Di suatu kota hidup sebuah keluarga yang bisa dibilang cukup hangat. Anggota keluarga itu saling membagi kehangatan satu sama lain. Tak heran, lahir seorang anak perempuan yang memiliki wajah cantik bak putri di negeri dongeng yang seakan membalas kasih sayang mereka yang tulus.
Anak perempuan itu dinamai Nara.
Seperti yang sudah diduga, Nara tumbuh dengan kehangatan serta kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sehingga ia juga terkenal ramah kepada banyak orang.
Namun, pada suatu hari keluarga kecil itu tak lagi bahagia seperti semula. Sang ayah terlibat dalam suatu kecelakaan beruntun. Wanita yang menjadi istri dari pria itu sudah pasti sangat terpuk Sehingga pada umurnya yang baru menginjak 10 tahun, ia harus tinggal hanya dengan sang mama. Nara tumbuh dengan cepat, walaupun tak lagi merasakan hangatnya keluarga mereka karena sang ibu sibuk untuk bekerja. Mereka akan mengobrol setelah ibundanya pulang di malam hari. Karena hari-hari Nara diselimuti oleh kesepian, suatu hari Nara diajak oleh teman sekelasnya untuk menonton sebuah pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat berbagai macam penampilan menarik dari bidang seni musik, seni rupa dan juga seni suara. Ini adalah pertama kalinya ia mengenal seni suara.
Dari situ, setiap dirinya pulang sekolah untuk hanya sekedar melepas lelah. Nara mulai bersenandung menyanyikan lagu-lagu yang ia tahu. Beberapa kali ia bahkan membuat lagunya sendiri dengan gitar cokelat yang merupakan satu-satunya peninggalan sang ayah sebelum berpisah. Ia juga sering menonton penyanyi yang diidolakan dari ponsel miliknya untuk mengajarinya. Selain itu, tanpa diketahui oleh sang ibunda tercinta, ia beberapa kali ikut serta dalam pentas seni yang digelar di sekolahnya.
Sampai suatu ketika Nara menanyakan suatu hal dari lubuk hatinya.
"Ma, boleh tidak kalau aku ikut kelas vokal?" tanya Nara kepada sang ibu.
Saat ini mereka sedang mengobrol santai di kamar. Selalu seperti ini memang, sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
"Itu membuang waktu. Kamu bisa gunakan waktu itu untuk belajar, sayang." jawab wanita berstatus ibu itu sembari mengeringkan rambutnya.
Nara sangat tahu, apa arti dari jawaban mamanya itu. Artinya tentu, ia tak boleh pergi. Nara sedikit kecewa akan itu. Padahal dirinya bercita-cita untuk menjadi penyanyi yang dikenal orang lain sesuai bakat yang dipunyainya.
"Kalau aku ikut lomba menyanyi?" tanya perempuan berwajah cemerlang itu.
"Itu terserah pada dirimu. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu."
Aneh, mamanya mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu tulus tapi dengan wajah yang terkesan tak peduli. Nara bingung harus membahas apa lagi.
"Nara, mama dengar teman kamu yang bernama Erinna jadi perwakilan sekolah untuk olimpiade minggu depan?
-kamu juga pasti bisa seperti dia. Nanti mama masukkan kamu ke bimbel ya?"
Sebenarnya dirinya sudah muak terhadap semua bimbel yang mamanya coba masukkan. Bayangkan, setiap hari setelah penat di sekolah ia harus segera pergi lagi ke bimbel yang sudah didaftarkan oleh mamanya. Ya, terbukti sih nilainya sangat terbantu dengan itu dan mamanya turut senang ketika ia berhasil mendapat peringkat paralel di sekolahnya. Tapi yang membuatnya tidak bisa mentolerir lagi ialah mengapa dirinya tak diperbolehkan untuk hanya sekedar melakukan apa yang ia sukai?
Walau di pikirannya terbesit berbagai perasaan tak terima, Nara hanya menyunggingkan senyum. Kembali sadar jika ia hanya memiliki sang mama yang telah merawatnya dan melindunginya menggantikan sang ayah.
"Sepertinya bimbel yang biasa sudah cukup deh, ma." finalnya.
"Lho? Bisa aja cara yang diajarin bimbel lain beda dan memudahkan kamu buat belajar lagi kan?"
Mamanya ini tidak akan ada habisnya kalau sudah berusaha meyakinkannya suatu hal. Yah, dirinya lagi-lagi pasrah dibawah kehendak wanita yang berstatus mamanya itu.
Jam terus berdetak, membuat hari semakin cepat dilalui. Setelah malam itu, mamanya harus pergi ke luar kota untuk melakukan kewajibannya selama kurun waktu 2 minggu lamanya.
Hari demi hari Nara lalui ditemani sepi. Dirinya begitu sibuk sekarang ini untuk mempersiapkan ujian mendatang. Tak ada waktu untuk sekedar bersenandung riang lagi semua waktunya ia berikan untuk meraih sebuah angka yang selalu dibangga-banggakan oleh mama. Khusus untuk 'angka' itu, mamanya memasang standar begitu tinggi untuknya. Sejak dirinya menduduki bangku sekolah menengah pertama, semangat mama mulai menggebu-gebu.
