Namaku Wati. Aku memiliki kedua adik lelaki dan perempuan yang masih berusia Empat tahun dan Dua tahun. Aku tinggal di pelosok Desa dan jauh dari kata ramai, Namun masih ada tetangga yang ber jarak beberapa rumah. maklum saat itu masih setengah hutan karena banyak yang transmigrasi disana. Tetapi ayahku ikut eranya transmigran generasi kedua setelah pengadaan transmigrasi.
Saat itu Aku bahagia masih banyak saudara mengelilingiku.
Tak terkecuali saudara kandung adik ibuku, dan sebagian ada saudara tiri, saudara sepupu dari ibuku.
Ibuku sangat bahagia saudara kandung satu satunya letak rumahnya tepat di sebelah ibuku, Beliau adalah Bibiku.
Tetapi Bibiku lebih dulu ikut transmigrasi. Lalu ibuku menyusul ikut transmigranyang mendapat rumah dan seperempat hektar tanah.
Bibiku orang yang lebih mapan hidupnya dari lingkungan di sekitar, ia memiliki mobil, Televisi. saat itu Bibiku satu satunya paling ramai setiap harinya.
Beliau orang yang baik, ramah, dan Welcome kepada siapapun. Aku merasa bahagia seperti memiliki rumah kedua karena Bibi dan Pamanku menyayangiku seperti anak mereka.
Namun sayang, kebahagian keluarga Ibuku dan Bibiku hanya selang 3 tahun saja mereka berdekatan.
Dan akhirnya Bibi dan Paman memutuskan pindah ke kota Jambi untuk mengikuti Transmigrasi selanjutnya. Disitulah Ibuku, Ayahku,Aku begitu sangat kehilangan mereka😭. Aku sangat kehilangan kedua saudaraku anak Bibiku laki laki dan perempuan.
Semakin tahun setelah kepergian Bibiku, banyak penduduk sekitar mengikuti jejaknya untuk pindah ketetangga Desa, adapula yang memilih kembali ke kampung halamannya lalu menjual rumah lahan mereka.
Lalu tinggalah tersisa beberapa tetangga dan dan saudara tiri Ibuku.
Bisa dibilang saudara tiri Ibuku itu orang yang Suka pamer, mudah iri, dan sangat pelit namun suka meminta tolong, suka meminta lauk untuk anaknya,dan suka menginginkan sesuatu yang ibuku miliki.
Padahal kehidupannya jauh lebih mampu dari ibuku.
*TIGA TAHUN KEMUDIAN SETELAH BIBIKU PERGI*
"Wati tolong Ibu pinjami beras ke Bude Jujum pakai payung ya?" Pinta ibuku yang tengah sibuk menyuapi Adikku yang tengah makan.
saat itu hujan mengguyur daerahku, dan ayahku tak kunjung pulang yang pekerjaannya seorang security dengan mengayuh sepeda tua karena jauh berkilo kilo meter dari rumah kami.
"Iya Bu, mau pinjam berapa Bu?" Tanyaku dengan nada sendu.
Betapa tidak? Aku sudah menebak bahwa kesulitan lah yang kita alami. Walaupun usiaku baru 10 tahun, tetapi sudah paham apa yang ibuku rasakan. Tidak punya uang, tidak punya beras, sementara ayahku hanya buruh bulanan yang dengan gaji tak seberapa Dengan menghidupi Empat kepala. Akhirnya membuat ibuku setiap bulannya harus gali lobang tutup lobang ke warung terdekat.
"Pinjam dua gelas aja Wati, Bilang Bude Ijum nanti Ibu nyaurnya nunggu bapak dapet sampingan ngurut ya?"
"Iya Bu"
***
Rumahku dan Bude Ijum berjarak kisaran 50 meter, Dan sesampainya Aku dirumahnya.
"Assalamualaikum Bude Ijum.. Bude maaf, Ibu nyuruh pinjemin beras dua gelas"
Huuuft..
Budeku menarik nafas lalu melirik ke arah suaminya yang tengah duduk di sebelahnya dengan tatapan sekongkol.itu membuatku Deg degan dan malu bila tidak memberikan pinjaman.
"Wa Alaikum salam. Memang Ayahmu belum beli beras? Tukang minem melulu" gumamnya sambil melirikku dengan tatapan sinis.
Aku hanya terdiam tak sampai berucap jika ibu mengembalikannya ketika Ayahku baru mendapatkan sampingan.
"Gak ada Wati!.. pakde juga belum beli beras. Ada juga buat masa besok karna gak ada stok lagi" ucapnya dengan nada tinggi.
"Ya udah bude gak papa, terimakasih. Maaf udah repotin bude"
Aku pergi dengan tangan hampa dadaku sesak, tenggorokanku kering tak dapat menelan ludahku dan mataku menggenang.
Betapa sakit hatiku melihat keadaan ini. Saudaraku budeku satu satunya begitu tega tak sedikitpun membagikan beras. Padahal terlihat ember merah berisi Setok beras yang ada tutupnya tampak penuh.
"Assalamualaikum ibu"
"Wa Alaikum salam Wati. Gimana budemu minjemin nggak?"
Aku hanya terdiam dan langsung memeluk Ibuku.
"Maafkan Wati ibu.. maafkan Wati"
Lalu ibu memelukku seakan mencerna apa yang tengah aku rasakan ia mampu menebaknya dengan tanganku yang kosong.
"Wati, tidak papa nak kamu jangan menangis sudah nak sudaahlah Tidak papa".
Ibu memelukku sambil berbisik karena ibu tak kalah sesak namun tetap berusaha menguatkan ku.
"Jadilah Orang yang sukses nak, supaya kamu menjadi orang yang bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan pertolonganmu" pesannya kepadaku.
SELESAI..