Jika ada yang bilang, laki laki yang menangis karena putus cinta itu lemah, bawa orangnya ke sini. Karena Yoga, laki laki dengan tahi lalat di bawah mata kirinya itu baru saja merasakan sakitnya putus cinta.
Hubungan yang sudah dijalani selama 5 tahun harus kandas. Febri, pacarnya, tak tau mengapa tiba tiba minta putus. Itupun hanya melalui sebuah chat singkat. hanya itu. Tidak ada penjelasan sama sekali.
Setelah mendapat pemutusan sepihak dari Febri, hidup Yoga kini tak lagi seindah kemarin. Hatinya seperti penampakan sore ini, mendung.
Satu per satu tetes air mulai jatuh ke tanah, dan setelah ini mulai mengeroyok bumi. Sepertinya semesta pun mengerti apa yang sedang Yoga rasakan.
Laki laki berambut pendek yang disisir ke samping kiri itu menghembuskan napas kasar dari mulut, mengeluarkan kepulan asap yang cukup banyak.
Entah sudah berapa banyak batang rokok yang ia habiskan, berusaha menghilangkan rasa sakit yang membalut hati. Berharap setiap hembusan asap yang keluar membawa juga luka yang ada dalam dada.
Berkali kali Yoga mencoba mengirim pesan pada Febri. Namun, hasilnya tetap sama. Centang satu abu abu tak kunjung menjadi dua, apalagi berubah menjadi biru.
"Diblok?!" ucapnya lirih.
Di depan teras rumah yang dihiasi pemandangan air yang berlomba jatuh ke tanah, Yoga mencoba mengingat apa yang membuat Febri memilih untuk mengakhiri hubungan ini.
Mata berpupil cokelat itu melebar, setelah menemukan satu momen dimana mereka berada di taman dan membahas hal yang serius.
Saat itu, tepatnya malam minggu. Di taman kota yang ditengahnya terdapat air mancur, Febri tiba tiba menanyakan sesuatu.
"Kamu kapan nikahin aku?" tanyanya, menatap serius.
Yoga menghela napas panjang. Sudah berulang kali perempuan dengan rambut sebahu itu menanyakan tentang pernikahan. Hampir di setiap pertemuan mereka.
"Aku masih belum bisa mastiin."
Yoga memandangi patung macan yang mengeluarkan air, jatuh ke dalam kolam yang berisi ikan.
"Kamu mau bawa ke mana hubungan kita, Yoga?! Orang tua aku udah seringa tanya, aku juga berasa digantungin, tau gak?!" Nada Febri naik satu oktaf.
"Kamu pikir nikah itu gampang?! Biayanya nikahnya? Seserahan? Mahar? Resepsi? Aku harus mikirin itu semua!" Yoga ikut berteriak.
Febri langsung bangkit dari duduknya, menghadap tepat di depan Yoga yang memasang ekspresi kesal.
Laki laki itu menatap wajah pacarnya, dan dengan jelas dapat melihat setetes air mulai mengalir di pipi kirinya.
"Kita bisa usahain itu sama sama. Aku juga kerja! Aku gak mau kamu nanggung sendiri beban itu, Yog! Aku punya tabungan khusus buat biaya pernikahan kita" Tangan Febri mulai mengepal.
Memang benar, ia sudah menabung selama beberapa tahun dengan bekerja sebagai kasir di salah satu mini market. Berharap bisa membantu membiayai pernikahan mereka.
Tapi, hal itu tetap tidak bisa membuat Yoga berkata sesuai apa yang dimau saat ditanya soal pernikahan.
Bagi laki laki itu, berusaha mencari uang sendiri untuk menikahi Febri adalah yang utama. Tidak mau harga dirinya direndahkan karena harus menerima bantuan dari sang pacar.
Dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung, Yoga ikut berdiri, menatap Febri seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Aku udah bilang berapa kali, kalau aku gak mau dibantu! Biarin aku usaha sendiri buat nikahin kamu, paham!"
"Dengan pekerjaan kamu yang cuma jadi kurir? Berapa lama lagi aku harus nunggu?"
"Kamu ngerendahin pekerjaan aku?!" Yoga berteriak kali ini.
Febri menggeleng beberapa kali, dengan kedua tangan memegang pundak laki laki yang dicintainya itu. Isak tangis tidak mampu lagi ditahan.
"Bukan gitu, Yog. Aku cuma pengen kita ada ikatan. Bukan cuma pacaran yang gak jelas akhirnya kayak apa. Aku capek ditanyain keluarga! Aku capek harus diceramahin tante tanteku! Umur aku udah 26 tahun, Yog! Please, kamu ngertiin aku."
Menepis tangan yang berada di pundaknya, Yoga melangkah mendekati air mancur, menatap kosong ke depan.
Waktu yang sudah menunjukkan jam 10 malam, membuat taman kini sudah tidak ada penghuni selain mereka berdua, pasangan lain yang bermalam minggu memilih tempat yang lebih baik dari taman yang tidak ada satupun hiburan.
"Kamu cuma perlu nunggu!"
"Sampai kapan?" Febri mulai mendekat.
"Sampai uangku cukup, Feb! Tolong jangan tekan aku terus," balasnya lirih.
Perempuan itu mengelap pipinya yang basah dengan kedua tangan. Mulai mengangguk dan berkata,
"Oke. Kalo itu mau kamu, Yog. Kalau gak juga ada kepastian. Aku gak tau sampai kapan hubungan ini bakal bertahan."
Febri membalikkan badan. "Aku gak mau menghabiskan beberapa tahun lagi untuk orang yang bahkan gak bisa kasih kepastian," sambungnya, lalu berlalu pergi. Meninggalkan Yoga yang masih menatap kosong ke arah air mancur.
Itu adalah pertemuan terakhir mereka. Setelah itupun tidak ada kabar yang diberikan Febri lagi melalui chat. Hanya pernyataan putus yang singkat, lalu setelah itu foto profilnya hilang.
Tanpa di sadari, air yang sudah sejak tadi mengendap di mata Yoga kini tumpah tanpa disuruh.
Sambil meratapi hujan yang semakin lama semakin deras, Yoga membakar lagi satu batang rokok.
Ia sadar, Febri pergi karena tidak mendapat kepastian. Tapi ia juga sadar, bahwa pernikahan membutuhkan biaya yang cukup besar bagi seorang kurir sepertinya.
Yoga hanya dapat berharap, semoga hujan sore ini, dapat menghilangkan sakit yang semakin sesak ia rasa dalam dada.