Kata mamanya waktu itu "pokoknya mama akan melakukan apa saja agar kamu pintar. Lalu bisa melanjutkan kuliah dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Percaya sama mama, hidup kamu akan sukses kalau kamu nurut sama mama. Okey?"
Di bawah tenangnya langit sore, Nara mendudukan diri di halaman berumput depan rumahnya. Ia sedang menghindari pelajaran sementara waktu.
"Kenapa mama tak membiarkanku ikut les vokal? Kenapa keinginanku dan mama sangat jauh berbeda.." monolognya dengan tangan jahil menyabuti helai demi helai rumput.
Deringan telfon berbunyi, syukurlah Nara membawa ponselnya jadi ia tak harus berlari ke kamarnya dulu.
Deringan itu tak lagi terdengar kala Nara mengangkatnya. Itu nomor mama.
"Halo, sayang? Sedang belajar ya? Maaf kalau mengganggumu. Mama hanya ingin mengabari ternyata disini akan sedikit lebih lama. Apa kamu keberatan, nak?" jelas mamanya dari sambungan itu.
"Tak apa, jangan terlalu lelah, ma.. oh iya, jika aku berhasil meraih peringkat satu besok, mama ijinkan aku pergi bergabung sebuah band ya??" pinta Nara setelah mengingat akan dibukanya band sekolah.
"Boleh, tapi harus pastikan kamu bisa qtur waktu untuk belajarmu juga. Oke? Mama tutup ya. Mama hubungi lagi kalau luang. Semangat anak mama!!"
Sambungan itu lalu terputus seolah terburu sesuatu.
"Mama pasti sangat sibuk. Sudahlah, aku harus kembali pada buku-buku ku yang sudah menantiku.."
Nara beranjak dari duduknya lalu menebahkan rumput-rumput yang menempel.
Ia memasuki rumah bercat dominan putih itu lalu menguncinya mengingat senja mulai tiba.
Tanpa terasa seminggu penuh yang mereka yakini sebagai minggu keramat sudah usai. Ujian telah usai diadakan. Sekarang mereka free, tinggal para guru yang bekerja.
"Nara, kamu jadi join band? Ayo audisi bersama! Kebetulan aku juga ikut." itu Karina, teman yang selalu menemani sedari SMP dulu.
"Tentu saja, besok siapa yang memanggil siapa?"
"Aku akan ke kelasmu, lagian kelasmu juga searah dengan tangga ke lantai 3." jawab Karina seadanya.
"Baiklah, aku pulang duluan." pamitnya kepada Karina.
Sesampainya di rumah, Nara bergegas untuk bebersih dan mengganti bajunya dulu. Setelah semua rampung, Nara mulai berlatih untuk audisi besok. Ia berpikir jika besok pasti banyak peserta yang mempunyai suara emas menyaingi dirinya, maka dari itu ia akan berlatih serius kali ini.
Hingga matahari mulai menarik sinarnya, Nara terus mengevaluasi diri. Kursi, lukisan yang tersemat di dinding juga lemari di ruangan itu telah menjadi saksi bisu betapa semangatnya gadis itu.
Hari yang dinanti pun tiba. Siang ini, di bawah sinar matahari yang sedang terik-teriknya Nara juga temannya, Karina melangkahkan kakinya menuju lantai 3 dimana mereka akan mengujikan kemampuan mereka.
Sampai disana mereka berdua tak lagi terkejut dengan antrean yang panjang. Tentunya, karena band sekolah ini lumayan terkenal dikalangan mereka bahkan sampai kalangan umum. Bosan menunggu, kini kesempatan Nara untuk masuk. Doakan saja dirinya tak mengalami demam panggung yang parah. Setelah meyakinkan tekad, Nara mulai berjalan memasuki ruang kelas yang sudah disulap menjadi studio lengkap dengan bantalan tertempel memenuhi dindingnya.
Tepukan tangan langsung terdengar kala Nara menyelesaikan seutas lagu. Oleh para pembina yang merupakan anggota band sebelumnya langsung menyatakan ia lolos. Nara senang sekali, akhirnya bisa ikut berpartisipasi dalam sebuah kegiatan yang ia gemari.
Singkatnya, Nara jadi sering pulang lebih sore dari biasanya setelah menjadi vokalis band tersebut. Walaupun tidak memengaruhi nilai, mamanya sering merasa jengkel karena anaknya malah hampir tidak pernah di rumah waktu siang. Malam ini, perdebatan mereka harus dimulai kembali.
"Nara, mama menyesal ijinin kamu ikut band." kata sang mama sambil menatap ke arahnya.
"Kenapa? Nilaiku ga turun kok, ma. Aku juga rajin bimbel." Nara menundukkan kepalanya merasa tak nyaman dengan tatapan itu.
"Bukan begitu, kamu jadi sering ga dirumah.. kamu ga cape? Mama khawatir kamu drop, sayang."
