"Hah? Ini dimana?" Melihat sekeliling dengan bingung.
"Yang mulia permaisuri, Lady Arsa datang. Beliau menunggu anda di depan pintu," Ucap pelayan wanita yang terlihat setengah tua.
"Hah? Lady Arsa..? Ehh ehhh apaa!?" Pekikku tidak percaya.
"Yang mulia.. Ada apa?" Tanya pelayan itu dengan heran.
"Ada apa katamu? Aku.. Ahh.. Sudahlah bawa dia masuk," Suruhku pada pelayan yang tak paham apa yang terjadi padaku.
Seorang wanita dengan wajah cantik dan berambut pirang masuk ke dalam ruangan. Wanita yang secantik boneka itu adalah selir dari sang Kaisar Lady Arsa Asrahan.
"Kau baru jadi permaisuri selama seminggu dan meminta banyak sekali anggaran. Kau pikir siapa yang menguasai Istana ini hahh!?" Pekik wanita cantik itu sambi marah.
"Ck.. Kau pikir anggaran segitu cukup untukku buat beli kuda? Beli kucing aja gabisa sialan," Aku memarahi kembali wanita yang dipanggil Lady Arsa itu.
"Kau hanya boneka! Kau tak disukai kaisar! Beraninya kau bilang seperti itu padaku!" Selir itu menggebrak meja didepannya.
Brakkk!!
"Astagaa siapa sih yang datang?" Aku Melihat kearah sumber suara.
Seorang laki-laki dengan badan tinggi dan berambut pirang datang dengan sorot mata tajam. Dia adalah sang kaisar Davian Rirain. Kaisar tyran yang dibelakang kekuatan besarnya adalah aku sang permaisuri yang berjasa membantunya dengan kekuatan sihirku.
"Apa yang kau lakukan pada selir kecilku?" Dia Melihatku dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Tidak ada," Aku melihat ke arah kaisar itu dengan mata sayu. Aku tau apa yang terjadi pada diriku.
Aku adalah permaisuri dari negeri Rirai. Aku berada di negeri ini karena dijodohkan. Bukan, aku dibuang oleh orang tuaku karna kekuatan sihirku yang terlalu kuat dan aku yang tak terlalu bisa mengendalikan emosi, hampir menjadi pemicu runtuhnya kerajaanku sendiri.
Brukk!!
(Sial baru juga jelasin dikit udah ada aja kelakuan ni jalang.)
"Kenapa kau malah bersujud didepanku? Bukankah tadi kau marah-marah padaku hah?" Tanyaku kepada selir kesayangan kaisar itu.
"Ya-yang mulia.. Yang mulia permaisuri sangat jahat pada saya, ta-tadi dia mendorong saya," Ucapnya sambi menangis didepanku.
"Apa maksudmu hah!? Aku mendorongmu? Jelas sekali kau menjatuhkan dirimu sendiri. Darimana itu kelihatan seperti aku mendorongmu!?" Aku dengan lantang memarahi selir itu tanpa melihat kaisar yang ternyata mukanya sudah memerah menahan amarah, tangannya mengepal erat ingin sekali memukulku.
Plakkk!!
Brukkk!!
(Dia menamparku? Di-dia benar-benar menamparku!? Dasar ini laki-laki, mau banget gw pukul pake lemari.)
"Yang Mulia!! Yang Mulia!! Yang Mulia permaisuri," Ucap seseorang dari lorong yang jauh. Aku mendengarnya dengan samar-samar.
Aku spontan menoleh ke sumber suara itu "Hah? Siapa?" Mataku membelalak kaget.
Aku melihatnya. Aku melihatnya kembali, dia hidup kembali. Dia.. Duke Kaiser Baldev. Mata biru laut yang menenangkan, rambut putih berkilau dan muka yang sangat tampan.
Dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri dan akhirnya berhasil. Saat aku ingin memeluk Kaiser, kaisar menghalangi diriku dengan tangannya.
"Mau kemana kau? Kuat sekali kau."
