"Hahahaha dasar gendut"
"Itu baju atau keset kaki? Robek robek kayak gitu"
"Hahaha keset kaki dirumah ku aja gada yang robek"
"Udah tau robek masih aja dipake"
"Iyatuh kenapa ya? Atau ga bisa beli? "
"Hahahaha beli makanan bisa baju ga bisa"
"Kerjaannya ya makan mulu, jadi uang untuk beli baju malah jdi makanan"
Lagi-lagi aku bermimpi buruk tentang masa lalu, padahal itu sudah lumayan lama, entah
mengapa banyangan-bayangan itu sunggu melekat pada diriku, menyedihkan sekali pada masamasa itu, walaupun itu sudah berlalu.
Aku memiliki beberapa teman, teman yang selalu ada dan juga selalu menemani ku,
gurau canda yang selalu kami alami dimasa sekolah menengah ini, suka duka kami selalu
bersama apalagi saat ada ujian, kami saling memberitahu jawaban,ya walaupun semua jawaban
kami sangat meragukan hahaha, aku sangat bahagia.
"Eh tugas IPA lu udah belum? Liat donk" Ucap temanku
"Yakali, IPS aja aku keteteran apalagi IPA" Gurauku
"Ah lu mah, masa lalu aja bisa dilupain apalagi mapel"
"Hahahaha"
Kamipun akhirnya sampai di kelas, walaupun nyaris terlambat, dan teman-temanku pun
langsung menghampiri temen untuk nyontek tugas IPA yang belum mereka selesaikan, padahal
aku sudah selesai, aku hanya berpura-pura saja agar mereka tidak mencontek
"Heh dasar manusia, pr kok ngerjain disekolah"sombongku
Gurupun masuk ke kelas dan langsung menagih tugas ipa
Tak lama setelah mapel ipa selesai, langsung dibagikan buku dan diberikan nilai, plot twist
nilaiku yang paling rendah
"Hahahaha selesain dirumah tapi nilai telur"
Seluruh kelas tertawa, akupun ikut tertawa karena aku tidak terlalu memikirkannya.
Tapi aku merasa sedikit ada yang mengganjal, karena ada satu murid dikelas yang baru saja
pindah sinis kepada ku, bahkan saat aku melawak ataupun kejadian lucu dia tidak tertawa, aku
merasa aneh dengan dirinya.
"Udah udah, kalian ga cape apa ngebully dia mulu?"
Disaat detik-detik terakhir aku pingsan disitulah aku mendengar kata kata itu.
Aku berada di keluarga menengah, keluarga memang mempunyai uang yang banyak, tapi
keuangan keluarga hanya untuk kakak dan adik ku, aku anak kedua dari 3 saudara.
Kakak ku
memiliki paras yang cantik dan dia memiliki baju yang sangat menawan, dia selalu dibeliin sama
orang tua ku apapun yang dia mau, termasuk barang branded.
Adikku juga memiliki fashion yang
sangat keren, baju bajunya branded bahkan dia mempunyai mobil yang hanya digunakan untuk
mengantar dirinya saja, dan aku....
Aku kurang mengerti mengapa ada keluarga yang seperti aku, yang dimana orang tuanya
membedakan anak anaknya, padahal dia sendiri yang mau anak, aku memiliki paras yang sangat
biasa bajuku yang bagus hanya seragam putih biru yang biasa dipakai hari senin aku sedikit
bangga menggunakan baju itu karena hanya itu yang menurutku bagus, aku tidak pernah absen
dihari senin, hanya untuk memakai seragam itu.
Saat aku meminta sesuatu kepada orang tua ku, selalu ditolak mentah mentah, makanya
saat ada makanan dirumah aku selalu memakannya, anehnya saat aku memakan itu sampai habis
tak bersisa, tidak ada yang memarahi ku, aku sedikit binggung.
Pada esok hari yaitu hari kamis, disekolahku dihari kamis kami harus menggunakan batik,
sebenarnya aku sangat benci memakai baju batik ini, baju ini sudah lebih dari 10 tambalan, dan
dibagian perutku serasa mau meledak, dan hari kamis ini juga aku merasakan.
"Udah tau baju sempit masih aja dipakai"
"Hahaha mana udah banyak tambalan lagi"
"Tetangga ku aja ban motornya cuman satu, lah ini ngitungnya harus pake seluruh jari"
Hahahahaha
Yaa itu alasannya, sangat menyedihkan. Walaupun begitu aku masih memiliki teman, ya
satu teman, entah mengapa aku sangat nyaman bersamanya, dia baik dan dia tak pernah mandang
lawan ataupun kawan, dia tidak pernah membeda bedakan temannya, dan aku salah satunya, aku
senang sekali.
Dia tahu aku dari keluarga yang trpandang anakknya tapi dia tetap memilih
berteman dengan ku, dia tahu saat aku dibully, perasaan ku tidak enak, dan hal negatif yang ada
di diriku, dia selalu ada untuk menemaniku terima kasih teman.
