Terlihat konyol memang, tapi akan kuceritakan kisah ini.
Ini adalah hari kematianku. 15-november-1991. Aku bisa melihat mayat yang tergeletak di tengah ilalang yang bermekaran itu. Kenapa bisa terjadi? Kau akan tau alasannya nati.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
"Kak, gak mau sarapan?" suara adikku terdengar menyadarkanku.
"Aku makan kok" jawabku sambil mengangkat mangkuk nasiku. Terlihat senyuman imut adikku yang sumringah. Aku memakannya cukup terburu-buru, aku baru sadar ini adalah upacara penerimaan siswa baru.
Inilah aku, Niesta Hendra Lestari. Bersekolah di SMA ****** kelas X, ya aku termasuk murid baru disana. Dan aku mempunyai adik kecil bernama Iko Lestari, dia masih kelas 2 SD. Kita memang hanya tinggal berdua, tapi nyatanya kami gak pernah mengeluh. Agak lelah memang, tapi ini tanggung jawabku.
Aku menapakkan kaki di aula penerimaan saat ketua OSIS berbicara di mimbar.
"Telat ya" celetuk salah satu murid yang duduk disebelahku.
"Hehe, iya nih, gegara ngelamun tadi pagi" jawabku canggung.
"Ya, untuk murid baru nanti bisa dilihat letak kelasnya dimana dipapan. Jika ada yang kurang jelas tanyakan pada kakak kelas kalian,cukup sekian" ucapan si OSIS membuyarkan obrolan sambil menuruni mimbar.
Tiba-tiba aku merasakan tanganku seperti ditarik. "Ayo" suara gembira datang dari mulutnya. Aku cuma mengangguk samar.
"Kita sekelas" ucapnya sedikit berteriak sambil memegang tanganku, "kita juga sebangku" lanjutnya saat melihat kertas pengumuman dikelas. Lagi-lagi aku mengangguk.
"Hari ini belum belajar kan?, takutnya udah belajar dan aku belum dapet buku" aku yang dari tadi mengangguk angkat bicara.
"Hmmmmm, sepertinya belum, soalnya aku juga belum dapet buku" ucapnya sambil menggeleng kecil. "Oh iya, kita belum berkenalan tadi" tangan itu menjulur didepanku.
"Niesta Hendra Lestari" aku menerima jabatannya dan menjawab seadanya.
"Niena Putri Kiesta" Lagi-lagi tangan itu membuat ulah, menggoyang secara kasar.
Tepat setelahnya, bel berbunyi dan guru pun masuk. Kami yang sibuk pada kegiatan lain tadi mengambil tempat duduk kami.
"Berdiri" Ucap salah seorang siswa sambil berdiri, "ucapkan salam" sambungnya sambil menunduk. Kami pun mengikuti komando siswa tersebut, berdiri dan mengucapkan salam.
Pelajaran demi pelajaran diikuti sampai bel pulang sekolah berbunyi.
"Dek, kakak udah pulang nih, sekalian beliin cemilan" aku melangkah memasuki rumah yang sepi ini.
"Selamat datang kak" gadis mungil ini membaur ke depan pintu sambil mengulurkan tangan dengan puppy eyes.
Aku hanya terkekeh pelan dan mengeluarkan bungkusan camilan yang disimpan di tas belanja. "Kenapa kakak tertawa?" Iko bertanya sambil memperlihatkan pipi yang menggembung, pipi cubi itu membuatku hanya menggeleng.
Setelahnya aku berjalan menuju kamar dan mengganti pakaian, dan seperti biasa menyiapkan makanan serta lauknya.
Berhari-hari berjalan normal sampai hari itu, hari Kamis sepulang sekolah....
"Asap apa itu" teriakan panik keluar sembari aku berlari ke asalnya. Ternyata rumah para warga juga sudah hancur dan lenyap.
"Sebaiknya kamu cepat lari nak" seorang warga menepuk pundakku dan berlari.
"Kenapa bisa begini" air berlinang di kedua pelupuk mata, aku terduduk lunglai menatap bangunan hancur di depan mata seraya menyebabkan sisa reruntuhan rumahku. Sesaat setelahnya aku melihat tangan yang terpisah dari tubuh pemiliknya, sudah pasti punya adikku.
Terasa ujung senapan yang masih hangat bertengger di kepalaku. Pemiliknya berkata akan segera menghancurkan bangunan lain.
Aku yang ketakutan pun langsung berlari saat perhatiannya terkaburkan. Aku berlari tak tentu arah sekarang, kemanapun aku pergi pasti akan mendapat serangan ini lagi.
Setiap perjalanan yang ku lalui tak luput dari mata air ini. Sebenarnya aku lelah, tapi mau gimana sekarang, sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, dan darah ini adalah buktinya.
Dalam perjalanan, terlihat bunga ilalang yang terbentang indah. Ditengahnya terlihat mata air yang mengalir. Dengan tubuh lunglai aku menghampiri dan mengambil sedikit air. Tiba-tiba air mataku jatuh lagi, mungkin ini pertanda lelahku yang ku tahan.
Waktu pun berlalu dan terik makin panas. Sudah setengah bulan rupanya aku duduk disini dan hanya meminum air. Kepalaku pusing dan aku berbaring di tengahnya.
"Lihat apa? " suara yang ramah dan tepukan menghampiriku.
"Enggak" gelengku pelan.
"Sudah bertemu tuan?" tanyanya lembut. Aku yang sadar pun sedikit panik dan menggeleng lagi. Pergelangan tangan ku ditarik cepat.
"Tuan" Simpuhku dan malaikat yang mengantarku.
Terlihat malaikat bertubuh besar dan memiliki sayap paling besar turun dari tempatnya bersandar.
𝙀𝙉𝘿....