan yang dulu pernah ku miliki. Dia selalu bisa membuatku tersenyum melupakan masalah-masalah yang ada.
Hubungan kita semakin dekat dari waktu ke waktu tetapi aku masih membentengi diri agar tidak terjatuh. Hanya obrolan sederhana dapat membuatku nyaman dan tertawa. Aku tidak pernah menanyakan masa lalu dia seperti apa, karena pada masa itu aku dan dia masih menjadi orang asing dan belum di pertemukan oleh takdir.
Pada suatu ketika obrolan kita menjadi sangat jauh dan mendalam. Aku mulai menceritakan diriku yang sebenarnya, aku adalah seorang pendosa, hidup ku terlalu gelap, hingga masa depan enggan menyapa. Dia menerima semua keburukan ku yang aku ceritakan. Mungkin tak banyak wanita yang mau menerima laki-laki berperilakuan buruk dan jauh dari Tuhan. Tapi tidak dengan dia, dia selalu menerimaku apa adanya. Bahkan di saat aku tidak mempunyai apa-apa dia masih setia berada di sisiku. Aku benar - benar mulai mencintainya semakin dalam.
hingga pada akhirnya dia berhasil meyakinkan perasanku bahwa untuk mencoba memulai kembali hubungan dengan seseorang itu bukan sesuatu yang buruk atau menakutkan.
Singkat cerita aku dan dia menjalin hubungan kekasih. Aku sangat menyayanginya, aku ingin membahagiakan dia apapun yang terjadi. Aku ingin menjadikanya seorang istri, karena hanya dia yang mampi mencintaiku dan menerima semua kekuranganku.
Aku adalah tipe orang yang tidak bisa mengekspresikan sesuatu, seperti bahagia, sedih, marah. Aku sangat mencintainya tapi aku tidak bisa mengekspresikannya. Bahkan aku sangat bahagia sekali waktu dia membelikan sepasang sendal couple denganya. Selama ini belum ada yang melalukan hal itu padaku meskipun sederhana tapi membuatku sangat bahagia. Mungkin dia tidak tau betapa bahagianya aku karena aku tidak bisa menujukan ekspresi itu.
Aku sangat bangga bisa memilikinya. Namun kesalahpahaman kerap terjadi, dia mengira aku tidak bangga memilikinya. Dikarenakan aku tidak pernah mempublish hubungan kita, tidak pernah update hubungan kita di sosial media. Aku punya alasan untuk itu semua. Aku tidak pernah mempostingnya karena aku tidak mau hubungan pribadiku banyak yang ikut campur. Hubungan pribadi ku anggap privasi yang paling penting.
Meskipun aku tidak pernah mempublish hubu