Aku menepis tangannya dengan kuat dan berlari kearah Duke Kaiser.
Dia terbelalak kaget. Dan melihatku berlari membelakangi dirinya.
"Duke!" Pekikku dengan keras saat melihatnya di lorong.
"Yang mulia anda tidak apa-apa? Yang mulia kaisar menampar anda lagi yaa? Apa sakit?" Dia melihatku dengan panik.
Grepp..
Setelah sampai didepannya tak habis fikir aku langsung memeluknya dengan erat dan tak melepaskannya. Dia pun membalas pelukanku dan menenangkanku.
~di dalam ruangan permaisuri~
"Ck.. Boneka juga punya cinta rupanya. Menarik," Ucap kaisar itu.
Selir yang takut melihat kaisarnya akan jatuh hati pada permaisurinya. Dia pun semakin menangis kencang.
"Bangunlah sayang.. Kau tak apa kan? Jangan menangis lagi, istirahatlah." Ucapnya dengan lembut pada selir itu.
"Pelayan! Bawa selir kembali ke kamarnya!" Perintahnya pada pelayan sang selir.
"Hiks.. Hiks.. Ba-baik yang mulia. Ya-yang mulia temani saya yaa," Mintanya pada sang Kaisar itu.
"Baiklah sayang. Hmm? Apa ini?" Mengambil kertas diatas meja
"Ini kan? Kenapa anggaran yang kau berikan sedikit sekali sayang. Kau tau dia itu permaisuri, kau harus memberikan anggaran sesuai aturan," Pintanya lembut pada kekasihnya itu.
"Maaf yang mulia, saya tidak tau. Saya akan menambahkan anggarannya." Ucapnya dengan sedikit cemberut.
"Baiklah sayang. Jangan lupakan itu OK? Kita harus membuatnya cantik agar terlihat baik-baik saja. Paham? Kalau udah paham, ayo kita kembali, aku akan menemanimu. Malam ini kita tidur bersama, jangan cemberut lagi yaa," Ucap sang kaisar pada selir itu.
"Iyahh.." Tersenyum lebar.
'Lihat kan, aku menang dari boneka itu.'
~di lorong~
Tap.. Tap.. Tap..
Klotak.. Klotak.. Klotak..
"Hmm?" Aku melihat ke arah belakangku.
"Wah.. Wahh.. Siapa ini yang reuni? Menyingkir dari hadapan kami." Ucap kaisar itu dengan nada yang tinggi.
"Yang Mulia maafkan kami, kami akan pergi sekarang. Tolong jangan marahi yang mulia permaisuri lagi," Pinta kaiser dengan sedikit memohon.
"Duke.." Melihat kaiser dengan mata memelas.
"Baiklah, aku tak akan marah. Hey, permaisuri aku sudah meminta selirku untuk memberimu anggaran lebih banyak. Jangan kau undang selirku lagi ke istanamu apalagi sampai kau marahi atau memakinya. Aku tak akan memaafkanmu,"
Setelah mengucapkan itu kaisar pergi meninggalkan kami.
"Cih.. Kau pikir aku mengundang selir jalangmu itu? Never."
(arghh sudahlah, sekarang akan kujelaskan pelan-pelan apa yang telah terjadi padaku. ahh sebentar, aku akan duduk dulu cape soalnya berdiri dari tadi. Aku akan coba cerita ke duke mungkin dia akan percaya, tapi MUNGKIN.)
"Duke, ayo kita ke kamar.. Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, kau mau percaya atau tidak itu terserah dirimu," Ajakku pada kaiser.
"Baiklah permaisuri sesuai yang anda katakan," Dia mengiyakan ajakanku.
"Ayok," Menggandeng tangan kaiser dan menariknya ke kamar.
~di kamar~
"Jadi.. Apa yang ingin anda ceritakan yang mulia?" Tanyanya dengan penasaran sambi sedikit menggodaku.
"Jadi gini, aku itu dari masa depan. Aku udah mati," Ucapku dengan serius.
