Sore menjelang malam tiba, Syaira dan Ahmad masih berada di kampus dan masih di dalam kelas saat semua orang sudah pulang. Perkuliahan sudah selesai setengah jam yang lalu, waktu menunjukkan hampir magrib. Suasana kampus sudah sangat sepi, hampir tidak ada orang lagi di area kampus. Karena banyaknya lampu yang rusak dan tak diganti oleh pihak pengelola fasilitas kampus, suasana tempat itu menjadi mencekam saat semakin gelap. Belum lagi ditambah mitos yang beredar di kalangan Jurusan Sastra bahwa ada sosok penunggu yang mendiami kampus mereka itu. Maklum, kampus tertua dan fasilitasnya nyaris semakin tidak terawat.
"Mad, kau ga takut?" tanya Syaira. Ia berdiri depan pintu sambil memerhatikan koridor yang sunyi.
"Gak ah, ngapain?" sahut Ahmad dengan nada tak bersemangat. "Aku cuma takut kehilangan dia, tapi sudah kehilangan dia. Apa yang harus ditakutin lagi?"
"Halah, galau mulu kau ni. Dasar problematik!"
"Ya udah," jawab Ahmad malas. Ia masih duduk di depan kaca sudut ruangan, tak jauh dari papan tulis.
"Yaudah ayo kita pulang. Lama amat numpang wifi doang, dari tadi lagi!" uacap Syaira.
"Sabar oyy, dikit lagi download film nya nih." Ahmad menjawab tanpa memandang.
"Lagian, mau nonton film ga modal, download kok numpang wifi kampus. Aku mau pulang, Mad, ku tinggalin juga kau nanti!" Syaira menyandar ke terali pintu, makin tak sabar ingin pulang.
"Sabar napa si, ngapain takut kali!" jawab Ahmad. "Dewi tu ga jahat kok, kalo ketemu dia paling negur doang!"
"Woi, ngomong tu di jaga. Kau beneran ga takut?" Syaira terbelalak. Ia langsung beranjak ke dekat duduk Ahmad. Perasaannya tidak nyaman.
"Ah, apa si lebai, ga ada apa-apa,Syaira!" Ahmad akhirnya mengalihkan pandangan dari laptopnya yang masih mengunduh film.
"Kau liat ga ada cewe barusan lewat di koridor ni?" tanya Syaira.
"Liat! Anak angkatan bawah tu, santailah!" jawab Ahmad tenang.
"Mana ada anak angkatan bawah di kampus jam segini? Udah malam ni, anjir!"
"Mungkin mereka masuk telat juga, makanya baru pulang jam segini. Bisa aja masuk sama Pak Profesor yang suka seenaknya tu, hahah." Ahmad berkelakar sendirian sementara Syaira ketakutan.
"Mad, hari ini jadwalnya cuma angkatan kita yang masuk. Angkatan bawah lagi kosong jadwal. Lupa?" ujar Syaira.
"Oh iya, ya. Tapi aku liatnya adek tingkat kita kok yang lewat tadi. Si anak A, siapa tu yang kemarin kata Khairul mau bunuh diri gara-gara mental issue. Ha… si Aulia. Aku kenal kok, dia tadi yang lewat tu."
"WAH, BERCANDA KAU ANJ..." Syaira spontan mengebrak dinding dengan wajah syok.
"Ah, apa sih kau?" Ahmad mengerutkan kening.
"Kau ga denger kabar? Dia beneran bunuh diri beberapa minggu yang lalu. Aulia udah ga ada, Mad. Terus siapa yang kau liat tadi?" tanya Syaira dengan suara ketakutan.
"Hahhh, Beneran lu?" Ahmad kini terkejut. "Sumpah, aku ga tau. Aku ga dapat kabarnya. Tapi asli, aku liat jelas, emang si Aulia tadi yang lewat."
"Berarti..."
"..." Ahmad terkesiap. Ia mendadak bangkit dari tempat duduk dan lari pontang-panting meninggalkan ruangan. Ia melihat lagi si Aulia muncul melintasi koridor. Kini ia pun ketakutan dan langsung lari tanpa aba-aba.
Dengan wajah ketakutan, Syaira lari menyusul di belakangnya sambil berteriak, "Ahmad bangs*t, kau tinggalkan aku!"
Di koridor yang nyaris gelap dan kurang pencahayaan itu, Syaira berlari sepanjang jalan mencoba mengejar Ahmad yang jauh lebih dulu. Tapi ketika ia sampai di ujung koridor, Syaira berhenti. Ia menatap sepeda motornya yang terparkir sendirian di parkiran. Ia mengedarkan pandangan ke setiap arah, Ahmad tak terlihat lagi.
"Ahmad, kau ke mana? Kok ilang anjir!" Ia mengumpat kesal. Perlahan sambil mengatur napas yang terengah-engah, Syaira menuju sepeda motornya. Ia masih mencari-cari ke mana Ahmad lari dan bersembunyi ketakutan.
"Gayanya doang berani, giliran ketakutan lari duluan. Madd, mana kau? Laptop mu masih tinggal tu di kelas, ambil sendiri ya. Yoklah pulang kita lagi dah mau malam ini!"
Syaira menyisir seluruh arah koridor dan tiga bangunan kampus yang berjejer. Tidak ada tanda-tanda Ahmad. Sementara suasana makin gelap, makin mencekam. Ia merasa seperti ada banyak orang di tempat itu, padahal nyatanya tidak ada seorang pun. Suara jangkrik pun mendadak terdengar horor. Syaira naik ke sepeda motornya.
"Apa aku tinggalin aja Ahmad ni ya!" ujarnya sebal. Dalam kebingungan dan ketakutan, ponselnya berbunyi. Ia langsung menerima panggilan masuk, yang ternyata dari pacarnya, Gina.
"Syaira belum pulang?" tanya Gina dari seberang panggilan itu.
"Belum, ini mau pulang."
"Loh, kenapa belum pulang jam segini?" tanya Gina. "Syaira udah dapat kabar belum?"
"Hah, kabar apa?" tanya Syaira. "Si Aulia? anak angkatan bawah tu udah gak ada? Tau kok, Gina!"
"Bukan," sahut Isni. "Temen kita, Ahmad, dia kan udah dua hari gak masuk sejak dia patah hati karna di tolak cintanya oleh Naya"
"Lah, apaan?" sahut Syaira cepat. "Dia masuk kok dua hari ini. Ini aku bareng dia tadi."
"Gak, Sayang," ucap Gina pelan. "Tabah, ya. Ahmad ditemuin di kosnya sore tadi. Ahmad udah ga ada, Syaira!"
"Ga mungkin, Gina. Orang kami bareng kok dari tadi!" bantah Syaira.
"Masa? Mana dia sekarang?" tanya Gina.
Syaira terdiam. Seketika ia sadar, dan suasana kampus makin terasa mencekik napasnya. Ia buru-buru menyalakan motor, bergegas meninggalkan kampus horor it
u.