"Udah udah, kalian ga cape apa ngebully dia mulu?
"Emangnya kenapa? Kamu keluarganya? Saudaranya? Pahlawan?"
"Bukan itu, maksudku kalian gada kerjaan lain apa? Ngapain coba ngebully orang mulu? Toh dia
juga udah pingsan"
"Haa gini amat punya temen ga pernah beda bedain, gini ya ni anak dari keluarga terpandang,
banyak uang, apapun dikabulin, tapi liat anak satu ini. Baju aja udah kayak kertas cv di robek
robek, masa keluarga terpandang malah layak gini? Aneh banget"
"Lah emangnya kenapa? Kan dia diberlakuin ga adil, ga kayak kakaknya ataupun adiknya, yang
dia dapati hanya makanan yang disiapin di meja makannya, apa yang salah? "
" Lu ga ngerti apa apa, cetek, dangkal, sempit, ya kalau banyak uang ya nyolong la atau apa kek
biar dapat uang dari orang tua"
"Semua orang ga kayak lo pada ya, dia takut mau maling, dia bikin salah aja selalu diinget,
apalagi mau nyolong duit orang tua, mikir lah mental bullying"
"Kenapa semakin hari lu makin ngebella dia, semakin kuat juga, lu lebih milih dia? Daripada
temen-temen yang udah bantu lo?"
"Bantu? Apa yang kalian bantu? Adakah gua minta bantuan pada kalian? Gada broo gada, yang
ada lu pada minta contekan ke gua"
"Wah nyolot ye ni anak, lu mau gua pukul? Lu udah gada bedanya sih kek dia, lu lupa pas kami
bantuin lu saat lu mau dikeroyok?"
"Gua ga terlalu mikirin, kalau gua dikeroyok pun gua ga msalah paling juga cuman pingsan, gua
juga ga minta bantuan loh pada kan"
"Wah keterlaluan banget dah ye ni anak, pukulin dah pukulin"
Setelah kejadian itu, aku terbangun dari pura-pura pingsan, aku membawa dirinya ke UKS
secepatnya, setelah ia sampai aku hanya bilang kepada guru bahwa kami hanya terjatuh, setelah
itu aku kembali ke kelas belajar seperti biasa dan saat jam pulang aku langsung pulang, aku
sedikit binggung kenapa dia selalu dibully, padahal dia tidak melakukan apapun, aku bahkan
kasihan dengan dirinya yang tak pernah di pandang siapapun.
Pada esok harinya di hari kamis, aku melewati jalan yang berbeda karena aku mau
membeli sarapan, disaat aku setelah sarapan dan sampai di belakang sekolah aku melihat dibully
lagi karena bajunya, awalnya aku ingin lari saja, tapi aku memutus kan untuk membantunya,
malangnya kami berdua sama-sama membiru.
Kamipun kembali ke kelas, belajar seperti biasa, dan sampai pulang dia mengajakku untuk
pulang bareng, ya tentu saja aku terima.
Eh maaf ya, gara gara aku dibully kamu datang untuk ngebantu, malah ikut digebukin"
"Hahaha gapapalah santai, ya aku sedikit pd kukira kita bakal menang"
"Hahaha menang? Dari mereka? Yakali mending aku tidur dirumah"
"Hahaha"
Canda gurau kami terus berlanjut sampai ke depan gerbang rumahnya, rumah yang besar,
dan ada satu mobil sport aku ga tahu namanya, yang didepan garasi seolah itu memang
ditunjukkan untuk pengunjung, benar ternyata, dia keluarga yang terpandang.
"Yaudah ya makasih udah mau pulang bareng"
"Sama-sama santai aja, kalau mau pulbar lagi ajak ya aku bakal nerima terus kok"
Setelah itu dia terseyum dan mengucapkan sebuah kalimat "kayaknya ini terakhir"
Tak lama hening dan dia menuju ke pintu, akupun sedikit binggung mungkin terakhir untuk
pulang bareng, ya itu harapanku....
Di hari esoknya aku bertemu dia lagi, dia masih menyapa ku, kami berbincang, canda gurau, dan
saat pulang, dia langsung bilang.
"Aku duluan ya"
"Owh okey, hati hati ya"
Ya mungkin dia sudah melihat titik cerah karena hari kemarin saat kami pulang bareng, aku
senang sekali rasanya, tapi sayangnya itu harapanku.
Keesokan harinya dia tidak masuk, aku hanya kepikiran dia sakit, ya karena masalah hati hari
kamis, awalnya sedih tiba-tiba bahagia karena mengajak ku pulang.
3 hari
4 hari
5 hari
Aku semakin merasa janggal, akhirnya aku bertanya kepada wali kelasku, ternyata
setelah aku mencari cari info, dia sudah pindah rumah, tapi entah mengapa aku merasa ada yang
janggal, dan perasaanku yang sedikit merasa tidak puas dengan info itu, tak lama aku
memutuskan untuk menghampiri rumahnya, aku berniat kerumahnya yang dulu, tak lama bel
pulang pun berbunyi.
