Kelas 9 SMP Internasional digegerkan dengan kehilangan handphone Yasmin. Handphone tersebut merupakan handphone model terbaru yang dibelikan orangtuanya di Singapura. Dengan cemas, Yasmin menyuruh teman-teman sekelasnya untuk membuka tas mereka.
“Pasti ada yang iseng kan? Coba buka tas kalian dong!” paksa Yasmin.
Satu persatu Yasmin melihat tas-tas temen sekelasnya, namun tidak membuahkan hasil. Handphone-nya masih belum ditemukan.
“Tuhkan, orang nggak ada yang ngambil handphone kamu Yasmin! Lagian kita juga punya kali” Nicole merasa tidak diterima kalau ia pun dituduh oleh Yasmin.
“Sorry guys, tapi aku curiga ke Fitri. Dia kan HP nya masih jadul. Mungkin nggak sih dia yang ngambil?” seolah belum terima handphone-nya hilang, ia menuduh Fitri yang merupakan murid beasiswa di sekolah internasional tersebut.
“Nggak tau deh, coba tanya aja.” Nicole menjawab seperti acuh tak acuh lalu pergi meninggalkan Yasmin.
Yasmin pun menemui Fitri yang sedang asik membaca buku di mejanya. Yasmin yakin bahwa handphone-nya diambil Fitri. Betapa kaget Fitri ketika dituduh seperti itu.
“Untuk apa aku ngambil punya orang, Yasmin? Yang ada bikin aku kena peringatan dari sekolah dan malah dikeluarkan,” bantah Fitri
“Udah ngaku aja deh!” cecar Yasmin.
Tiba-tiba Miss Wirna memasuki kelas. Di tangannya tergenggam handphone berwarna hitam yang mengkilat, yang tidak lain tidak bukan adalah milik Yasmin.
“Yasmin, ini handphone kamu ya? Tadi ketinggalan di ruang guru pas kamu nganterin tugas,” kata gurunya.
Sontak Yasmin menciut karena malu. Ia pun langsung mengambil handphone dari tangan Miss Wirna dan meminta maaf kepada teman-temannya, secara khusus kepada Fitri yang sudah ia tuduh