Jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam lewat seperempat. Sendunya rindu masih menguasai mataku, butir-butirnya kuyakini jatuh tempat ke atas sajadah yang kududuki setengah jam yang lalu. Menangis di pertengahan malam seperti ini adalah kegiatanku selama beberapa hari terakhir.
Entah karena apa, tapi rasanya kuingin merayu Tuhan. Mengingat betapa tidak tahu dirinya aku belakangan ini dengan seringnya melupakan panggilan-panggilan cinta yang Dia layangkan.
Setelah simpuh di malam sepertiga itu, aku terduduk di pojok mihrab — tempat yang biasa kutempati saat ziyadah dan mentadabburi surat cinta-Nya. Tetapi kali ini bukan ayat-Nya yang kuingat, melainkan sebuah nama yang tak sengaja lewat.
Seseorang itu, yang pernah mengisi relung hatiku beberapa waktu lalu. Seseorang yang membawa segenggam harapan ke dalam hari-hari yang menurutku menyebalkan, hadirnya ibarat hujan yang kembali sejukkan diri usai kemarau cinta yang berkepanjangan.
Katanya, bukan tanpa sebab cinta hadir di hati seseorang. Pun hadirnya di waktu yang tidak tepat itu jelas membawa serta sesuatu yang belum kupahami sampai sekarang. Namun, aku pernah membaca, bahwa hadirnya seseorang ke dalam hidupmu membawa dua alasan tepat.
Sebagai teman atau sebagai sebuah pengajaran.
Dan kuyakini kehadirannya adalah sebagai sebuah pelajaran bagiku. Bahwa jangan meletakkan hati di sembarang hati, atau hati itu akan patah nanti. Jangan curahkan kepercayaan pada seseorang yang bahkan tak menghargai kehadiran, atau rasa percaya itu akan dihancurkan.
Tanpa sadar, tangis kembali membanjiri mataku yang telah sembab. Mengingat namanya saja membuat hatiku menjerit, sakit. Haruskah kusebut ini cinta atau kegilaan?
Tuhan, boleh kan jika aku mencintainya?
Kemudian, kurasakan bibir bergerak lirih memintal doa. "Ya Allah, jika dia jodohku, tolong dekatkan. Jika bukan, tolong dekatkanlah Ya Allah. Jika dia mencintai seseorang, maka buatlah seseorang yang ia cintai itu adalah aku. Jika dia menginginkan orang lain, sesungguhnya aku juga orang, Ya Allah."