Nara mendongak setelah mendengar ucapan itu.
"Ma, aku ingin jadi penyanyi.. boleh ga aku jadi penyanyi aja?" Nara berkata pelan.
"Apa? Tidak. Tidur sekarang sudah larut." entah mengapa yang tadinya khawatir mimik itu berubah jadi marah. Ada apa dengan mamanya?
Waktu terus berjalan. Setiap Nara pergi untuk band, mamanya selalu terlihat seperti sedang mengibarkan bendera perang. Mereka memang sudah perang sepertinya, perang dingin. Sekarang Nara sudah duduk di kelas XIII IPA 1 yang sudah berada di fase santai-santai menunggu ijazah. Berkat bandnya, ia jadi orang yang sangat dikenal baik oleh murid sekolahnya bahkan murid sekolah lain. Siapa yang tidak mengenal Nara Adeline dan bandnya di sekolah itu. Dan selama itu pula, ia semain jarang berbagi cerita serta keluh kesah dengan sang mama. Entah siapa yang memulai, hubungan mereka sedikit renggang sekarang.
Hingga suatu ketika, setelah momentum berharga di hidupnya (kelulusan) dengan hati-hati Nara mengobrol dengan mamanya.
"Ma, besok ada audisi di Jakarta. Boleh aku ikut? Ini mungkin bisa jadi kesempatan aku buat jadi penyanyi."
Mamanya menghela nafasnya berat.
"Ga boleh ya.."
"Kenapa ma?? Kenapa mama selalu ngekang aku. Mama suruh aku ini itu tapi apa yang aku suka mama gabolehin.
-kenapa sih mama gak kayak mamanya temen-temen?" ucap Nara dengan nada yang tinggi.
Selarik kalimat itu seperti menembus ke hati sang mama. Dengan helaan nafas panjang nan berat serta suara yang bergetar, sosok paruh baya itu mengeluarkan suaranya.
"Nara.. sayang, kamu itu anak mama satu-satunya.. kamu itu satu-satunya yang menjadi teman mama, semangat mama buat terus menjalani hari-hari yang kamu mungkin gatau kalau cukup berat.
-mama cuma gamau.. kamu kesulitan di masa depan makanya mama selalu nyuruh kamu buat belajar. Maafin mama ya? Kalau mama memberatkan kamu selama ini. Tapi mama pengin kamu disini aja, di sisi mama sayang.. mama kesepian kalau gaada kamu. Mama takut kamu kenapa-kenapa disana.."
final sang mama dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Mama... maafin aku.. aku cuma pengen mencoba hal yang selama ini pengen aku coba. Aku ga bermaksud buat ninggalin mama.." tangisnya pecah setelahnya.
Mereka berpelukan hangat dengan Nara tenggelam di bahu sang mama serta bulir-bulir air mata tak tertahan yang masih keluar menemani dinginnya malam.
"Oke.. Nara, mama bolehin kamu pergi. Semoga kamu berhasil disana. Tapi sempatkan untuk mengabari mama ya sayang ya? Lebih baik menyesal telah mencoba daripada menyesal tak mencobanya sama sekali. Mama bantuin packing ya?" Mamanya melepas pelukan panjang tersebut dan mulai menyeka air matanya. Ia mencoba menguatkan diri di depan buah hati yang telah tumbuh jadi remaja yang cantik ini.
"Mama.. aku pikir aku gaperlu lagi kesana.. aku tadi terlalu gegabah.." ucap Nara.
"Gak sayang, kamu harus coba itu setidaknya sekali. Karena mama sangat tau rasanya.. menyesal di akhir karena tak pernah mencoba hal itu. Ayo packing.."
Malam itupun, mereka habiskan untuk packing, menyiapkan barang apa saja yang diperlukan bersama-sama.
Setelah fajar mengeluarkan sinarnya, Nara dan sang mama sudah berada di bandara. Sebelum berangkat, tidak lupa untuk sebuah pelukan hangat di akhir. Nara resmi berangkat ke Jakarta. Mamanya setia menunggu sampai pesawat yang ditumpangi Nara take off. Walau berat, dirinya hanya dapat berdoa supaya anak semata wayangnya akan baik-baik saja dan sukses menjadi apa yang ia inginkan.
Beberapa tahun berlalu. Nara semakin mempunyai relasi yang luas. Ia dikenal banyak orang. Mengadakan konser di sana sini dengan lagu-lagu yang dituliskannya sendiri. Sosok mamahnya beberapa kali menonton konsernya, ia terlihat terharu saat melihat putrinya bersinar di atas panggung dengan balutan pakaian gemerlap serta alunan lagu yang menyapa sopan pasang-pasang telinga yang mendengarkan.
Tak menyangka bahwa putri kecilnya ini telah menjadi pribadi yang hebat yang mampu mematahkan semua prasangka yang ada di dalam hatinya. Ia yakin, Nara tak akan menyesal dengan langkah tegapnya ini. Karena dirinya bisa merasakan betapa gentar buah hatinya dalam menggapai cita yang dihalau banyak hal sejak dulu.
-fin-