Pagi hari yang tanggal, bulan, dan tahunnya tak lagi penting buat diingat, setidaknya itu menurutku. Aku mendongak ke langit, disitu, awan-awan kelabu yang panjang dan lebarnya tak akan mungkin bisa terukur dengan jengkalan tangan, perlahan sirna berganti putih. Padahal menurut perkiraan cuaca yang sekelebatan kubaca di layar televisi, hujan akan turun dengan intensitas deras. Oleh karena perkiraan tersebut, dengan sangat terpaksa, lebih tepatnya dipaksa, aku pun memutuskan untuk keluar dengan perlengkapan perang yang lumayan lengkap(--mulai dari payung, jaket, topi) yang sebenarnya aku malas untuk membawanya, akan menambah beban bawaanku saja, begitu menurutku. Iya, oleh karena paksaan, tekanan dari seseorang Perempuan tua, dengan berat hati aku pun membawanya, daripada aku tidak diperbolehkan keluar rumah. Perempuan tua itu beralasan, dia muak dengan semua kebisingan yang kuhadirkan setiap kali badanku menggigil sehabis terkena hujan. Iya, memang biasanya setiap kali sehabis terkena hujan, badanku akan berulah, mulai dari yang: menggigil, bersin, batuk-batuk, dan kerap kali akan diakhiri dengan suhu badan yang naik beberapa derajat, memaksaku untuk rebah di ranjang sampai beberapa hari kedepan, sesuatu yang aku benci. Sebenarnya pun Perempuan tua itu sudah tidak memperbolehkan aku untuk keluar, tapi oleh karena sesuatu hal yang tak mungkin untuk dihindari, aku harus keluar. Dengan berat hati, isyarat keluh dan gelengan kepala, Perempuan tua itu membukakan pintu buatku. Setelahnya sehabis desah panjang yang keluar dari bibirnya, sebuah kecupan kecil kulesatkan ke keningnya, setidaknya aku tahu berterima kasih, ia tersenyum mengangguk.