Perkenalkan aku Amira gadis dengan segala pikiran yang tak di mengerti.
Aku mencintai tarian dan tangisan semesta, aku mencintai dua hal itu.
Kala itu aku melihat seorang anak laki-laki nama nya Farhan, dia lugu dan manis. Kulit nya kecoklatan, tingginya hanya sebatas pundak ku.
Kami bertemu di bawa tangisan semesta, aku dan Farhan bertemu sebagai kakak dan adik.
Aku senang, sangat senang karena kala itu aku tak sendiri lagi,
Tapi lagi-lagi takdir mempermainkan ku, Farhan anak laki-laki yang sudah ku anggap seperti adik, aku sayangi layaknya saudara sendiri ternyata anak dari ayah kandung ku dengan perempuan lain.
Farhan ternyata anak dari perempuan simpanan ayah ku yang tega merusak kebahagiaan ku dan mama.
Lagi-lagi aku dikecewakan kala aku mendengar satu fakta baru bahwa aku hanya anak adopsi, aku hanya anak yang tak terurus dan di buang di panti asuhan oleh orang tua ku, aku hanya anak tak diinginkan oleh semesta.
Mengapa takdir begitu mencekik ku?
Mengapa?
Aku terus bertanya-tanya tapi tak ada jawaban dari langit yang ku pandang.
Dibawah rasa sedih ku, aku menari dengan penuh cinta di bawah tangisan semesta, aku menunjukan kerapuhan ku pada Tuhan sang pencipta aku menunjukan sisi manusia ku,
"Tuhan aku terlalu rapuh untuk segala takdir mu" teriak ku di bawah guyuran hujan.
Aku tertawa lalu menangis.
Aku berlari lalu tersandung.
Kalian tahu... Yang luka bukan fisik ku tapi jiwa ku.
Aku memendam semua keresahan hati, aku tetap tidur dan bangun di waktu yang berbeda tetapi di kenyataan yang sama.
Kenyataan bahwa aku hanya anak adopsi, kenyataan bahwa selama 13 tahun papa bermain dengan wanita lain hingga menghadirkan Farhan.
Aku terlalu rapuh hanya untuk hidup,
Aku selalu merasa kurang dan kurang
Nyata nya aku tak pernah puas akan sesuatu.
Tuhan memberi ku kaki tapi aku ingin terbang layak nya peri,
Aku begitu takut melangkah
Hingga aku rasa terbang lebih baik
Mengelilingi samudra dengan penuh kebahagiaan.
Aku takut terluka lagi, aku takut jatuh lagi, sungguh aku takut.
Hingga akhirnya aku sadar
Langit begitu jauh untuk ku kejar, kaki ku masih berpijak di tanah tetapi harapan ku menembus langit ketujuh.
Aku terlalu naif hingga berpikir bahwa dunia ku adalah milik ku, hidup ku adalah pilihan ku hingga aku di tunjukan bahwa nyatanya aku di ciptakan hanya untuk mencari amal lalu di matikan dan hidup kekal di akhirat.
Raga yang selalu aku jaga dari segala bahaya akan menjadi makanan cacing tanah, jiwa ku akan berpulang dan raga ku hanya tersisa tulang.
Nyatanya hidup telah di atur dari kelahiran ku hingga kematian ku.
Oleh sebab itu, aku ikhlaskan semua hal yang terjadi dalam hidup ku. Hingga akhirnya aku mendapatkan kebahagiaan ku, kebahagiaan yang aku cari-cari selama 25 tahun hidupku,
Aku bertemu dengan laki-laki yang setiap aku pandang aku akan jatuh cinta, setiap aku tatap manik mata nya aku akan layu layaknya bunga karena pesona nya.
Dia, restu Adjie Panggeswa laki-laki pilihan ku, dengan nya aku harap dunia ku akan berwarna, dengan nya aku harap dapat melengkapi ibadah ku.
Terimakasih Tuhan, maaf dahulu sempat berburuk sangka atas takdir mu.
Kini aku benar-benar berbahagia, aku sudah berdamai dengan keadaan, seiring waktu aku mengerti bahwa sesuatu yang terjadi biarlah berlalu bagai air. Kelak benar atau tidak nya akan di tunjukkan.
Dan benar saja, papa dan mama bercerai saat aku berusia 18 tahun dan kini mama sudah berbahagia dengan suami nya yang memperlakukan mama layaknya permaisuri nya.
Terimakasih Tuhan.
Terimakasih..