"Apa? Ja-jadi anda dari masa depan? Ta-tapi bagaimana anda kesini? Tu-tunggu dulu-" Jawabnya dengan mata berbinar.
"Aku kesini dengan cara mati." Aku memotong ucapannya sambi menatapnya dengan serius.
"Yang mulia.. Apa saya yang membuat anda mati?" Dia menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Tidak tidakk!!"
(Arghh sulit sekali bicara sama diaa! Kalian kalo jadi posisiku gimana? Kalian jelasinnya gimana?)
"Lalu yang mulia? Siapa yang membuat anda mati?" Tanyanya masih menunduk.
"Aku mati karena kehabisan mana, untuk menolong permaisuri negeri seberang." Ucapku enteng padanya.
"Apa? Kenapa anda menyelamatkan dia? Harusnya jangan yang mulia!" Dia melihat diriku dengan tatapan serius, iris matanya yang berwarna biru laut membuatku hanyut dalam pandangannya.
"Dia yang telah menyelamatkan hidupku, aku bekerja sama dengannya karena nasib kita hampir sama,"
(Sial, bisa gak sih kalau punya mata jan secantik itu, gimana gak jatuh hati aku sama kamu.)
"Tapi yang mulia, dimana saya? Kenapa saya tidak menyelamatkan yang mulia," Dia menatapku dengan mata berbinar seperti akan keluar air mata itu.
"Kau sudah mati duluan meninggalkan diriku."
(Aku gak tega ngomongnya, tapi mo gimana lagi emang kenyataannya gitu)
"Apa? Ba-bagaimana bisa!?" Kaiser kaget dengan ucapanku.
(Maaf kaiser.. Aku gabisa nyelamatin kamu huhu)
"Apa yang terjadi sebenarnya yang mulia?" Tanyanya, matanya mulai menitikkan air mata.
"Kau dieksekusi karena membelaku saat aku membelot karena kaisar ingin membunuhku." Ucapku sembari memeluknya dan menenangkannya.
"Yang mulia, saya minta maaf karena saya tak bisa menjaga anda.."
Suara kaiser mulai serak dan dia tak bisa menahan rasa sakit di hatinya saat tau tentang kematiannya yang begitu tragis, apalagi orang yang paling dia cintai juga mati mengenaskan karena melindungi orang lain.
"Ya-yang mulia.. Saya.."
Kaiser tak tahan untuk menangis, dia akhirnya menuangkan rasa sakit dan sedihnya itu pada air mata yang kini mulai keluar. Dia memelukku dengan erat dan menangis dipundakku.
(Aku pen nangis juga, tapi aku harus tegar, aku yakin aku bisa ubah masa depan yang membuat Kaiser mati mengenaskan itu.)
"Tenanglah Duke, Aku ingin kau hidup makanya aku ada disini. Kita ubah masa depan ini bersama-sama yaa.." Aku menenangkan dirinya, padahal aku sendiri tidak tenang.
"Huhu.. Huum.." Dia mengangkat kepalanya mencoba untuk tegar, melepaskan pelukannya.
"Tenang dulu OK?"
(Aku aja gak tenang, aku lelah.. Kalian yang baca gak lelah juga?)
"Iya yang mulia, anda juga tenang yaa. Saya Kaiser Baldev berjanji akan melindungi anda selamanya." Kaiser mencium keningku setelah menjanjikan hal yang harusnya kujanjikan padanya.
Roar!!
(Ck.. Sial lagi dan lagi! Pasti monster lagi)
"Yang mulia jangan keluar, biar saya yang menghadapi monster itu." Ucapnya dengan lantang padaku.
"Aku ikut. Kita hadapi bersama."
Dia menarik napas dalam-dalam "Yang mulia apakah anda mencintai saya?"
"Mengapa kau menanyakan hal itu?" Tanyaku padanya.
"Yang mulia, saya mencintai anda, tolong jawab apa anda mencintai saya juga?"
"Apa?"
INI MUNGKIN BAKAL TAK JADIIN NOVEL AJA LAH YAA, YANG SUKA KOMEN AJA.