Bimbang rasanya ketika di hadapkan pada dua pilihan berat yang akan menghancurkanmu. seseorang berkata,surga akan memberikan kesulitan yang bisa aku tangani, tetapi itu tidak benar bagiku, aku merasa seperti tidak bisa menangani beban yang jatuh dibahuku kasar dan sangat kejam.
Hidup ini tidak memberikan aku kebahagiaan, jika dibandingkan dengan orang lain, bisa di bilang ini sangat tidak adil bagiku. Bila aku harus mengorbankan salah satu kebahagiaan, maka kebahagiaan mana yang harus aku pilih diriku atau ibuku?
17.00, sore ini gedung sekolah hampir kosong hanya ada beberapa siswa yang bergegas pulang sehabis eksul. Apalagi kelas yang aku huni ini, cuaca sore ini seperti mengerti perasaanku, gelap, suram, dan teriakan petir menggelegar bagaikan beban berat yang mengelilingiku.
Suara gemercik air hujan menyentuh jendela mengisi keheningan yang menyelimuti ruangan ini. Aku tidak benar-benar melihat keluar jendela, pikiranku melayang menerawang jauh pada potongan potongan kejadian pahit yang menimpaku, bisa di bilang aku seperti mayat hidup tidak tahu arah, walau bagaimana pun aku mensyukuri hidupku ini.Aku tidak bisa mengakhiri hidupku dengan sia sia bukan?
Tangan yang sedari tadi menopang kepalaku saat melamun, akhirnya menyerah mungkin karena reaksi dari urat-urat yang semakin lama semakin pegal.Aku memejamkan mata sebentar lalu menghembuskan nafas berat berharap semua beban hilang, walaupun itu hanya harapan semata.
Aku beranjak dari bangku yang kutempati lalu menggendong ransel berwarna biru dongker yang sudah lusuh, resletingnya juga tidak berfungsi lagi. Saat aku melangkahkan kaki keluar dari kelas , udara dingin langsung menyerang membuatku merapatkan jaket yang aku pakai. Lembab dan basah, tanpa kusadari hujan telah datang dan pergi meninggalkan tetesannya di banyak tempat, langit tampak pucat seakan lega telah menumpahkan semua beban itu dalam jutaan tetes air, rasanya seperti diriku terkadang setelah menangis hati terasa lebih ringan.
Jalanan becek, aku beberapa kali melompati kubangan air akibat hujan, berjalan melewati trotoar. Lampu lampu toko dipinggir jalan maupun kendaraan mulai menyala menampakan sinarnya pertanda bahwa malam segera datang, karena ini malam minggu aku melihat beberapa anak sekolah yang bejalan jalan bersama teman temannya, ada juga yang bersama pacarnya mereka bersenang senang menikmati hidupnya. Tapi aku tidak bisa seperti mereka, bahkan aku masih mencari jawaban tentang apa itu kebahagiaan, seperti apa rasanya?
Aku mempercepat langkahku untuk bisa sampai kerumah,menyebrangi jalanan yang macet dipenuhi kendaraan yang entah mau pergi kemana. Saat sudah sampai dirumahku yang kecil ini aku mengedarkan pandangan kesekelilingnya, terasnya kotor mungkin dikarenakan jipratan air hujan yang sedari tadi mengguyur kota ini. Aku menggeledah ransel ku mencari kunci rumah.
Dua hari terakhir ini penghuni rumahku hanya aku. Satu satunya keluargaku yaitu Ibuku tidak ada. Ibuku di bawa oleh Rentenir karena tidak bisa melunasi hutang kami, belum lagi bunga yang menumpuk dikarenakan kami tak bisa melunasinya.
Aku membaringkan tubuhku diranjang, memejamkan mata, memikirkan pilihan yang harus aku buat. Rahangku terasa sakit, air mataku mengalir dengan sendirinya
************
Membuat keputusan dalam waktu tiga hari sangat sulit apalagi itu akan menentukan masa depanku. Hari ini, hari ketiga dimana aku harus membuat pilihan. Apakah menyelamatkan ibuku? Atau mengorbankan masa depanku?
Beberapa bulan lagi kenaikan kelas, tentu saja menuju tingkat tiga tidaklah mudah, banyak biaya yang harus dikeluarkan begitu pula tenaga dan pikiran. Aku mengemasi barang barangku karena bel pulang sekolah sudah berdering sejak sepuluh menit yang lalu.
Seseorang berlari kearahku dengan terengah engah.
"Mia,ada orang yang mencarimu, kamu disuruh untuk cepat menemuinya!" kata temanku sambil menormalkan nafasnya.
Aku mengerutkan kening, terdiam sejenak." Siapa? Dimana dia?" tanyaku.
"Aku tidak tahu,dia seorang pria yang sudah berumur memakai setelan seperti preman. Dia menunggumu di depan gerbang. Aku ada urusan lain, aku pergi dulu ya!" katanya sembari membalikan tubuh lalu pergi ke luar kelas.
Mataku membulat, kakiku seketika lemas, aku terhuyung jatuh kelantai tetapi seketika Risti memegangku, sedari tadi Risti berada dibelakangku jadi otomatis ia berusaha membantuku.
Hatiku terus berdebar kencang,gelisah, aku tahu persis siapa orang itu. Orang yang akan menghancurkan diriku,dadaku sesak, rahangku mengeras. Mataku mulai basah aku menggigit bibir bawahku supaya tidak terisak. Aku tidak bisa lagi menahan semua beban ini sendirian, aku terlalu takut untuk menghadapinya, aku takut, aku benar benar takut sekarang. Apakah pilihanku ini benar?
"Ada apa sebenarnya? Akhir akhir ini kamu berubah Mia. Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Risti menatapku tajam.
Risti menghembuskan nafasnya lalu berkata" Kamu tidak pernah bercerita lagi padaku, dan tiba tiba aku melihat mu seperti ini, aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa apa!"
Ini salahku, aku pikir aku bisa menangani masalahku sendiri tanpa melibatkan orang lain kedalamnya, tapi ternyata tidak, aku butuh bantuan orang lain setidaknya untuk meluapkan isi hatiku.
Aku hanya terisak tanpa menjawab pertanyaan sahabatku, tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan semuanya. Aku takut.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Tiba tiba Risti memelukku dan berbisik."Kenapa? apa yang terjadi? Ceritakan semuanya, jangan memendamnya, jangan menghindar Mia!' katanya lembut.
Aku terisak, Risti menenangkanku sampai aku mulai baikan setidaknya sekarang aku bisa bicara kembali. Dengan sekuat tenanga aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Menceritakan semua yang terjadi padaku.
Biaya hidup, pendidikan, dan pengobatan almarhum Ayahku.yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup menjadikan kami harus berhutang pada rentenir, pekerjaan yang tak bisa memenuhi semuanya. Membuat bunga hutang kami membesar menjadi puluhan juta dan kami belum bisa melunasinya. Rentenir itu terus menerus menangih tanpa berhenti sampai kesabarannya mungkin habis. Rentenir itu bilang jika ingin hutangya lunas maka aku harus menjadi istrinya.
Entah bagaimana keadaan Ibuku sekarang, semenjak ia membawa Ibuku pergi. Ia hanya memberiku waktu tiga hari untuk menentukan pilihan, jika aku tidak menikah dengannya maka sesuatu akan terjadi pada ibuku, dan jika aku melibatkan polisi maka nyawa ibuku menjadi taruhannya.
Aku tidak mau menjadi penyebab kematian Ibuku, ia yang selama ini merawatku, menjagaku, dan ia segalanya bagiku. Maka dari itu aku sudah menentukan pilihanku yaitu mengorbankan masa depanku. Hari ini aku harus menerima keputusanku untuk menyelamatkan Ibuku.
Risti syok mendengar semuanya, ia menutup mulutnya dan raut wajahnya ikut bersedih.
." Kenapa kamu tidak bercerita sejak awal Mia, kenapa kamu menanggunya sendirian?"tanyanya frustasi.
" Sekarang bagaimana? Aku pikir lebih baik memanggil polisi untuk menyelesaiakan semuanya!' "
"Tidak" selaku cepat."bagaimana kalau Ibuku kenapa napa, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Mungkin ini sudah takdirku. Aku tidak mau Ibu dalam bahaya." Kataku pasrah.
" Tapi Mia, aku tidak setuju dengan itu, bagaiamana masa depanmu nanti?" tolak Risti.
Suara langka kaki terdengar menuju pintu kelas kami, lalu seseorang masuk dari balik pintu." Apa ada yang namanya Mia? Ada orang yang mencarinya?" celotehnya langsung sambil melihat kami yang terduduk dilantai.
Aku menoleh kepadanya lalu mengangguk, mengiyakan ucapannya." Orang itu bilang cepat,kalua tidak kamu akan menerima balasannya.!" Lanjutnya. Lalu ia menutup pintu dan keluar dari kelas.
Aku menghembusakan nafas berat, mengumpulkan kembali energiku kembali berdiri tegak untuk menemuinya. Risti mencegahku tapi aku menolaknya,karena mau tidak mau aku harus menemuinya.
**************
Aku suka saat langit berubah senja memperlihatkan warna jingga yang begitu indah menghiasi langit berpadu dengan warna biru yang mulai pudar. Tetapi akhir akhir ini langit tampak selalu mendung, pucat hanya ada air hujan yang turun. Sosok yang melihatku tajam memaksaku untuk menaiki mobil yang terparkir disisinya. Aku hanya menunduk tak berani untuk melihatnya dan menuruti perintahnya.
Pria ini sudah mempunyai istri tiga dan yang lainnya sudah diceraikan, ia memanfaatkan hartanya untuk menggaet wanita wanita itu. Dan aku akan menjadi korban selanjutnya. Apalagi yang bisa aku lakukan, aku juga tidak bisa melunasi hutang ini, mungkin dengan ini aku bias menyelamatkan nyawa ibuku. Setidaknya beban ibuku.
"Aku ingin bertemu dengan ibuku!" sahutku tegas.
Pria itu malah tertawa terbahak bahak, lalu berkata."Tidak sekarang. Setelah kita menikah,baru kamu bisa bertemu dengan wanita itu" katanya tajam.
Aku menggigit bibir bawahku menahan tangisan yang melandaku, tolong keluarkan aku dalam masalah ini.jerit ku dalam hati.
Keesokan harinya. Pria itu mempersiapkan pernikahan ini tak ada yang istimewa, ia hanya membawaku ke KUA untuk segera melakukannya,bahkan tanpa kehadiran Ibuku.
Sepanjang malam aku hanya menangis tanpa berhenti aku berdoa kepada tuhan agar semua ini tidak terjadi, aku berharap bisa menyelamatkan ibuku tanpa cara seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut dengan kehidupanku sendiri.
Tapi apa daya semua yang tidak kuharapkan sudah terjadi. Aku tidak tahu pernikahan ini sah atau tidak, aku hanya tenggelam pada ketakutanku,apa yang akan terjadi padaku?
Tak ada kata kata yang keluar dari mulutku, tubuhku hanya terasa lemas, air mata terus mengalir, aku tidak berselera makan sejak ada masalah ini, aku rasa kesehatanku agak menurun.
Dari kemarin Risti terus mengubungiku, tetapi aku tidak bisa menjawabnya karena ponselku ada pada pria ini.
Pria ini membawaku pergi entah kemana setelah kami dari KUA, ia membawa para bodyguard nya untuk mencegahku jika aku berbuat macam macam.
Aku berusaha untuk bicara dengan lantang."Sekarang aku ingin bertemu ibuku!"
Pria itu melihat kearahku, lalu menyunggingkan sebelah bibirnya." Besok,setelah kita melewati malam ini, sayang!" katanya sembari mengelus kepalaku.
Dengan sigap aku mengibaskan tangannya."Jangan sentuh aku!"sahutku tajam.
Pria itu tertawa ." Itu tidak mungkin!"
*****
Aku merawang keluar jendela pikiranku sekarang tak bisa dipisahkan dengan kejadian yang aku alami malam itu, menakutkan hanya itu yang diriku rasakan. Malam itu tak ada bintang yang menghiasi langit, gelap semuanya gelap seperti hatiku yang sekarang takut .
Air mata itu memang tidak bisa ditahan jika mengingat sesuatu yang menyakitkan.
Semua yang tidak aku inginkan sudah terjadi, masa depanku sekarang sudah hilang. Jadi, tinggal satu lagi harapan yang aku harap bisa tercapai. Ibu dimana kamu?
Pada siang hari pria ini membawaku kesebuah tempat dimana hanya ada sebuah gubuk yang dikeliling oleh para preman atau mungkin penjaganya.
Apa ibuku ada di tempat itu? Hatiku gelisah antara takut dan senang bisa melihat ibuku lagi.
Aku langsung berlari mendekati ibuku yang tergelatak tak sadarkan diri. " Ibu,ibu" sahutku sambil terisak.
Aku membelai ibuku yang sama sekali tidak bergerak. Beberapa orang yang berbadan besar dan bertato menatapku dan tertawa melihatku menangisi Ibuku.
"Bos, anak itu sudah terlambat."sahut salah seorang diantara mereka, kepada pria rentenir itu.
Aku menoleh mendengar itu."Apa maksudmu?" tanyaku lirih,
"Ibumu sudah mati!" katanya tegas.
Seperti ditikam ribuan belati,hatiku sakit dadaku sesak rahangku mengeras mencerna ucapannya, seketika tangisanku pecah."apa?" aku memeluk Ibuku berusaha membanugunkannya. Tapi ibu hanya diam.
"Tidak,tidak, kumohon jangan seperti ini!"aku tidak sanggup berbicara. Isakan ku semakin menjadi."ibu..." tubuhku bergetar hebat,entah apa yang ada dipikiran ku sekarang, aku sangat frustasi tidak menerima semua ini. Degan sigap aku berlari pada pria itu, aku berusaha menatapnya tajam.
"Apa yang kau lakukan pada Ibuku hah?"
Pria itu hanya tertawa dan tidak menaggapiku , aku dengan kasar mendorongnya, menyerangnya, memukulnya dan melampiaskan kekesalanku." Dasar bajingan,kau gila, kau pembohong." Desis ku tajam.
Beberapa penjaga langsung menahanku supaya berhenti memukuli pria itu."Lepaskan.!" desisku.
aku sama sekali tidak bisa tenang dan terus berontak, tubuhku gemetar, tangisan yang tak kunjung mereda, membuatku ditampar dengan keras agar tidak bedaya.
************
Mereka membawaku kesebuah ruangan,saat aku berontak mereka menikam perutku, aku tidak bisa menahan rasa sakit ku. Tiba tiba pintu terbuka dan aku melihat sosok Risti di hadapanku, aku mendengar sirine polisi. Risti menghampiriku.
"Mia.."sahutnya ketika melihatku tidak berdaya,"Kamu kenapa, ayo kita ke rumah sakit.!"
Aku memaksakan seulas senyuman, dan berusaha berbicara."Boleh aku meminta bantuanmu?" tanyaku Terbata bata sembari menahan rasa sakit.
Risti mengangguk mantap.
"Bantu aku mengucapkan dua kalimah suci!"
Selesai
....
Jika kalian menyukainya silahkan vote😗🥰
Terima kasih