Untung pagi itu Carla datang ketempat kediaman Jian karena sudah dua hari ia tidak hadir ke sekolah. Carla berkunjung untuk memastikan keadaan temannya.
...
Saat sadar Jian meratapi infus di sampingnya, ia sadar saat ini dia berada di rumah sakit, padahal ingatan terakhirnya dia ingin mengakhiri hidup dengan cara menikam bagian perut. tak lama Carla masuk ke ruang inap yang saat ini di tempati Jian. "Kamu sudah sadar?" dan di tanggapi dengan anggukan setelah beberapa lama berbincang Carla pamit pulang.
...
Tiga hari berlalu tapi tidak ada satupun keluarganya yang menjenguk.
saat bosan Jian memutuskan untuk jalan-jalan di taman rumah sakit, tak sengaja ia melihat anak perempuan cantik yang mungkin umur mereka tak jauh berbeda. Tidak ada salahnya jika mereka berbincang batin Jian.
"Hai" sapanya ke perempuan itu. Di balas dengan senyuman, Duduk di kursi roda dengan perban di kepalanya. "Aku sering lihat kamu di sini. kalau boleh tau kamu sakit apa?" berdiri menyamping dengan melihat yang sama persis yang di lihat perempuan itu. Senyumnya terlihat sendu dengan bibir yang pucat. "Aku sakit kanker otak. Dan bulan ini mungkin adalah akhir." Tuturnya ambigu, Jian tak bertanya lagi karena ia takut terkesan tidak sopan.
Hari-hari mereka habiskan dengan berbagi cerita di taman itu.
Tiba hari di mana Jian sudah boleh pulang. "hari ini aku sudah harus pulang, kapan-kapan aku akan datang menjenguk mu"
"Terimakasih" jawabnya sembari memaparkan senyum indah.
"Kamu masuk rumah sakit karena apa?, Kamu tidak pernah memberitahu." tanya perempuan itu.
"Haha.. sebenarnya aku sudah tidak ada di bumi ini, seharusnya. Karena temanku menolong, jadi aku selamat."
"Kenapa?"
"Dunia ini kejam, orang tua ku berpisah, dan mereka sudah tidak lagi peduli padaku sehingga diriku menjadi kepribadian yang tertutup, penyendiri tidak memiliki teman, dan.."
"Jika kamu tidak ingin memberi tau, tidak apa" perempuan itu mengelus lembut pundak Jian menegarkan.
"Aku di lecehkan. Aku benar-benar tidak memiliki semangat hidup lagi."
"jangan yah, banyak orang yang ingin hidup. Salah satunya aku, Kamu harus menghargai nyawamu. Kamu harus tetap semangat, aku tidak mengerti itu seberat apa. Tapi aku tau kamu pasti kuat, jadi kamu harus tetap hidup."
"Kamu benar, sekarang aku sudah merasa lebih baik setelah bertemu dengan mu. Kamu juga harus semangat, pasti nanti ada kemungkinan kamu untuk sembuh." Setelah berpamit Jian pulang kerumahnya. Ia memutuskan untuk sekolah lagi dan bekerja untuk menyambung hidup. Uang tabungannya sudah habis untuk biaya berobat, ia cukup menyesal dengan kebodohan yang ia lakukan, dan untungnya gagal. Seminggu ia menjalani kehidupan normalnya, hari ini dia memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk Kana. Iya perempuan yang dia temui di taman rumah sakit.
Saat di sana bukannya bertemu dengan Kana ia malah mendapat secarik kertas yang berisi tulisan tangan untuknya.
*
Halo Jian..
Saat surat ini sampai ke kamu aku yakin kita tidak akan bertemu lagi. Sekarang aku merasa lebih baik, akhir hidupku terasa lebih bewarna sekarang aku bahagia.
Kamu jangan patah semangat ya Jian
Walaupun dunia ini kejam kamu harus tetap melewatinya, jangan sampai kamu kalah karenanya.
maafkan orang-orang yang menghakimimu, mungkin dengan itu hidup terasa lebih tenang.
Maaf aku pergi sebelum sempat berpamitan, dan terimakasih karena sudah mau menjadi temanku, walau sebentar. Aku harap kita bisa bertemu lagi.
Kana..
...
Dengan tangis yang tak tertahankan semua emosi yang tak dapat tersalurkan pertemanan ini harus usai. "Iya Kana, kita akan bertemu kembali nanti." Secarik surat ini menjadi penutup dari kisah pertemanan singkat mereka.