Nafasku terhengah-hengah didepan rumahnya, terlihat tidak ada tanda tanda kehidupan,
setelah aku berkeliling, dan benar saja hanya ruangan gelap gulita, akhirnya aku memutuskan
lewat belakang rumahnya, aku menerobos masuk dengan pintu belakang yang sedikit sudah usah,
saat aku masuk kerumahnya akupun langsung berkeliling ke seluruh rumahnya.
Setelah aku sampai di depan pintu ruangan, aku merasa aura yang sangat mengencam, dan
perasaan yang tidak enak sekali.
Ceklek' suara gagang pintu yang ingin kebuka, dan kubuka pintu pelan pelan, dan saat terbuka
pintunya.
Aku melihat seperti patung yang tergantung dengan tali tambang, dan segerombolan lalat
ada dibeberapa sudut ruangan, semakin aku mendekati patung itu ternyata benar, dia temanku
yang dibully.
Disaat itu aku binggung, aku hanya tercengang, aku tidak sedih, aku juga binggung
mengapa disaat itu aku tidak takut sama sekali, dan saat aku melihat kebawah ada kertas dan
beberapa kalimat yang didalamnya.
Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, aku tidak peduli, mau dibully mau
dibandingkan atau apapun yang yang membuatku terluka, aku benar-benar tidak peduli, sama
sekali, tapi aku memikirkan jauh, aku memikirkan teman-teman ku dan lingkungan ku yang
mendukung dia kena imbasnya, aku kasihan dengan mereka, aku tidak mau lingkungan positif ku
juga kena, daripada aku pindah dan mendapatkan hal yang sama dan teman-temanku juga, aku
tidak mau ini menyebar, dan untuk keluarga ku terimakasih dengar ucapanku untuk pindah
rumah, jadi mayatku tinggal tunggu hilang saja, maaf teman yang mendukungku, dan terima
kasih telah mengdukung ku selama ini, aku sangat bersyukur kamu tidak pernah membeda-bedakan teman, aku sangat bersyukur, terima kasih.
Entah berapa lama kertas ini menjadi basah, aku tidak memikirkan apapun, pikiranku
kosong, aku binggung apa yang harus lakukan, apakah ini salahku terlihat oleh dirinya karena,
aku merasa sangat bersalah, tak lama akupun pingsan, dan ternyata itu masuk berita dan aku
ditanya beberapa pertanyaan.
3 bulan kemudian tanpa dirinya
Aku hanya meneruskan hidupku, tapi aku membuat sebuah janji, aku berniat untuk balas dendam
kepada mereka. Aku berjanji.
Sudah berberapa tahun berlalu, akupun akhirnya kelas 3 SMP dan aku telah menemukan
pembully itu disekolah lain, aku langsung memutuskan pindah sekolah ke sekolah mereka. aku
berhasil membuat tubuhku berubah dan wajahku sedikit berubah, aku langsung mencari mereka,
dan ya ternyata kami satu kelas.
Aku melihat dirinya yang sangat senang bersama teman-temannya, dan terkadang dia
bercerita tentang pembelaan dia yang membela korban bully, aku tidak tahu mengapa dia mrmbuat dongeng itu,
dan disaat dia bercerita dia selalu bilang kepada orang-orang bahwa dia sangat menyesal dan
terkadang bermimpi buruk, karena kurang membantu. Busuk sekali.
Aku benar-benar membenci dia. Dia selalu playing victim, bilang inilah, sedihlah,
nyesalah, dan segala macam dongeng-dongeng yang dia ucapkan dari mulutnya, aku tidak ingin dia menikmati hidupnya
setelah kontribusi bunuh diri.
Sebulan kemudian aku sekolah disana akhirnya aku memutuskan.
"Hey, boleh ikut aku sebentar?"tanyaku
"Boleh,mau pulang bareng?"
"Boleh saja, kalau kamu masih mau setelah ini"
"Maksudnya?"
Akhirnya kami sampai dibelakang kantin yang jarang didatangi orang dan sepi sekali.
"Kamu inget ga dengan berita anak yang bunuh diri?"
"Iya aku ingat, aku sedih banget rasanya, aku sudah membela tapi tetap kena"
"Ohh iyakah, sedih juga ya padahal kamu udah mau ngebella"
"Yaa mau gimana lagi"
"Iya benersih, tapi aku juga kaget loh, kukira bakal dibongkar, ternyata engga ya disini, bahkan
temen-temenmu hanya diam saat menceritakan dongeng itu"
"Maksudmu?" Suaranya yang sedikit terhengah hengah dan sedikit bergetar
Mungkin dia sedikit sadar dengan mukaku
Haaaaaah aku bernafas panjang
"aku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan"