Pagi ini Nara sudah siap dengan seragam sekolah barunya, kemarin Nara baru saja pindah dari Jakarta ke Bandung karena alasan pekerjaan ayahnya. Nara adalah anak tunggal, anak kesayangan, Nara juga sangat berprestasi apalagi di mapel IPS, dan untuk masuk ke SMA ELANG PUTIH cukup mudah bagi Nara, ya walau bantuan pamannya Si pemilik sekolah. Nara cukup ceria anakny dan dipastikan dia mudah mencari teman nanti.
Ibu dan Ayah Nara seorang pembisnis, Ibu Nara memiliki butik yang lumayan terkenal di Bandung, sedangkan Ayah Nara mempunyai beberapa saham yang sudah terkenal dan mempunyai cabang di luar negri. Yaa Nara bisa dibilang anak yang berkecukupan, dan dengan semua prestasi nya sudah bisa dibilang cukup seimbang dengan apa yang dia punya. Walau Nara anak berkecukupan dan mempunyai prestasi yang tinggi tapi Nara tidak pernah membeda-bedakan dalam berteman dan tidak pernah menyombongkan apa yang dia punya.
“Bu, Ayah mana?” ucap Nara sambil menuruni tangga. “Ayah kamu masih dikamar lagi rapih-rapih, kamu nanti berangkat bareng Ayah kan? Sarapan dulu Nar” jelas Valerie. “Iyaa buu, rotinya Nara makan ya” ucap Nara dan berjalan keteras.
“emm... kira-kira nanti aku bakal akrab gaya sama teman baru” gumam Nara. “Ya akrablah, kan kamunya harus bisa ber-baur dan berteman dengan siapapun” jawab Ayah. “Hehehe... iya Ayah nanti semoga Nara dapat teman yang baik” ucap Nara. “Iyaa, ayo kita berangkat nanti kesiangan” Atmaja segera masuk kedalam mobil. “Ibuu Nara berangkat yaa, assalmualaikum”. Setelah berpamitan dan mencium tangan ibunya Nara segera masuk kemobil karena takut telat, apalagi ini hari pertama Nara masuk kesekolah.
#TEMAN BARU
Setelah sampai di gerbang sekolah Nara berpamitan dan turun dari mobil Ayahnya megah mewah itu, pertama kali dilihat Nara. “Nara nanti kamu langsung temui paman dulu, paman ada di ruang kepala sekolah dan paman akan mengantarmu kekelas” jelas Atmaja. “Iya yah.. nanti Nara langsung temui paman” Nara segera masuk kesekolah dan melihat mobil ayahnya sudah menjauh.
“Huffttt, semoga hari ini gak buruk” Nara pun mulai berjalan masuk kesekolah, melewati lorong, Nara bingung dimana ruang Kepala Sekolah. Namanya juga baru jadi banyak gak tau.
“Heii, kamu anak baru ya?” tanya seorang cewe cantik, yang berambut sebahu.
“Ehh iya, kok kamu tau? Hehehe...” menggaruk tengukny
“Soalnya keliatan bingung, ada yang mau di bantu ga?” tanya orang itu
“Aku lagi cari ruang Kepala Sekolah”
“Ohhh ayo aku antar” ucapnya sambil berjalan
“ehh, iya makasih” Nara pun mengikuti perempuan tadi
Selama perjalanan Nara melewati beberapa lorong yang menurut dia sangat panjang dan berfikir seberapa luas sekolah ini sampai-sampai lorongny panjang sekali, batin Nara
“Eh btw kita belum kenalan, nama aku Nasha Putri Abraham, panggil aja Nasha.”
“Hai Nas, aku Nara Anantasya Atmaja, panggil aja Nara” sambil menjabat balik tangan Nasha.
“Nih Nar ruangan kepseknya, aku tunggu di luar ya”
“Oke aku masuk dulu”
Sampai di dalam ternyata paman tidak sendiri melainkan ada satu anak laki-laki.
“Permisi paman”
“Hai anak gadis paman sudah besar, duduk dulu disana ya, paman ingin bicara dengan dia dulu” jelas Rey.
Ia pun langsung duduk kembali di kursinya, sementara Nara ia duduk di kursi panjang yang ada diruangan itu
“Arkan apa tidak cukup skors kemarin selama 2 minggu hah!” Rey dengan nafas gusar.
Lagi dan lagi anak ini membuat masalah yang bahkan semua Guru sampai Kepala Sekolah pusing.
“Kamu mau saya skors lagi hah? Apa perlu di D.O?! saya pusing kenapa kamu ga berhenti-berhenti bikin ulah, ditambah keluhan dari Guru mapel, nilai turun, bolos, cape saya” panjang lebar di jelaskan tapi nanti juga bakal di ulang, batin Rey.
Sudah sangat lelah ia mendengar keluhan para Guru-Guru dalam menghadapi murid seperti Arkan, kalau bisa ditebak mungkin semua Guru berdoa semoga ada penyelamat dan alasan untuk Arkan berubah, cape kalau terus begini Arkan memang orang berada, kaya dan mau seenakny seperti 2 hari yang lalu kaca ruang di lantai 2 pecah sebab dia dan teman-temanny melempari batu dengan alasan bosan, aneh bukan.
“Jangan pak biar Papah saya dan Bunda saya yang urus” ucapny santay
“Arkan semuanya emang bisa kamu beli tapi saya minta kamu berubah, suruh Papah kamu datang kesini nanti jam 13.00 temui saya disini” jelasnya
“Iya pa, maaf bikin pusing,” ucap laki-laki itu
“Yasudah, silahkan keluar” putus Rey
“Iya pa, Arkan permisi”
Nara yang melihat punggung lelaki itu sudah tidak terlihat lagi ia pun segera menghampiri pamannya.
“Paman apa dia seumuran ku?” tanya Nara.
“Iya dia seumuran mu tapi dia sangat nakal” jelas Rey
“Ohh... begitu, ya sudah paman segeralah beritahu dimana kelas ku!”
“Iya, ayo ikut paman” pria paruh baya itu pun langsung berjalan keluar ruangan, dan diikuti oleh Nara.
“Loh kok ada Nasha disini?”
“Eh iya pa, tadi nunggu Nara” sambil mencium tangan Rey
“Kalian saling kenal” tanya Rey
“Baru tadi pa Nasha kenal Nara”
“Oh gitu, Nasha Bapa boleh minta tolong sama kamu antar Nara ke kelas X-12 IPS ya” ucap Rey
“Sekelas saya dong pa?”
“Iya Nasha” ucap Rey dan pergi berlalu
#KENALAN
“Permisi pak, saya ingin memberitahukan ada anak baru” Nasha segera duduk dibangkunya
“Iya terima kasih Nasha”
“Silahkan masuk nak!” panggil guru itu
“Haiiii”
“Anak-anak dengarkan disini ada murid baru, teman baru kalian, jadi Bapa minta kalian bersikap baik. silahkan perkenalkan diri kamu” jelas pria paruh baya itu.
“Hai, namaku Nara Anantasya Atmaja, panggil aja Nara, aku pindahan dari Jakarta, mohon bimbingannya terimakasih” Ramah Nara
“Nara Bapa Guru MATEMATIKA nama Bapa Asep Saepudin panggil saja Asep, yang lain ada yang mau di tanyakan?”
“Saya pak” suara nyaring dari bangku belakang.
“Saha eta?”
“RIKI PAKK!” ucap mereka serentak
“Rek nanya naon si Riki?” awas aja si Riki nanya yang enggak-enggak, batin pa Asep.
“Naon nomer Hpna? Geulis” tuh buaya, jurus buayanya muncul.
“BUAYAAAA!” ricuh mereka.
“Sudah-sudah, jangan berisik. Bapa akhiri pelajaran hari ini silahkan istirahat, untuk Nara sementara duduk samping Arkan dulu ya, Bapa permisi!” jelas pa Asep dan berjalan keluar kelas.
#BERUBAH
“Nar, ayo ikut kita kekantin” ajak Nasha
“Iya Nar ayo sambil keliling sekolah” celetuk dari satu perempuan berambut kuncir kuda.
“Eh iya ayok”
Selama perjalanan Nara banyak berbincang dengan mereka ya sekalian kenalan, perempuan kuncir kuda itu bernama Allesya dia ramah dan perempuan berhijab itu bernama Sasha, dia ga kalah ramah dari Allesya dan Nasha. Nara cukup senang bisa akrab dengan waktu singkat.
Gak kerasa mereka sudah sampai di kantin, kini Nara dan Nasha sudah duduk di meja panjang, menunggu Allesya dan Sasha membeli makanan.
“Ting nong ting nong, panggilan siswa atas nama Arkan Obrey Azami dan siswi atas nama Nara Anantasya Atmaja ditunggu di ruang kepala sekolah” Suara bell dan panggilan tersebut membuat Nara bingung mengapa pamannya ingin menemuinya, Siswa/I yang berada di kantin pun mulai berbisik
“Lah masa baru masuk udah di panggil kepsek” siswa1
“tau, lah malu si kalau jadi dia” ya kurang lebih kaya gitu, tapi tidak digubris oleh Nara.
“Nar nama lo kan itu?” tanya Allesya
yang baru datang kemeja,
“iya kenapa deh” tambah Sasha
“Gak tau aku juga, yaudah kalian makan duluan aja, aku keruang kepsek dulu” ucap Nara dan segera berlari keluar area kantin.
“Narr! Mau gue antar ga?” teriak Nasha.
Tapi Nara hanya melambaikan tanganny untuk memberi isyarat bahwa Nasha tidak perlu mengantarnya. Sampai disana Nara langsung masuk kedalam dan ternyata sudah ada laki-laki yang menjadi teman sebangkunya.
“permisi paman ada apa memanggil Nara kemari?”
“Nara paman minta bantuan kamu, tolong ajari Arkan sampai nilainya stabil, kalau tidak Arkan bisa gak naik kelas. Paman sangat minta tolong dengan Nara, mau yahh?” jelas Rey. Mungkin semuanya akan lebih baik, jika Nara membantu Arkan untuk berubah, bantin Rey.
“Tapi paman Nar-“ ucapan Nara langsung dipotong oleh Rey. Karena Rey sudah tau pasti Nara tidak mau, apalagi mereka baru mengenal.
“Nara tolong bantu paman ya, paman mohon nanti juga dengan berjalanny waktu Nara akrab dengan Arkan, ya Nar?” kalau bukan Arkan anak sahabatnya sudah dari lama Rey mengeluarkan Arkan dari ELANG PUTIH.
“Iya paman, nanti Nara usahain” Nara tidak enak kalau harus nolak permintaan pamannya, jadi mau tidak mau harus melaksanakannya.
“Arkan! Mulai besok kamu belajar bareng dengan Nara, dan ingat jangan membuat masalah.” Sarkas Rey
“Iya pa Arkan janji”
“yasudah Nara Arkan silahkan keluar, dan untuk belajar mulai dari nanti” printahnya
“iy pak”
“Yasudah Nara permisi paman” setelah menutup pintu Nara dikejutkan dengan teman-temannya yang sudah berada di depan pintu bersama beberapa anak laki-laki.
“Eh neng geulis ketemu lagi kita jangan-jangan jodoh” celetuk laki-laki itu
“Aih-aihhh si Riki” ucap Allesya
“Nar, lo kenapa dipanggil bareng Arkan lagi?” tanya Sasha
“Aku disuruh buat ngajarin Arkan selama 2Tahun kedepan” Nara dengan muka lesu, ya masa baru masuk udah diperintah buat ngajarin anak nakal.
“Wihh bakal tua dadakan lo Nar ngajarin Arkan” gurau Nasha, di iringi dengan tawa
“Nas ayo balik kekantin, aku laper” karna tadi panggilan Nara jadi tidak memakan makanannya jadilah sekarang dia lapar.
“Istirahat sudah selesai, tapi tadi gue udah beliin lo susu.” Wah Nasha sangat care padahal mereka belum lama kenal. Dengan mata berbinar Nara segera mengambil susu kotak itu dari tangan Nasha
“Aaaaa... terimakasih Nasha” walau hanya susu kotak Nara senang sekali, karena bagi Nara sekecil apapun itu, kalau itu dari seseorang yang baik menurut Nara sangat spesial.
“Iya sama-sama yaudah ayo balik ke kelas” ajak Nasha diikuti dengan yang lain.
Sampai di kelas Nara langsung duduk dikursinya, ternyata kelasny belum ada Guru, gak lama dari itu laki-laki yang tadi bersamanya diruang kepsek menghampiri Nara.
“Nanti Arkan tunggu di perpus pas jam istirahat ke 2” Arkan duduk di samping Nara, ia menenggelamkan wajahnya dan kemudian tertidur, iya tidur kata anak-anak Arkan memang sering tidur di kelas apalagi pas jam pelajaran.
“iya nanti Nara kesana”
“Gess, katanya Guru pada rapat sampe pulang tapi kita ga boleh pulang, kerjain tugas!” suara cempreng yang berasal dari sinta anggota OSIS.
“Gosip dari mana lagi itu sini” teriak Riki
“Loh gue kan OSIS kocak, gue tampol luh”
Kelas jadi rame karna mereka berdua, sudah biasa di setiap kelas pasti ada yang kaya gitu, biasany berakhir bucin, xixixi.. bercanda ya sin, rik
“Arkan, ayo sekarang aja nanti mah takut perpus ramai” Nara berusaha membangunkan Arkan, dengan menoel-noel tangan Arkan
“Arkan! Ayo kan kita harus nyari buku kamus MATEMATIKA!” barulah Arkan bangun karena teriakan Nara
“Iya Nar iya, Arkan juga dengar”
Selama perjalanan di hiasi dengan keheningan lagi pun Nara bingung apa yang harus di obrolkan, Arkan pun hanya diam, lorong sepanjang ini mereka hanya diam tidak bersuara, hanya terdengar suara tapak kaki. Setelah melewati lorong panjang tanpa suara, akhirnya mereka sampai di perpus,
“ayo ikut gue, biar gue kasih tau tempat kamus MATEMATIKA” Arkan yang jalan lebih dulu dari Nara
“Ouhh..okee”
Sudah hampir 15 menit mereka mencari buku itu, tapi belum ketemu, dan akhirnya
“Arkan! Sini, ini bukunya sudah ketemu”
tak lama Arkan menghampiri Nara yang sedang berusaha mengambil buku itu, tapi tak sampai karna rak buku yang tinggi
“sini biar gue yang ambil” Arkan yang berbadan tinggi dengan mudah mengambil buku itu
“ini bukunya, mau belajar dimana, hmm..?” tanya Arkan
“disana dekat jendela” ucap Nara gembira.
Sampai di meja Nara duduk bersampingan dengan Arkan
“Arkan kita belajar dari sini aja, persamaan kuadrat” jelas Nara
“oke deh, lo jelasin dulu nanti lo kasih gue soalny”
Nara hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya,yang berarti ia setuju.
“oke, dengerin yang di dengan persamaan kuadrat adalah nilai 0 atau diskliminan fungsi kuadrat dirumuskan melalui D= b2-4ac. Perlu diingat bahwa bentuk umum fungsi kuadrat adalah F(X)= Ax²+bx+c. Ngerti?” coba bikin contoh rumus akar-akar” perintah Nara.
Nara tau dari anak-anak bahwa Arkan tidak suka MATEMATIKA. Jadi Nara mencoba dan mengajarinya dari MATEMATIKA barulah pelajaran lain
“susah gue gak bisa Nara” keluh Arkan
“kamu belum ngapa-ngapain juga, kamu bukan gak bisa tapi malas” sarkas Nara
“ajarin makanya” kesal Arkan
“sini buku kamunya, jadi rumus akar tuh ax²+bx+c=0 x¹+x²=-b/a x¹+x²=c/a gitu jadinya Arkan” capee menjelaskannya kalau hilang sabar udah di geplak kali kepalanya.
“udah Nar sampai sini aja gue pusing, bisa-bisa mati kalau gini terus Nar” gumam Arkan
“Nara yakin Arkan bisa, Arkan tuh sebenernya bisa tapi Arkan gak mau berusaha, banyak yang mau sekolah disini, tapi gak ada biaya, Arkan enak bisa sekolah disini masa iya keluar dari sini dengan prestasi yang kurang, Nara bakal bantu Arkan buar belajar. Oke yaa?” Nara yang melihat wajah Arkan yang berubah jadi sendu pun merasa tak enak telah berkata begitu
“oke gue janji bakal berubah, bantu gue ya Nar, kita memang baru kenal tapi lo peduli banget sama gue” seperti menahan tangis Arkan mengucap itu.
“ya sudah, kita sudahi saja belajarnya lanjut besok”
Nara pun membereskan buku-buku, dan memberi Arkan buku bersampul biru muda. Kata Nara biar tambah semangat belajarnya, HEHEHE....
#AKHIR
Tidak terasa sudah mau 1Bulan, han kini Arkan sudah banyak berubah, nilai mapel meningkat, bolos mengurang, pokoknya banyak perubahan, bahkan Arkan mencalonkan diri nya untuk menjadi OSIS. Berkat itu juga Nara bisa belajar, bahwa semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, bisa jadi jauh lebih baik. Yang penting kita bisa menghargai diri sendiri dengan apa yang telah tercapai, dan memperbaiki hal-hal kecil.
“NARAA!” panggil seseorang.
Nara yang sedang berjalan reflek berhenti dan melihat siapa yang memanggilnya
“loh, Arkan” ternyata yang memenggilnya adalah Arkan
“makasih berkat lo gue bisa berubah Nar, gak sampai 2 bulan gue bisa berubah, ya walau masih banyak kurang,tapi gue merasa lebih baik. Ini coklat buat lo tanda terimakasih gue” Arkan sangat beruntung mempunyai teman seperti Nara, mungkin bagi Arkan satu coklat tidak bisa membalas semua perjuangan Nara untuk bisa merubah Arkan, karna Guru saja tidak sanggup dengan sikap Arkan sedangkan Nara sulit di ungkapkan.
“kamu berubah berkat diri kamu sendiri, selamat yaa bisa berubah dan makasih coklatny” Nara mengambil coklatnya dari tangan Arkan, dan mereka lanjut berbincang ringan sambil berjalan menelusuri lorong.